Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 37


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 37...


...—------- o0o —-------...


Buru-buru Ravi memeluk istrinya. "Tenanglah, Sar, tenang," ujarnya seraya membelai rambut dan mengusap-usap punggung Sarah. "Kita coba lagi jalani rumah tangga kita, ya? Bareng-bareng, cuma kita berdua."


Sedikit ada penolakan dan rontaan dalam pelukan Ravi, tapi laki-laki itu bersikeras mempertahankan rangkulannya.


"Udah, dong. Kamunya jangan ngambek terus, Sar."


Timpal Sarah manja, "Lagian kamunya nyebelin terus."


"I-iya, maafin akunya, ya? Maafin. Kita pulang lagi malam ini juga. Aku kesepian kalo gak ada kamu, Sar."


Senyum perempuan itu mulai menguar di dalam pelukan suaminya. Dia merasa senang karena apa yang diharapkan dari sebelumnya, kini terwujud. Didatangi Ravi, memintakan maaf, terus merayunya untuk pulang.


"Tapi rumah udah kamu beresin, 'kan?" tanya Sarah usai pelukan terlepas.


Ravi gugup. Dia ingat belum merapikannya. "Eeummmhhh, nanti aku beresin kalo kita udah nyampe ke rumah. Tapi kamu mau pulang sekarang, 'kan?" Laki-laki itu menatap Sarah dan diiakan olehnya. 'Hhmmm, urusan begini saja mesti ribet amat, sih? Segala rupa kudu dilakuin.'


'Akhirnya, dia mau ngalah juga,' membatin Sarah. 'Begitu dong, kalo jadi cowok. Hi-hi.'


Maka keduanya pun bergegas untuk bersiap-siap pulang malam itu juga.


"Pada udahan marahannya?" tanya Ayah Sarah menyindir. "Nanti kalo ngambek, kamu balik lagi ke sini 'kan, Sar?" Disambut delikan Ibu Sarah pada suaminya dan berkata, "Papa ini … sama anak kok 'gitu, sih?"


"Lagian … udah gede juga masih aja ambekan 'gitu," timpal kembali Ayah Sarah.


"Namanya juga anak perempuan, Pah. Wajarlah."


"Ya, enggak begitu juga, Ma," ujar Ayah Sarah rada meradang. "Sekarang Sarah 'kan, udah nikah. Punya suami Nak Ravi. Aturan sedikit demi sedikit bisa ngerubah kelakuan kek. Jangan kolokan terus."


"Udah ah, Pa. Kok, jadi mojokin anak kita, sih?"


"Bukan mojokin, cuma ngasih nasehat."


"Ya, tapi 'kan caranya gak mesti begitu juga 'ngkali, Pa."


"Ya, itu dia. Kebiasaan Mama ngemanjain anak. Jadi begini 'kan kelakuannya?"


Ravi yang memerhatikan perdebatan kedua mertuanya jadi merasa tidak enak hati. Buru-buru dia menengahi. "Sudah ya, Ma-Pa. Ravi dan Sarah mau pulang dulu," ujarnya sembari membatin, 'pantesan aja sikap Sarah seperti itu. Nyatanya gak jauh beda sama mereka.'


"Papa kok, jadi nyalahin Sarah, sih?" rengek Sarah pada ayahnya. "Emang salah Sarah apa?"


"Pake nanya salah kamu apa lagi? Emang kamunya aja yang gak mau nyadar, Sar," jawab Ayah Sarah.


"Udah, Pa. Anak kita udah mau pulang, masih aja diomelin," timpal Ibu Sarah membela anak perempuannya. "Ayo, cepetan pada berangkat, 'gih. Entar kemaleman lagi, ah." Wanita tua itu membantu membawakan koper besar milik putrinya ke luar. "Hati-hati di jalan, ya? Awas, jangan pada ribut lagi."


"Iya, Ma," jawab Ravi malu. Lalu segera memasukan koper tadi ke bagian bagasi kendaraan.


"Kebiasaan si Sarah, nih," gerutu Ayah Sarah melihat Ravi bersusah payah mengangkat koper tersebut. "Bawa baju kayak mau ke bandara aja."


