
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 31...
...—------- o0o —-------...
Ravi tidak banyak bercerita setelah mengatakan dirinya pun tengah menghadapi masalah keluarga. Hal tersebut membuat Hanna tidak ingin bertanya lebih jauh. Dia cuma bisa menghela napas panjang, karena berpikir bahwa laki-laki yang telah menolongnya itu sedang dalam kesulitan.
"Saya pamit dulu ya, Mbak," ujar Ravi usai menyelesaikan urusan keuangan dengan pemilik kontrakan. "Nanti … Insyaa Allah … saya akan sering-sering nengokin Mbak di sini."
"I-iya, Pak," timpal Hanna dengan berat hati. Jujur saja, sebenarnya dia masih ingin bicara banyak dengan lelaki tersebut. Namun situasi yang belum memungkinkan, mengurungkan niatnya untuk menerima keadaan selagi saat itu.
"Mungkin buat sementara, cuma ini yang bisa saya lakuin buat ngebantu Mbak," imbuh Ravi kembali. Raut mukanya tampak seperti memendam rasa risau. "Tadi saya udah pesen sama pemilik kontrakan buat ngebantu kebutuhan Mbak di sini. Yaa … sementara juga sih, sampe saya nanti kembali lagi."
Balas Hanna kembali dengan mata mulai berkaca-kaca, "Terima kasih ya, Pak." Haru biru menggayuti sanubarinya yang terdalam. "Saya gak tahu mesti bilang apa, kecuali ngucapin puji syukur … Alhamdulillah … dan semoga kebaikan Bapak ini dibales sama Allah."
"Aamiin, Mbak. Terima kasih."
Kemudian laki-laki tersebut pamit hendak pergi dari sana. Tidak lupa, memberi bekal secukupnya pada Hanna untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan untuk beberapa hari ke depan.
"Saya jadi banyak berhutang budi sama Bapak," ucap Hanna ragu antara menerima atau menolak uluran bantuan tersebut. Ravi langsung menepisnya. "Sudahlah, saya cuman ngejalanin kewajiban aja dan cuman itu yang baru bisa saya lakuin. Maaf, ya."
"Aturan saya yang minta maaf, Pak, karena udah banyak ngerepotin Bapak."
Laki-laki itu hanya tersenyum kambing.
"Udah, ah. Saya balik dulu, ya?" ujarnya kembali berpamitan pada Hanna. Tidak lupa pula bersalaman dengan pemilik kontrakan tersebut, serta seorang wanita tambun yang sedari tadi duduk memerhatikan mereka di belakang warung kecilnya. Belakangan, barulah dikenalkan jika sosok terakhir itu adalah Ibu Tejo. 'Huh, apa gak salah lihat saya? Kok, ada ya, orang Cina ngontrak? Apa dia Cina melarat, 'gitu?' tanyanya di dalam hati. Mungkin karena berpikir seperti itulah makanya dia enggan mendekat dan berbaur dengan mereka, Ravi dan Johanna.
"Mari, Bu, saya mau masuk kamar dulu, ya?" ujar Hanna pada Bu Tejo. Namun wanita tua berbadan besar itu tidak balas menyahut. Dia hanya mengulas senyum kecil disertai sorot mata tidak bersahabat.
'Hhmmm, masih muda belia 'gitu kok, udah mau jadi simpenan laki-laki lain?' membatin Bu Tejo usai ditinggal Hanna masuk ke dalam kamar. 'Pasti dia perempuan yang gak bener. Sengaja diumpetin di sini biar gak ketahuan sama bininya laki-laki tadi. Tapi ….' Dia tersenyum-senyum sendiri. ' … Ganteng juga, sih. Hi-hi. Masih muda dan … kayaknya sih, laki-laki mapan.'
__ADS_1
"Eh, astaghfirullah!" serunya terkejut sendiri. "Lah, kenapa saya jadi su'udzon begini, yak? Malah pake ngebayangin laki orang lagi. Laki sendiri aja, biarpun dikata tampilannya kayak triplek coran, tapi masih kerasa legit sih. Kerasa ada manis-manis 'gitu. Hi-hi!"
Hanna sendiri, usai memasuki kamar, memilih untuk tiduran di atas selembar kasur lantai yang sebelumnya dipinjamkan oleh pemilik kontrakan. Benak gadis itu melayang-layang, mengurai kembali gambaran akan peristiwa yang dia alami. Terusir dari keluarga, hidup terlunta-lunta, kelaparan, jatuh sakit, bahkan sempat memilih jalan salah untuk mengakhiri hidup. Namun kuasa Tuhan berkata lain, dia malah dipertemukan dengan seseorang yang teramat asing. Laki-laki baik dan telah beristri ….
