Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 72


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 72...


...------- o0o -------...


“Assalaamu’alaikum ….” ucap Ravi begitu tiba di rumah menjelang waktu Isya. Perlahan-lahan dia menutupkan kembali pintu depan dan melihat-lihat kondisi ruangan yang sepi. Mobil terparkir di garasi, itu artinya Sarah sudah pulang terlebih dahulu.


Dengan jantung berdebar-debar, lelaki itu melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Juga tidak menemukan sosok istrinya di sana. Pikiran Ravi langsung tertuju ke kamar tidur utama yang tertutup rapat. Kemudian perlahan-lahan dia memutar knob, tapi dalam keadaan terkunci.


“Assalaamu’alaikum ….” ucap Ravi kembali memberi salam. Tidak terdengar ada jawaban maupun sahutan dari dalam kamar. “Sar, kamu udah pulang?”


Tok! Tok! Tok!


Ditunggu sekian lama masih juga belum menunjukkan ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar sana. ‘Apa Sarah lagi tidur, ya? Masa sih, jam-jam segini tidur?’ Membatin laki-laki itu. Kemudian menyerah dan memilih untuk duduk-duduk di sofa ruang tengah. Menyalakan televisi sambil melepas penat.


Sedang asyik menyaksikan siaran TV, tiba-tiba terdengar derit pintu kamar dibuka. Lalu muncul sosok Sarah dengan raut datar. Mengenakan setelan kain mukena menutupi sekujur badan. Dia langsung bergegas ke ruang makan tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya yang tengah duduk-duduk santai di sana.


Ravi ragu untuk menyapa. Apalagi dengan kondisi mereka yang sedang dalam masalah sejak tadi pagi.


“Kalo mau makan, aku udah siapin di meja,” ujar Sarah begitu kembali hendak ke kamar. “Mungkin rasanya gak seenak makanan di luar sana.”


“Sar!” panggil Ravi buru-buru bangkit dari duduk dan menghampiri istrinya. “Tunggu dulu!”


Sarah menghentikan langkah, tepat di depan pintu kamar tidur. “Mau apa? Bicara apa?” tanyanya datar tanpa berkenan untuk membalik badan berhadapan.


Sejenak Ravi terdiam sambil menggaruki kepala. Dia bingung harus darimana mengawali pembicaraan. Kemudian langsung ke topik yang dimaksud. “Mengenai pesan WA-mu tadi ….” kata lelaki itu bimbang. “M-maksud kamu apa sih, Sar? Aku mau nelpon kamu tapi gak nyambung-nyambung. Kamu ngeblokir nomorku lagi, ‘kan?”


“Kenapa? Kamu keberatan? Mau nyalahin aku lagi?” cecar Sarah masih berdiri mematung menghadap pintu kamar. “Sudahlah, Rav. Apa kamu gak jenuh dengan perselisihan kita sejak pagi tadi? Aku capek, pengen istirahat. Nenangin otak sebentar saja tanpa harus beradu mulut terus sama kamu.”


“Kamu gak jawab pertanyaanku barusan,” ucap Ravi. “Bahkan pesan yang sama pun pernah kamu kirim beberapa hari lalu. Itu maksudnya apa? Kamu mata-matai aku?”


Sarah terdiam membisu. Namun dari tarikan napasnya, Ravi sadar bahwa istrinya mungkin sedang berusaha untuk tetap tenang dan bersabar.

__ADS_1


“Sar? Kamu belum jawab pertanyaanku,” ujar Ravi mengulang.


“Sudah kubilang, aku ingin nenangin pikiran dulu, Rav. Kamu gak denger?” balas Sarah bergeming. “Lebih baik, kamu makan sana. Sebelum keburu dingin. Aku udah capek-capek nyiapin itu sejak aku pulang tadi.”


Lelaki itu tertegun. ‘Apa? Sarah masak? Tumben? Apa iya? Masa, sih?’ Benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan aneh.


Setelah berkata-kata, Sarah pun lanjut memasuki kamar dan spontan diikuti oleh suaminya.


“Sar! Sarah! Aku belum beres ngomong!” seru Ravi mengikuti langkah istrinya ke kamar. “Kamu gak ngejawab satu pun pertanyaanku. Kenapa, sih?” Dia mencekal lengan Sarah, tapi langsung ditepis. “Sarah … dengerin aku, dong! Aku pengen ngomong sama kamu!”


“Lepasin, ah! Apa-apaan, sih?” ujar Sarah berusaha melepas kembali cekalan jemari tangan suaminya. “Aku pengen sendiri dulu.”


“Enggak, Sar! Ini harus kita omongin sekarang juga!” Ravi memaksa. “Aku gak mau lagi semua permasalahan kita dibiarin begitu aja tanpa ada konfirmasi sama sekali.”


“Aku bilang juga enggak, Rav!” sentak Sarah mulai marah seraya berusaha melepaskan cekalan tadi dengan sekuat tenaga, tapi malah turut membanting suaminya hingga terjengkang ke atas tempat tidur. Spontan Ravi pun tidak sadar menarik lengan istrinya.


BRUK!


Keduanya jatuh saling bertindihan di atas tempat tidur.


Mata Sarah menatapnya tajam. Memperhatikan bola mata lelaki tersebut tanpa mau berkedip sekalipun.


“Apa aku kurang menarik bagimu, Rav?” tanya perempuan itu menekan. “Aku sudah berusaha menerimamu dengan segala kekurangan yang kamu miliki.”


