
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 41...
...—------- o0o —-------...
"Nyambung?" tanya Fadil begitu aku menutup panggilan telepon. Ravi mendecak kesal, lantas menjawab, "Diblokir lagi, Dil."
"Gila!"
Timpal Ravi, "Emang begitu kebiasaan bini gua, Dil. Tiap kali ada masalah atau keributan, pasti dia ngeblok nomor gua. 'Gimana gak kesel coba gua."
Ravi menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Sabar, kawan. Sabar."
"Ya, 'gimana gua bisa terus-terusan bersabar coba, kalo keadaannya kayak begini terus," gerutu Ravi makin kesal dibuatnya. "Lama-lama gua mikir, gua sangsi bisa bertahan lama sama rumah tangga gua sendiri, Dil."
"Hus, jangan ngomong 'gitu, Kawan," tukas Fadil menasihati. "Itu sama saja elu berharap dan ngedoain rumah tangga elu begitu. Inget, Rav, ucapan itu doa."
"Gua tahu, tapi gua udah ngerasa sebel kalo deket-deket sama bini gua."
"Ssttt … udah, stop ngomelnya," ucap Fadil menenangkan. "Lebih baik, kita pesen dulu minuman. Bikin elu rileks. Terus elu tenangin dulu diri elu. Oke? Gua pesenin sesuatu yang cocok buat kondisi yang elo rasa sekarang."
"Elo mau pesen apaan?" tanya Ravi sedikit curiga. "Jangan aneh-aneh deh lu."
"Kagaklah. Cuma sedikit penyejuk buat hati elo yang lagi panas," jawab Fadil disertai senyumannya yang multimakna. "Gua tinggal dulu sebentar, ya? Gua mau ngambil minuman ke depan."
Ravi menatap sejenak sosok rekan kerjanya tersebut, lantas mengenyakkan punggung lebih dalam pada sandaran kursi empuk.
__ADS_1
Usai habis jam kerja tadi, dia mengajak Ravi untuk mencari tempat yang bagus untuk sekadar berbincang-bincang. Fadil memang satu-satunya teman dekat yang sering dijadikan tempat untuk mencurahkan isi hati, di kala Ravi tengah dirundung masalah. Namun diajak ke sana, baru yang pertama ini. Sebuah cafe yang terletak di pusat keramaian kota dan mulai buka dari sore hingga hampir menjelang pagi nanti.
Sambil menunggu Fadil kembali duduk bersama, diam-diam Ravi memerhatikan sebungkus rokok yang tergeletak di atas meja. Milik temannya tersebut. Kemudian dia mencoba mengamati kemasan yang ada, membuka dan melihat-lihat isinya, seterusnya mengambil satu batang untuk dia teliti.
"Gua kalo lagi ada masalah, satu hari bisa habis dua sampe tiga bungkus rokok, Rav," ungkap Fadil suatu ketika. Masih teringat kata-kata itu di benak Ravi hingga kini. "Kebanyakan ngerokok, emang bisa bikin mulut gua kecut. Tapi efeknya, buat sementara, gua ngerasa beban gua berkurang, fresh, dan lebih tenang. Itulah makanya sampe saat ini, belom berniat buat berhenti ngerokok. Gua masih butuh, Rav. Ha-ha. Cobain deh lu."
"Enggak, ah. Makasih," ucap Ravi menolak. "Gua gak pernah ngerokok dan gua gak bakalan mau ngerokok. Disamping pemborosan, juga bikin buruk sama kesehatan. Itu juga kata Emak gua, sih. Ha-ha."
Hal itu pula yang dia ingat sewaktu di IGD beberapa pekan lalu, mengantar Johanna dirawat, langsung terbayang akan kebiasaan Fadil tersebut. Galau, risau, dan semuanya terasa serba gugup, benak Ravi justru terkenang pada rokok.
'Apakah bener, ngerokok itu bisa ngebantu ngurangin beban masalah?' Hati laki-laki itu mulai bertanya-tanya. 'Haruskah aku coba, agar rasa kesal ini bisa sedikit hilang, gara-gara keingetan terus sama sikap Sarah?' Namun tiba-tiba, bisikan lain terngiang-ngiang di telinga. Sebuah nasihat yang seringkali diucapkan oleh seseorang dulu, yakni Welas, ibunya. "Ingat-ingat selalu dalam hidupmu nanti, Nak. Pandai-pandailah memilih temen. Cari seseorang yang bisa bikin kamu jauh lebih baik. Jangan justru membuatmu berubah jadi buruk. Jika dasar keteguhan hatimu kuat, kamulah yang seharusnya bisa mengajak mereka pada kebaikan. Begitupun sebaliknya, jauhi seandainya khawatir akan memberimu dampak ketidakbaikan. Pepatah bilang, bergaul dengan tukang parfum, kamu akan kebagian wanginya. Berkumpul dengan orang yang suka merokok, bersiap-siaplah tubuhmu tercium bau asap tembakau."
"Emangnya kenapa sih, Bu, dengan rokok? Gak boleh, ya?" tanya Ravi remaja kala itu.
