Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 46


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 46...


...—------- o0o —-------...


Johanna menyetop sebuah kendaraan angkutan umum, tidak seberapa jauh dari tempatnya tadi bersama Ravi. 


"Han, beneran kamu gak mau aku anter?" tanya laki-laki itu masih membuntuti Hanna. Jawab gadis tersebut seraya menaiki badan kendaraan, "Gak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri."


"Tapi …."


"Maaf ya, Mas," ucap Hanna begitu menempati sebuah bangku kosong di dekat jendela. "Aku pulang duluan. Assalamu'alaikum."


Perlahan-lahan angkutan itu pun melaju meninggalkan sosok Ravi. Dia masih berdiri mematung memerhatikan. "Wa'alaikumussalaam, Han. Hati-hati, ya," gumamnya lirih seraya mengelus dada. Ada rasa khawatir melepas kepergian gadis itu kembali ke rumah ibunya. Kalau saja tadi mau jujur, dia lebih setuju jika Johanna memilih untuk tetap tinggal di rumah kontrakan. Namun apalah artinya, laki-laki itu bukanlah siapa-siapa bagi gadis mualaf tersebut.


Sementara Hanna pun sibuk dengan kecamuk pikirannya sendiri. Dari dalam angkutan umum, matanya tidak mau lepas menatap sosok Ravi yang masih berdiri dan perlahan menjauh hingga hilang kemudian. Bisiknya di dalam hati, 'Maafin aku ya, Mas. Aku gak mau terlalu dalam mencampuri urusan keluargamu. Mungkin karena aku, perhatikanmu pada istrimu jadi terpecah.'


Bagi Johanna seorang, sosok Ravi bukan hanya semata sebagai seorang teman. Laki-laki itu sudah dianggap sebagai figur seorang guru pembimbing, juga kakak. Terlahir dari dua bersaudara dan berstatus sulung, tentu selama ini dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang saudara tua. Tidak terkecuali Tante Chika sendiri. Wanita tua itu pun malah tidak memiliki seorang anak.


Benih-benih hati pun mulai memuai. Ada rasa kenyamanan tersendiri saat bersama-sama Ravi. Entahlah, sulit untuk tidak mengakui itu, tapi berkata jujur adalah sebuah pilihan berbahaya bagi mereka. Terlebih karena salah satunya telah memiliki pendamping hidup. Johanna sadar akan hal tersebut. Apalagi pengalaman sebelumnya yang begitu teramat pahit. Reychan, lelaki pengecut itulah yang telah menorehkan luka pertama di hati.


"Tuhan gak pernah ngebeda-bedain satu pun umat beragama di dunia ini," ujar Reychan kala itu, masih tersimpan erat di benak Hanna. "Dia Mahapengasih, Mahapenyayang, dan Mahakaya. Bagi-Nya bukanlah sebuah kerugian jika ada banyak manusia yang enggan mengakui-Nya sebagai Tuhan. Tapi justru manusia itu sendiri yang kelak akan merugi karena gak ingin mengenal-Nya."

__ADS_1


"Menurutmu, dalam konteks kepercayaan agama masing-masing, apakah Tuhan yang kita sembah itu berwujud sama?" tanya Johanna suatu ketika. Jawab laki-laki tersebut penuh keyakinan, "Menurutku enggak. Tapi Tuhan yang datang kepadamu, adalah Tuhan yang sama sebagaimana yang aku sembah, yakni Allah Subhanahu Wata'ala."


"Maksud kamu …."


"Menurut agamaku, kamu keliru dalam menempatkan obyek untuk berserah diri dan menaruh keyakinan hati (iman). Begitu juga bagi agamamu, tentu Tuhan yang kupercayai itu sosok lain yang memberiku kehidupan sebenarnya. Kenapa bisa begitu? Karena dasar yang kita ambil sebagai landasan untuk meyakini pun berbeda."


"Terus … dengan adanya perbedaan ini, apakah setiap insan bisa bersama? Yaaa, contoh nyata … kita berdua ini, Rey."


"Secara raga dan perasaan, iya. Bisa. Tapi enggak dengan pemahamam akan aturan ketuhanan. Pasti bakal kontradiktif," jawab Reychan penuh kehati-hatian. "Mungkin secara dasar kebersamaan, kita bisa bersatu karena masing-masing pihak saling membutuhkan secara hubungan humanity atau istilah bagiku … hablumminannaas. Tapi untuk urusan rohani terhadap Sang Pencipta, tidak boleh dan tidak mungkin bisa bercampur-campur."


"Tapi … banyak kok … orang-orang yang menikah dengan masing-masing keyakinan beragamanya, Rey," tandas Johanna kembali, "dan mereka juga kelihatannya bahagia."


