Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Dijenguk Alin


__ADS_3

Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu terdengar oleh telinga Adrian, hingga membuatnya terbangun dari mimpi buruknya.


Jika sedang sakit, Adrian memang selalu bermimpi buruk. Makanya jika ia tidur, ia selalu terbangun. Bahkan jika tidur sekalipun, pasti ujung-ujungnya ia mengigau.


"Adrian," panggil seseorang dengan suara lembutnya.


Adrian mengusap kedua matanya, ia tak percaya bahwa seseorang yang istimewa di hatinya, kini datang ke rumah.


"Gimana? udah mendingan atau masih sakit?"


"Udah mendingan sih, soalnya udah makan obat."


"Syukur deh kalau gitu. Oh iya, ini kue buat kamu." Alin meletakkan kue tersebut di meja.


"Makasih ya udah jenguk aku," ucap Adrian, lalu Alin hanya mengangguk.


Alin bertanya tentang makanan yang dibicarakan oleh Arya, namun ia menegaskan bahwa dirinya tidak memberi makanan kepada Adrian.


Disisi lain, Adrian hanya mengangguk karena Alin tidak mungkin meracuni Adrian. Dan karena hal ini juga, Adrian akan berhati-hati jika menerima apapun dari seseorang.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya."


"Kok pulang lagi sih, kan baru aja datang."


Alin terdiam sejenak, ia terlihat sangat canggung saat ini.


"Hmm...Arya mana?" tanyanya tiba-tiba.


"Udah pulang dari satu jam yang lalu."


Tiba-tiba terdengar rintik-rintik hujan, sontak membuat keduanya melirik kearah jendela.


"Hujan," gumam Adrian dan Alin bersamaan.


Spontan keduanya menatap satu sama lain dan mereka tertawa canggung karena berbicara bersamaan.


"Pulangnya nanti aku antar ya."


"Gak usah! kamu kan lagi sakit."


"Gak apa-apa, lagian cuma sakit perut doang."


"Aku bilang gak usah. Kamu keras kepala banget sih."


Adrian tersenyum tipis, sudah lama Alin tidak memarahinya. Sungguh Adrian rindu momen ini, disaat Alin memarahinya dengan berkata bahwa Adrian sangat keras kepala.

__ADS_1


Selain itu, Adrian rindu ketika Alin cemburu kepada wanita lain. Namun kini, Adrian tidak bisa menyaksikan Alin cemburu lagi.


"Oh iya! aku lupa," ujar Alin sambil memainkan ponselnya.


Adrian mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud Alin berbicara seperti itu.


"Uangnya udah aku transfer sebagian," kata Alin.


"Kamu gak pinjam dari siapapun, kan?"


"Enggak kok. Itu uang hasil aku jaga toko punya teman."


Duarrr!


Suara petir terdengar begitu keras, hingga membuat Adrian dan Alin terkejut. Selain itu, lampu kamar Adrian tiba-tiba mati. Tetapi untungnya di kamar Adrian memakai lampu emergency, jadi keadaan di kamar tidak gelap.


Kemudian, seseorang masuk kedalam kamar Adrian karena memang tadi pintunya tidak ditutup oleh Alin.


Ya, orang itu adalah asisten rumah tangganya Adrian. Dia membawa makanan dan minuman lumayan banyak untuk Adrian dan juga Alin.


Sesudah mengantarkan makanan dan minuman, asisten rumah tangga Adrian kembali pergi.


Saat Adrian ingin berdiri, Adrian berpura-pura lemas agar Alin membantunya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Alin membantunya berjalan kearah meja.


Setelah keduanya duduk di sofa, Adrian menyuruh Alin untuk makan bersamanya. Namun Alin menolak, ia hanya meminta minuman saja.


"Ya udah aku makan."


Keduanya menikmati makanan yang ada di meja. Tadinya Alin menolak makanannya karena ia sudah makan, namun saat melihat dia makan lahap seperti itu, membuat Adrian jadi yakin bahwa Alin sama sekali.


"Yang banyak makannya," ujar Adrian.


"Harusnya aku yang bicara kayak gitu ke kamu, kan kamu lagi sakit," kata Alin.


