
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 71...
...------- o0o -------...
“Eh ….” Pandangan Johanna tiba-tiba terbentur pada sosok yang kebetulan lewat. Hanya sekilas. ‘Itu tadi … bukannya laki-laki yang ngelihatin aku? Apa aku salah lihat? Kok, bisa muncul lagi? Bukannya tadi sudah pergi?’
Diliputi rasa penasaran, Johanna bergegas mengejar ke arah kemana sosok yang dimaksud menghilang. Matanya mengekor tanpa mau berkedip sekalipun sambil melangkah terburu-buru. Sampai akhirnya ….
BRAK!
“Astaghfirullahal’adziim!” seru gadis itu terkejut. Tidak sengaja dia menyenggol meja salah seorang pengunjung dan menyebabkan salah satu gelas yang ada di atasnya terjatuh. “Aduh, maaf, Pak-Bu!” ujar Johanna menyesali pada sosok seorang lelaki dan perempuan di sana. “S-saya gak sengaja.”
Timpal salah seorang dari keduanya menenangkan, “Gak apa-apa, Mbak. Tenang aja.”
Beberapa pengunjung spontan menoleh ke arah yang sama, pada Johanna dan juga kedua orang tadi. Sebagian dari mereka menggeleng-gelengkan kepala.
“Aduh, ‘gimana, dong? Minumannya jatuh begini, Pak-Bu,” ucap kembali Johanna merasa bersalah. Jawab pihak lelakinya, “Sudah, Mbak. Gak apa-apa, kok. Nanti saya bisa pesen lagi, kok.”
Timpak dari perempuannya, “Iya, Mbak. Gak usah dipikirin. Namanya juga gak sengaja, kok.”
Seorang pelayan datang mendekat. “Permisi, biar saya bersihin dulu ya, Mbak, Bapak, Ibu,” katanya seraya memunguti serpihan gelas yang berserakan.
Johanna masih tetap merasa bersalah. Lantas menawarkan mereka minuman pengganti. “Biar nanti saya yang bayar,” katanya lirih.
“Gak usah, Mbak,” kata pihak lelaki seraya melemparkan senyuman. “Mbak gak usah bayar apa-apa. Sebentar saya pesenin lagi, kok.”
“Aduh … ‘gimana, ya?” Johanna bingung sembari melihat-lihat ke arah lelaki yang tadi menghilang. “Sebentar ya, saya mau ke luar dulu. Nanti saya balik lagi dan mengganti minuman yang tumpah.”
“Sudahlah. Gak usah, Mbak. Kami gak apa-apa, kok,” timpal sosok perempuannya sambil melirik ke arah lelaki di dekatnya. “Tenang saja, ya? Oke?”
Akhirnya, Johanna menerima sekaligus berterima kasih kepada mereka berdua. Selanjutnya buru-buru melangkah kembali ke tempat dimana sosok lelaki yang tengah dia kejar tadi pergi.
Namun dicari-cari hingga tempat parkiran, tidak juga ditemukan. ‘Duh, dia sudah gak ada. Ke mana, ya?’ tanyanya penasaran. Sejenak hendak kembali, tapi berbalik badan untuk melihat-lihat area sekitar. Tetap saja sosok yang dimaksud memang sudah tidak ada di sana.
__ADS_1
“Hana?” Tiba-tiba Ravi muncul menyusul. “Kamu lagi ngapain di sini?” tanyanya keheranan. Dia turut menyapu pandangan pada area tersebut sesaat untuk memeriksa.
“Ah, Mas! Kamu bikin kaget saja,” ucap Johanna seraya mengelus dada. “Haduuhh, astaghfirullah’adziim.”
Mata laki-laki itu lekat menatap Johanna. Seakan tengah mendalami apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh gadis tersebut. “Kamu mencari seseorang?” tanyanya curiga.
“Ah, enggak,” jawab Johanna singkat.
“Terus … ngapain kamu di sini?” imbuh kembali Ravi bertanya-tanya. “Tadi di dalem, aku nyari-nyari kamu. Sampe nanya seseorang. Katanya kamu keluar terburu-buru. Ada apa, sih?”
Gadis itu menggeleng pelan. Dia bingung harus menjawab apa. Lagipula kalaupun dijelaskan, tidak ada kepentingan apapun untuk lelaki yang satu itu. Namun desakan hati kecilnya terus-terusan meminta agar dia pun berkenan untuk jujur. Sampai akhirnya memilih opsi tadi. “Aku nyari-nyari seseorang, Mas,” katanya berterus terang.
“Seseorang? Siapa maksud kamu, Han?” tanya Ravi penasaran, sekaligus mulai menduga-duga. “Lelaki?” Gadis itu mengangguk dan langsung direspons laki-laki tersebut dengan dengkusan napasnya. “Siapa? Temen kamu atau ….” Kalimatnya tidak berlanjut. Dibiarkan menggantung untuk menutupi sebuah rasa yang tiba-tiba menyelinap di hati.
Jawab Johanna pelan, ”Aku sendiri gak tahu, Mas. Gak kenal.”
“Loh? Maksudnya ‘gimana, sih?” Mata Ravi menyipit.
Gadis itu menarik napas sejenak, lantas menjawab dengan nada suara yang sama seperti sebelumnya, “Tadi di dalam, sewaktu kamu lagi mesen, ada seorang laki-laki yang terus-terusan melihat-lihat ke arahku.”
“Melihat-lihat?” Ravi merasa makin penasaran. Mendadak hatinya seperti tidak nyaman dengan penuturan gadis tersebut. “Maksud kamu … main mata denganmu?”
