
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 48...
...—------- o0o —-------...
"Heh, bangun!"
Ravi membuka mata. Sesaat masih terlihat membias dan silau akan cahaya lampu kamar yang menyala terang. Dia menoleh, mencari-cari pemilik suara tadi.
"Uuhhmm, hoaammm!" Laki-laki itu menguap lebar. Lantas menemukan sesosok wajah yang sudah terbalut mukena putih di sampingnya. "Sarah, kamu udah bangun?"
"Iyalah. Emangnya kamu?" timpal Sarah. "Bangun cepetan. Udah jam tiga, tuh."
Ravi melirik jam dinding. Benar. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lebih pagi hari. Namun gayutan kelopak matanya masih terasa berat. Dipikir-pikir azan Subuh pun masih lama. Sekitar satu setengah jam lagi.
"Eh, malah tidur lagi! Bangun, Rav!" seru Sarah kembali sembari mengguncang-guncang lengan suaminya. "Ini waktu yang mustajab buat beribadah dan berdoa!"
Balas Ravi diiringi menguap panjang, "Aku masih ngantuk, Sar. Sebentar deh, aku tidur dulu."
Terdengar dengkus keras dari lobang hidung istrinya.
"Bangun … bangun … banguunnn!" Kembali dia menepuk-nepuk lengan Ravi. "Apalagi sih, yang kamu tunggu? Ini waktu yang tepat buat minta sama Allah, Rav. Biar kehidupan rumah tangga kita bisa jauh lebih baik dan berubah. Ayo, bangun!"
Sedikit kesal, akhirnya Ravi bangkit.
'Yang berubah itu harusnya sikap kamu, Sar,' gerutu laki-laki itu di dalam hati. 'Selama kelakuanmu kayak 'gitu, gak bakalan ada yang berubahlah!'
"Malah bengong lagi! Cepetan mandi! Air panasnya udah aku siapin tuh, di dapur!"
Ravi melirik sejenak dan tersenyum kecut. Batinnya kembali, 'Tumben dia nyiapin air panas. Biasanya justru pengen serba dilayani suami. Aneh ….' Lantas berpikir, apa mungkin karena efek semalam? Hubungan intim yang begitu hebat dan melelahkan. Sampai-sampai Sarah memintanya lebih dari sekali.
Semalam ….
"Rav, kamu udah tidur?" tanya Sarah di saat Ravi sudah mulai terlelap. Jawab laki-laki tersebut setengah sadar, "Ada apa?"
"Kita ulangi lagi, ya?" pintanya seraya menjalarkan jemarinya ke area kelelakian suami.
Ravi membuka mata dan menatap wajah istrinya. "Kamu masih kepengen?" tanyanya seraya mengerjap-ngerjap berat. "Bukannya tadi udah?"
Sarah mencibir. "Yang tadi aku belum puas, Rav," ujarnya lirih. "Kamu belum menuhin keinginanku."
'Ya, Tuhan!' desah Ravi. Ada rasa kesal karena acara tidurnya terganggu, tapi lekas menyadari bahwa apa yang dia berikan semalam –pada istrinya–, memang belum dilakukan secara optimal. Hal itu terjadi karena faktor kelelahan, juga kondisi psikologis yang tengah terganggu akibat perselisihan di antara mereka sebelumnya.
__ADS_1
Laki-laki itu juga sadar, jika hal tadi masih belum memenuhi harapan Sarah, maka bisa dikatakan bahwa kewajiban dia sebagai suami tidak mencukupi istrinya. Lantas, apakah berdosa apabila menolak ajakan tersebut? Tentu saja. Seperti halnya seorang istri yang mengabaikan permintaan suami untuk melakukan pemenuhan kebutuhan biologis. Malaikat akan melaknat hingga waktu fajar menyingsing, begitu menurut aturan agama.
"Tunggu sebentar," ujar Ravi seraya menyingkirkan jemari tangan Sarah tadi. "Aku mau ngambil air wudhu dulu."
