
Semakin malam, pesta pun semakin meriah karena kehadiran penyanyi terkenal. Jujur saja, Adrian ia segera pulang. Namun, Vanya mencegahnya karena ia ingin mengenalkan Vanya kepada seseorang.
Tiba-tiba Vanya mendekat kearah Adrian. "Boleh minta tolong gak?" bisik Vanya.
"Minta tolong apa?"
"Orang yang mau kesini itu mantan aku. Nanti kamu pura-pura jadi pacar aku ya."
Adrian melihat kearah orang yang sedang berjalan kearahnya.
"Oke, aku akan jadi pacar pura-pura kamu."
Lelaki itu menghampiri Vanya, ia mengucapkan selamat kepada Vanya dan memberikan sebuah kado.
"Pak Adrian," sapa mantan Vanya yang tak lain adalah rekan kerjanya.
Adrian kebingungan, karena ia tidak mengenal orang itu. "Siapa ya?"
"Saya teman kerja Bapak."
Adrian memang jarang bersosialisasi dengan rekan kerjanya, sehingga ia tidak mengingat wajah orang itu.
"Jadi kalian saling kenal?" kaget Vanya.
"Iya. Dia anaknya bos aku," jelas mantan Vanya.
Sepertinya jika menjadi pacar pura-pura Vanya akan gagal, karena karyawan-karyawan Papah tahu bahwa saat ini Adrian sedang jomblo.
Mereka tahu karena Papah sering menawarkan kepada beberapa karyawan cewek untuk menjadi pacar anaknya. Padahal anaknya sendiri tidak mau, bahkan Adrian sangat malu akibat perbuatan Papahnya.
"Vanya, kayaknya aku harus pulang deh. Soalnya aku udah ngantuk banget."
"Kenapa gak nginep disini aja?"
Ucapan Vanya membuat Adrian terkejut, baru kali ini ada seorang perempuan yang menyuruh Adrian menginap di rumahnya.
"Aku pulang aja deh."
"Ya udah hati-hati ya."
Adrian bergegas pulang ke rumah dengan mengendarai mobil pribadinya.
Sepanjang perjalanan ia merasa malu, sebab ada rekan kerjanya. Ia takut orang itu menyebarkan rumor bahwa Adrian sangat pemalas, sebab tadi ia tidak bekerja.
...****************...
Sesampainya di rumah, Adrian langsung merebahkan dirinya di sofa. Ia lelah, namun ia sama sekali tidak bisa tidur.
"Den, ada yang bisa saya bantu gak? kalau enggak saya mau istirahat," ujar asisten rumah tangga.
"Bibi istirahat aja. Oh iya, maaf ya udah ganggu waktu istirahat Bibi."
"Iya, gak apa-apa," ujar Bibi, lalu ia segera pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Karena bingung harus melakukan apa, akhirnya Adrian memutuskan untuk menelpon Arya. Meskipun kemungkinan tidak dijawab, tapi Adrian hanya ingin memastikan saja.
Ketika hendak menekan kontak Arya, entah kenapa jemari Adrian malah menekan kontaknya Alin. Sontak Adrian mematikan teleponnya, karena ia takut mengganggu Alin.
Taka lama setelahnya, Alin malah menelpon Adrian. Adrian merasa tidak enak karena telah mengganggunya.
Adrian menjawab telepon tersebut. "Alin maaf ya, tadi gak sengaja telepon kamu."
"Oh gitu, kirain ada yang mau dibicarakan."
"Ya udah kalau gitu aku tutup lagi ya teleponnya. Good night."
"Good night too."
Panggilan telepon dimatikan. Rasanya campur aduk jika menelpon Alin, apalagi di malam hari. Karena Adrian terbayang kejadian masa lalu, yang mana dirinya dan Alin sering melakukan sleep call.
Adrian berjalan ke kamarnya, sepertinya ia mulai mengantuk.
Ketika sampai di kamar, Adrian mengganti pakaiannya. Kemudian, ia segera tidur.
...****************...
Keesokan harinya...
Ketika sedang mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Adrian. "Pak Adrian," sapa seseorang.
Adrian menoleh kearah orang itu dan ternyata orang itu adalah mantan Vanya. "Iya, ada apa?"
Adrian hanya terdiam, ia bingung harus berkata apa. Tetapi karena sepertinya Vanya menyebut bahwa Adrian pacarnya, jadi dengan terpaksa Adrian mengiyakan pertanyaan orang itu.
