
Airish turun dari mobil, dan Wildan langsung melajukan mobilnya meninggalkan perumahan. sedangkan Elsa masih menunggu Airish.
Elsa melihat Airish turun dari mobil dengan wajah penuh senyuman.
Dan saat Airish sampai di ruangan departemen pemasaran, dia melihat ekspresi Elsa sedikit aneh, lalu bertanya. "Elsa, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa!" Elsa tidak menatap Airish dan berusaha kuat merekahkan sebuah senyuman sambil berjalan pergi.
Airish juga tidak terlalu memperdulikannya, dan segera kembali ke tempat duduknya untuk bekerja.
Pada sore hari. perusahaan Winston mengirimkan sebuah dokumen, dokumen itu langsung diletakkan diatas meja Bobby.
Setelah membaca isi dokumen, raut wajah Bobby seketika menjadi jelek dan mengerikan.
Isi dokumen itu adalah tentang perubahan struktur perusahaan, Airish ditunjuk sebagai Direktur PT Krakatau dan itu efektif per hari Senin mendatang.
Dalam sekejap. Airish sudah menjadi atasan langsungnya Bobby.
"Kenapa, kenapa..." Bobby membaca isi dokumen itu dan mulai berteriak histeris, lalu merobek-robek dokumen itu.
"Pak Bobby, ada apa..." Sekretarisnya yang mendengar suara teriakan bergegas masuk kedalam ruangan.
"Enyah, enyah dari hadapanku..." Bobby berteriak pada sekretarisnya dan membuat sekretaris itu lari ketakutan.
Pada saat itu Bobby sudah seperti orang gila, matanya sedikit memerah.
"Airish, semua itu karena kamu, semuanya karena kamu, saya akan membunuhmu...."
Bobby menggertakkan giginya, dia adalah seorang siswa berprestasi yang sudah lama bekerja untuk keluarga Winston, sekarang dia malah dikalahkan oleh seorang mantan narapidana.
Bobby tidak puas, dia merasa dia sudah kehilangan kewarasannya sejak awal.
Setelah cukup lama, Bobby perlahan-lahan menenangkan dirinya, dia melihat dokumen yang sudah dia robek-robek dan perlahan membuka lacinya.
Pada saat itu, didalam laci Bobby, terlihat sebuah pistol yang tersimpan didalam.
__ADS_1
Bobby menatap pistol itu seolah sedang membuat keputusan yang sulit.
Dia perlahan-lahan meraih pistol itu, dan mengelus permukaan pistol yang dingin, hatinya sudah membuat keputusan. "Jacky, suruh Airish datang ke ruanganku sekarang..."
Bobby mengangkat telepon kantornya dan menghubungi Jacky.
Jacky yang pada saat itu masih mengamuk didalam kantornya, kaget saat menerima telepon dari Bobby.
"Jacky, untuk apa Pak Bobby
mencari Airish?" Tanya Adelia.
"Mana saya tahu!" Jacky mengernyitkan keningnya, dan perasaannya terasa tidak enak.
"Apa mungkin Pak Bobby akan memberikan seluruh komisinya kepada Airish? Saya sudah tahu sejak awal kalau Airish dan Pak Bobby pasti memiliki hubungan, kalau tidak hal sebaik ini kenapa harus diserahkan kepada Airish!" Adelia berkata dengan wajah kesal, dan menyatakan ketidakpuasannya.
"Sudahlah, jangan mengomel lagi, saya sudah sangat penat saat ini!"
Jacky memelototi Adelia lalu berjalan keluar dari ruangannya, dan menghampiri Airish yang sedang duduk di tempatnya. "Airish, Pak Bobby menyuruhmu ke ruangannya, sepertinya mengenai masalah kontrak, apa kamu tahu apa yang harus kamu katakan setelah kesana? Kamu juga seharusnya sadar kan kamu tidak akan bisa menandatangani kontrak itu dengan mudah kalau bukan berkat saya dan Adelia yang terus bolak-balik?”
Melihat sikap Airish, Jacky menjadi kesal. "Kamu kira kamu siapa, kalau bukan karena Adelia yang merekomendasikan mu apa kamu bisa bertahan selama ini disini? Berani melawanku? Saya pasti akan membuatmu menyesal cepat atau lambat....."
