Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 13


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 13...


...------- o0o -------...


Gadis itu melirik sekejap. "Masa, sih?" tanyanya heran, tapi tidak lantas menanggapinya secara serius. "Maksud Ibu … orang kayak saya yang 'gimana, ya?" Sekadar ingin memenuhi keingintahuan.


Agak ragu-ragu, Bu Tejo menjawab, "Yaaa … kayak Neng ini, nih."


"Maksudnya?"


"Neng orang Cina, 'kan?"


Dijawab seperti itu, tawa Hanna hampir saja meledak. Pikirnya, mengapa masih banyak orang yang belum bisa membedakan kata China atau Cina dengan Tionghoa.


"He-he. Saya orang Indonesia kok, Bu. Asli lahir di Jakarta."


"Oohhh, iya saya ngerti itu. Maksud saya … Eneng ini keturunan Cina. Begitu, Neng."


"Memangnya kenapa kalo saya keturunan Cina, Bu?" tanya Hanna menyelidik seraya melempar senyum, agar sosok yang sedang mempertanyainya itu tidak menilai dia merasa tersinggung. Setidaknya.


Jawab Bu Tejo, "Yaaa gak apa-apa sih, Neng. Cuman kepengen nanya aja."


"Maksud Ibu … pengen tahu kenapa orang keturunan Cina seperti saya beragama Islam?"


"He-he. I-iya, Neng. Maaf ya."


Lanjut Hanna bertutur, "Islam itu rahmatan lil'aalamiin, Bu. Diperuntukkan buat semua umat manusia dan sejagat raya. Walaupun diturunkan di tanah Arab, bukan berarti Islam itu milik orang Arab, 'kan?"


"He-he. Iya juga, sih." Bu Tejo manggut-manggut.


"Bahkan sebangsa makhluk jin saja diperintahkan untuk ber-Islam loh, Bu," ungkap Hanna, mendadak jadi terpancing jiwa dakwahnya. "Termasuk Ibu dan saya yang bukan berasal dari keturunan orang Arab pun, berhak memeluk Islam. Bener 'kan, Bu?"


"Iya, bener. Tapi kalo buat jin, masa iya bangsa mereka kenal sama ajaran Islam? Bukannya moyang mereka itu berasal dari Iprit?"


"Loh, bukannya Iprit juga jenis lain dari makhluk jin?" sanggah Hanna tampak bersemangat. "Kalo gak salah, di Al Qur'an sendiri tertulis; wamaa kholaqtuljinna wal insa illaa liya'buduun. Artinya, 'Tidaklah Allah ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada Allah'. Eh, bener begitu bunyinya ya, Bu? Maaf kalo saya salah."


Bu Tejo terpana. Mulutnya sampai ternganga disertai sorot mata membulat. "Subhanallah … Neng ini kok pinter banget. Saya aja yang Islam dari lahir, mana tahu ada ayat begitu."

__ADS_1


Hanna tersipu.


"Enggaklah, Bu. Saya cuman pernah ngebaca buku tentang Islam, ada bunyi ayat yang begitu. Kebetulan aja masih keinget."


"Tapi bagus loh, Neng. Soalnya–"


Ucapan Bu Tejo terhenti begitu sosok Ravi memanggil dari dekat kendaraan.


"Dek Hanna!"


"Iya, Mas!" sahut Hanna.


"Yang ini mau dimasukin sekarang?" tanya Ravi sambil menunjukkan barang yang dimaksud. Balas Hanna, "Iya, Mas. Nanti aku bawain, deh."


"Oh, oke!"


Bu Tejo memandangi sosok Ravi beberapa saat, hingga kemudian ….


"Suami Eneng?" tanya kembali wanita bertubuh subur itu, ikut memerhatikan Ravi dari ambang pintu. Tentu saja pertanyaan Bu Tejo kali ini langsung direspons cepat. "Oh, b-bukaann!" jawab Hanna kaget. "D-dia itu … cuman orang yang … eh, maksud saya … teman, Bu. Ya, teman."


"Ooohhh."


"Hhmmm."


"Hahhh?!" Gadis tersebut melongo kaget sampai terbatuk-batuk rejan. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Percakapan mereka tidak berlanjut untuk sementara waktu. Hanna buru-buru masuk ke dalam kamar hendak mengambil air minum. Dia sengaja membelakangi sosok Bu Tejo yang balik memerhatikannya dari ambang pintu, agar rona merah yang menjalari sekujur wajah tidak sampai tertampak. Lantas kembali menyibukkan diri untuk membantu Ravi membawakan barang-barang dibantu oleh ibunya Ilham tadi.