“Terus?” Kelopak mata Ravi makin menyipit dan kini sedikit berkurang tekanan perasaan yang tengah dia dapatkan. ‘Syukurlah kalo emang Hanna gak ngasih reaksi apapun sama tuh cowok,’ ujarnya di dalam hati.
“Yaaa … gak ada keterusannya. Orang dianya aku cuekin, kok,” jawab Johanna.
“Terus kamu gak ngomong apapun sama aku selama kita ada di dalem?” Nada bicara laki-laki itu seperti mengandung aroma lain terkait sosok lain yang dimaksudkan oleh Johanna tersebut.
“Mau ngomong apa? Orangnya sudah gak ada. Pergi. Tahu kemana, deh,” kata gadis itu kembali. “Tapi … barusan waktu kamu ke belakang, aku kok kayak ngelihat lagi laki-laki tadi. Makanya aku buru-buru ngejar ke sini.”
Kedua alis Ravi serempak naik beberapa inci. “Maksud kamu sampe ngejar-ngejar lelaki itu sampe ke sini … buat apa, Han?”
Kini giliran Johanna yang menduga-duga. Mata sipitnya lekat menatap tajam sosok laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya tersebut. “Gak bermaksud apa-apa. Aku cuman kepengen mastiin, dia itu siapa. Begitu loh, Mas.”
“Segitu aja?” tanya Ravi mendadak cerewet. “Gak ada maksud lain?”
“Maksud lain apa? Kamu kok, jadi curigaan begitu sih, Mas?” Semakin yakin kini gadis tersebut bahwa Ravi sepertinya tengah dilanda rasa cemburu. ‘Apa iya dia ingin tahu bukan sekedar penasaran? Kok, aku ngerasanya kayak lain, ‘gitu. Mungkinkah dia ini ….’
__ADS_1
Mendengar ucapan Johanna terakhir baru saja, buru-buru Ravi mengubah sikap dan tersadar. ‘Ah, sialan! Kebiasaan berdebat sama Sarah, aku kok jadi baperan begini ya, sekarang. Padahal ‘kan, Hanna jelas-jelasnya gak mengenali sosok laki-laki yang dia lihat itu. Kenapa juga aku jadi ngerasa … kayak gak rela ‘gitu.’
“Oh, maaf. A-aku gak ngerasa apa-apa, kok,” jawab Ravi akhirnya seraya membuang pandangan ke arah lain. “A-aku … cuman khawatir aja. Kok, kamu tiba-tiba menghilang begitu aja dari dalem, ‘gitu. Takut kenapa-kenapa … atau sesuatu terjadi sama kamu,” katanya beralasan. “Makanya aku juga buru-buru nyariin kamu.”
Senyum kecil Johanna spontan menyeruak membelah pipinya yang putih. Namun buru-buru bersikap biasa kembali begitu laki-laki tersebut balik menoleh.
“Ooohh … ‘gitu?” kata gadis itu sembari manggut-manggut. “Alhamdulillah, aku gak apa-apa kok, Mas.”
Sejenak keduanya terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing, tapi dengan topik serupa.
‘Apa Mas Ravi ngerasa cemburu, ya?’ Johanna bertanya-tanya sendiri. ‘Aku dan dia ‘kan, bukan siapa-siapa. Ngapain juga pake cemburu? Apa ini cuman pemikiranku doang? Tapi … kenapa juga aku malah seneng dia bersikap itu? Hi-hi.’
‘Aku yakin, Hanna jujur padaku,’ bisik Ravi turut berpikir. ‘Masalahnya, kenapa aku jadi ngerasa gak pengen ada laki-laki lain turut merhatiin dia, ya? Padahal jelas-jelas dia sendiri gak mengenal siapa laki-laki itu.’
Diawali tarikan napas panjang, akhirnya kesunyian di antara mereka terpecahkan. Johanna mengajak pulang Ravi. “Sudah mau Maghrib, Mas. Apa kita nyari dulu Mesjid terdekat sebelum pulang?”
“Boleh,” jawab Ravi jadi salah tingkah. “Kalopun nganter kamu sekarang, takutnya kejebak macet di jalan.”
“Gak usah deh, Mas. Aku pulang ngangkot aja.”
“Ih, jangan ‘gitu, dong! Aku ‘kan, yang ngajak kamu ke sini. Masa pulangnya masing-masing, sih?”
“Tapi kamu juga harus buru-buru pulang ke rumah, Mas. Entar istrimu nunggu-nunggu. ‘gimana?”
“Yakin dia nungguin aku?” Ravi balik bertanya. “Orang sampe sekarang nomorku saja masih dia blokir. Mungkin malah gak ngarep aku pulang, deh.”
“Hus, jangan ‘gitu, ah!” Johanna mengingatkan. “Tadi kata Mas Ravi, apapun masalahnya, Mas Ravi harus pulang. Itu sebagai salah satu bentuk kewajiban seorang suami sama istrinya. Hayooo ….”
“Yeee … lagian aku ‘kan, gak bilang gak bakal pulang. Cuman ngira-ngira aja, begitu,” elak laki-laki itu bermaksud bercanda. “Diarepin atau enggak, aku bakalan pulang, kok.”
“Ya, udah. Kita pulang sekarang.”
“Katanya mau nyari Mesjid dulu?”
“Iya, sekarang mulai nyarinya. Hi-hi.”
“Ih, dasar kamu!” kata Ravi sembari mencolek lengan Johanna tanpa sadar. “Ayo, berangkat ….” imbuhnya kembali seraya mengayunkan kaki. Namun tidak begitu dengan gadis itu. Sejenak dia diam terpaku di tempatnya berdiri seraya mengusap-usap lengan sendiri. Seketika, garis senyum di pipinya menguar dengan manisnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...