Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 34


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 34...


...—------- o0o —-------...


Setelah pertemuan mereka tersebut, Ravi dan Hanna mulai akrab satu sama lain. Sedikit demi sedikit keduanya mulai membuka jati diri serta keluarga masing-masing. Perihal kepindahan keyakinan (agama) gadis itu, peristiwa diusir oleh Jonathan, hidup terlunta-lunta selama beberapa hari, hingga akhirnya diselamatkan di tepian jembatan di waktu petang kemarin.


"Kenapa sampe terpikir buat mengakhiri hidup, Mbak?" tanya Ravi meneruskan lanjutan pertanyaan yang sempat dia tangguhkan sebelumnya. "Apa saat itu Mbak yakin, jika dengan cara itu, semua permasalahan hidup yang sedang Mbak hadapi, akan selesai dan jauh lebih baik?"


Johanna tidak langsung menjawab, tapi menunduk dalam-dalam. Bingung hendak berkata apa. Sesaat dia menyeka tepian bibirnya setelah menikmati makanan di sebuah tempat makan, kemudian bersiap-siap untuk bertutur. "Sebenarnya … saya gak ada niat buat ngelakuin perbuatan terkutuk itu, Pak."


"Terus?"


Gadis itu mendecak terlebih dahulu, lantas berimbuh kembali, "Gak tahu kenapa, rasanya saat itu … s-saya ngerasa … sudah gak ada gunanya lagi buat hidup."


"Hhmmm."


"Saya sedih, tertekan, dan sulit sekali nyari bantuan."


"Sulit?" tanya Ravi seraya mengernyitkan dahi. "Sesulit apa yang Mbak rasain?"


"Pokoknya sangat sulit, Pak," jawab Hanna lirih. "Kebanyakan orang-orang yang saya temuin menilai saya dari segi fisik."


"Fisik? Maksudnya …."


"Mungkin karena saya warga etnis keturunan, Pak."


Ravi menggeleng. "Enggak, saya yakin pikiran orang-orang yang Mbak maksud tadi gak sesempit itu. Walaupun … yaa emang … ada saja beberapa oknum yang memiliki stigma begitu. Kebetulan, orang yang ada di hadapan Mbak ini, bukan jenis orang yang terakhir barusan."


Senyum semringah menguar di bibir Hanna. "Iya, Alhamdulillah … saya tahu. Saya udah ngeyakini dan nyaksiin sendiri. Terima kasih ya, Pak, atas kebaikannya."


"Ah, lupain tentang itu," ujar Ravi seraya mengibaskan tangan di depan wajah. "Saya tertarik dengan cerita Mbak sewaktu di jembatan kemaren itu."


"Emangnya kenapa?" tanya Hanna. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lekat pada pandangan lelaki yang sudah memberinya banyak budi. "S-saya benar-benar kalut saat itu. Sempat juga berpikir, apa ini sebuah karma dari keluarga saya, atas pilihan kepindahan saya ke agama yang baru saya yakini ini?"


"Astaghfirullahal'adziim. Gak boleh ngomong kayak 'gitu, Mbak."


"Iya, saya tahu," timpal gadis tersebut secepatnya, "itu saya sadari sekarang. Betapa bodohnya saya ini."


"Subhanallah … Allah Mahapengampun, Mbak."

__ADS_1


"Aamiin."


Ravi menarik napasnya dalam-dalam, lantas kembali berucap, "Tahukah, Mbak, bahwa … di mata Allah, Mbak ini kayak sosok bayi yang baru terlahir ke dunia ini."


"Maksudnya?"


"Allah Mahapengampun, Mbak," jawab lelaki itu lembut. "Ketika Mbak berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat dulu, Insyaa Allah … Allah menghapus seluruh dosa-dosa Mbak di masa lalu."


"Benarkah?"


"Iya, Insyaa Allah," ujar Ravi memberi semangat. "Mbak gak ubahnya kayak bayi tanpa dosa, suci, dan … akan sangat disayangkan sekali jika waktu kemaren … bener-bener ngelakuin hal tercela itu. Yakni bunuh diri." Dia mereguk sedikit minuman di atas meja untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering. "Sebab menurut beberapa pendapat, seorang muslim yang ngelakuin tindakan bunuh diri, akan dikenakan hukum kematian sebagai seorang kafir. Dia mati dalam keadaan enggak beriman."


"Astakbirullahaladim … ya, Allah!" Johanna memejamkan mata. Merasa menyesal sekaligus bersyukur hal kemarin tersebut tidak jadi dia lakukan. "Tapi Allah masih menyayangi saya ya, Pak?"


"Tentu saja. Bahkan mungkin teramat sayang. Makanya … entah kenapa, kemarin … saya ngedadak pengin make ruas jalan di jembatan itu. Padahal sebelumnya jarang banget lewat sana," tutur Ravi dengan benak menerawang pada kejadian petang kemarin. "Allah menggerakkan hati saya buat bertemu dengan Mbak Hanna. Walaupun dengan situasi dan kondisi … yaaa kayak 'gitulah. He-he. Saya panik, takut, gugup, dan ngerasa bingung mesti ngapain. Apalagi …." Mereka berdua saling bertatapan. "Saya sering jadi aneh kalo pertama kali deket sama perempuan asing."


