Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 25


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 25...


...------- o0o -------...


"Saya gak ingin berlama-lama di sini, Pak," imbuh kembali Hanna begitu pertanyaannya tadi tidak diacuhkan. "Lagian, saya sendiri bingung … saya gak punya apa-apa. 'Gimana harus saya bayar biaya pengobatan ini."


"Oh, tenang saja, Mbak," tandas Ravi langsung bereaksi. "Itu akan saya tangani. Saya yang tanggung jawab."


Hanna menunduk sedih.


"Maaf, Pak. Saya jadi ngerepotin Bapak."


Timpal Ravi menenangkan, "Gak usah dipikirin masalah itu, Mbak. Pokoknya Mbak cepat sembuh, saya pun ikut seneng."


"Saya udah ngerasa seger sekarang, Pak," kata Hanna. "Ada baiknya, malam ini juga saya pulang saja."


"Pulang ke mana?"


Jleb!


Mulut Hanna tiba-tiba terasa terkunci. Entah harus bagaimana menjawabnya, karena tidak tahu akan kemana lagi setelah ini. Tujuan semula pun masih gelap, terkecuali ingin menghindari sejauh mungkin dari ancaman Jonathan.


"Rumah Mbak di mana? Biar saya antar malam ini juga, kalo emang Mbak sudah ngerasa sehat," ucap Ravi mengulangi pertanyaannya tadi. " … Atau Mbak tetaplah di sini, istirahat sampe besok. Nanti saya bantu antar sampe rumah Mbak."


Johanna menggeleng.


"Mbak masih punya keluarga, 'kan?"


Gadis itu mengangguk.


"Atau saya bantu hubungin keluarga Mbak?"


"Jangan!" seru Hanna spontan. "Gak usah!"


"Kenapa?" tanya Ravi kini mulai berani menatap wajah Johanna. "Eh, sebentar …."


"Ada apa?"


Laki-laki itu makin tajam, memperjelas pandangannya pada Hanna. Lantas lanjut berkata, "Kayaknya … saya pernah ngelihat Mbak sebelumnya."

__ADS_1


"Hah? Di mana?" Gadis itu terkesiap.


"Sebentar … saya ingat-ingat dulu. Di mana, ya?" Ravi mengingat-ingat beberapa saat, sampai kemudian mulai meyakini bahwa gadis itu memang pernah dia lihat di suatu tempat. "Kalo gak salah … saya pernah ngelihat Mbak lari-lari di daerah Petamburan."


"Petamburan?" Pikiran aneh mulai menghinggapi benak Hanna. Daerah itu adalah tempat tinggal Tante Chika. Apa mungkin Ravi itu teman papanya, pikir gadis tersebut.


"Mbak yang waktu itu hampir ketabrak mobil, 'kan?"


"Apa? Itu …." Hanna teringat kini. Benar sekali, saat kabur ketakutan dari rumah Tante Chika, dia berlari ke sebuah jalan dan hampir saja tertabrak kendaraan.


[Mengenai kejadian tersebut, baca : MUALAF (Antara Asa, Cinta, dan Agama) bagian ke-6]


"S-saya yang hampir menabrak Mbak waktu itu," ungkap Ravi seraya meminta maaf.


"Pak Ravi?"


"Iya. Itu saya."


"Ya, Allahurabbi …."


Kembali kening Ravi mengernyit. "Mbak Hanna muslim?" tanyanya kemudian setelah beberapa kali berpikir sejak awal percakapan tadi. Hanna mengangguk. "Masyaa Allah …."


"Saya mualaf, Pak," ungkap gadis itu kembali. "Baru beberapa bulan lalu bersyahadat."


"Kenapa? Aneh?" Kali ini ekspresi Hanna datar. Tidak seperti biasanya menanggapi respons seseorang yang mengetahuinya seorang mualaf.


"Enggak juga, sih," jawab laki-laki itu tidak henti-hentinya terkagum-kagum. "Karena itu pula Mbak mencari-cari bungkusan Mbak yang hilang itu?"


Hanna mengangguk.


"Saya ingat, belum ngerjain sholat Isya," kata gadis bermata sipit tersebut seraya melihat-lihat jam dinding di ruangan itu. "Makanya … saya langsung keingetan sama isi bungkusan saya itu. Ada mukena saya satu-satunya di situ."


