
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 26...
...------- o0o -------...
"Pak?"
Lamunan laki-laki tersebut sontak terputus. Dia menoleh ke dalam ruangan Musala. Memerhatikan Hanna yang terbalut cantik dengan kain mukenanya.
"Eh, Mbak Hanna," ucap Ravi seraya tersenyum malu."Tadi saya cari-cari Mbak di ruang IGD, tahunya malah ada di sini."
"Bapak mau sholat tahajud juga?" tanya Hanna seraya bangkit dan berpindah duduk ke sudut belakang Musala. "Silakan, Pak, mumpung masih ada sisa waktu," ujarnya kembali memberi ruang tersendiri untuk Ravi di barisan terdepan.
Sejenak laki-laki itu tampak bingung.
Sejujurnya dia tidak berniat untuk salat malam. Hanya ingin memastikan keberadaan Hanna di sana. Namun entah mengapa, bisik hatinya seakan merasa malu jika harus kalah dengan gadis yang mengaku baru memeluk Islam tersebut. Sampai kemudian, dia pun tergerak hatinya untuk turut bermunajat.
'Ada baiknya juga memang, sekalian aku minta jalan keluar sama Allah.'
"I-iya, Mbak. T-tapi … saya mau ambil air wudu dulu," kata Ravi akhirnya. Lantas dia pun bergegas menuju tempat wudu dan merenung sejenak di sana.
'Ini, nih. Ini, nih … mendadak aku seperti kehilangan taji,' bisiknya di dalam hati. 'Di rumah, aku sama sekali gak pernah mau ngalah sama Sarah. Tapi dengan Hanna, rasanya … aku malu banget kalo gak sampe nurutin kata-katanya.'
Lelaki itu memejamkan mata. Berpikir tentang kondisi keluarga kecilnya yang belum lima warsa ini terbangun. Bersama seseorang yang sama sekali tidak pernah dia cintai sejak awal bertemu. Sarah, adalah sesosok perempuan asing dan tiba-tiba saja menjelma menjadi istri bagi Ravi, atas dasar jalinan sebuah kompromi. Karena itu pula, pondasi hampa yang terbangun selama ini, rentan terhadap guncangan-guncangan kecil sekalipun. Hal tersebut berimbas pada diri lelaki itu dalam menerjemahkan nilai-nilai keagamaannya. Kok, bisa? Tersebab ….
'Ya, Allah … apa karena itu, kini aku berada pada titik seperti ini?'
"Ah!"
__ADS_1
Dia meninju dinding. Meringis. Namun bukan karena kesakitan yang dirasakan pada kepalan tangan, melainkan pada jiwanya sendiri.
Ingin dia memaki. Membuncahkan pendaman rasa yang senantiasa ditutupi dengan segudang frasa-frasa tidak beretika, seperti halnya orang-orang di luar sana di kala berada di puncak murka.
"Enggak! Enggaakkk!"
Ravi tersadar, itu sama sekali bukan gayanya. Dia tahu, dia senantiasa menjaga keperawanan lisannya dari kalimat-kalimat sumpah serapah tersebut. Setidaknya bukan pada kala beradu argumen dengan Sarah.
Perlahan-lahan lelaki itu memutar keran, menggelontorkan sedikit air agar tidak banyak yang terbuang percuma, kemudian mulai membasuh satu per satu anggota wudunya. Sejuk dirasa seketika. Meluluhkan sedikit demi sedikit entakan amarah dari bayangan seraut wajah yang hadir barusan.
Setelah itu bergegas keluar dari area wudu dan berucap doa ; " … Allahumaj'alni minattawaabiina …."
Johanna atau Hanna, tampak masih terduduk di bagian saf paling belakang, tertunduk khusyuk dengan bibir bergerak-gerak melafalkan sejumlah kalimat suci, begitu Ravi kembali dan memasuki ruangan Musala.
Sejenak laki-laki itu berpikir, 'Mengapa rata-rata kaum mualaf itu memiliki tingkat keimanan yang lebih besar, ketimbang aku yang sudah mengenal dunia Islam sejak dari kecil?' Hal tersebut terbukti sekarang, untuk melaksanakan qiamulail saja, sudah lama jarang dia penuhi, semenjak menuntaskan pendidikan keagamaan di sebuah pondok pesantren dulu. 'Beruntung sekali mereka, mendapatkan bonus dari Tuhan, berupa penghapusan dosa atas hidayah yang telah diterima. Sedangkan aku sendiri, malah lebih sering lupa untuk bersyukur.'
Empat rakaat sudah, Ravi tunaikan salat Tahajud. Dilanjut berucap doa sebentar, lantas meneruskan dengan niat iktikaf sambil menunggu waktu Subuh nanti tiba.