"Ngapain? Kita 'kan, bukan mau sholat," kata istrinya heran.
Ravi tersenyum hambar. Lantas berimbuh kembali, "Wudhu bukan cuman syarat buat ibadah sholat ataupun mau memegang dan membaca Al Qur'an, Sarah. Disunahkan, saat mau tidur maupun berhubungan intim, hendaknya berwudhu terlebih dahulu. Di kelompok pengajian kamu itu, emang gak pernah dibahas?"
"Pernah …." jawab Sarah pelan. Nyaris berupa bisikan.
"Nah, itu dia masalahnya," timpal Ravi seraya menuruni tempat tidur. "Ilmu itu buat diamalin, bukan cuman jadi koleksi isi kepala. Semakin kita tahu, dituntut untuk dipraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari. Kalo berkaitan dengan masalah aturan kewajiban, seseorang yang melanggar karena ketidaktahuannya, mungkin masih bisa ditolerir dan mendapat dispensasi. 'Gimana sama yang paham agama? Pastinya kamu udah tahu dong konsekuensinya?"
"Lagian cuman sunah," ujar Sarah.
Sebelum menimpali, Ravi mengenakan celananya terlebih dahulu. "Sunah itu ibarat bonus tambahan, Sarah. Reward khusus atau pahala yang didapatkan di luar daripada ketentuan yang bersifat wajib. Lagipula, itu sebagai bentuk kecintaan kita terhadap Rasulullah dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan beliau semasa hidup. Secara fungsi, pastinya ada sisi manfaat besar jika dikerjakan. Iya, 'kan?"
Sarah tidak menjawab. Namun dari raut wajahnya terlihat bahwa dia tidak begitu berminat diceramahi sedemikian rupa oleh suaminya.
"Mau pahala gak?" tanya Ravi bermaksud mencandai. Dia berharap dengan komunikasi seperti itu, akan mencairkan suasana kaku mereka setelah perselisihan sebelumnya. Namun Sarah masih terdiam membeku. "Ya, udah. Aku tinggal sebentar ke belakang dulu, ya? Siapa tahu, usahaku yang kedua malam ini, bisa memenuhi kepuasanmu."
Mengenakan celana pendek hingga sebatas lutut tanpa dilengkapi bagian atasannya, Ravi bergegas ke luar kamar. Meninggalkan istrinya yang masih memasang wajah muram.
'Hhmmm, si Sarah ….' membatin lelaki itu di kala berada di kamar kecil seraya memandangi diri melalui pantulan cermin di tembok. 'Hampir tiap kali aku kasih tahu, selalu aja melawan. Seolah-olah cuman dia doangan yang serba paham soal agama. Tapi giliran dia yang ceramah, aku kayak dituntut buat selalu dengerin dia. Keras kepala banget sih, itu perempuan.'
Namun tiba-tiba pintu kamar kecil terkuak. Sarah muncul melongok-longok.
"Alah, ngapain juga kudu ngetuk-ngetuk pintu segala, sih? 'Kan, sama suami sendiri," jawab perempuan itu seraya ikut masuk. "Awas minggir dikit. Aku juga mau wudhu."
'Suami? Hhmmm, syukurlah … dia masih nganggap aku sebagai lakinya.'
"Bukannya 'gitu, Sar. Adabnya emang begitu, biarpun sesama pasangan sendiri. Akunya 'kan, jadi kaget."
"Gak usah malu-lah. Pake adab-adaban segala," timpal Sarah seraya duduk di atas toilet. "Lagian kita udah sama-sama tahu aurat masing-masing."
"Aku kaget, Sar, bukan malu!" balas Ravi sengit. "Segala sesuatu itu … ya, harus pake adab-lah. Emang kamu mau jalan dari sini ke kamar gak pake apa-apa? Dih!"
"Au, ah!"
"Bukan 'au, ah' jawabnya, tapi dengerin kalo laki ngomong."
"Iyalah aku denger. Kamu pikir aku ini budeg, apa?"