Tidak sampai seharian, kondisi kamar kontrakan Hanna sudah terlihat rapi.


"Saya titip Hanna ya, Bu, di sini," ucap Ravi pada Bu Tejo sebelum meninggalkan tempat tersebut. "Dia akan tinggal di sini buat sementara waktu."


"Oh, iya, Nak," balas wanita bertubuh tambun itu. "Insyaa Allah akan saya bantu jagain. Emang … Nak ini mau ke mana lagi? Gak ikut ngontrak di sini?" tanyanya polos. "Masih ada kamar kosong loh yang di ujung sana itu."


Ravi melirik sekejap pada Hanna diiringi seulas senyum kecil. "Enggak, Bu. He-he," jawabnya singkat. "Terima kasih atas bantuannya ya, Bu. Saya mohon pamit."


Sempat terjadi drama klasik sewaktu laki-laki itu mengasongkan beberapa lembar uang ke tangan Bu Tejo. "Jangan, Nak. Jangan, ah! Saya ikhlas ngebantuin, kok," seru wanita bertubuh subur itu dorong-ulur dengan Ravi.


"Gak apa-apa, Bu. Ini cuman buat bekel jajan anak-anak Ibu aja, kok!" timpal Ravi memaksa.


"Enggak, ah. Jaangaannn!"

__ADS_1


"Ambil aja, Bu. Ambil, ya?"


"Jangaaann!"


"Saya tambahin lagi deh, ya?" ujar Ravi akhirnya. Merogoh saku, mengambil selembar uang, lalu menjejalkannya kembali bersama gulungan duit sebelumnya ke dalam tangan. Lalu, spontan reaksi penolakan Bu Tejo tadi berubah menjadi gaya tarik kilat. "Waduuhhh, jadi gak enak sayanya, Nak. Hi-hi," kata wanita itu malu-malu.


"Naaahhh, 'gitu dong!" ujar laki-laki tersebut merasa lega kini. 'Hhmmm, dari tadi kek, Bu. Jadi gak usah ngeremes-remes tangan saya juga 'ngkali.'


'Duh, akhirnya … kesampean juga megangin lengannya si Mas ganteng ini. Mana berbulu pula. Hi-hi,' membatin Bu Tejo sambil mesem-mesem menyebalkan. 'Itu tangan apa ulet, sih. Gomplok amat, mirip genderuwo. Hi-hi.'


Sementara Hanna hanya bisa menahan senyum melihat perilaku kedua orang tersebut. Lucu saja. Bahkan tanpa disadari, masih juga bermesem-mesem ria di depan cermin sambil merapikan pakaian.


Kriinnggg! Kriinnggg!


Terdengar bunyi dering ponsel di atas meja kecil. Hanna melirik, melihat sekilas, sebuah nama kontak yang sudah tidak asing lagi tertera di layar, bertuliskan; MAS RAVI.


"Wa'alaikumussalaam, Mas. Ada apa?" tanya Hanna begitu membuka panggilan percakapan.


"Tukang ojeknya udah dateng, Han?" tanya Ravi dari seberang telepon. Kening gadis itu langsung berkerut. Tanyanya lebih lanjut, "Ojek? Ojek apa, Mas?"


Terdengar kekehan kecil di balik sepiker.


"Aku mesen ojek buat nganter kamu kuliah."


"Ojol?"


Jawab Ravi, "Bukan. Ojek biasa. Itu yang suka nongkrong di depan gang jalan ke kontrakanmu."


"Kapan?" Hanna makin bingung.


"Barusan," jawab kembali laki-laki itu disertai kekehannya. "Udah dateng belom?"


Hanna beranjak dari depan cermin, bergegas menuju pintu kamar dan membukanya. Sejenak dia melongok ke luar. Tampak olehnya seorang laki-laki tengah menunggui di atas sepeda motor.


"A-ada, Mas," ucap Hanna tergagap kaget.


"Ya, udah. Hati-hati di jalan ya, Han. Aku mau lanjut kerja. Assalaamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalaam."


Sesaat gadis itu masih terbengong-bengong bingung. 'Kenapa Mas Ravi sampe kepikiran buat mesen ojek buatku? Padahal aku 'kan–'

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2