
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 52...
...—------- o0o —-------...
Seperti biasa, pagi-pagi di waktu janari, Hanna sudah bangun tidur lebih awal. Itu dia lakukan sejak sebelum memutuskan untuk menjadi mualaf beberapa waktu sebelumnya.
Masih teringat dengan jelas di dalam benak gadis tersebut, dulu sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, dia senantiasa belajar melalui buku-buku dan juga bantuan internet. Tayangan video dari penceramah Syekh Ahmed Hussein Deedat dan Dokter Zakir Abdul Karim Naik adalah yang paling difavoritkan. Dari mereka pula Hanna semakin yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sangat logis dan benar. Tidak cukup sampai di sana, belajar secara otodidak tentang pelaksanaan ritual salat pun sering dilakukannya secara diam-diam.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu kamar. Sementara Johanna masih mengenakan balutan mukenanya.
"Hanna!"
Gadis itu terperanjat.
"Astaga!" serunya kaget dan secepatnya melepas busana khas muslimah khusus untuk beribadah salat tersebut. "Mama?" Dia langsung mengenali suara yang memanggilnya tadi.
Tok! Tok! Tok!
"Hanna, bukain pintu, Nak!" seru kembali Mama Lilian seraya mengetuk-ngetuk daun pintu kamar anaknya.
"I-iya, Ma! Sebentar!" sahut Johanna tergesa-gesa menyembunyikan lipatan kain mukena ke bawah bantal tidur. Setelah dirasa aman, barulah dia memburu kunci pintu dan membukanya. "Iya, Ma. Ada apa?"
Mama Lilian menatap wajah putrinya beberapa saat. "Kamu lagi ngapain di kamar? Kok, pake dikunci segala?" tanya wanita tua tersebut terheran-heran. Dia melongok ke dalam kamar dan mencoba mencari tahu, mungkin ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh anak gadisnya itu.
Johanna menjawab gugup, "Gak apa-apa, Ma. Hanna cuman lagi tiduran sambil dengerin musik pake headset. Makanya sempet gak denger suara panggilan dari Mama barusan."
Mama Lilian melangkah masuk ke dalam kamar. Pandangan berputar-putar, menyapu ke semua penjuru ruangan. "Beneran cuman tiduran? Kamu sakit?" tanyanya berpura-pura memeriksa jendela. Siapa tahu ada sosok anak muda baru saja keluar lewat sana dan sedang bersembunyi di bawahnya. Kemudian wanita tua itu membalik badan menatap Johanna.
"Enggak, Ma. Hanna sehat, kok," jawab kembali gadis berkulit putih tersebut.
Mata ibunya masih menatap tajam. Lantas kembali mengajukan pertanyaan. "Kamu gak lagi ngumpetin sesuatu dari Mama, 'kan?"
Johanna terperanjat. Dia teringat pada kain mukena yang berada di bawah tumpukan bantal. "Enggaklah, Ma. Emang ngumpetin apaan, coba?" kilahnya tiba-tiba merasa agak khawatir.
"Hhmmm," deham Mama Lilian. "Terus kenapa pake ngunci pintu kamar segala? Gak biasanya kamu kayak begini."
Jawab Hanna untuk yang kesekian kali, "Yaaa … gak apa-apa. Hanna cuman lagi gak pengen digangguin aja."
"Digangguin?" Mata sipit Mama Lilian membelalak hebat. "Kamu ngerasa Mama gangguin kamu?"
"Maksudnya bukan Mama, tapi si Andrew, Ma!"
"Oohh … hhmmm." Mama Lilian manggut-manggut. "Tugas kuliahmu udah kamu kerjain semua?"
Hanna berpikir sejenak. "Sudah, tapi masih ada beberapa lagi yang belum beres," jawabnya berbohong.
"Jadi … besok Minggu, kamu gak ikut Mama ke Gereja lagi, dong?"
"Hah?"
"Kok, hah?"
"I-iya … maksud Hanna … kok, Mama nanyanya begitu, sih?" Suara Johanna terdengar gelagapan.
__ADS_1
"Ya, 'kan selalu itu yang jadi alasan kamu tiap kali Mama ajak ke Gereja," tukas Mama Lilian setengah menyelidik. "Apa gak bisa ditunda sebentar, mungkin? 'Ngkali aja gak sampe seharian ini, kok. Iya gak, Han?"
Johanna menggeleng seraya menjawab, "Gak tahu, Ma."
"Kok, gak tahu?"
"Maksud Hanna …." Gadis itu berusaha menghindari tatapan mata ibunya. "Hanna pengen fokus dulu ke tugas kuliahan, Ma."
