Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 28


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 28...


...------- o0o -------...


Hanna manggut-manggut.


"Adapun perbedaan antara Manhaj dengan Mazhab itu adalah … kalo Manhaj itu adalah metodologi dalam memahami ajaran agama Islam, sedangkan Mazhab lebih umum membahas atau menguraikan perkara pedoman hukum dalam agama Islam. Ngerti gak kira-kira, Mbak?"


Jawab gadis tersebut pelan, "Saya malah bingung, Pak."


Ravi terkekeh.


"Ya, sudah …." pungkas lelaki itu akhirnya. "Emang perlu banyak belajar dan pemahaman tersendiri kok, Mbak. Tapi maksud saya ngebahas ini tadi adalah … kalo Mbak mau belajar tentang Islam, Mbak harus bisa memilih dan memilah guru pembimbing yang benar."


"Memangnya ada yang gak benar 'gitu, Pak?"


"Yaaa … maksudnya bukan berarti apa yang saya sampein tadi benar atau saya ini orang yang paling benar dalam memahami dan menjalankan syariat keislaman saya, tapi … seenggaknya … jangan mencari guru pembimbing yang mengajarkan sesuatu yang aneh."


"Maksudnya?"


"Duh, saya jadi bingung juga jawabnya, nih. Maksudnya saya itu adalah … duh, 'gimana ngejelasinnya, ya?"


Srek! Srek! Srek!


Laki-laki itu menggaruk-garuk kepala.


Tanya Hanna ikut semakin bingung dibuatnya, "Emangnya kenapa sih, Pak? Berat, ya?"

__ADS_1


"Enggak. Bukan begitu maksudnya, Mbak. Tapi …." Ravi berpikir sejenak. "Begini saja, deh, maksud saya itu … hindari pengajian-pengajian yang mengkultuskan diri atau kelompok mereka seolah-olah yang paling benar dan menghukumi kelompok lain yang berbeda pendapat dengan mereka sebagai kaum sesat dan ahli neraka."


"Hah? Kok, kayak begitu, sih? Emang ada yang 'gitu, Pak?"


"Ada. Bahkan ada yang sampe berani memberi stempel …." Ravi memelankan suara sedikit, " … kafir bagi yang enggak sealiran dengan mereka. Eh, maaf ya, Mbak."


"Maaf karena apa, Pak? Kok, jadi minta maaf?"


"S-saya … ngomongin kata 'kafir' barusan."


"Loh, emangnya kenapa?"


"Karena istilah 'kafir' itu adalah sebutan buat orang-orang yang bukan merupakan bagian dari umat Islam. Bukan justru bagi sesama Islam."


"Saya paham kok, Pak," balas Hanna seraya tersenyum. "Dulu saya memang pernah menjadi kafir. Iya, 'kan?"


"I-iya. Mungkin." Suara Ravi tergagap-gagap.


"Iya, sih," balas lelaki itu merasa agak lega kini. Tadinya, khawatir jika pembahasan semacam itu akan menyinggung perasaan Johanna "Soalnya … kata 'kafir' bagi sebagian orang-orang itu berefek sangat sensitif, Mbak. Makanya, seringkali diganti menjadi istilah 'non muslim'. Padahal maknanya 'kan, sama aja."


"Saya juga dulunya ngerasa kayak 'gitu, Pak, tapi kalo dipikir-pikir lagi … setiap agama 'kan punya istilah masing-masing buat ngenamain orang yang gak seagama dengan kita. Semisal, dalam agama Hindu mereka punya istilah Maitrah, Budha dengan istilah Abrahmacariyavasa, Istilah bagi Yahudi ada goyim, dan bagi umat Kristiani punya istilah Domba Yang Tersesat."


"Domba Tersesat?" tanya Ravi sekadar ingin memastikan. "Tapi saya pernah ngebaca ulasan tentang itu, katanya istilah 'Domba Yang Tersesat' itu sebutan buat orang Kristen itu sendiri yang enggak taat sama agamanya? Yang bener yang mana, sih?"


