Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 63


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 63...


...------- o0o -------...


“Ya, sudah,” kata Johanna akhirnya, “kalo begitu, aku tunggu di kontrakan, deh. Tapi Mas Ravi jemput aku, ‘kan?”


“O, iya. Itu sudah pasti dong, Han,” jawab Ravi terdengar semringah sekali mendengar kesanggupan gadis tersebut untuk bertemu. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Johanna saat itu, secara diam-diam. “Insyaa Allah, aku akan ke sana sepulang kerja. Tapi bener ya, kamu nungguin aku di sana?”


“Insyaa Allah, Mas. Emangnya, kapan sih aku bohong sama kamu?” tanya Johanna tidak sadar  dengan gaya sedikit manja.


“Oke. Sampai jumpa nanti, ya. Assalamu’alaikum, Hanna.”


“Wa’alaikum salaam, Mas Ravi” balas Johanna lembut, lantas segera memutuskan panggilan tersebut. Dia tersenyum-senyum sendiri untuk beberapa saat, sampai kemudian raut wajah itu kembali berubah datar. ‘Astaghfirullahal’adziim, apa yang barusan aku lakukan?’ tanyanya setelah mulai tersadar. ‘Ini sama sekali di luar kendaliku! Ini bukan nada percakapan layaknya seorang teman! Aku tidak kuasa menahan luapan sisi emosi diriku sendiri!’


Johanna mendesah. Lalu memejamkan mata rapat-rapat. Dia menyadari bahwa sebagai seorang manusia biasa, tentulah tidak akan luput dari khilaf. Ungkapan bernada lembut pada Ravi tadi merupakan gambaran sesungguhnya dari perasaan Johanna. Ada kisi-kisi hati yang lupa untuk disembunyikan dari ruang pendengaran laki-laki itu. Lambat laun mulai berkumpul sejak awal bertemu, lalu sedikit demi sedikit membentuk gumpalan yang kian membesar. Entah akan bagaimana kelak wujudnya kelak. Yang pasti, sebagian dari sisa-sisa kenangan Johanna bersama Reychan dulu, makin terkikis oleh sosok baru tersebut.


‘Ya, Allah … mengapa sekarang aku jadi begini?’ tanya gadis tersebut bertanya-tanya. ‘Tunjukkanlah hamba ke jalan yang Engkau ridhai, ya Rab. Jangan sampai langkah hamba ini kembali tersesat, yaa muqallibal quluub. Hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati ini.’


“Neng Hanna!” terdengar sebuah panggilan dari kejauhan. “Neennggg! Neng Hannaaa!”


Gadis bermata sipit itu menoleh. “Bu Tejo ….” gumamnya begitu mengenali sosok yang memanggilnya barusan. ‘Aahhh, aku sampai lupa memberi kabar Bu Tejo. Pasti beliau selama ini bertanya-tanya tenyang aku.’


“Buuu!” Johanna membalas sembari melambaikan tangan. Kemudian bergegas mendekati sosok yang sering kali membantunya tersebut. “Assalaamu’alaikum, Bu.”


Bu Tejo menyambut dengan penuh suka cita. “Wa’alaikumussalaam, Neng Hanna,” balasnya, lantas segera menghampiri dengan langkah tergopoh-gopoh. “Ya, Allah … ya, Rabbi! Ke mana aja selama ini, Neng? Saya sampe bingung nyari-nyari Neng Hanna. Tanya sana-sini, tapi gak ada satu pun yang tahu.”


Mereka pun berpelukan erat dan saling mencium pipi kanan-kiri.


“Maafin saya, Bu,” kata Johanna usai melepas dekapannya. “Saya sampe gak inget gak ngasih kabar sama Ibu.”


“Iya, Neng,” balas Bu Tejo tampak berbunga-bunga. “Saya sampe nanyain sama tukang ojek yang suka nganter-jemput Neng Hanna kuliah itu, loh. Laaahhh, dia sendri ngejawabnya sama-sama gak tahu juga.”


“Iya, maafin saya ya, Bu. Lupa. He-he.”


“Ayo, mampir dulu ke warung saya,” ajak Bu Tejo setengah memaksa sambil menarik-narik lengan gadis tersebut. “Saya bikinin minuman dingin, ya? Neng Hanna pasti haus, ‘kan?”


“Gak usah, Bu. Jangan repot-repot, ah.”


“Gak repot, kok. Orang saya seneng banget bisa ketemu lagi sama Eneng,” timpal Bu Tejo semringah. “Ayo, duduk sini. Sebentar, saya ambilin dulu air dinginnya, ya?”