"Sampe kapan?" tanya kembali Mama Lilian, mendesak.
"Hanna gak tahu."
"Kok, gak tahu lagi?" Mata sipit wanita tua itu kini kian mengecil. Hanya terlihat seperti satu garis lurus di tengah-tengah kelopaknya. "Apa ada alasan lain yang lebih logis, biar entar Mama bisa bantu ngejawab kalo Papamu nanyain kamu terus?"
Johanna mengangkat wajah, menatap ibunya. "Emang Papa nanyain apa?"
"Ya, persis yang kayak Mama tanyain sama kamu tadi."
Tidak sadar, gadis itu mendecak.
"Sebenernya kenapa sih, Nak? Udah berapa kali loh, kamu gak ke Gereja. Kamu gak kangen sama Tuhan?" tanya Mama Lilian mencoba menyelidik, tapi dengan cara yang lembut.
"Buat bertemu dan menyapa Tuhan, kita gak perlu harus selalu ke Gereja, Ma," jawab Johanna. "Di rumah, di kamar ini, atau dimanapun kita lagi berada, Tuhan itu selalu ada. Karena Dia selalu hadir di hati, berupa keimanan. Mama ingat firman Tuhan dalam surat Amsal 15:3 dan Mazmur 119:11, 'kan? 'Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik,' dan 'Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.' Hanna masih inget kedua bunyi ayat Alkitab itu, waktu Hanna masih sekolah Minggu dulu." Mata gadis itu melirik sejenak ke arah ibunya. Sejujurnya, dia menukil kalimat 'Tuhan ada di hatimu' tadi adalah berupa judul sebuah buku karangan Husein Ja'far Al Hadar.
"Iya, tapi konteksnya gak mesti kayak 'gitu juga, Nak," kilah Mama Lilian. "Iman itu harus dibuktikan secara nyata, berkumpul bersama-sama dalam doa, dan melaksanakan perayaan kebangkitan Yesus Kristus di hari Minggu. Makanya di hari itu, kita sama-sama ke Gereja."
Sebenarnya Johanna ingin mendebat, tapi dia sadar, hal itu mustahil dia lakukan sekarang. Bisa jadi untuk sementara waktu. Entahlah jika situasi ke depan sudah memungkinkan.
"Ayo, kita makan malem, Nak," ajak Mama Lilian di akhir perbincangan. "Papa dan adikmu Andrew, udah nunggu tuh, di ruang makan."
"I-iya, Ma. Mama duluan aja. Nanti Hanna nyusul," ujar Hanna mencoba untuk mengulur waktu. Bukan apa-apa, dia tahu apa yang selalu ibunya masak. Sesuatu yang mulai ingin dihindari untuk saat itu, besok, lusa, dan seterusnya.
"Iya, Ma."
Sepeninggal ibunya, Johanna berpikir, bagaimana caranya agar dia tidak sampai ikut makan malam bersama keluarganya. Tidak makan? Tentu akan menimbulkan pertanyaan. Beli di luar? Justru akan melahirkan kecurigaan. Padahal kalau mau jujur, rasa perih yang menggigit-gigit perut sedari tadi, sungguh teramat menyiksa.
Akhirnya, diiringi rasa bimbang, gadis itu pun terpaksa bergabung. Namun ….
"Kok, makannya dikit, Han?" tanya Papa Jonathan begitu memerhatikan isi piring anak perawannya tersebut. "Biasanya kamu paling suka sama olahan daging—"
"Hanna lagi diet, Pa," jawab Johanna memberi alasan.
"Diet?" Spontan mata lelaki tua itu melirik istrinya. Reaksi Andrew justru tertawa-tawa. "Anak kita kegemukan, Ma?"
"Ah, enggak. Proporsional, kok," jawab Mama Lilian. "Jangan aneh-aneh deh kamu, Hanna. Makan … makan."
"Enggak, ah. Cukup segini aja," balas Johanna tetap menolak. "Belom ini nasi … karbohidrat. Daging yang itu … lemak. Enggak … enggak! Entar badan Hanna tambah melar lagi, ah!"
"Terus … Kakak cuman makan nasi ama sayur sop doangan?" tanya Andrew mencandai kakaknya. "Yakin 'gitu?"
"Iyalah! Emangnya kamu, segala macem masuk ke perut. Wew!" balas Hanna seraya menyendok kuah sayur sop ke atas tumpukan nasi di piringnya.
Tawa Andrew kian mengeras. Sampai-sampai Lilian dan Jonathan melotot mengingatkannya.
