Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 69


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 69...


...—------- o0o —-------...


Untuk beberapa waktu, Ravi dan Johanna terdiam sembari menikmati hidangan mereka masing-masing. Entahlah, usai berpikir-pikir tentang perbincangan terakhir tadi, suasana di antara keduanya mendadak kaku.


"Setelah ini, kamu langsung pulang ke rumah 'kan, Han?" tanya Ravi membuka kembali percakapan setelah menghabiskan makanannya. Sekadar berbasa-basi karena sebelumnya dia sudah tahu akan rencana gadis tersebut.


"Iya, Mas," jawab Johanna pendek. Tanpa ekspresi maupun berkenan menatap lawan bicara. Malah kini sibuk mempermainkan minuman dengan straw masih menempel di bibir.


Gadis itu masih merasa malu dengan —keceplosan— ungkapannya tadi. Berkali-kali dia merutuk diri. Bagaimana mungkin sampai tidak bisa mengontrol diri. Biarpun antara mereka sudah sebegitu akrab, tapi perkara candaan seperti itu sangat tidak layak dilakukan.


"Hhmmm, jadi agak susah ya, kalo mau ketemu sama kamu sekarang," ungkap Ravi memancing-mancing. "Gak segampang kayak kemaren-kemaren. He-he."


"Ah, masa sih?" timpal Johanna seraya melempar senyum tipis. "Biasa saja, kok. Kayak yang udah-udah. Buktinya sekarang bisa, nih."


Sejenak percakapan kembali terhenti. Ravi meminta izin untuk memeriksa balon notifikasi pada ponselnya. Sekalian dia ingin mengecek, apakah Sarah sudah kembali membuka blokirannya.


[P]


Laki-laki itu mengirim pesan pengecekan. Masih centang satu berwarna abu-abu. Ada dua kemungkinan antara masih diblokir atau ponsel Sarah sedang tidak aktif. Hendak dihubungi kembali seperti tadi, tidak enak dengan keberadaan Johanna yang ada di hadapannya. Maka, tanpa sadar Ravi pun mendecak kesal.


Diam-diam Johanna memperhatikan lelaki tersebut dengan hati-hati. Sesekali mencuri-curi pandang dan bergumam di dalam hati. 'Sebenarnya ada permasalahan apa sih antara Mas Ravi dengan istrinya itu? Kok, aku sering banget nemuin mereka pada marahan kayak 'gitu? Kalo aku pikir, pertengkaran di dalam rumah tangga itu wajar-wajar saja, tapi dengan frekuensi yang sedemikian sering, tentunya bukan hal lazim pada hubungan mereka berdua.'


"Nomorku masih diblokir sama Sarah, Han," keluh Ravi tiba-tiba dan buru-buru Johanna mengalihkan pandangannya ke arah lain. "A-aku … tadi … sebenernya mau ngehubungin Sarah, tapi gak bisa."


Johanna menarik napas panjang. Sesak sekali rasanya serta turut prihatin dengan kondisi rumah tangga temannya tersebut. 


"Mungkin Mbak Sarah masih marah sama Mas Ravi," ucap gadis itu mencoba merespons. Mau ikut berkomentar merasa segan, tapi lama kelamaan jadi ikut penasaran juga dibuatnya. "Tapi … kalo aku pikir, masa iya sih, cuman gara-gara rebutan bawa mobil, sikap Mas Ravi dan Mbak Sarah sampe segitunya?" Akhirnya Johanna berungkap juga.


Laki-laki itu mengangkat wajah dari tatapannya ke arah ponsel tadi. Lantas tersenyum kecut. "Kamu belum mengenal karakter Sarah sih, Han," ujarnya terdengar seperti tengah memendam rasa kesal. "Aku sendiri yang jadi suaminya, kadang ngerasa bingung, kudu bagaimana ngadepin perempuan kayak istriku itu."


"Ya, aku 'kan emang gak kenal istrimu, Mas," timpal Johanna sengit. "Makanya wajar dong, kalo penilaianku sama istri Mas Ravi itu gak bisa sepenuhnya bener."

__ADS_1


Ravi mendengkus. Tarikan napasnya seperti berat. Entah karena beban masalah tersebut atau ada hal lainnya.


"Boleh kutanya sesuatu gak, Mas?" Johanna mencoba memberanikan diri untuk mengorek sedikit informasi tentang laki-laki tersebut. "Tapi kalo Mas Ravi ngerasa keberatan buat ngejawab, yaaa … aku hargai hak Mas itu."