“M-maksudmu apa, Sar? K-kamu mau ngapain, sih?” Suara Ravi terbata-bata. Antara menahan sesak dan embusan napas Sarah yang menerpa wajahnya.


Sarah tidak menjawab. Namun tangannya bergerak-gerak merayapi kancing-kancing kemeja suaminya. Membuka satu demi satu secara perlahan.


“K-kamu menginginkanku, Sar?” tanya Ravi kembali, bingung dan merasa aneh dengan sikap istrinya tersebut. Padahal mereka sebelumnya sedang perang dingin. Namun dalam sekejap, perempuan itu mampu berubah dengan gerak-gerik yang begitu dikenali sekali hanya oleh suaminya. “T-tapi aku belum mandi, Sar. A-aku ….”


“Diam!” sentak Sarah dengan suara nyaris berbisik, tapi penuh tekanan. “Asal kamu tahu, aku justru sangat menyukai bau badan suamiku sendiri. Aku selalu menginginkan bau keringatmu, Ravi!”


“Sar ….” Semakin tidak mengerti lelaki itu.


Sungguh aneh. Ada perempuan yang menyebalkan, tapi dalam urusan tuntutan nafkah lahir batin, dia tidak pernah ingin mempermasalahkan kondisi yang ada. Secara umum, hampir semua orang menginginkan keadaan tubuh yang segar dan bersih tatkala hendak bermesraan. Namun tidak begitu dengan Sarah. Sosok ini malah lebih ganas memperlakukan suaminya di saat itu.

__ADS_1


Setelah kancing-kancing kemeja Ravi terlepas, Sarah melepas belitan kain mukenanya sendiri seraya duduk tepat di atas panggul lelaki tersebut.


“Jangan sekarang, Sarah! Aku belum mandi!” ujar Ravi terengah-engah sesak. “Seenggaknya, aku harus dalam kondisi bersih dulu sebelum memenuhi hak kamu, Sar!”


“Diam kataku juga, Rav!” sentak Sarah diiringi erangan mirip binatang buas yang hendak menerkam mangsanya. “Aku menginginkannya sekarang! Sudah aku tunggu-tunggu dari tadi, kamu baru pulang menjelang waktu sekarang!”


Ternyata dari balik balutan kain mukenanya, Sarah tidak mengenakan penutup dada. Maka begitu semuanya terlepas, terpampang dengan jelas bagian-bagian auratnya di depan mata.


Perempuan itu merangsek, merayapi tubuh suaminya dengan cepat.


“Enggak!” seru Ravi seraya mendorong tubuh Sarah ke samping. “Aku gak bisa ngelakuinnya kalo dalam keadaan begini. Seenggaknya … kamu juga harus menggosok gigimu dulu dong, Sar.” Laki-laki itu mendengkus-dengkus usai membaui aroma napas istrinya yang sejak tadi menerpa wajah.


Sarah melotot marah dari samping. Ujarnya sengit, “Kamu pikir, kamu juga wangi, hah? Selama ini aku gak pernah mempermasalahkan bau mulutmu sendiri!” Dia kembali menarik pundak suaminya agar ikut merebah bersamanya.


“Enggak!” seru Ravi memberontak. Dia menolak dan melepaskan diri dari tarikan tangan Sarah. Lantas cepat-cepat bangkit dari atas tempat tidur dengan sedikit luka goresan bekas kuku-kuku jemari istrinya di bahu. “Kamu ini gila, Sarah!” sentak laki-laki itu, lantas bergegas meninggalkan kamar tidur.


“Ravi!” panggil Sarah yang masih terengah-engah menahan lonjakan hasrat. Namun suaminya tersebut tidak mau mendengar. Dia tetap bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan, sembari sesekali meringis perih akibat cakaran yang tidak sengaja dilakukan oleh Sarah tadi.


Sarah pun segera mengejar, mengikuti langkah Ravi hingga memaksa turut memasuki kamar mandi.


“Kamu mau ngapain, Saaarrr? Aku mau mandi dulu!” seru Ravi terheran-heran. “Kamu tungguin di kamar saja kenapa, sih?”


Perempuan itu tetap memaksa masuk. Kemudian melepaskan sisa balutan mukena bagian bawah dan mendekati suaminya secara perlahan. Dia membantu membukakan kemeja Ravi hingga bagian terakhir.


“Aku menginginkanmu sekarang juga, Rav,” desisnya usai keduanya tidak lagi mengenakan sehelai benang pun.


“Jangan di sini, Sar,” ucap Ravi berusaha mengingatkan. “Kalo kamu ingin mandi bersama, ayo … aku temenin. Tapi lebih dari itu, aku gak mau.”


“Kenapa? Kamu sudah kehilangan gairah kelelakianmu, hhmmm?” tanya Sarah seraya mengusap-usap dada suaminya.


“Bukan itu masalahnya, Sar. Ini kamar mandi. Tempat kotor. Gak baik berhubungan intim di tempat seperti ini!” ungkap lelaki itu kembali. Namun disikapi dingin oleh istrinya sambil berkata, “Aku enggak peduli. Aku menginginkannya sekarang ….”


“Sarah?” Ucapan Ravi tidak digubris. Sarah malah semakin beringas dan menyerang titik-titik utama lelaki itu dengan saksama. Hingga akhirnya, mereka berdua pun dilanda entakan syahwat secara bersama-sama.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2