"Laaahhh … 'kan, sayur itu juga pake lemak babi, Kak. Ha-ha!" imbuh anak laki-laki muda yang masih duduk di bangku SLTA tersebut.
"Apa?!"
Johanna terkejut dan hampir saja memuntahkan kembali suapan nasi yang sudah terlanjur dia kunyah. Namun keburu sadar, jika sampai dilakukan, maka keluarganya akan mencurigai.
__ADS_1
'Ya, Tuhan … 'gimana, nih? Masa aku kudu pura-pura pamit ke belakang buat muntahin makanan ini? Kalo Papa sama Mama curiga, aku harus jawab apa, dong?' Bertanya-tanya gadis itu kebingungan. 'Dih, lagian Mama … kenapa juga tiap hari masak makanan haram begini, sih? Yesus juga 'kan, gak pernah makan daging babi. Kenapa kita umat-Nya justru ngonsumsi?'
Terpaksa untuk saat itu, sedikit demi sedikit Hanna menyuapkan makanan di piring ke dalam mulutnya.
'Ya, Allah … maafin Hanna, ya? Hari ini Hanna ngelanggar larangan-Mu. Habis 'gimana, dong? Hanna bingung mesti ngapain, coba, sekarang?'
Akhirnya ….
"Hanna makan di kamar aja deh, Pa-Ma. Maaf, ya. Permisi," ujar Johanna seraya membawa piringnya yang masih tersisa banyak ke kamar tidurnya.
"Han! Hanna!" panggil Mama Lilian, tapi tidak digubris oleh anak gadis tersebut.
"Hanna kenapa sih, Ma? Akhir-akhir ini kelakuan dia suka aneh-aneh," ucap Papa Jonathan dengan kening berkerut.
"Gak tahu, Pa," jawab Mama Lilian. Sebentar berpikir, lantas bertanya balik, "Apa dia lagi jatuh cinta, ya?"
Papa Jonathan melongo. "Hubungannya apa sama jatuh cinta?" tanyanya heran.
"Biasanya … anak perempuan kalo lagi jatuh cinta tuh, persis kayak Hanna kelakuannya."
"Emang Mama pernah ngerasain?"
"Iyalah. Dulu waktu Mama jatuh cinta sama Papa."
"Pret! Gombal!"
"Eh, beneran!" tandas Mama Lilian. "Pengennya itu ngerem di kamar, sendirian, ngunci pintu, ogah kemana-mana. Sampe-sampe … makan pun pengen sendirian."
"Kok, 'gitu?"
"Yaaa … 'gimana, ya? Pokoknya, risih aja 'gitu kalo ada yang merhatiin," kata Mama Lilian kembali. "Intinya … persis kayak kelakuan Hanna tadi, tuh!"
"Ah, Andrew gak kayak 'gitu," ujar Andrew turut menimpali. "Naksir ya naksir aja. Urusan makan sih, cuek. Di mana aja juga bisa. Lebay!"
"Hus, kamu 'kan anak cowok. Bedalah!" protes Mama Lilian.
"Bedanya?"
"Tanya aja sama Papamu, tuh!"
"Ha-ha-ha!"
Papa Jonathan malah mengakak keras. Kemudian bersama anak lelakinya, dia mengajak berbicara di ruangan lain. Tinggal kini Mama Lilian ditinggal sendiri. Duduk termenung dan sesekali menoleh ke arah kamar anak perawannya, Johanna.
'Gak mungkin Hanna lagi jatuh cinta,' bisik hati wanita tua tersebut. 'Dia kayaknya lagi ngumpetin sesuatu dari kami. Tapi … ah, kok pikiran ini ngarah ke situ melulu, ya? Apa mungkin, 'gitu?'
Mama Lilian mendesah.
'Jarang mau diajak ke Gereja, pintu kamar sering dikunci pada waktu-waktu tertentu, dan … mulai ngehindari makan daging yang satu itu. Apa mungkin … itu ciri-ciri dari ….'
"Ya, Tuhanku …." keluh Mama Lilian sambil merapatkan kedua jemari tangan dalam posisi saling mengunci, menempatkannya tepat di bawah dagu, kemudian merapatkan kelopak mata. "Tolong lindungilah keluargaku, Tuhan. Apapun yang terjadi, itu semua atas kehendak-Mu. Amin."
Di saat itulah, tiba-tiba terdengar seperti suara orang yang sedang muntah-muntah.
"Ooeekkk!"
"Hanna?"
Mama Lilian langsung memburu kamar anak gadisnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...