
"Kalau ingin datang melihat-lihat Perumahan Bougenville, lihat dari luar saja, orang luar tidak boleh masuk kedalam."
Maksud petugas keamanan itu sangat jelas, dia tidak percaya kalau Airish adalah penghuni kompleks Bougenville.
Tidak peduli dari penampilan Airish, atau orang tuanya yang ada didalam taksi mereka sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sanggup membeli rumah di Perumahan Bougenville karena Perumahan Bougenville memiliki pemandangan yang sangat cantik, banyak orang yang berusaha masuk kedalam dengan berkata kalau mereka adalah penghuni lalu masuk kedalam dan berkeliling, seperti sedang berwisata, dan petugas keamanan ini juga menganggap Airish adalah orang seperti itu. Airish mengernyitkan keningnya. "Saya benar-benar penghuni disini, Ini kunci rumahku!" Airish berkata sambil mengeluarkan sebuah kunci.
Kunci itu diberikan oleh Winston pada Airish, dikuncinya terukir logo Perumahan Bougenville yang berwarna emas, sangat indah, dilihatnya saja sudah tahu kalau itu adalah kunci rumah Perumahan Bougenville. Petugas keamanan ini mengambil kunci lalu kembali menemui Airish. "Katakan, dari mana kamu dapat kunci ini, ini adalah kunci rumah yang bertipe villa, itu adalah unit termahal, dan Tuan Winston sudah membelinya, kenapa kunci ini ada di tanganmu?"
Airish juga tercengang, dia tidak menyangka Winston memberikannya sebuah villa, vila termahal yang ada di Perumahan Bougenville, hadiah ini terlalu besar "Ini adalah pemberian Tuan Winston." Airish berkata dengan jujur.
"Omong kosong, saya rasa kamu pasti mencurinya, atau memungutnya, mana mungkin ini dihadiahkan kepadamu!" Penjaga keamanan berteriak keras, lalu melambaikan tangannya, dan lima penjaga lainnya bergegas menghampiri.
"Kalian, perhatikan mereka, saya akan menelpon!" Petugas keamanan itu berpesan lalu pergi sambil membawa kunci rumah itu.
Shinta turun dari taksi, bahkan supir taksi pun terkejut dia segera menurunkan barang-barang Airish dan pergi dari sana.
"Airish, ada apa? Apa yang terjadi?" Shinta bertanya dengan penasaran.
"Ibu, tidak apa-apa, sebentar lagi kita akan masuk, hanya perlu mengkonfirmasi dulu.
Pengawasan disini sangat ketat." Airish menenangkan Shinta.
"Tentu saja, ini kan perumahan paling elit di Kota Bandung, ibu saja sudah mencium aroma bunga dari sini!" Shinta terlihat bersemangat!
Sekarang mereka dihalangi dan dikelilingi oleh para petugas keamanan, jelas-jelas ada masalah yang terjadi, dia sama sekali tidak percaya ada teman yang meminjamkan rumahnya kepada Airish. Disaat itu, sebuah Lamborghini hitam melaju dan berhenti dihadapan Airish.
"Astaga, bukankah itu Airish? Kalian sekeluarga kenapa bisa kemari? Membawa begitu banyak barang, apakah kalian mau pindah kemari?"
__ADS_1
Pintu mobil terbuka, Jacky turun dari mobilnya dengan wajah berlagak. Disusul oleh Delilah, dan juga Adelia.
Mereka bertiga menertawakan Airish dan ibunya, mereka juga datang ke Perumahan Bougenville untuk berkeliling, karena Delilah ingin memamerkan rumah pengantin yang dibelikan oleh Faisal di Perumahan Bougenville, maka dia membawa serta Adelia dan Jacky.
Tidak disangka malah bertemu dengan pemandangan seperti ini, membuat mereka bertiga ikut menyaksikan keributan.
Airish melirik sekilas ketiga orang itu dan mengabaikan mereka.
"Ada apa ini?" Delilah bertanya pada salah seorang petugas keamanan.
Petugas itu melihat Delilah berpenampilan cantik, mengendarai Mercedes Benz, dia tidak berani menyinggungnya lalu berbisik "Nona, beberapa orang ini mengatakan kalau mereka adalah penghuni disini, dan mengeluarkan sebuah kunci villa, jadi ketua kami mencurigai kalau kunci itu adalah kunci curian, atau dipungut olehnya, dan sedang melakukan konfirmasi."