Tutur ibunya kembali, "Merokok adalah sesuatu tindakan yang bisa merugikan diri sendiri serta orang lain. Itu namanya dzalim atau mendzalimi. Dzalin terhadap tubuhmu sendiri, serta mendzalimi orang-orang di sekitarmu. Disamping berefek buruk pada kesehatan, juga melakukan sebuah tindakan mubazir. Sebab apa, karena menyia-nyiakan rezeki yang telah Allah berikan untuk sesuatu hal yang sebenarnya kurang bermanfaat."
Lain hal ketika berdiskusi dengan Fadil dulu, temannya tersebut malah berdalih, "Ha-ha, buat di lingkungan kita, rokok itu bukan sesuatu yang haram, Rav. Termasuk dalam ranah mubah. Masih boleh dilakukan, gak akan berdosa kalo dilakuin." Belum cukup sampai di situ, lelaki bujangan itu menambahkan kembali. "Lagian kalo kita mau ngambil contoh, banyak juga kok, tokoh-tokoh agama terkemuka di Indonesia yang merokok. Ustadz, kyai, bahkan sampai kalangan dokter sekalipun. Mereka masing-masing punya landasan dalil tersendiri buat ngebolehin merokok. Yaaa … tergantung kapasitas ilmu tiap individunya, sih. Padahal mereka itu orang-orang pintar dan punya ilmu tinggi, loh. He-he."
"Sarah …." gumam Ravi begitu bayangannya berakhir pada sosok tersebut. Perempuan keras kepala yang selalu ingin menang sendiri dan merasa paling pintar. Yang paling disesalkan, justru ditakdirkan menjadi jodohnya. "Fiiuhhh …." Belum tuntas masalah pagi tadi, kini dihadapkan pada teka-teki pertanyaan di siang harinya. Benar-benar menyebalkan!
Perlahan-lahan lelaki itu menyelipkan batang rokok tadi di antara jemari telunjuk dan tengah, lantas mengambil pemantik api, menyulut, dan ….
"Nah, 'gitu dong, Kawan!"
Rokok serta pemantik api tadi spontan terlepas dari tangan. Jatuh ke lantai cafe dan hampir saja terinjak-injak oleh kakinya sendiri.
"Fadil!" seru Ravi terkaget-kaget.
Fadil malah mengekeh senang. Dia menyodorkan minuman yang tadi dipesan ke hadapan Ravi dan sisanya untuk dia sendiri. "Ayo, cobalah. Santai aja, Rav," ujar laki-laki bujangan itu cengagas-cengenges.
__ADS_1
Ravi merasa malu. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perbuatannya tadi. Menaruh kembali batang rokok dan pemantik tadi di atas meja dengan gugup.
"Kenapa gak jadi?" tanya Fadil heran. "Ayo, teruskan. Coba dulu sebatang. Isap asapnya sekali … dua kali … tiga kali … dan seterusnya. Sampe elu terbiasa dan mulai menikmati sensasi aromanya yang segeeerrr."
"Gua gak mau, Dil," jawab Ravi semakin gugup.
"Ayolah, Kawan," rayu kembali Fadil. "Atau mau gua contohin? Nih, lihat gua …." Dia mengambil sebatang rokok baru, menyelipkan di antara bibir, menyalakan dengan menggunakan pemantik api, lalu mengisapnya penuh nikmat. "Fuuhhh … nikmat banget. Cobalah, Rav. Gua janji gak bakalan ketawa, kok."
Ravi menggeleng. Namun Fadil tidak mau menyerah. Dia bantu menyelipkan sebatang rokok di bibir temannya tersebut dan menyalakan.
"Sedot pelan-pelan aja."
Ravi menurut, akan tetapi langsung terbatuk-batuk hingga perih mengeluarkan air mata.
"Uhuk … uhuk … uhuk!"
"Santai, Kawan. Pelan-pelan aja," ujar Fadil seraya menepuk-nepuk tengkuk Ravi. "Ayo, coba lagi sedikit-sedikit. Pejamin mata sambil mengisap. Bayangin kalo elu bakal ngedapetin sesuatu yang belum pernah elu rasain sebelumnya. Kenikmatan sejati, hidup penuh kebebasan, dan semua masalah menjauh secara perlahan-lahan dari elu."
Ravi mengikuti semua arahan temannya, Fadil.
"Nah, habis elu isap … keluarin kembali melalui mulut. Jangan dulu dari hidung," ucap laki-laki bujang itu mengarahkan. "Isap lagi … keluarin lagi … isap lagi sedikit aja … sekarang coba keluarin asapnya melalui lobang hidung elu. Biarkan nikotinnya bekerja, mulai mengenal saraf-saraf otak elu, dan memberikan reaksi mengasyikkan. Teruusss …."
"Uhuk … uhuk … uhuk!"
"Santai, Kawan. Santaaiii … coba minum ini biar tenggorokan elu gak kering," kata Fadil seraya membantu mengangkat gelas minuman di hadapan Ravi dan menyodorkan langsung ke mulut. "Minum sedikit demi sedikit, Rav."
Baru sekali teguk, Ravi langsung memuntahkannya.
"Ooeekkk!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...