Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Villa Paling Mewah


__ADS_3

Adelia menatap villa yang ada didepannya, matanya berbinar-binar.


"Ini bukan apa-apa, villa yang ada di Perumahan Bougenville ini semakin tinggi areanya, semakin mahal juga harganya, villa paling mahal ada diatas bukit itu, bahkan tidak tahu siapa yang membelinya!" Delilah berkata sambil memandang villa yang ada diatas bukit.


Pada saat ini, sebuah mobil lewat di depan mereka, jendela terbuka, wajah Airish terlihat menyeringai pada Delilah dan dua temannya.


"Airish, orang yang ada di mobil itu kan Airish!" Jacky adalah orang pertama yang melihat Airish dan berteriak.


Delilah dan Adelia juga melihat Airish, lalu melihat seringai di wajah Airish dan membuat Delilah merasa jengkel.


"Bagaimana bajingan ini bisa masuk? Apakah para petugas keamanan itu semuanya tidak berguna?" Delilah mengamuk.


"Apa jangan-jangan bajingan itu benar-benar penghuni disini? Coba lihat yang menyetir itu juga petugas keamanan, mereka diantar masuk!" Jacky melihat yang menyopir mobil itu.


Adelia mengernyitkan keningnya, dan wajahnya kebingungan. "Mereka menuju keatas bukit, apakah mereka tinggal di villa yang ada di puncak bukit itu?"


Jacky juga mendongakkan kepalanya dan melihat mobil itu melaju menjauh, semakin lama semakin tinggi. "Tidak mungkin! bagaimana mungkin Airish membeli rumah disini, detail keluarganya saya sangat jelas!"


Delilah menyangkal, dia tahu Airish tidak mungkin punya uang untuk membeli rumah. "Jangan-jangan itu pemberian Keluarga Winston kepadanya? Saya ingat Tuan Winston pernah mengatakan kalau Airish menyelamatkan nyawanya!" Adelia menganalisa dengan cermat.


"Mungkin!" Jacky mengangguk. "Bocah itu entah mendapatkan keberuntungan apa, bisa bertemu dan menyelamatkan Tuan Winston, kalau tidak dia pasti sudah mati di Hotel Horison tadi!" Delilah menggertakkan giginya, lalu membuka pintu mobil dan berkata "Ayo kita ikuti dan lihat!"


Delilah harus melihat sendiri apakah Airish benar-benar punya rumah di Perumahan Bougenville, Delilah mengikuti mereka dari belakang dengan Lamborghini-nya, matanya menatap kearah Airish yang menuju ke puncak tertinggi.


"Rumah......rumah Airish bukan villa yang ada di puncak tertinggi dan yang termahal itu kan?" Adelia melihat mobil itu terus melaju kearah puncak tertinggi, wajahnya penuh keterkejutan.


"Tidak mungkin! villa dipuncak bukit itu paling mahal, harganya mencapai seratus miliar, menjual seluruh keluarga Airish pun tidak akan bisa membelinya, dan keluarga Winston tidak mungkin menghadiahinya rumah seharga seratus miliar!" Jacky sedikit tidak percaya.


Tapi, segera, mobil yang ada didepan berhenti di puncak bukit, sedangkan Lamborghini nya Delilah diberhentikan.


"Halo, Nona, maaf Anda tidak diizinkan untuk keatas, karena itu adalah area pribadi!" Seorang petugas keamanan memberhentikan mobil Delilah.

__ADS_1


Airish sudah lama menyadari kalau Delilah mengikuti mereka di belakang, dan melihat mereka diberhentikan, Airish menyeringai.


Setelah tiba di puncak bukit, seluruh puncak bukit dikelilingi oleh awan dan kabut, seperti negeri dongeng.


Airish takjub, dan Shinta bisa merasakan udara yang ada disekitarnya begitu segar, dan membuatnya seolah dimabuk oleh udara segar itu!


Beberapa petugas keamanan membantu menurunkan barang-barang dan memindahkannya kedalam rumah, pemimpin petugas keamanan itu kembali meminta maaf pada Airish lalu pamit undur diri.


"Ibu, mulai hari ini ibu tinggal disini saja, udara disini sangat baik, sangat cocok untuk memulihkan kesehatan" Airish menarik tangan Shinta, dan membawanya menuju kedalam villa.