"Lin, aku mau tanya deh sama kamu. Kamu itu sebenarnya masih ada rasa atau enggak sih sama aku?" tanya Adrian tiba-tiba.


"Aku gak tahu," jawab Alin.


Adrian menghela nafasnya, ia merasa seakan-akan Alin menggantungkan hubungan. Padahal Adrian sangat berharap jika Alin jujur terhadap perasaannya.


"Aku tahu kamu pasti masih berharap agar aku jadi pacar kamu. Tapi aku mohon maaf sebesar-besarnya, karena untuk saat ini aku gak pingin pacaran dulu."


"Kenapa?"


"Aku merasa gak pantas untuk dicintai."


Tiba-tiba Alin meneteskan air matanya, entah apa yang dia pikirkan hingga membuatnya menangis.


Adrian mendekap erat tubuh Alin, ia tidak tahu mengapa gadis itu menangis. Sepertinya ia trauma, hingga tidak ingin mencintai lagi.

__ADS_1


"Semua orang pantas dicintai, Lin."


"Kamu gak tahu apa masalahnya, jadi kamu bicara seperti itu," ujarnya sambil menangis sesenggukan.


"Emang masalahnya apa sih, Lin?"


"Kalau aku jelasin, nanti kamu bakal jijik sama aku."


Adrian terdiam, ia tidak tahu maksud dari perkataan Alin. Tapi setelah dicerna lagi, sepertinya perkataan Alin itu tertuju pada dirinya yang waktu itu menjadi model majalah dewasa.


"Enggak, aku gak akan jijik sama kamu. Seburuk apapun kamu, aku akan selalu ada buat kamu."


"Kalau aku kasih tahu kamu, kamu gak akan kasih tahu orang lain, kan?"


"Iya, aku gak akan kasih tahu orang lain. Lagipula gak ada untungnya juga buat aku."


"Sebenarnya aku pernah tidur sama mantan aku."


Alin menjelaskan bahwa waktu itu ia pergi ke apartemen mantannya pada malam hari, tadinya ia hanya ingin mengantarkan makanan. Namun pada waktu itu, mantannya menyuruhnya untuk diam sebentar saja di apartemen.


Pada waktu itu, posisi Alin sedang menonton televisi. Tiba-tiba mantannya memberikan minuman yang Alin tidak tahu bahwa minuman itu berisi obat tidur, lalu pada saat Alun tertidur mantannya berhasil mengambil kep*rawanan Alin.


...****************...


Satu jam sudah Alin bercerita, hingga membuat Adrian bingung harus berkata apa. Sejujurnya ia sangat kecewa, namun karena itu bukan sepenuhnya salah Alin, jadi Adrian hanya bisa mensupport Alin agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Sekarang udah jelas, kan?" tanya Alin dengan suara serak, karena dari tadi ia hanya menangis.


Adrian mengangguk, lalu ia mengelus rambut Alin. "Kamu jangan nangis lagi. Lagipula itu cuma masa lalu. Meskipun begitu, aku masih cinta kok sama kamu."


"Gak! kamu gak boleh cinta sama aku. Kamu berhak mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku."


"Adrian!" teriak seseorang sambil masuk kedalam kamar.


Adrian dan Alin menatap orang itu. Sedangkan orang yang ditatap mereka kebingungan, karena ia melihat Alin yang sedang menangis.


"Loh! Alin kenapa nangis?" tanya Arya.


Spontan Alin menjaga jarak duduknya dengan Adrian, karena ia takut Arya menuduhnya berpacaran lagi dengan Adrian.


"Kalian jadian lagi ya?" tanya Arya lagi.


"Enggak kok," jawab Adrian.


"Kenapa, Lin? Adrian bikin lo nangis ya?" tanya Arya.


"Enggak kok," jawab Alin.


Arya tersenyum penuh arti, ia mengira bahwa Alin dan Adrian memang balikan lagi. Karena ia tidak mau mengganggu keduanya, akhirnya dia buru-buru mengambil ponselnya yang tertinggal di kasur Adrian.

__ADS_1


__ADS_2