"Sudah ah, Pa. Dari tadi ngomel terus kayak perempuan," balas Ibu Sarah.


Ayah Sarah tersenyum masam, lantas mendekati Ravi dan berbisik cukup dekat di telinga, "Sabar ya, Nak. Kebanyakan, perempuan emang kayak 'gitu. Nyebelin."


"He-he."

__ADS_1


Ravi cuma mesem-mesem.


"Kalian bisik-bisik apaan, sih?" tanya Ibu Sarah kepo melihat kedua laki-laki tersebut. "Nggak ada, Ma," jawab Ravi buru-buru memotong. "Papa cuma nasehatin Ravi doang."


"Pasti minta cucu laki-laki, ya?"


"Nasehatin. Kamu gak denger apa kata Nak Ravi barusan?" semprot Ayah Sarah merasa sebal. "Kok, jadi lari ke urusan cucu? Gak nyambung."


"Biasanya juga begitu," timpal Ibu Sarah kembali. "Dari dulu Papa itu gak pernah berhenti minta anak laki-laki. Sekarang malah pengenin anak laki-laki."


"Ya, namanya juga kepengen, Ma. Wajarlah."


"Wajar sih wajar, tapi kalo emang dikasihnya anak perempuan semata wayang, mau 'gimana lagi?"


"Aaahh, Mama ini suka ngungkit-ngungkit urusan yang udah lama melulu. Malu apa didenger sama anak mantu kita, Ma."


"Fiiuhhh!"


Ravi mendesah. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bukan sekali ini saja melihat perdebatan kedua mertuanya tersebut.


"Sudah ah, Ma-Pa. Ravi berangkat pulang dulu, ya. Doain selamat sampe rumah," ujar Ravi seraya menyalami keduanya dan langsung memasuki kendaraan. Sementara Sarah sendiri sudah terlebih dahulu duduk di dalam sana tanpa banyak bicara. "Kamu mau yang nyetir atau aku, Sar?" tanyanya sebelum menyalakan mesin.


"Pikir aja sendiri, Rav," jawab Sarah cemberut. "Aku lagi kesel 'gini, masa kudu aku juga yang nyetir?"


Laki-laki itu memonyongkan bibir. Serba salah, pikirnya kesal, tidak berbeda jauh dengan dua orang yang ada di luar kendaraan sana.


"Yaaa … aku 'kan cuman nawarin aja, Sar," jawab Ravi pelan. "Kalo gak 'gitu, entar aku disalahin lagi, deh."


"Terus mau kamu, aku yang bawa mobil, begitu?"


"Enggak juga," jawab kembali Ravi seraya menggeleng-geleng. "Aku 'kan cuman nawarin. Nyobain ngikut keinginan kamu."


"Ya, enggak."


"Ya, udah kalo 'gitu."


"O-oke," ujar Ravi sambil menelan ludah. Pahit.


"Seharusnya dalam situasi begini, kamu yang megang kendali. Bukannya nuntut sama aku."


"Aku gak nuntut. Aku cuman nyoba nawarin, siapa tahu kamu mau?"


"Terus kalo aku mau, 'gimana?"


"Ya, gak 'gimana-'gimana. Silakan aja."


"Emang ya, kamu ini gak pernah peka ama perasaan perempuan."


"Bukan begitu. Aku nyoba hal-hal kecil buat nyenengin kamu, Sar. Siapa tahu begitu."


"Aku gak mau!"


"Ya, udah. Tinggal jawab begitu dari tadi, urusan langsung selesai, 'kan? Gak usah ngegede-gedein hal sepele kayak begini."


"Aku gak gede-gedein masalah," timpal Sarah tidak mau kalah. "Kamunya aja yang suka bikin masalah. Hal begituan aja ditanyain. Aneh, deh."


'Astaghfirullahal'adziim.'


Tok! Tok! Tok!


Ravi memijit tombol power window untuk menurunkan kaca jendela kendaraan.

__ADS_1


"Kenapa kalian belum jalan juga?" tanya Ibu Sarah terheran-heran. "Ada masalah lagi?"


