Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 20


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 20...


...------- o0o -------...


Sepeninggal keluarganya, Hanna bergegas menghampiri Ravi. Laki-laki itu mengulas senyum begitu gadis tersebut mulai mendekat. "Mas Ravi belum kembali ngantor?" tanyanya merasa agak tidak enak perasaan. Jawab yang ditanya, "Aku sudah izin buat seharian ini."


Hanna tertunduk.


"Aku jadi ngerepotin kamu ya, Mas?"


Sangkal Ravi cepat-cepat, "Oh, enggak sama sekali, Han. Aku emang sengaja nyempetin dateng ke mari, kok."


"Oohhh."


"Lagian, dua hari kemaren …" kata laki-laki itu kembali melanjutkan, "rencananya aku mau ngunjungin mendiang Papamu di rumah sakit. Tapi … ya, 'gitu deh. Nomor HP kamu ngedadak gak bisa dihubungin. Mana gak sempet nanya di rawat di mana lagi. Maaf, ya."


"Aku yang seharusnya minta maaf, Mas," kata Hanna lirih. "Selama ini aku udah banyak ngerepotin."


"Enggaklah. Aku gak ngerasa direpotin, kok."


"Lah, sekarang buktinya? Mas mesti ngorbanin waktu kerja Mas Ravi."


"Santai aja," timpal Ravi seraya melihat-lihat suasana pemakaman yang sudah sunyi. "Kamu mau pulang sekarang? Aku anter, ya?"


"Ke mana?"


"Loh, kok malah nanya ke mana?" sahut Ravi terheran-heran. "Maunya kamu ke mana, Han?"


"Aku sendiri lagi bingung, Mas. Gak tahu harus pulang kemana."


"Bingung? Kok, bisa?" Tambah heran lelaki itu kini. "Apa kamu gak ngekhawatirin kondisi Mama kamu?" tanya Ravi bertubi-tubi. "Beliau … eh, maksudku … keluargamu 'kan lagi berkabung, Han. Seenggaknya Mamamu pasti butuh kehadiranmu di rumah."


"Aku tahu," ujar Hanna tampak masih bimbang.


"Terus?"


Gadis itu melirik, memandangi wajah lelaki yang selama ini telah banyak membantunya. Terutama saat dia tengah berada di titik terlemah beberapa waktu dulu.


Saat itu, usai melarikan diri dari kejaran Jonathan di rumah Tante Chika, Johanna hanya ingin menjauh dan menjauh guna menyelamatkan hidupnya. Dia tahu apa yang terjadi jika sampai tertangkap atau ditemukan papanya, tentu hal-hal di luar dugaan bakal didapatkan. Penyiksaan? Itu hanya sebatas akibat kecil. Bisa-bisa nyawa pun akan melayang percuma kelak.


Berhari-hari Johanna hidup terlunta-lunta. Bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain. Untuk menitip badan atau beristirahat malam, gadis itu kerap menjadikan Musala sebagai rumah penginapan sementara. Esoknya kembali melanjutkan perjalanan tidak tentu arah dalam kondisi kelaparan. Karena hal itu pula, terpaksa sesekali dia meminta-minta makanan di warung-warung yang dilalui atau kebetulan berpapasan dengan orang-orang.


"Kenapa, Cie?" tanya seseorang heran seraya memerhatikan wajah Johanna di sebuah warung makan. Tacik, Encie, atau Cie adalah panggilan yang biasa disematkan untuk perempuan keturunan Tionghoa.


"Maaf, Pak. Saya lapar," ujar Hanna dengan mimik meringis menahan perih di perut.


"Lapar?" Sosok tadi mengerutkan kening, heran. Lantas melirik-lirik pada orang-orang yang berada di sana. "Emang Encie dari mana? Kesasar?"


Johanna tidak segera menjawab. Dia menatap satu per satu sosok-sosok di sana dengan pandangan pilu. "Tolong, beri saya sedikit saja makanan, Pak. Saya lapar banget," ujarnya lirih.


Sejenak orang-orang itu malah saling lempar mata.


"Kasih aja, Bang. Mungkin dia orang gila." Seseorang berkata.

__ADS_1


"Orang terlantar 'ngkali?" Yang lain menimpali.


"Masa ada Cina miskin, sih?"


"Tapi cakep juga sih, Bang. Ha-ha!"


"Doyan lu?"


"Ogah! Masa sama gembel gua nafsu, sih?"


"Embat aja, Bang. Lumayan 'kan daripada elu beli bencong!"