Shinta masuk kedalam villa dan tercengang, dia tidak pernah melihat rumah semegah ini dalam seumur hidupnya.


Memang sewaktu masih tinggal di Palembang, mereka pernah memiliki rumah mewah. Tapi rumah yang ini jauh lebih mewah di bandingkan dengan rumah mereka dahulu.


Setelah berkeliling sebentar didalam rumah, Airish berkata "Ibu, ayo saya bawa ibu berkeliling diluar, sekalian untuk mengenali jalan, jangan sampai nanti ibu tersesat!"


Senyuman Shinta terlihat diwajahnya yang penuh keriput.


Kebetulan pelatihan Airish membutuhkan energi spiritual. Energi spiritual yang ada di puncak bukit jelas lebih kaya dibandingkan di bawah, benar-benar membantu pelatihan Airish.


"Ini benar-benar tempat yang bagus untuk berlatih!" Airish tanpa sadar berteriak.


"Apa katamu?" Shinta bertanya.


"Oh, tidak apa-apa saya mengatakan ini benar- benar tempat yang bagus untuk beristirahat!" Airish tersenyum datar.


Saat mereka berbalik kearah mereka datang tadi, Delilah, Adelia dan Jacky masih disana, dan saat itu mereka juga melihat Airish, tatapan mereka langsung jatuh pada Airish.


Airish menyeringai sambil menatap Delilah dan yang lainnya, sebuah pintu pagar memisahkan mereka, tapi pintu pagar itu juga menjadi simbol pembeda status kedua sisi itu.


Airish menatap mereka dengan jijik. Delilah melihat sikap Airish, dan menggertakkan giginya, dia tidak mengerti sama sekali bagaimana Airish bisa menjadi penghuni villa yang ada diatas bukit itu.

__ADS_1


"Airish, temanmu ini benar-benar sangat baik, sampai meminjamkan villa sebagus ini padamu, nanti sesekali ajaklah temanmu untuk makan bersama!"


Shinta sama sekali tidak tahu kalau Delilah ada dihadapan mereka dan berkata pada Airish.


"Baik!" Airish mengangguk.


"Ah, ternyata hanya rumah pinjaman, saya kira itu miliknya!" Delilah mendengarnya dan langsung merasa lega.


"Saya sudah bertanya pada temanku, katanya villa ini milik Keluarga Winston, dan dipinjamkan kepada Airish untuk pamer!"


Jacky memegang ponselnya sambil membaca pesan yang dikirimkan padanya.


"Bocah ini, hanya menyelamatkan Tuan Winston sekali dia malah berencana menjadi benalu seumur hidup pada Tuan Winston ya, bahkan berani meminjam villa untuk pamer!" Adelia tersenyum sinis.


Tiga orang itu menatap Airish dengan tatapan jijik, perasaan mereka yang merasa sangat kecil tadi seketika hilang.


"Meskipun villa ini hanya pinjaman, tapi saya masih lebih hebat dari kalian, kalau kalian bisa, naik saja kemari!" Airish mendengar ejekan mereka bertiga, lalu berkata sambil mengaitkan jarinya terhadap mereka.


"Airish, jangan sok hebat, saya tidak percaya keluarga Winston akan melindungi kamu seumur hidup!" Delilah menggertakkan giginya lalu berbalik pergi.


Mereka tidak suka memandang Airish sambil meninggikan kepala mereka seperti sekarang.


"Airish, kamu jangan berhubungan lagi dengan si Delilah itu, wanita ular. Sepertinya dia akan menggigit siapapun yang mendekatinya!" Shinta yang mendengar suara Delilah langsung membujuk Airish.


"Iya Bu, saya sudah tahu, ayo kita berkeliling lagi!" Airish memapah Shinta dan melanjutkan jalan-jalan mereka.


Setelah lelah berkeliling, mereka kembali ke villa dan beristirahat, disaat itu sebuah Porsche merah berhenti didepan pintu rumah.


Airish melirik sekilas, ternyata Wildan datang.


"Tuan Wildan, kenapa Anda kemari?" Airish terkejut dan bertanya padanya.

__ADS_1


"Jangan terus menerus memanggilku dengan sebutan Tuan Wildan, cukup panggil namaku saja. Wildan!" Wildan berkata pada Airish.


__ADS_2