"Harus sabar ya kalau jadi pacarnya Vanya," ujarnya.
"Emang Vanya kenapa?"
"Dia friendly banget ke cowok, makanya Bapak harus sabar."
Setelah berbincang-bincang mengenai Vanya, akhirnya Adrian jujur bahwa sebenarnya Vanya menyuruh Adrian untuk berpura-pura menjadi pacarnya.
Selesai mengobrol, Fahrul mengajak Adrian untuk makan siang, karena ia ingin sekali berteman dengan Adrian.
Karena Adrian sangat lapar, akhirnya ia menerima ajakannya untuk makan siang bersama.
Skip
Adrian merasa tidak nyaman dengan panggilan Bapak, akhirnya ia menyuruh Fahrul untuk memanggilnya dengan sebutan Adrian saja.
"Oh iya, waktu itu aku dengar rumor soal kamu. Katanya cewek yang waktu itu kesini adalah pacar kamu ya?" tanya Fahrul.
"Itu mantan aku."
"Waktu itu banyak teman-teman perempuan aku yang patah hati karena lihat kamu sama cewek itu."
Adrian tertawa kecil. "Oh ya?" tanyanya. Lalu, Fahrul mengangguk.
__ADS_1
Fahrul juga menjelaskan bahwa ada dua temannya yang menyukai Adrian. Karena Adrian sangat penasaran, akhirnya ia menanyakan siapa nama kedua orang yang menyukainya. Dan ternyata namanya adalah Nina dan Ajeng.
Adrian mengenal kedua orang itu. Bahkan dari lama Adrian sudah menyadari bahwa mereka menyukai Adrian.
"Nina, Ajeng!" panggil Fahrul sambil melambaikan tangannya.
Spontan kedua orang itu menoleh dan mereka berdua menghampiri Adrian dan Fahrul.
"Makannya disini aja bareng kita," ujar Fahrul.
"Emangnya boleh?" tanya Nina sambil melihat kearah Adrian.
"Boleh kok, duduk aja," kata Adrian.
Nina dan Ajeng duduk bersama dengan Adrian dan Fahrul.
Karena pada dasarnya Adrian terlalu sombong, ia langsung bersikap cool karena ia tahu bahwa Nina dan Ajeng menyukainya.
Tidak heran jika dulu Alin sangat kesal dengan Adrian karena ia sangat sombong jika ada cewek-cewek yang menyukainya.
Trining! Trining!
Telepon Adrian berbunyi, lalu ia terkejut melihat nama Alin yang tertera pada layar ponselnya.
Ia baru sadar, sepertinya ini peringatan akibat Adrian selalu welcome terhadap cewek yang menyukainya. Harusnya ia ingat apa kata Alin soal sikap buruknya itu.
"Pacarnya ya, Pak?" tanya Nina yang sekilas melihat nama orang yang menelpon Adrian.
"Mantan saya. Tapi sekarang saya lagi pendekatan lagi sama dia," jelas Adrian.
Nina dan Ajeng saling bertatapan satu sama lain, mereka terlihat kecewa saat Adrian berkata seperti itu.
Saat panggilan telepon tersebut dijawab, Alin langsung berkata bahwa dia sudah mentransfer uang sejumlah sepuluh juta kepada Adrian.
"Oh iya, malam ini kamu sibuk gak?" tanya Adrian dengan suara keras agar Nina dan Ajeng mendengarnya.
"Gak sibuk sih. Emang kenapa?" tanya Alin.
"Aku mau ajak kamu makan malam. Kamu bisa gak?"
Alin terdiam sejenak. "Aku bisa kok."
Setelah berkata seperti itu, Alin ijin mematikan panggilan teleponnya karena ia mempunyai urusan.
"Woy! kenapa pada bengong?" tanya Fahrul kepada kedua temannya.
"Gak kenapa-napa," ujar Nina dan Ajeng bersamaan.
"Terpesona ya sama Adrian?" tanya Fahrul blak-blakan.
"Ya iyalah. Lagian siapa coba yang gak terpesona sama Pak Adrian," puji Ajeng.
Adrian tersipu malu karena pujian dari Ajeng. Ia tidak menduga bahwa ternyata Ajeng sangat blak-blakan berbicara seperti itu. Padahal biasanya perempuan selalu diam dan jaga image saat menyukai seorang lelaki.
__ADS_1