Ruangan Bobby, saat Airish sampai didepan ruangannya, sekretaris ingin melapor terlebih dulu, namun Airish langsung membuka pintu dan melangkah masuk, sekretaris tidak sempat menghentikannya.
"Pak Bobby, dia...dia menerobos masuk!"
Sekretaris yang kaget bergegas menjelaskan pada Bobby.
Bobby menatap Airish dan melambaikan tangannya pada sekretaris. "Keluar kamu, tanpa isyaratku, siapapun tidak boleh masuk!"
Sekretaris yang melihat situasi itu segera menggeleng dan berjalan keluar sambil menutup pintu.
"Duduklah..." Bobby menunjuk kursi yang ada dihadapannya.
Airish juga tidak sungkan-sungkan dan langsung duduk dihadapan Bobby keduanya saling memandang seperti ini selama satu menit penuh, tetapi tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Ada urusan apa kamu mencari aku, cepat katakan, saya sibuk!" Melihat Bobby tidak mengatakan apapun, Airish akhirnya buka mulut.
"Airish, saya sudah pernah melacak informasimu, kamu hanyalah seorang yang sangat biasa, dan pernah masuk penjara, atas dasar apa Wildan menyukaimu? Atas dasar apa kamu diangkat menjadi Direktur perusahaan? Atas dasar apa?"
Bobby menatap Airish, dia belum memahami kenapa Wildan tidak menyukainya yang merupakan seorang siswa berprestasi, dan malah menyukai Airish?
Kalau Airish merupakan putra dari keluarga kaya dan terkemuka, atau konglomerat generasi kedua, mungkin Bobby akan merasa sedikit lebih baik, tapi Airish hanyalah orang biasa, dan pernah masuk penjara, meski begitu, Wildan malah menyukai Airish dan tidak menyukai dirinya, sampai sekarang Bobby masih belum mengerti. Tidak ada apa menyukai seseorang perlu banyak alasan? Wildan menyukaiku karena memang menyukaiku, kamu bisa apa?" Airish menyeringai, dan menatapnya dengan tatapan mengejek.
Ekspresi serta nada bicara Airish seketika membuat Bobby terprovokasi.
Bobby yang sejak tadi berusaha keras menenangkan dirinya, meledak dalam sekejap.
"Airish, saya mau kamu segera pindah dari Kota Bandung, tinggalkan Wildan dan jangan kembali lagi. kalau tidak, saya akan membuatmu menyesal...."
Bobby gemetaran, kedua matanya terbuka lebar, dan berteriak dengan kuat pada Airish.
"Menyesal?" Airish mencibir.
"Saya tidak pernah menyesal sama sekali, dan lagipula, kamu juga tidak mempunyai hak untuk memerintah aku, apalagi mengancam..."
"Kalau begitu saya akan memperlihatkannya kepadamu, apakah saya punya hak untuk memerintah kau..." Sambil berkata, Bobby meraih pistol yang ada didalam laci dan mengarahkannya pada Airish.
Ini pertama kalinya Bobby mengarahkan pistol kepada seseorang, kedua tangannya gemetar hebat.
Melihat Bobby mengarahkan pistol padanya, senyuman di wajah Airish terlihat semakin jelas.
Melihat Airish sama sekali tidak ketakutan, Bobby menjadi marah. "Saya benar-benar akan menembakkannya, asalkan saya menarik pelatuk ini, kamu akan langsung bersimbah darah..."
"Kalau begitu tembakkan saja, saya lihat tanganmu gemetar hebat, saya takut pelurumu akan meleset, saya mendekat ya, agar kamu menembak tepat pada sasaran....."
Airish justru melangkah mendekat pada Bobby, agar pistol di tangan Bobby semakin dekat dengannya.
Melihat Airish merespon seperti ini, Bobby menjadi lebih marah lagi.
"Airish, saya benar-benar akan menembak, kamu lebih baik segera pindah dari kota Bandung, dan saya akan mengampuni nyawamu sekali ini, kalau tidak saya akan membunuhmu....”
__ADS_1
Wajah Bobby semakin merah, dia tidak pernah membunuh orang, dia juga tidak pernah menembak seseorang sampai mati, pistol ini juga dia rakit sendiri dengan suku cadang yang dia beli, saat diluar negeri, dia sangat tertarik dan menyukai pistol, namun saat kembali ke Indonesia, pistol merupakan barang terlarang dan pengawasannya sangat ketat, jadi Bobby diam-diam merakitnya.