
Kawamatsu berpesan agar dia menunggu, jadi Haryanto hanya melambaikan tangannya dan menyuruh bawahannya yang membawa parang untuk mundur, jangan sampai mereka terlihat oleh Kawamatsu.
"Saya sudah menghubungi Tuan Kawamatsu, dia akan segera kemari, kalau ada permintaan terakhir, kalian bisa menyampaikannya sekarang..." Haryanto menatap Airish dan yang lainnya dengan dingin lalu tersenyum sinis.
Mendengar Tuan Kawamatsu akan datang, Jacky dan yang lainnya kembali kehilangan kewarasan mereka.
Suasana yang mulai hening kembali diisi oleh suara tangisan.
Siapa itu Kawamatsu? Di Kota Bandung anak berusia tiga tahun pun tahu siapa dia, dia adalah pembunuh berdarah dingin bagaikan iblis.
"Kak Haryanto, ini semua tindakan Airish, kami tidak ada kaitannya, lepaskan kami ya..." Jacky kembali berlutut pada Haryanto.
Yang lainnya pun ikut berlutut dan memohon ampun, mereka tidak berhenti bersujud.
Sedangkan Airish langsung menarik Delilah dan Elsa, tidak membiarkan mereka berdua berlutut.
Tidak peduli betapa Delilah membencinya, tapi Elsa bukan orang jahat, dia selalu menjaga Airish dan keluarganya dengan baik, Airish tidak boleh mengabaikan Delilah.
Melihat Airish tidak berlutut, Haryanto yang ingin memakinya menahan diri dan menelan kembali kata-katanya karena teringat perintah dari Kawamatsu.
"Hm, tunggu saat Tuan Kawamatsu datang, habislah kamu, mari lihat pada saat itu apakah kamu masih bisa berlagak..." Haryanto berpikir dalam hatinya.
Setelah menunggu cukup lama, Jacky dan yang lainnya masih berlutut di lantai, kedua lutut mereka sakit tapi tidak ada yang berani berdiri, dan tetap mempertahankan posisi berlutut.
Setelah 20 menit lebih, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dengan kasar, Kawamatsu menerobos masuk kedalam.
"Tuan Kawamatsu......" Haryanto segera menghampiri dan menyambutnya.
Mendengar Kawamatsu sudah datang, Jacky dan yang lainnya sibuk mendongakkan kepala mereka, tatapan mereka jatuh pada tubuh Kawamatsu yang membuat mereka terkejut dan hampir pingsan.
Sangat jarang ada orang yang pernah melihat Kawamatsu secara langsung, dan saat mereka melihatnya, aura haus darah dari tubuh Kawamatsu membuat mereka gemetar ketakutan dalam sekejap.
Kawamatsu tidak memperdulikan Haryanto, dia langsung menjatuhkan pandangannya pada Airish.
Namun Airish mengedipkan matanya pada Kawamatsu, dan Kawamatsu pun tidak menghampirinya seolah tidak mengenalnya.
Elsa dan Delilah ada disini, kalau mereka sampai tahu Airish mengenal Kawamatsu maka ibunya Airish pasti akan tahu juga.
__ADS_1
Kawamatsu melihat Jacky dan yang lainnya berlutut dilantai dan kearah Haryanto, lalu menamparnya dengan keras. "Sudah ku katakan jangan bertindak sembarangan dan tunggu saya!"
Haryanto yang ditampar seketika bingung, sedangkan Kawamatsu jongkok dan memapah Jacky berdiri. "Maaf, didikan saya kurang tegas, harap kalian semua dapat memaklumi...."
Kawamatsu berkata lalu melihat Haryanto "Apa yang terjadi disini?"
Haryanto tidak berani merahasiakannya dan menceritakan kembali seluruh kejadian kepada Kawamatsu.
Saat mendengar kalau semua ini bermula dari Santoso, Kawamatsu langsung melirik tajam kearah Santoso yang masih tersungkur dan meringkuk dilantai.
"Tuan Kawamatsu, saya...." Santoso dapat merasakan tatapan tajam Tuan Kawamatsu, dia menggertakkan giginya dan berusaha berdiri untuk memberi penjelasan.
"Patahkan kaki tangannya dan lempar keluar, dia tidak lagi diizinkan menginjakkan kaki di Bandung Royal KTV..."
Kawamatsu tidak berniat mendengarkan penjelasan Santoso, dan langsung memerintahkan bawahannya untuk mematahkan kaki tangannya Santoso dan melemparnya keluar.