Pandangan Johanna berubah, seperti tengah menerawang jauh ke masa-masa sebelumnya. Kemudian gadis itu pun mulai bertutur, "Dulu … saya mendapatkan pelajarannya … ya, seperti itu. Tapi saya juga gak mau memungkiri, ada juga yang memaknai kalimat 'Domba Yang Tersesat' itu adalah sebutan buat hamba Tuhan yang sudah berani meninggalkan ajaran Tuhan dan hidup bergelimang dalam dosa duniawi. Sedangkan istilah buat orang yang mengingkari akan keberadaan Tuhan mereka, di dalam surat Matius 22:39 disebutkan sebagai 'Sesama Manusia'. Istilah 'Domba' itu sendiri dialamatkan pada umat Israel menurut kitab Perjanjian Lama dan berdasarkan kitab Perjanjian Baru justru ditujukan bagi umat Kristen, yaitu umat yang mendengarkan serta melakukan Hukum Kasih. Jadi kesimpulannya, istilah 'Kawanan Domba' adalah sebutan untuk umat Tuhan yang berada di bawah nama Yesus Kristus."


"Hhmmm," deham Ravi menyimak.


"Menurut surat Yohanes ayat 10, Tuhan sendiri mengidentifikasikan diri-Nya sebagai 'Gembala' yang menggembalakan kawanan domba-Nya, yaitu umat pilihan yang percaya kepada-Nya. Jadi kesimpulannya adalah bahwa istilah 'Domba' itu bukan tertuju pada umat lain yang enggak mengakui atau memercayai pada Tuhan. Begitu sih, yang saya pelajari dulu."


"Hhmmm."

__ADS_1


"Tapi … apapun istilah-istilah atau perumpamaan yang dipakai untuk menamai suatu umat atau kaum yang bukan merupakan bagian dari pemeluk suatu agama, sikap kita cukup dengan menghargai antar sesama umat manusia saja. Gak perlu tersinggung atau malah mengatur-atur hukum yang sudah tertera di dalam ajaran masing-masing, supaya sama dengan yang lainnya. Jelas itu gak bakalan bisa, karena dasar dan sumber pedomannya pun berbeda-beda."


"Hhmmm."


"Ya, semisal … istilah 'kafir' itu sendiri. Umat lain gak usah marah atau tersinggung dengan aturan yang ada di dalam Al Quran. Jelas-jelas istilah itu bersumber dari firman Allah. Bukan mengada-ngada apalagi bermaksud melecehkan."


Timpal Ravi, "Bener. Sepemikiran."


"Kalo dulu saya sendiri pernah tersinggung, justru sekarang malah bangga menjadi 'kafir' bagi agama saya sebelumnya. He-he."


"Kalo menurut saya sih, analoginya begini … di dalam sebuah rumah tangga itu 'kan terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ketiga komponen itu disebut atau diistilahkan bernama 'Keluarga'. Nah, pihak di luar itu jangan tersinggung jika enggak termasuk dalam kategori 'Keluarga' bagi ketiga komponen tersebut. Sebab pihak-pihak diluar 'Keluarga' tadi kalo gak bernama 'Kerabat', pasti beristilah 'Tetangga'. Ha-ha!"


Hanna turut terkekeh. "Ah, Bapak ini bisa saja. He-he," ujarnya geli.


Sejenak keduanya asyik saling mengumbar senyum. Hingga akhirnya Ravi pun teringat sesuatu dan berujar, "O, iya … semalem saya udah ngobrol sama dokter, pagi ini Mbak udah boleh pulang. Mbak hanya perlu istirahat dan menjaga pola makan."


"Iya, Pak, saya juga udah dikasih tahu sama perawat tadi sebelum ke sini."


"Oh, syukurlah kalo begitu," ujar Ravi kembali. "Terus … rencananya Mbak mau ke mana habis dari sini? Pertanyaan saya yang semalem juga belom Mbak jawab."


Hanna menunduk sedih. Keceriaan di wajah berkulit putih bersih itu mendadak sirna. Dia menggeleng pelan. "Saya juga gak tahu harus pergi ke mana hari ini, Pak?"


"Loh, kenapa? Bukannya Mbak masih punya keluarga?" tanya Ravi heran. "Kenapa gak pulang ke—"


"Saya mau dibunuh, Pak."


"Apa?!"


Seketika laki-laki itu terkesiap. Dia mulai mencium aroma yang aneh atas penuturan Hanna tersebut. Bukan masalah biasa atau terbilang sepele. Apakah itu ada kaitannya dengan perubahan status mualaf gadis itu? Pikir Ravi was-was. Pada saat itu pula, dia merasa bahwa keberadaan dirinya bagi Johanna akan bertambah panjang. Mengapa?


'Dia membutuhkan pertolongan dan perlindungan ….'

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2