Balas Ravi spontan, "Oh, enggak dong, Han. Justru sudah lama berharap kamu nanya-nanya aku kayak begitu. He-he." Suara kekehannya terdengar hambar dan dipaksakan. "Tanya aja. Aku sih, orangnya nyantai, kok."


'Dih, ternyata malah berharap aku nanya-nanya Mas Ravi selama ini, ya? Hi-hi-hi,' pikir Johanna. 'Berarti … emang bener, dia pengen ada temen curhat buat ngungkapin masalahnya.'


"Tapi maaf ya, kalo pertanyaanku ini agak privasi banget, Mas," kata gadis itu kembali masih agak segan berterus terang.


"Iya. Santai aja, Han. Aku gak keberatan, kok." Gaya bicara laki-laki itu kini terlihat lebih luwes. Mungkin karena niatnya sejak awal untuk bertemu dengan Johanna, bisa sedikit tersampaikan. "Mau nanya apa?"


Johanna menarik napas dalam-dalam. Masih diiringi rasa ragu, dia mengajukan pertanyaan dengan penuh kehati-hatian. "Uummhhh, apa Mas Ravi mencintai Mbak Sarah? Duh, maaf banget nih ya, Mas? Kok, aku jadi lancang banget nanyain ini sama kamu. He-he."


Tidak ada ekspresi terkejut atau bagaimana dari sikap laki-laki itu. Dia tetap terlihat santai menanggapi pertanyaan dari sosok di hadapannya tersebut. Diiringi seulas senyum, Ravi berkata, "Oohhh … soal itu? He-he. Gak apa-apa kok, Han. Aku sama kamu 'kan udah kayak temen deket. Santai aja 'ngkali. He-he-he."


"Maaf ya, Mas," ujar Johanna kembali. "Aku jadi gak enak hati, nih."


"Iya, gak apa-apa," jawab Ravi. "Lagian … aku juga sebenernya pengen banget ngungkapin semua yang aku pendam selama ini sama kamu. Eh, maksudku … sharing 'gitulah. Apalagi Sarah dan kamu 'kan sama-sama perempuan. Jadinya yaa … minimal ngertilah perihal karakter kaum Hawa itu kayak 'gimana, 'gitu. Ini sih … mungkin aja, ya? Kemungkinan. Bukan berarti aku bermaksud nyamaratain semua orang."


"Aku paham kok, Mas," timpal gadis itu agak sedikit berkurang perasaan tidak nyamannya atas kelancangan di tadi.


'Hhmmm, sudah kuduga,' gumam Johanna. "Sampe sekarang?" tanyanya kemudian.


Ravi mengangguk pelan. "Iya, sampai saat ini. Aku belum pernah bisa mencintai Sarah seutuhnya. Tapi aku juga tetap berharap, suatu saat aku mampu mencintai dia sepenuhnya."


"Kenapa begitu, Mas?" Johanna penasaran. 


Laki-laki itu mendengkus keras. "Dengan sikap Sarah seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa menjadi sosok istri yang kuimpi-impikan, Han? Ya, bayangin aja sama kamu sendiri, ketika ada seseorang yang mendekati kamu, tapi tidak ada yang mampu menarik hati kamu buat seseorang itu. Kira-kira 'gimana perasaan kamu itu, Han? Aku sih gak mau berspekulasi, karena penilaian tiap orang pasti berbeda-beda, dong. He-he-he."


"Gak ada satu pun yang bikin kamu tertarik dari istrimu sekarang?" tanya Johanna kembali berusaha mengorek isi hati temannya tersebut. 


"Aku akui, ada. Tapi gak banyak," jawab Ravi jujur. "Kalo secara fisik … Sarah cantik, kok. Terus terang, aku suka dengan kecantikannya." Dia meneguk air minum dulu sebelum lanjut berkata. "Secara naluri lelaki … maaf nih, ya … Sarah mampu membangkitkan kebutuhan biologisku. Untuk urusan itu, normal kok. He-he."


"Iya, aku paham, Mas," kata Johanna. Menurutnya, kebanyakan kaum lelaki memang akan memandang fisik terkait sebagai landasan utama ketika merasa tertarik pada lawan jenisnya. Betul, itu normal sebagaimana yang Ravi sampaikan tadi.


"Hanya saja … karakter, sifat, atau perilaku yang dia miliki itu yang sering membuatku merasa gak nyaman sewaktu bersamanya. Jadi, rasanya 'gimana, ya … pokoknya aku ngerasa gak betah aja berlama-lama deket istriku itu, Han."

__ADS_1


"Mas yakin itu? Gak ada satu pun?"