Ravi menyesal dan merasa bersalah. Sewaktu membopong Johanna yang pingsan di pinggir jembatan tadi, dia sama sekali tidak melihat-lihat sekitar lokasi tersebut. Yang ada di dalam pikirannya hanya satu, yakni membawa gadis itu ke tempat pengobatan terdekat. Maka dari itu, segera dia pamit untuk mencarikan pinjaman mukena pada pekerja di klinik.


"Saya janji, besok akan saya ganti mukena Mbak itu, ya," ucapnya kemudian, usai membawakan mukena pinjaman.


"Terima kasih."


"Makanya, untuk sementara Mbak istirahat saja di sini sampe besok atau sampe Mbak ngerasa bener-bener sehat kembali. Oke?"


Tanya Hanna lebih lanjut, "Terus Bapak sendiri, 'gimana? Seharusnya Bapak pulang, 'kan?"


Ravi tersenyum kecut. Dari gerak bibir dan raut muka, jelas tergambar, ada sesuatu yang tengah dia pendam. Kemudian menjawab bias, "Mengenai saya, gak usah dipikirin. Saya bisa ngurus diri saya sendiri, kok."

__ADS_1


"Berarti Bapak gak pulang?" tanya Hanna ragu. "Bapak udah berkeluarga, 'kan?"


Laki-laki itu malah mendengkus gusar. Dia tidak menjawab, sampai kemudian pamit hendak mencari makanan di luar area klinik untuk mereka berdua. Padahal sesungguhnya, sekalian ingin mengecek isi handphone.


'Sarah bener-bener marah kayaknya,' membatin laki-laki tersebut usai membuka-buka isi ponsel. 'Dia sama sekali gak berusaha ngehubungin aku.'


Maka dari itu pula, akhirnya Ravi memutuskan untuk tetap berada di sana, tidur di dalam kendaraannya.


...------- o0o -------...


Menjelang Subuh, Ravi terbangun begitu sayup-sayup terdengar suara tarhim di kesunyian langit. Sejenak melihat jam tangan, sudah menunjukkan hampir pukul 4 janari. Lantas melihat-lihat ke luar area pelataran parkir, dimana ada beberapa kendaraan berjejer kaku di sana.


Usai menggeliat, laki-laki itu menggapai ponsel yang tergeletak di atas dashboard, memeriksa apakah ada pemberitahuan dari Sarah, istrinya. Nihil. Masih seperti kemarin.


'Sarah bener-bener marah,' batinnya lirih berkata. 'Dia bener-bener gak mau ngehubungin aku.'


Dengan sedikit rasa kesal, Ravi melempar ponsel ke tempat semula. Kemudian mengempas napas berat disertai raut masam.


'Apa dia sudah gak menghendaki aku lagi?' Batinnya kembali Bertanya-tanya. 'Hhmmm, pernikahan macam apa yang kujalani ini?'


"Mbak Hanna …." Tiba-tiba dia teringat pada sosok perempuan semalam. Spontan Ravi keluar dari dalam kendaraan dan bergegas ke ruangan dimana gadis itu dirawat.


Kosong!


Johanna tidak ditemukan di tempatnya. Ranjangnya pun sudah tampak rapi kembali. Seperti tidak pernah ditiduri sebelumnya. Ke mana dia?


"Tadi pamit ke Musala di belakang klinik, Pak," jawab petugas jaga saat ditanyai. Balas Ravi merasa agak lega kini, "Oh, 'gitu. Terima kasih, ya."


"Iya, Pak. Sama-sama."


Benar saja. Begitu laki-laki itu tiba di tempat yang dituju dan melongok ke dalam Musala, tampak Hanna sedang melakukan salat seorang diri.


'Masyaa Allah ….' membatin Ravi terkagum-kagum. 'Istiqomah banget Mbak Hanna itu. Aku aja yang lahir dari keluarga Islam sejak bayi, malah sering males-malesan ngejalanin kiyamulail.'


Jika saja benar gadis itu seorang mualaf yang kafah, lantas tentang kejadian petang kemarin itu bermakna apa? Di mata Ravi, Hanna seperti hendak mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas jembatan. Makanya buru-buru dia mencegah dan akhirnya malah terjebak di dalam situasi sekarang ini.


"Pak?"


Lamunan laki-laki tersebut sontak terputus. Dia menoleh ke dalam ruangan Musala. Memerhatikan Hanna yang terbalut cantik dengan kain mukenanya.


"Eh, Mbak Hanna," ucap Ravi seraya tersenyum malu."Tadi saya cari-cari Mbak di ruang IGD, tahunya malah ada di sini."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2