“Gak usahlah, Bu. Terima kasih.”


“Aahhh, cuman air dingin doang, kok,” kata sosok bertumbuh tambun itu seraya bergegas masuk ke dalam kamar kontrakannya. “Jangan dulu kemana-mana, Neng! Tunggu di situ!” serunya dari sana.


“Iya Buuu!”


Tidak berapa lama, Bu Tejo sudah kembali lagi sambil membawa sebotol air dingin lengkap dengan gelasnya. Tidak sampai di situ, begitu duduk berdampingan di teras warungnya, dia pun segera menuangkan air tersebut sampai hampir penuh.


“Minum dulu, Neng. Pasti haus, ‘kan? Ayo ….”

__ADS_1


“Iya, Bu. Terima kasih,” kata Johanna, lantas mengambil sodoran gelas tadi dari tangan Bu Tejo langsung. Mereguk sedikit dan tersenyum. “Alhamdulillah, seger banget, Bu.”


“Neng Hanna juga pasti belum makan siang. Saya siapin, ya?”


“Aduh, jangan deh, Bu! Gak usah! Ini aja sudah cukup, kok.” Johanna menolak tawaran Bu Tejo. “Saya tadi sudah makan di kampus,” katanya beralasan.


“Beneran?” tanya Bu Tejo seakan belum percaya dengan ucapan sosok yang selama ini kerap dia rindukan. “Kalo masih laper, saya siapin sekarang juga, loh.”


“Iya, Bu. Bener, kok.”


“Ya, sudah kalo begitu. Alhamdulillah,” ucap Bu Tejo. Kali ini dia memegangi lengan Johanna dan mengusap-usapnya dengan lembut. “Saya seneng banget bisa ketemu lagi sama Neng Hanna. Kirain Eneng gak bakalan lagi ke sini. Sedih loh saya, Neng.”


“Iya, Bu. Terima kasih. Saya juga kangen sama Ibu. Makanya nyempet-nyempetin ke sini, sekalian lihat-lihat kamar kontrakan.”


“Emangnya selama ini Neng ke mana, sih? Pergi kok, gak bilang-bilang? Ilham juga sering nanyain Eneng, loh.”


“Ilham? O, iya … ke mana dia? Kok, gak kelihatan?” Johanna memutari pandangan ke sekeliling tempat. Jawab wanita tua tersebut, “Tadi saya suruh belanja ke pasar. Sebentar lagi juga pulang.”


“Oh, ‘gitu?  Syukurlah, Ilham masih mau bantu-bantu Ibu,” kata Johanna turut merasa senang.


“Beberapa hari ini, dia juga kelihatannya sering murung terus, Neng,” ungkap Bu Tejo.


“Loh, kenapa?” Johanna heran.


“Ya, gak tahu. Tiap kali saya tanya, dia mah gak mau jawab,” kata Bu Tejo kembali terdengar lirih. “Mungkin kangen juga sama Neng Hanna.”


“Waduuhhh, kasihan banget. He-he.”


“Ooohh, bad mood ‘ngkali maksudnya, Bu.”


“Naahhh, iya itu. Bedmud katanya,” ujar Bu Tejo diiringi tawanya begitu renyah membahana. “Gak tahu-lah pokoknya. Maklum … anak remaja lagi masa-masanya ‘gitulah. Hi-hi.”


“He-he.”


Lanjut Bu Tejo bertanya, “Eh, tadi Neng Hanna belum ngejawab pertanyaan saya. Ke mana aja selama ini, Neng?”


Sejenak Johanna terdiam. Tiba-tiba teringat pada mendiang ayahnya, Jonathan. “Papa saya meninggal beberapa hari yang lalu, Bu.”


“Astaghfirullah … eh, maksud saya … innalillahi wainna ilaihi raaji’uun.”


Johanna tersenyum lirih mendengar ucapan Bu Tejo. “Cukup bilang … innalillahi saja, Bu. Gak usah seterusnya.”


“Loh, memangnya kenapa? ‘Kan, biasanya kalo ada yang meninggal dunia, ngucapnya … ya, begitu,” timpal Bu Tejo merasa heran.


Johanna tertunduk sesaat, lantas kembali menjawab, “Papa saya itu … non muslim, Bu.”


“Astaghfirullah!” bu Tejo mengusap-usap bibirnya. “Kalo begitu … pit ah, pit! Maaf ya, Neng. Saya tarik lagi deh, ucapin yang tadi. Saya ganti jadi … jadi … turut berduka cita. Nah, itu mungkin lebih pas, ya?”


Johanna kembali tersenyum. “Iya, Bu. Gak apa-apa. Terserah Ibu saja.”


