
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 42...
...—------- o0o —-------...
"Ooeekkk!"
Bukan rasa segar yang dirasa, akan tetapi mulutnya tiba-tiba seperti terbakar. Ada aroma menyengat hingga memerihkan lorong pernapasannya.
Sontak pengunjung area cafe serempak menoleh ke arah mereka berdua.
"Minuman apa yang elu kasih ama gua, Dil?" tanya Ravi seraya mengurut-urut lehernya yang kepanasan. Walaupun belum pernah mencoba, tapi dia bisa menebak jenis minuman apa yang baru saja sedikit dia teguk barusan. "Elu ngasih gua khamr, 'kan?"
"Rav, tenang dulu. Santai. Jangan bersikap kayak 'gitu di sini," pinta Fadil merasa malu karena sudah menjadi pusat perhatian seisi cafe. "Biar gua jelasin ya, Rav. Gua harap elu bisa santai sedikit. Oke, Kawan?"
Ravi tidak lagi menimpali, tapi sorot matanya jelas menandakan bahwa dia tengah menahan amarah. Usai mengentakkan napas kesal, lantas berlalu begitu saja dari hadapan sahabatnya.
"Rav, tunggu!" seru Fadil seraya memburu langkah Ravi. "Dengerin dulu penjelasan gua! Jangan pergi!"
"Sorry, Dil. Ini sama sekali gak lucu," ujar Ravi sambil terus berjalan meninggalkan cafe.
"Iya," timpal Fadil berusaha menghalang-halangi langkah laki-laki tersebut. "Maafin gua, Kawan. Gua gak bermaksud—"
"Gak bermaksud?" Langkah Ravi terhenti. Dia memandangi wajah Fadil dengan saksama. "Elu pikir yang elu lakuin tadi itu lucu? Bercanda maksud lu, 'gitu?"
"Sorry, Rav. Gua bener-bener minta maaf."
"Terus?"
"O-oke … oke, gua ngaku salah. Sorry. G-gua janji, gak bakalan bercanda lagi kayak tadi."
"Terus?"
"Iya, tapi sikap lu jangan kayak 'gini, dong. Please."
"Terus mau lu sekarang apa?"
Fadil terlihat makin gelagapan. "Ya, gak ngapa-ngapain juga. G-gua cuman bilang … maaf, gua emang salah, dan gua udah janji gak bakalan lagi nyandain elu kayak tadi. Serius. Sumpah!" ujar Fadil seraya mengacungkan kedua jari tangan kanannya ke atas.
"Hhmmm!"
Fadil menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Kita masuk lagi. Nenangin pikiran lu. Terserah, abis itu elu mau ngapain. Oke?"
Ravi mendecak. Sejenak dia melirik ke arah dalam cafe, kemudian berdecak kembali. "Tempat begini gak cocok buat gua," katanya disertai wajah kusut. "Gua pengen tempat yang tenang dan gak mesti berada di antara keramaian kayak 'gitu. Lu tahu dong gua."
"Ha-ha! Iya, iya. Gua paham. Dasar introver lu!" ejek Fadil dibarengi ketawanya tergelak-gelak. "Tadinya gua cuman pengen ngetes elu aja. Nyatanya emang gak cocok, ya? Ha-ha. Sorry …."
'Ah, sial!' maki Ravi di dalam hati. 'Seharus si Fadil jangan ngajak gua ke sini, ngapa? Tapi … gua sadar, dia cuman bermaksud pengen bikin gua nge-fresh. Masalahnya … gua gak mau minum-minuman beralkohol. Bisa ngamuk Mak gua kalo tahu.'
__ADS_1
"Heh! Malah bengong lagi!" seru Fadil mengagetkan. "Masuk lagi, yuk. Kita pindah dan nyari tempat agak pojokan aja. 'Gimana?"
"G-gua—"
"Elu mau curhat masalah bini elu, 'kan?"
Basi! Pikir Ravi. Dia kini sudah tidak bernafsu lagi untuk bercerita apa pun. Benaknya tiba-tiba malah teringat pada Johanna dan juga Sarah. 'Apa Hanna jadi menginap di rumah mamanya, ya?' tanyanya membatin. 'Tapi … 'gimana sama Sarah sendiri? Apa dia sudah duluan pulang hari ini?'
"Ngapain?" tanya Fadil begitu melihat Ravi mengeluarkan ponselnya. Jawab sahabatnya tersebut, "Ngecek nomor bini gua."
"Hah?"
"Kenapa 'hah'?"
"Gak salah lu?"
"Apanya yang salah?"
"Bukannya elu masih berantem sama bini lu?"
"Terus salah kalo gua nelpon dia sekarang?"
"Ya, enggak juga, sih," jawab Fadil terkekeh-kekeh. "Terserah elu, deh. Bini … bini elu juga."
"Lah, iyalah. Emang elu siapanya dia?"
"Ha-ha! Dasar gila lu!"
"Lagian elu ngomen aja urusan gua."
"Halo … Sarah." Ravi mulai menyapa begitu panggilan teleponnya ternyata sudah tidak lagi diblokir dan langsung diangkat oleh istrinya. "K-kamu masih di tempat kerjaan?"
"Apaan, sih?" balas Sarah dari seberang telepon. "Ngucap salam apa kek sebelom ngomong."
Plak!
Laki-laki itu menepuk jidatnya. 'Gila! Sampe lupa gua!' desisnya baru tersadar. 'Tapi … ini berarti pertanda kalo dia udah gak lagi marah ama gua.'