Mendengar penjelasan petugas keamanan itu membuat Delilah dan dua temannya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Airish, kamu ini benar-benar, memungut kunci villa dan mengaku-ngaku penghuni disini, kalau kamu idiot jangan kira semua orang sama idiotnya denganmu!"
"Apa kamu tahu berapa harga villa disini? Apa kamu sanggup membelinya?"
Adelia juga tidak bisa menahan mulutnya.
"Kalian cepat usir orang-orang ini, apalagi pemuda ini, dia itu mantan narapidana, hari ini baru bebas, kalau dia masuk kedalam bisa mempengaruhi reputasi perumahan ini!" Delilah berkata sambil menunjuk Airish. Beberapa petugas yang mendengarkan itu langsung panik, dan mengeluarkan tongkat mereka, kalau Airish benar-benar mantan narapidana, dan diketahui oleh para penghuni perumahan, pasti akan menimbulkan ketidak tenangan, dan saat itu mereka para petugas keamanan lah yang akan terkena imbasnya.
"Airish, masih tidak mau membawa ibumu itu pergi dari sini? Harus menunggu diusir baru mau pergi?" Jacky menatap Airish dengan tatapan sinis.
"Apa katamu ?" Airish mendengar Jacky yang menghujat ibunya mengepalkan tinjunya dengan erat.
"Kenapa, kamu mau memukulku?" Jacky terlihat tidak takut, malah tertawa, dan berjalan kehadapan Airish. "Saya tahu kamu mempelajari beberapa jurus saat dipenjara, apakah kamu tahu tempat apa ini? Berani memukuliku?Percaya tidak kalau saya bisa membuatmu masuk kembali kedalam penjara."
__ADS_1
Jacky berkata dengan arogan, dan mendorong Airish dengan keras.
"Airish, ayo kita pergi saja ayo...." Shinta menarik lengan Airish, dan berkata dengan nada memohon.
Dia takut Airish akan bertindak gegabah, Airish baru saja dibebaskan hari ini, dan dia memiliki catatan kriminal, kalau dia sampai terlibat perkelahian dan dijebloskan kembali kedalam penjara, maka Shinta memilih mati saja.
"Hahaha, cepat enyah dari sini, kalau saya melihatmu lagi, saya akan membalaskan dendamku. tamparan itu pasti akan ku balaskan." Jacky menatap Airish dengan galak dan memakinya.
"Sudah, ayo kembali ke mobil, menghabiskan waktu dengan orang-orang ini hanya membuat status kita luntur."
Delilah meneriaki Jacky, dan mereka kembali kedalam mobil, dan menuju ke dalam Perumahan Bougenville
"Ibu, tunggu dulu, villa itu benar-benar dipinjamkan temanku padaku." Airish membujuk ibunya, agar dia tidak gelisah.
Airish membuka mulut bersiap membantah, Dan disaat itu, petugas keamanan yang membawa kunci untuk dikonfirmasi bergegas menghampiri Airish, dan saat melihat Airish, dia segera berkata dengan wajah menyanjung. "Tuan Airish, saya benar-benar minta maaf, kami salah, benar-benar pantas mati, ayo ayo kami antar kedalam."
Setelah berkata pemimpin petugas keamanan itu berteriak pada bawahannya. "Cepat simpan kembali tongkat kalian, dan segera nyalakan mobil dan antar Tuan Airish dan ibunya kedalam."
"Siap!" beberapa petugas keamanan itu mengangguk kebingungan, lalu menghidupkan mobil dan mengangkat barang-barang kedalam mobil, dan mengantar Airish dan ibunya masuk.
"Airish, tidak disangka kamu tidak berbohong, sebenarnya teman macam apa ya meminjamkan villanya yang semahal ini padamu?" Shinta yang duduk di mobil merasakan aroma bunga dari Perumahan Bougenville merasa sangat bersemangat.
"Bu, kalau ada kesempatan saya akan mengenalkan temanku ini padamu."
Airish tahu Shinta penasaran, jadi dia berencana mencari kesempatan untuk memperkenalkan Wildan pada ibunya.
Delilah menghentikan mobilnya di villa yang ada ditengah bukit, mereka bertiga turun dari mobil.
__ADS_1
"Delilah, kamu benar-benar beruntung, vila ini mewah sekali, pemandangannya juga sangat cantik, kalau saya punya rumah seperti ini, umurku dikurangi sepuluh tidak masalah."