Sebenarnya ingin sekali lelaki itu menghampiri Hanna, melanjutkan percakapan semalam yang masih belum mereka tuntaskan. Sepertinya begitu. Namun terpaksa menangguhkannya untuk sementara waktu, hingga kelak menemukan saat yang tepat. Usai salat Subuh, makan lagi, atau ….
Gema azan Subuh pun mulai berkumandang. Tidak terasa, sepersekian waktu telah dilalui dengan cepat. Padahal baru saja mereka duduk-duduk di dalam sana bersama hiasan pelafalan kalimat-kalimat pengagungan pada Tuhan, Allah Subhanahu Wata'ala.
"Kita sholat berjamaah, Pak?" tanya Hanna ketika Ravi menoleh ke belakang. "Mau 'kan, Bapak jadi imamnya?"
"A-apa? Eh?" Laki-laki itu terkejut. Seumur-umur baru kali itu didaulat menjadi imam salat.
"Iya, Pak," timpal Hanna kembali. "Kalo gak keberatan, saya ingin bermakmum sama Bapak."
Srek! Srek! Srek!
Ravi menggaruk kepala. Lantas berucap, "Apa gak sebaiknya sholat sunat dua rakaat dulu, Mbak?"
__ADS_1
Gadis itu mengerutkan kening.
"Apa itu perlu, Pak?"
Laki-laki perlente itu mengulas senyum tipis. Kemudian menjawab, "Bukan masalah perlu atau enggaknya, tapi jika dilakukan, itu lebih bagus. Sebab, sholat sunat dua rakaat sebelum Subuh itu, jauh lebih baik dari nilai-nilai dunia serta seisinya."
"Pahala?"
"Ya, kurang lebih seperti itu."
"Niatnya bagaimana, Pak?"
Ravi kembali tersenyum tipis. Jawabnya, "Ucapkan sebelum takbiratul ihram; 'Ushalli sunnatas shubhi rak'ataini lillahi ta'ala.' Terus niatkan di dalam hati; 'Aku berniat melakukan ibadah sholat sunah subuh sebanyak dua rakaat karena Allah Subhanahu Wata'ala.' Udah, 'gitu aja."
"Bacaan lainnya 'gimana, Pak?" tanya Hanna kembali terlihat antusias memerhatikan dengan seksama apa yang diajarkan oleh lelaki tersebut.
Jawab Ravi lagi, "Sama kayak bacaan sholat fardhu. Terus baca surah Fatihah dan surah lainnya yang Mbak sudah hafal."
"Qulya dan Qulhu, boleh?"
"Tentu saja boleh. Bebas, kok."
Hampir saja Ravi tertawa mendengar pertanyaan Hanna terakhir barusan. Bagaimana tidak, ketika seseorang mengucap nama sebuah surat di dalam Al Quran, seringkali yang disebutkan itu adalah berupa bunyi penggalan awal kalimatnya. Seperti tadi, nama surat Al Kafirun menjadi 'Qulya' dan Al Ikhlas menjadi 'Qulhu'. Bahkan kedua surat tersebut sangat umum dibaca pada setiap pelaksanaan ibadah salat.
"Kalo 'gitu, saya mau nyoba ngerjainnya ya, Pak," ujar Hanna bersemangat. "Tapi Bapaknya jangan dulu sholat Subuh. Saya pengen bermakmum sama Bapak."
"I-iya, Mbak, tentu aja. Silakan."
Aneh, mendadak Ravi pun merasa ikut bersemangat kini. Bukan karena malu? Yang pasti, hati lelaki muda tersebut tiba-tiba saja jadi semringah.
Beberapa waktu kemudian, berdatangan jamaah lain ikut bermakmum di belakang Ravi. Karena hal itu pula, niat awal membaca surat 'Qulya' dan 'Qulhu', berganti menjadi surat yang lain, yakni; Al Fajr dan Ad Dhuha. Paling tidak, durasi salat Subuh kali itu tidak terlalu singkat, pikir lelaki tersebut beralasan.
__ADS_1
Setelah menunaikan ibadah salat Subuh, Ravi tidak langsung keluar Musala. Dia diam di sana sembari menunggui ruangan tersebut lengang kembali ditinggal pengunjung klinik. Setali dua uang, hal itu ternyata sama-sama diniatkan oleh Hanna. Kemudian gadis keturunan Tionghoa itu berkata, "Bacaan Al Qur'an Bapak tadi, saya denger sangat bagus. Kayak lagi dengerin imam-imam Mesjid di Mekah. He-he."
...BERSAMBUNG...