"O, iya … aku lupa," ucap Ravi, lantas langsung mengucapkan salam dengan suara agak gemetar dan jantung berdebar-debar. Maklum khawatir istrinya itu masih merajuk. "Assalamualaikum …."
"Iya. Ada apa, sih?" tanya Sarah ketus, mengulang kembali pertanyaannya tadi
"Loh, salamku gak dibales, Sar? Hukumnya wajib alias fardu 'ain, loh." Ravi mengingatkan.
"Fardu 'ain dari mana dalilnya?" seru Sarah mulai mendebat. "Fardu kifayah-lah."
Timpal Ravi menjelaskan, "Fardu kifayah itu kalo ngucapnya ditujuin sama orang lebih dari satu. Ini 'kan antara aku dan kamu. Berdua. Makanya jadi fardu 'ain."
"Terserah kamu-lah."
"Loh, bukannya terserah-terserah 'gitulah, tapi emang dasar hukumnya begitu, 'kan?" ucap Ravi kembali. "Lagian kalo gak dibales juga, bakal dibantu dijawab sama malaikat. Hanya saja, ruhulquds (ruh yang suci) akan dicabut dari orang yang gak mau ngejawab salam tadi."
__ADS_1
"Sok pintar kamu," timpal Sarah masih bernada ketus.
"Bukannya sok pinter, tapi cuman ngasih tahu aja, Sar," kata Ravi mulai jengkel. 'Lagian kewajiban gua juga sebagai suami buat ngebimbing elu, Sar!'
"Aku udah tahu," balas perempuan tersebut tidak mau kalah. "Kamu pikir aku ini perempuan bodoh ilmu agama, apa?"
"Ya, aku gak bilang begitu. Cuman ngasih tahu."
"Udahlah. Mau ngapain sih, tadi kamu nanya-nanya?" tanya Sarah akhirnya. "Aku udah ada di rumah. Kamu sendiri mau pulang jam berapa? Lembur lagi? Atau malah ngelayab gak jelas?"
"Apaan, sih?"
Fadil yang ikut mendengar percakapan pasangan suami-istri tersebut turut terbengong-bengong. 'Ini obrolan rumah tangga atau debat capres, sih? Gak ada enak-enaknya amat gua denger,' gerutunya sendiri seraya menggaruk-garuk kepala. Kebetulan karena jarak dia dengan Ravi tidak begitu jauh dan suara keras Sarah melalui sepiker ponsel cukup jelas terdengar.
"Emang maunya kamu begitu, 'kan? Makanya gak mau ngalah sama aku buat make itu mobil," imbuh Sarah terdengar melanjutkan bahan perselisihan mereka tadi pagi. "Terserah kamu-lah! Pake aja sepuas-puasnya. Lagian … duit … duit kamu juga yang dipake ngebayar cicilannya. Aku sih, emang gak punya hak sama sekali, Rav. Aku nyadar, kok."
Perasaan Ravi mulai jengkel, tapi tetap berusaha bersabar karena merasa malu dengan adanya sosok Fadil di sampingnya.
"Loh, tadi pagi 'kan, udah aku jelasin. Masa kamu masih gak paham juga sih, Sarah?"
"Tau, ah! Mending aku beli aja sendiri! Daripada ngarep-ngarep dari kamu terus!"
Klik!
"Sarah! Sar! Sar!" panggil Ravi berulang-ulang, tapi hubungan telepon sudah diputus sepihak. Saat dicoba dikoneksikan kembali, malah gagal tersambung. "Sialan, dia ngeblok gua lagi!"
"Kenapa, Rav?" tanya Fadil pura-pura tidak tahu.
"Dia ngeblok nomer gua lagi! Elu gak denger gua barusan ngomong?" semprot Ravi spontanitas. Sampai-sampai sosok di depannya menghindar refleks dari hujan lokal mulut sahabatnya tersebut.
"Iya, tahu. Tapi ngomel sih, ngomel. Kuah jigong elu jangan nyembur ke muka gua, dong!" gerutu Fadil seraya menyeka wajah, tapi tidak mau mencoba mencium bekas aroma di telapak tangannya.
"Aarrggghhh!"
Laki-laki itu menggeram emosi.
Di saat itu, ponselnya kembali berdering memanggil-manggil.
"Apa lagi sih, Sarah? Kamu belum puas—"
Tukas suara di telepon, "Mas, ini aku!"
"Hah?" Buru-buru Ravi memerhatikan tulisan kontak yang tertera di layar. "Hanna?"
'Hanna ….' membatin Fadil disertai kerutan kulit keningnya. 'Siapa itu Hanna? Sudah pasti pemilik nama itu … seorang perempuan. Kalo laki pasti Hans. Gak punya wujud berarti namanya … Hantu!'
"Iya, ini aku!" balas suara seorang perempuan yang ternyata memang Johanna. "Mas Ravi udah di rumah, ya?"
"Belum. Aku masih ada di luar. Kenapa? Ada apa, Han?"
"Aku bisa minta tolong gak, Mas?" pinta Johanna terdengar lirih dan Ravi langsung mencium ada aroma tidak beres sedang terjadi pada gadis itu.
__ADS_1
"Minta tolong apa?" tanya Ravi mendadak merasa khawatir. Jangan-jangan …., pikirnya menduga-duga. Mungkin nyawanya terancam? Bukankah sosok Jonathan sekarang sudah tiada? Lantas siapa lagi kini yang membahayakan keselamatan Johanna?
...BERSAMBUNG...