'Subhanallah ….' ucap Ravi di dalam hati. 'Ada aja jawabannya.'
"Ya, udah. Aku duluan, deh," ujar laki-laki itu kesal. "Jangan lupa, kamu gosok gigi juga. Biar pada-pada ngerasa nyaman entar."
__ADS_1
"Eh, kamu mau ke mana?"
"Ke kamar."
"Tungguin aku, apa! Masa aku ditinggal sendiri di sini?"
"Kenapa? Kamu takut?"
Sarah tidak menjawab. Namun setelah bersih-bersih, dia bangkit dari toilet duduk dan menghampiri suaminya. Tanpa ba-bi-bu, lantas mengalungkan lengan dan mendekatkan wajah.
"Jangan di sini, Sar!" bisik Ravi seraya menolak ajakan istrinya. "Ini 'kan, tempat kotor." Dia menjelaskan jika ruangan seperti kamar mandi atau toilet adalah salah satu tempat yang sering dijadikan sarang makhluk jin. Sudah tentu, melakukan hubungan suami-istri di sana sangat tidak dianjurkan. "Kita ke kamar saja. Tapi kamunya gosok gigi dulu, ya?" pinta Ravi karena sesak, sedari tadi menahan napas membaui aroma mulut istrinya.
"Banyak aturan banget sih kamu, Rav," gerutu Sarah agak kecewa. "Emang gak boleh ya, istri sendiri bermanja-manja sama suaminya."
"Bukannya gak boleh, tapi harus tahu sikon (situasi dan kondisi), dong. Walaupun di rumah ini cuman ada kita berdua."
Sarah memang menuruti perintah Ravi, tapi masih diiringi dengan mengomel. "Sikap istri bagi suaminya itu harus lebih rendah dari seorang pelacur, Rav. Wajarlah kalo aku sampe begini sama kamu," ujarnya usai menyikat gigi. "Emang salah, ya?"
"Aku gak nyalahin kamu, kok. Cuman ngelurusin," balas Ravi setengah jengkel. "Lagian, kalo kayak istilah yang kamu barusan omongin itu, bukan cuman sebatas urusan birahi aja, Sar."
"Maksudmu?"
Lelaki itu kembali menjelaskan sambil memperhatikan istrinya. Tandas Ravi, "Kamu tahu gak sikap pelacur itu kayak apa? Mereka itu akan benar-benar melayani pelanggannya sepenuh hati. Mulai sejak datang, disapa dan ditawari kesukaan pelanggannya. Terus diajak ngobrol dengan penuh kemesraan, dirayu, dan terakhir … tentu saja urusan syahwat. Jika mereka ngelakuinnya demi uang, seorang istri untuk mendapatkan pahala."
Sarah merengut. Tanyanya ketus, "Kok, kamu hafal banget kelakuan mereka? Apa jangan-jangan kamu suka—"
"Astaghfirullah, Sar! Kok, nyangkanya malah 'gitu, sih?"
"Aku nanya, bukan nuduh!"
"Tapi nadanya kayak lagi nuduh, bukan nanya!"
"Emang salah?"
Plak!
Ravi menepuk kening sendiri. Pusing mendadak.
"Ya, enggak juga, sih," jawab Ravi sambil berpikir dan memilah kata-kata yang tepat untuk mengimbangi obrolan tersebut. "Lagian kalo mau nilai pelacur, ya gak usah ikut ngelacur juga 'ngkali. Tinggal perhatiin aja perempuan-perempuan nakal yang suka ngejajain diri malem-malem di pinggir jalan atau nonton film, misalnya. Segitu juga udah cukup buat ngambil gambaran."
"Kamu ini emang jago ngeles, Rav."
"Loh, bukan ngeles. Tapi aku cuman berusaha ngejelasin omongan kamu tadi. Kalo gak 'gitu, entar aku disangkanya macem-macem lagi."
"Kalo iya, 'gimana?"
__ADS_1
"Astaghfirullahal'adziim!"
...BERSAMBUNG...