"Sekarang enggak?" tanya Hanna terdengar seperti tengah menggoda.


Ravi menggeleng disertai senyuman hangat. 'Malah ngerasa jauh lebih nyaman, Mbak,' membatin dia dengan gelitik rasa aneh yang mulai menjalari seruang hati.


Lekas lelaki itu menunduk. Sekadar ingin menyembunyikan aroma hangat yang menjalari sekujur kulit wajah secara tiba-tiba. Seketika yakin sendiri, pasti disertai perubahan warna yang begitu kentara bagi pemilik kelopak sipit di depannya tersebut.


"Ehem, apa gak sebaiknya kita pulang sekarang saja, Pak?" ajak Johanna setelah keduanya saling terdiam.


"Mbak masih tetep mau ngelanjutin kuliah, 'kan?" tanya lelaki itu saat laju kendaraan sudah berjalan menuju kontrakan Hanna. Direspons gadis tersebut dengan gelengan kepala. "Kenapa gak dilanjut? Sayang, loh. Sebentar lagi kelar."


"Maksud saya … gak tahu, Pak," balas Johanna lirih. "Dengan kondisi sekarang, Papa saya pasti gak bakalan mau lagi ngurusin saya."


Ravi tersenyum.


"Kalo saran saya sih, sebaiknya dilanjut aja, Mbak. Setahun itu gak lama, loh."


"Gak tahu, Pak. Saya bingung," ujar Hanna sedih. "Penginnya sih, tetep ngelanjut sampe beres nanti. Tapi … Insaa Allah, akan saya usahain. Mungkin sambil nyari sampingan sekalipun."


"Kerja?"


"Iya, kerja, Pak," jawab gadis tersebut lirih. "Bahkan jadi buruh cuci pun, saya gak bakal nolak."


"Emang kamu bisa nyuci?" tanya Ravi tanpa sadar menggunakan sapaan baru pada sosok tersebut. 'Kamu'. Ada apa ini? Entahlah, terkadang kejujuran bisa terungkap pada saat seseorang sedang tidak sadar atau tengah bercanda. Konversi rahasia hati yang disalurkan ke otak, lantas terwujud nyata melalui lisan. Bisa jadi hari ini hanya satu kata, selanjutnya berubah menjadi frasa maupun morfem baru.


Hanna tersentak dan langsung melirik sosok di sampingnya. "Kenapa enggak? 'Kan, di rumah udah terbiasa ngurus diri juga, Pak."


"O, iya? Masa?" tanya Ravi bermaksud mencandai.

__ADS_1


"Lah, iyalah, Paakkk. He-he," jawab gadis tersebut mulai terbawa suasana. Apalagi setelah mendengar panggilan lelaki itu padanya tadi. Jadi lebih akrab dan tidak terkesan formal. "Di keluarga saya, semuanya dituntut buat bisa mandiri. Jadi gak sepenuhnya ngandelin Mama."


"Terkecuali buat urusan kuliah, ya?"


"Biaya kuliah?"


"Ya."


"Kalo itu sih, pengecualianlah, Pak."


"Ha-ha. Saya tahu. Tadi cuman bercanda aja, kok," tandas Ravi kemudian. "Eh, kapan kamu mulai kuliah lagi? Udah beberapa hari loh —pastinya— gak masuk."


Hanna menggeleng.


"Besok saya antar. Mau?"


"Ke mana, Pak?"


"Kampuslah. Ke mana lagi?"


Gadis itu sejenak merasa ragu. Dia melirik lelaki tersebut. "Tapi saya belum berencana—"


"Tenang saja. Pokoknya saya bantuin, deh," tandas Ravi kembali. "Ini mungkin terdengar gila, tapi saya rasa … sudah terlanjur nyemplung lebih dalam. Yaaa, sekalian aja."


"Maksud Bapak?"


Ravi cuma tersenyum kambing. "Pokoknya saya bantu semua. Bila perlu, sampe kamu lulus nanti."


"Paakkk?" Hanna merasa tidak percaya.


"He-he, anggap saja ini sebagai bantuan dari seorang kakak sama adiknya," ujar Ravi langsung membuat gadis tersebut ternganga. "Mulai sekarang, gak usah terlalu formil 'ginilah. Geli aja dengernya dari kemarin. Ha-ha."


"Maksudnya?"


Laki-laki itu cengengesan.


"Saya belum terlalu tua. Paling … umur kamu sama aku, beda empat sampe lima tahunan," ungkap Ravi semakin leluasa berbicara. "Lagian … saya juga belom punya anak."


"Hah?!"


Johanna terperangah. Antara percaya dan tidak. Memang, sekilas dari segi tampilan, Ravi masih seperti umumnya anak muda lain. Fresh dan senantiasa terlihat energik. Namun bukan karena itu pula yang membuat hati gadis tersebut kian terikat, kebaikan demi kebaikan yang dia terima sejak awal bertemu kemarin.


Apakah ini cuma sekadar modus? Paling tidak, ujung-ujungnya akan mengerucut pada jalinan hubungan yang lebih spesifik. Sebagai perempuan dewasa, Hanna sadar itu. Bukan tidak mungkin juga jika pertemanan mereka itu akan semakin memanjang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2