“Tapinya … duh, maaf-maaf nih ya, Neng. Kalo ama yang bukan orang Islam mah, ‘kan gak boleh ngucapin kalimat yang tadi, ya? Kecuali kalo buat yang sesama muslim.”


Johanna mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Yaaa … sepengetahuan saya sih, ada benernya, tapi ada kelirunya juga.”


“Lah, kok bisa begitu, Neng?” tanya Bu Tejo antara merasa heran dan penasaran.


Gadis itu menarik napas sejenak sebelum menjawab. Kemudian lanjut berkata, “Ada beberapa pendapat ulama yang memboleh, sebagian lainnya melarang. Untuk itu sih, terserah kita, mau ngambil yang mana. Toh, kedua-duanya tadi itu, pasti … masing-masing pihak pada-pada punya landasan hukumnya tersendiri.”


“Emang ada alim ulama yang ngebolehin, Neng?”


“Ada, tapi dengan batasan tersendiri.”


“Maksudnya?”


“Kita boleh ngucapin kalimat yang tadi, tapi gak sampe utuh atau penuh. Misalnya, innalillahi wainna ilaihi raaji’uun. Itu khusus buat sesama muslim. Kalo buat non muslim, cukup bilang; innalillahi. Udah segitu aja, jangan sampe diterusin. Makanya tadi juga ‘kan saya bilang, ‘cukup bilang … innalillahi saja, Bu. Gak usah seterusnya.’ Begitu ‘kan tadi?”


“Emang ada dalilnya buat ngebolehin atau ngelarang ngucapin kalimat itu buat … duh, maaf ya, Neng … buat … buat … bapaknya Neng Hanna, misalnya?”


“Sebentar ya, Bu. Saya mau minum dulu.”


“O, iya. Silakan, Neng, silakan.”


Usai meminum beberapa tegukan, Johanna kembali menjelaskan. “Kalimat innalillahi wainna ilaihi raaji’un itu kalo dalam istilah agama kita disebut dengan nama Istirja’, yaitu merupakan salah satu kalimat yang memiliki makna baik atau bagus. Intinya adalah salah satu kalimat yang mengandung unsur doa.”


Bu Tejo mendengarkan dengan saksama penjelasan yang disampaikan oleh Johanna.


“Kalimat Istirja’ tadi bermakna; Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali. Semua makhluk bernyawa pasti akan mengalami kematian, karena sesungguh Allah adalah yang Mahamemiliki kuasa kehidupan atas makhluk-Nya. Termasuk non Islam sekalipun, Papa saya juga makhluknya Allah, maka tentu beliau juga adalah milik Allah.”


“Terus kenapa gak boleh lanjut membaca sampe kalimat; wainnailaihi raa’jiun. Karena jika diartikan; dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali. Kalimat yang terakhir ini mengandung unsur doa yang bisa bermaka kebaikan maupun permohonan pengampunan atas orang yang sudah meninggal kepada Allah. Nah, di sinilah letak pelarangan itu dimulai, dengan mengambil dalil di dalam Al Qur’an surah At-Taubah ayat 113.”


“Bunyi ayatnya ‘gimana, Neng?”


“Ibu cari saja nanti sama terjemahannya, ya. Saya sendiri gak begitu hapal bunyi ayatnya. He-he.”


“Laaahhh, kirain hapal juga?”


“Insyaa Allah, nanti saya hapalin. Sekalian, mudah-mudahan bisa menjadi seorang hafidzah juga.”


“Hafidzah itu apa, Neng?”


“Penghapal Al Qur’an untuk akhwat.”


“Akhwat sendiri apa, Neng?”


“Akhwat itu dari kata ukhti, yang artinya perempuan, teman perempuan, atau saudari perempuan. Pokoknya orang-orang yang berjenis kelamin perempuan-lah. Disebutlah akhwat.”


“Jadi hubungannya hafidzah sama akhwat, apa?”


“Ya, itu tadi. Hafidzah sebutan untuk orang hapal Al Qur’an dari kalangan perempuan, sedang buat laki-laki disebut hafidz. Sama kayak istilah ustadz sama ustadzah. Pernah denger ‘kan, Bu?”


“Ya, iyalah. Saya ‘kan, jamaah setia majlis ta’lim. Tiap ada kajian Islam, saya hadir. Tiap kali ada pengajian, saya hadir. Tiap kali ada rajaban atau maulidan, saya juga hadir. Kecuali acara tahlilan, di situ saya gak bisa ikut hadir. Soalnya itu khusus acaranya laki-laki. Hi-hi.”


‘Hhmmm.’


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2