Mendengar jeritan menyayat dari Santoso, Jacky dan yang lainnya kembali ketakutan hingga mengompol lagi, keganasan dan kekejaman yang ditunjukkan oleh Kawamatsu membuat mereka ketakutan hingga gemetar.
"Semuanya, masalah hari ini terjadi karena bawahan saya yang tidak dididik dengan baik, sebagai gantinya saya akan menggratiskan semua tagihan kalian hari ini, kalian kembalilah ke ruangan dan bersenang-senang lah, saya akan menyuruh orang untuk mengantarkan beberapa anggur baik untuk kalian..." Kawamatsu berkata sambil tersenyum.
Mereka tercengang dan berdiri diam pada tempatnya, tidak ada satu pun yang berani bergerak.
"Kalau begitu, kami berterimakasih kepada niat baik Tuan Kawamatsu..."
Melihat tidak ada yang berani berbicara dan bergerak, Kawamatsu akhirnya buka suara. "Sudah seharusnya, sudah seharusnya, masalah hari ini diakibatkan oleh didikan saya yang kurang tegas..."
Kawamatsu berkata dengan sangat rendah hati.
Airish menarik Elsa dan Delilah yang sudah tercengang sejak awal dan kembali ke ruangan VIP mereka.
Jacky dan yang lainnya yang melihat ini juga berjalan kembali ke ruangan mereka bagaikan mayat.
Sementara di ruangan Haryanto. "Tuan Kawamatsu, orang-orang ini...."
"Plak..."
Tidak menunggu Haryanto menyelesaikan kalimatnya, Kawamatsu kembali melayangkan tamparan ke wajah Haryanto.
__ADS_1
"Apa kamu tahu siapa Airish?" Setelah menamparnya, Kawamatsu bertanya dengan dingin kepada Haryanto.
Haryanto menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu!"
"Dia adalah Penguasa Negeri Akhirat, Pemimpin langsung kita...."
Satu kalimat dari Kawamatsu berhasil membuat raut wajah Haryanto berubah pesat.
Sebagai tangan kanan dari Kawamatsu, Haryanto tentu tahu kalau Yayasan Teratai merupakan salah satu pintu masuk menuju Negeri Akhirat, Kawamatsu juga pernah memberitahukan kepadanya kalau Penguasa sudah muncul. Tapi bagaimana pun dia tidak menyangka kalau Airish yang tidak tampak hebat dari sisi manapun adalah Penguasa Negeri Akhirat.
"Kalau...kalau begitu dia adalah orang yang memukuli Timotius?" Haryanto bertanya dengan kaget.
"Kamu kira?" Kawamatsu menatap Haryanto dengan dingin.
"Kamu masih bisa bertahan hidup saat ini sudah harus bersyukur dan sholat taubat, cepat pesankan beberapa botol anggur baik dan segera kamu antarkan sendiri kesana, tapi ingat, Penguasa tidak ingin identitasnya terbongkar!"
"Baik Tuan Kawamatsu, saya mengerti... "
Haryanto yang masih gemetar bergegas pamit dan pergi untuk mengurusnya.
Saat itu, Airish dan yang lainnya sudah kembali ke ruangan VIP, suasana didalam ruangan bagaikan kuburan. Mata mereka semua membelalak, tidak ada satu pun yang berani percaya kalau orang yang tersenyum begitu ramah kepada mereka adalah Kawamatsu, Ketua Mafia yang terkenal akan kesadisannya di Kota Bandung.
"Plak..." Jacky tiba-tiba menampar dirinya sendiri dengan kuat, dan saat merasakan rasa sakit dia bergumam. “Ini nyata, bukan mimpi, bagaimana mungkin?"
Jacky tidak mempercayai kejadian tadi adalah kenyataan. Yang lainnya juga terlihat kebingungan, tatapan mereka membelalak tak percaya.
"... Airish, kamu kenal dengan Kawamatsu?"
Adelia menatap Airish dengan tatapan tidak percaya.
Ekspresi Airish tadi sama sekali tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun, dia bahkan berani memukuli bawahan Kawamatsu, tapi Kawamatsu sama sekali tidak marah.
Mendengar pertanyaan Adelia, seluruh orang dalam ruangan juga menjatuhkan pandangan mereka pada Airish, kalau Airish benar-benar mengenal Kawamatsu, maka apa mereka akan berakhir baik? Mereka tadi mencaci maki dan mengutuk Airish.
"Tidak kenal!" Airish menggelengkan kepalanya.
Melihat Airish menggeleng, Delilah merasa lebih bingung lagi. "Kalau kamu juga tidak mengenalnya, apa yang membuat Tuan Kawamatsu begitu sungkan kepada kita?"
__ADS_1