"Ha-ha!"


Orang yang meminta pemilik warung nasi untuk memberi Hanna makanan pertama tadi kembali berkata, "Udah, Bang, kasih aja. Nanti sekalian saya yang bayarin."


"O, iya, Mas. Siap!" sahut pemilik warung antusias.


Johanna merasa senang sekali. Hari itu ada juga orang yang bersedia menolongnya. Walaupun obrolan mereka tadi begitu menyakitkan.


"Kalo diperhatiin dari rupanya sih, koyok'e bukan wong sinting, Bang," ujar seseorang di antara mereka membuka kembali percakapan. "Koyok wadon sing kabur dari rumah."


"Dari mana kautahu, Mas?" tanya yang lain.


Jawabnya kembali, "Itu … coba perhatiin, anggoan'e masih bagus, rupa'e ayu, cuman … dekil sitik. Koyok wong terlantar."


"Takon dewekan, Mas. Sopo tahu jodohmu."


"Owalah, cangkemmu gemblung!"


"Ha-ha!"


"Terima kasih ya, Pak," ujar Johanna pada orang yang tadi membelikannya makanan. Jawab yang bersangkutan, "Iya, Cie. Sekarang mau ke mana lagi?"


Gadis itu melihat-lihat dulu sesaat ke atas langit. "Saya mau nyari Mesjid, Pak. Sebentar lagi masuk waktu Dzuhur," ujarnya sebelum berpamitan.


"Mesjid?!"


Hampir serentak mereka bertanya terkaget-kaget.


"Encie ini muslim?"


Johanna menggeleng. Jawabnya, "Bukan, Pak."


"Loh, terus … ngapain nyari Mesjid?"


Johanna tersenyum lirih, lantas kembali menjawab, "Saya muslimah, Pak. Bukan muslim."


"Hah? Apa bedanya?"


"Ya, bedalah, Bang."


"Bedanya?"


Mereka malah berdebat.


"Kalo muslim itu buat laki-laki. Sedangkan muslimah khusus buat perempuannya."

__ADS_1


"Oooo … iya, ya. He-he."


Srek! Srek! Srek!


Spontan mereka pun sibuk menggaruk-garuk kepala, karena baru memahami apa yang dimaksud Johanna tadi.


"Elu sih, istilah agama sendiri aja gak paham. Makanya rajin ngaji biar banyak tahu."


"Elu juga kagak pernah gua lihat sholat!"


"Ya, seenggaknya masih mendingan gua yang suka ikutan sholat setahun sekali. Daripada elu, baca doa makan aja kagak tahu lu!."


"Sholat Ied doang? Jiaaahhh ha-ha … Islam apaan lu? Islam KTP aja bangga!"


Pemilik warung segera melerai. Serunya mengingatkan, "Huusss … sudah … sudah … Abang-abang sama Mas-mas ini kok pada ribut, mirip rapat anggota dewan yang kayak anak TK itu!"


"Dia yang mulai, Pak!"


"Elu juga! Ngapain lu ngurusin ibadah gua? Dosa enggaknya, itu urusan gua ama Tuhan! Bukan ama elu!"


"Sudah … sudaaahhh! Orang yang kita omongin udah pergi!"


"Si Encie barusan?"


"Iyalah, siapa lagi?"


"Waduh!"


"Kenapa, Bang?"


"Kenapa dibiarin pergi?"


"Emangnya kenapa?"


"Waduh, gashwat!"


"Apanya yang gawat?"


"Siapa tahu itu perempuan cuman modus doangan!"


"Modus apaan, sih? Kagak ngarti saiyah."


"Yaaa … modus pura-pura mualaf 'gitulah. Tujuannya sih, jelas … buat minta-minta."


"Ah, masa?"


"Lah iyah! Banyak tuh yang kayak begitu. Pura-pura lagi susah dan ngaku-ngaku baru masuk Islam, terus minta sana-sini supaya dikasihanin."


"Siapa tahu yang tadi mah bukan, Bang."


"Kalo iya, 'gimana? Apalagi kelihatannya dia orang Cina! Lu tahu sendiri dong, orang Cina kelakuannya kayak 'gimana?"


"Nah, berarti … sedekah Abang tadi jadi sia-sia, dong?"


Sosok yang tadi membelikan Hanna makan, terkejut. "Sia-sia bagaimana?" tanyanya heran.


"Yaaa … sia-sia aja. Ngasih sedekah kok, sama Cina penipu? Hi-hi."

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2