Ravi menggeleng. "Aku gak tahu, Han. Pokoknya sejak awal kenal aja, yang aku tangkap mengenai Sarah … yaaa … orangnya keras kepala, ambekan, dan egois."


"Terus kalo emang sudah tahu karakter Mbak Sarah seperti itu, kenapa Mas Ravi masih mau menikahi Mbak Sarah?" tanya Johanna merasa heran.


"Aku gak tahu, Han," jawab Ravi lirih. "Yang ada dalam pikiranku waktu itu adalah … hanya ingin Mamaku bahagia kalau aku nikah dengan perempuan pilihan Mama. Gak ada pilihan lain."


"Hhmmm, kalo dalam masalah itu, aku sendiri gak mau mengintervensi pilihan Mas itu, ya? Toh, mau dibilang apapun juga, pernikahannya sudah terjadi," kata Johanna turut merasa sedih. "Sebelum kenal dengan Mbak Sarah, apa Mas pernah mempunyai seseorang yang spesial buat Mas?"


Ravi menggeleng. "A-aku belum pernah pacaran, Han."


"Aahhh … maksudku bukan itu, tapi—"


"Secara hati, aku juga belum pernah jatuh cinta, Han," tukas Ravi mengejutkan. "Aku gak tahu bagaimana rasanya itu (jatuh cinta). Tapi kalo sekedar mengagumi, iya … banyak. Gak sampai bikin perasaanku 'gimanaa 'gitu."


"Belum pernah ngerasain jatuh cinta? Serius, Mas?" tanya Johanna seakan tidak percaya.


Jawab Ravi kembali, "Aku gak tahu jatuh cinta itu seperti apa rasanya, Han. Tapi … aku normal, kok. Aku straight." Dia menunduk, memegang kepala dengan kedua tangan. "Sejak usia remaja, aku selalu dekat dengan Mama dan beliau selalu mewanti-wanti agar aku jangan sampai berpacaran sebelum menikah. Itu aku penuhi. Aku gak punya temen perempuan, aku jarang bergaul dengan perempuan, bahkan … hingga sekarang pun, aku masih sering ngerasa gugup kalo deket dengan perempuan yang baru kukenal."


Johanna manggut-manggut dan langsung teringat bagaimana sikap Ravi saat pertama kali bertemu dengannya di klinik pengobatan dulu. Lelaki itu tampak canggung dan lucu baginya. Mungkin karena itulah penyebabnya, pikir gadis tersebut.


"Aku gak pernah mengenal perempuan, kecuali Mamaku sendiri," lanjut Ravi bertutur. "Makanya, sejak mulai mengenal kamu, aku berharap bisa belajar tentang perempuan darimu, Han. Keberanianku buat bercerita seperti ini juga … cuma sama kamu."


Ravi menunduk dalam-dalam. Tiba-tiba dia merasa begitu malu dan rendah diri di hadapan Johanna. Jujur saja, sudah lama sebenarnya ingin mengungkapkan unek-uneknya itu. Namun rasa ragu dan takut kerap menghantui.


"Maasss …." sebut gadis itu perlahan. "Maafin aku, ya? Mungkin karena pertanyaanku tadi, kamu terpaksa ngungkapin ini semua sama aku."


Laki-laki itu mengangkat kepala, menatap Johanna. Ujarnya kemudian, "Enggak, Han. Kamu gak salah apa-apa. Ini murni karena kesalahanku saja. A-aku gak bisa ngontrol emosi. A-aku justru sangat berterima kasih sama kamu. Karena … karena kamu juga, bebanku sedikit berkurang. Jujur kuakui, aku gak pernah ngomongin ini sama perempuan manapun, termasuk Mamaku. A-aku … a-aku …."


"T-tapi … kamu masih sayang sama istrimu, 'kan?" tanya Johanna ikut terbawa perasaan. 


Perlahan-lahan Ravi mengangkat wajah kembali. Menatap bola mata Johanna dalam-dalam. "Sarah tahu apa yang menjadi kelemahanku jika kami sampai … memutuskan untuk … berpisah," ucap laki-laki tanpa menjawab pertanyaan gadis tersebut barusan.


"Astaghfirullahal'adziim," gumam Johanna seraya menutup mulut dengan telapak tangan, terkaget-kaget. Dia lekas mengalihkan pandangan dari tatapan Ravi. Entahlah, sebagai perempuan dewasa, bias-bias gemerlap pada bola mata lelaki itu, terasa agak beda baginya. Sosok di depan itu bukanlah wujud laki-laki yang pertama kali dia kenal. Pemalu, lucu, atau seringkali salah tingkah.


Dia adalah … dia adalah … dia adalah ….

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2