Rengek Sarah mengadu, "Ini, Mah, Mas Ravi barusan—"


"Baik, Ma-Pa. Kami berangkat dulu, ya," tukas Ravi buru-buru menyalakan mesin kendaraan dan berpamitan. "Daahh, Mama-Papa. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Roda kendaraan pun segera meluncur meninggalkan pekarangan rumah. Terus membelah kegelapan alam dengan sinar lampu terang menuju jalan raya.


"Kebiasaan kamu, tuh. Kalo ada apa-apa, ngadu melulu sama Mamamu," gerutu Ravi makin merasa sebal.


"Lah, emang salah? Itu 'kan Mamaku sendiri," balas kembali Sarah melanjutkan perdebatan tadi. "Kalo ngadu sama Mama kamu, baru itu salah."


"Bukannya begitu, Sarah," ujar Ravi sambil mengendalikan kemudi kendaraan. "Kita ini sudah menikah. Segala urusan rumah tangga jadi tanggungjawab aku … kita bersama. Sekecil apapun permasalah kita, orangtua gak boleh tahu."


"Halah, paling kamu juga sering cerita sama Mama kamu. Iya, 'kan?" tuding Sarah tetap tidak mau mengalah.


"Ck!"


Ravi mendecak.


"Wallahi, Sar. Gak pernah sekalipun aku ngadu-ngadu sama Mama," elak lelaki tersebut semakin memanas kepalanya. "Lagian buat apa? Malu yang ada. Masa udah segede 'gini, kita masih ngerepotin orangtua, sih? Yang ada itu, justru orangtua kudunya ngerasa bahagia sama kehidupan anak-anaknya. Yaa … sama pernikahan kita ini, Sar."


"Bisa aja kamu bilangnya begitu, tapi di belakang aku kenyataannya lain."


"Astaghfirullah! Aku udah bersumpah loh, Sar. Aku udah ngucapin 'wallahi'. Itu artinya, mau benar atau enggak, kamu wajib percaya sama aku."


"Kalo bohong, masa aku mesti percaya juga?"


"Ya, gak mungkinlah aku bohong pake nyebut-nyebut nama Allah. Itu dosa besar, Sar. Masa yang beginian saja kamu gak paham, sih?"


"Gak usah ngasih tahu aku masalah begituanlah. Kamu pikir aku fakir ilmu agama, apa?"


"Syukurlah kalo kamu emang ngerasa jauh lebih pinter," ujar Ravi kesal. "Terus, buktinya mana? Tibang masalah beginian saja, kamu permasalahin."


"Lagian, kamu ini sukanya ceramah melulu. Dipikirnya aku ini bodoh, apa?"


Ravi melirik sejenak pada istrinya yang tengah cemberut.


"Bukan masalah bodoh atau enggaknya, Sar. 'Kan, emang udah kewajiban aku sebagai seorang suami, ngebimbing kamu sebagai istri aku. Salahnya di mana, coba?"


"Jadi kamu nganggap aku ini bodoh, begitu?" tanya Sarah semakin membuat hati suaminya emosi. "Inget loh, aku ini sering ngikut pengajian sama grup liqa' aku. Jadi sedikit banyaknya, aku juga tahulah masalah-masalah agama."


"Lah, tadi buktinya? Aku sumpah 'wallahi' saja, kamu masih gak percaya?"


"Ya, 'kan aku cuman pengen lebih mastiin aja, Ravi! Kok, kamu gak paham-paham juga, sih? Aneh, deh."


Ciittt!


Ravi membanting kemudi ke kiri. Menghentikan laju kendaraan di pinggiran jalan. Lantas menarik napas panjang dalam-dalam.


"Kenapa lagi? Kamu mau bikin kita celaka?" tanya Sarah sinis.


Ravi mengangkat telapak tangan ke arah istrinya. "Sebentar, aku pengen nenangin dulu hati," kata lelaki itu masih dengan tarikan napas kembang-kempis. "Kamu diem aja dulu. Jangan ngomong apa-apa."


"Kamu marah sama aku?"


Ravi tidak ingin menjawab. Dia bergegas membuka pintu, keluar, dan menghirup dinginnya udara malam. "Astaghfirullahal'adziim …." desahnya berulang-ulang.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2