'Istri?' gumam Hanna tiba-tiba teringat pada ucapan Ravi tadi. 'Pak Ravi punya seorang istri dan aku kira … sepertinya dia lagi ada masalah keluarga. Apa ini ada hubungannya denganku? Mungkin istrinya marah gara-gara Pak Ravi gak pulang gara-gara nungguin aku?'
"Aaahhhh!"
Hanna bangkit dari tidurannya. Duduk sendiri sambil memutari pandangan ke seluruh sudut ruangan.
'Kenapa juga aku nerima bantuan Pak Ravi ini?' tanyanya gundah. 'Sejak kemaren, Pak Ravi udah banyak ngeluarin biaya banyak buat ngebantu aku. Apa ini berarti ….'
Tok! Tok! Tok!
'Ah, siapa itu? Pak Ravi kembali lagi?'
"Permisi, Neng."
'Oh, kayak suara si Bapak pemilik kontrakan tadi. Ada apa lagi, ya?'
Laki-laki tua tersebut tersenyum. Memperlihatkan deretan giginya yang sudah tidak utuh dan berwarna kecoklatan. "Ini saya bawa kasur sama kipas angin, Neng," ujarnya seraya memperlihatkan barang-barang yang tergeletak di sampingnya.
"Kasur dan kipas angin?"
"Iya, Neng. Tadi Bapak 'kan, pesennya 'gitu."
"Pak Ravi?"
"Iya. Pak Ravi."
"Ooohhh …." Bibir Hanna membulat. "Ya, udah. Sini, saya langsung bawa masuk, deh."
"Biar saya bantuin ya, Neng?" ujar lelaki tersebut menawarinya bantuan.
__ADS_1
"Ya, udah. Makasih banget loh, Pak, udah mau bawain kasur sama kipas anginnya."
"Gak apa-apa, Neng."
Dari sebelah samping kamar kontrakan, sesosok wanita tua memerhatikan mereka dengan raut wajah jutek. Namun begitu Hanna balas menengok, dia buru-buru mengalihkan pandangan dan berpura-pura sibuk dengan dagangannya sendiri.
Sebentar kemudian, pemilik kontrakan itu sudah merapikan kondisi kamar Hanna. Lantas lanjut berujar memberitahu, "Kalo Neng mau mandi, di sana …." tunjuknya ke arah kamar kecil yang berjumlah tiga ruangan di ujung samping deretan kamar-kamar kontrakannya. "Kalo mau beli makanan atau belanja keperluan kecil, di deket sini ada juga warung kelontong, kok."
"Di mana, Pak?" tanya Hanna seraya mengikuti arah yang ditunjuk.
"Di sana. Deket kok, dari sini. Palingan cuman tiga puluh meteran."
"O, iya. Makasih, Pak. Kebetulan, saya mau beli peralatan mandi."
"Ya, udah. Di sana aja. Lengkep, kok. Kebetulan … itu warung saya juga. He-he."
"Oh, punya Bapak juga? Alhamdulillah dong, ya," ujar Hanna merasa senang, tapi malah dibalas respons kaget oleh laki-laki di dekatnya itu. "Eh, kenapa, Pak? Ada apa?"
Sosok tersebut tampak kebingungan. Katanya, "Barusan Neng ini bilang … eh, maksud saya … duh, apa ya? Jadi lupa saya. Maaf, ya."
Hanna menatap laki-laki itu dengan pandangan terheran-heran. 'Bapak ini kenapa, sih? Kok, ngedadak gugup? Apa karena saya ngucap hamdalah barusan? Apa anehnya? 'Kan, aku juga ….' Gadis itu langsung tersadar. 'Ah, pasti karena aku turunan Tionghoa, terus dia pikir aku ini … kafir. 'Gitu ngkali, ya?'
"Saya permisi dulu deh, Neng." Tiba-tiba lelaki tua itu berpamitan begitu mendapati dirinya ditatap sedemikian rupa oleh Hanna. Imbuhnya kembali, "Saya mau jagain warung saya lagi."
"O, iya. Silakan, Pak," balas Johanna ramah. "Makasih ya, atas bantuannya, Pak."
"Iya, Neng."
Belum habis bertanya-tanya tentang sosok barusan, lagi-lagi gadis tersebut memergoki wanita tua di samping kamar kontrakannya itu tengah mencuri-curi pandang. Mungkin kalau sorot matanya normal, Hanna tidak akan berpikir apa-apa. Namun ….
'Hhmmm, ini kenapa, sih? Rata-rata … orang kalo nilai aku … orang keturunan Tionghoa … itu kayak … ngelihat sesuatu yang aneh, 'gitu. Kayak ada perasaan gak suka, benci, atau malah mungkin … curiga. Kenapa, ya? Padahal aku … kami juga manusia biasa kayak mereka. Hidup berdampingan layaknya sama suku-suku dan penganut agama lain.'
Hanna mendengkus keras.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...