"Kelihatannya?" Reychan melirik disertai senyuman tipis. Jawab Hanna, "Yaaa … generally yang aku lihat dan kuketahui sih, begitu."


"Tapi gak sedikit juga 'kan, yang akhirnya kandas karena urusan anak. Dimana mereka kebingungan sendiri dengan pilihan keyakinan yang dipilih anak-anak mereka," ujar laki-laki muda tersebut. "Dimana orangtua yang muslim, pasti menginginkan anak-anaknya ikut agama dia. Yang non muslim juga pengen anak-anak ikut keyakinan dia. Makanya gak heran, gesekan-gesekan pun mulai timbul. Imbasnya pasti yang kena adalah anak-anak mereka juga. Terjadilah percampuran keyakinan tanpa dibekali ilmu yang benar. Seolah-olah agama hanyalah sebuah label belaka, urusan benar atau enggak, belakangan. Hancurlah tatanan sebuah keluarga. Bahkan gak sedikit, anak-anak malah lebih memilih menjadi non beragama alias atheist. Bagiku, kalo udah begitu … dimana letak tatanan sakinah, mawadah, dan warahmah itu. Iya, 'kan?"


"Kenapa, Han?" tanya Reychan seraya melirik gadis yang duduk di sampingnya. "Kok, diem?"


Johanna tersenyum. "Enggak, Rey. Aku cuman lagi nyermatin kata-kata kamu yang tadi."


"Oohhh."


'Apakah aku harus segera mengikutimu, Rey, biar kamu punya kepastian untuk memperpanjang dan mempertahankan hubungan kita ini?' tanya kembali gadis tersebut diam-diam. 'Padahal sejujurnya, sudah lama aku pun sering ngerasa ragu dengan keyakinanku sendiri.'


Entahlah, apakah mungkin terlalu cepat Johanna mengambil keputusan atau memang Reychan sendiri yang tidak mempunyai niat tulus terhadapnya? Hingga akhir yang mengecewakan itu pun terjadi. Laki-laki itu pergi tanpa pamit maupun kabar.

__ADS_1


Sekarang, harapan yang sama pun terlahir kembali. Namun bukan dari sosok yang tepat. Karena kondisi Ravi tidak sebagaimana Reychan.


Ravi ….


Bahkan sosok laki-laki itu pun kini tengah berada di dalam posisi tidak membahagiakan. Terpaksa mengakhiri masa lajangnya dengan seorang perempuan asing yang belum pernah dia kenal dan tidak dicintai sebelumnya. Apakah itu pula yang dirasakan oleh Sarah? Sehingga bahtera rumah tangga mereka jauh dari makna harmonis.


Yang pasti, di saat yang bersamaan, Ravi baru saja tiba di rumah. Usai memarkir kendaraan di dalam garasi, kemudian berjalan perlahan menginjakkan kaki di teras depan. Degup jantungnya mendadak berdetak kencang. Tidak ada sambutan hangat maupun seulas senyum begitu membuka pintu.


'Apa Sarah sudah tidur?' tanya laki-laki itu perlahan-lahan membukakan pintu kamar tidur. 'Dia ….'


Sesosok tubuh tengah berbaring membelakangi dengan singkapan selimut di bagian kaki ke atas. Ravi ragu untuk mendekat, tapi naluri kelelakiannya seakan menangkap sebuah isyarat lain.


Perlahan Ravi naik ke atas tempat tidur, bermaksud hendak membetulkan letak selimut untuk menutupi bagian jenjang kaki istrinya tadi, tapi tiba-tiba saja Sarah terbangun. Dia membalik badan, beradu tatap dengan mata lelaki tersebut untuk beberapa saat.


"M-maaf … a-aku cuman bermaksud—" ucap Ravi terbata-bata. Dia mengurungkan diri dan hendak kembali menuruni kasur, tapi cekalan tangan Sarah menahannya. 


"Kamu menginginkannya, 'kan?" tanya perempuan itu datar. "Lakuin kalo emang kamu masih sadar punya kewajiban sebagai seorang suami."


"A-aku gak bermaksud begitu, Sar," pungkas Ravi seraya menggeleng-geleng. "A-aku … a-aku …."


"Jangan munafik kamu, Rav," tukas Sarah kembali. Kali ini sambil menarik lengan suaminya hingga sosok laki-laki itu ikut terdorong, jatuh di atas pembaringan. Belum sempat bangkit, Sarah sudah terlebih dahulu bergerak menaiki. "Mungkin kamu belum bisa mencintaiku, tapi kamu masih lelaki normal, 'kan?"


"S-sarah …."


Perempuan itu tidak lagi ingin berkata-kata. Dengan beringas, dia lucuti pakaian suaminya satu per satu. Lantas bergerak layaknya perempuan malam yang hendak memenuhi kepuasan pelanggannya malam itu juga.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2