
Sepulangnya dari pemakaman, Adrian dan Alin kembali ke hotel. Setelah sampai di hotel, keduanya mengambil barang-barang mereka karena hari ini mereka akan tinggal di rumah.
"Adrian, are you okay?" tanya Alin, karena semenjak dari pemakaman, Adrian menjadi tidak banyak berbicara.
"Aku baik-baik aja kok."
Alin memeluk Adrian dengan erat, ia tahu bahwa Adrian pasti merasa bersalah atas kematian Saskia.
"Kamu kenapa?" tanya Adrian karena Alin tiba-tiba memeluknya.
Alin melepaskan pelukannya. "Gak kenapa-napa. Aku cuma pingin peluk aja."
"Barang-barangnya udah dimasukkan ke koper semua, kan?" tanya Adrian, lalu Alin mengangguk.
"Ya udah kalau gitu ayo kita pulang." Akhirnya mereka segera pergi.
Skip
Sampai di rumah, Alin langsung membereskan barang-barang yang ada di koper.
"Nanti aja beres-beres nya. Lebih baik sekarang kamu istirahat aja."
Alin menghentikan aktivitasnya dan ia duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Adrian! ada mamah kamu," tunjuk Alin pada layar televisi.
Adrian melihat kearah televisi. "Nonton yang lain aja."
"Kamu kok gitu sih. Ini mamah kamu loh, harusnya kamu bangga."
"Masalahnya aku kesal, karena mamah aktingnya selalu jadi pemeran jahat."
Alin tertawa mendengar penjelasan dari Adrian. Tetapi perkataan Adrian ada benarnya juga, karena jika kita menonton sebuah film dan difilm tersebut ada tokoh yang jahat, pastinya kita akan jadi kesal kepadanya.
Adrian menghampiri Alin dan dia tidur dipangkuan Alin. "Sepi banget ya rumahnya."
"Iya, sepi banget."
"Kalau kita punya anak, kayaknya gak akan sepi ya," ujar Adrian sambil tersenyum.
Alin mengerti maksud Adrian. Tetapi sebenarnya saat ini Alin masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Adrian.
"Adrian, aku belum mau punya anak dulu."
"Kenapa?"
"Aku lagi pingin menikmati waktu sama kamu dulu."
"Ya udah kalau itu mau kamu."
Karena Alin masih ingin menghabiskan waktu berdua, jadi Adrian mengusulkan untuk mengajak Alin berlibur ke luar negeri.
"Aku gak mau ke luar negeri, aku cuma mau berduaan di rumah sama kamu."
"Aneh banget. Seharusnya kamu senang diajak ke luar negeri, eh ini malah mau di rumah."
__ADS_1
"Soalnya aku takut naik pesawat, makanya aku gak mau."
Adrian tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Alin. Ia baru sadar bahwa istrinya ini memang sangat takut akan ketinggian.
Tingtong! Tingtong!
Alin dan Adrian saling bertatapan, pasalnya mereka baru saja pindah, tetapi entah kenapa tiba-tiba ada tamu yang datang. Padahal yang tahu rumah ini hanya Arya, keluarga Adrian dan keluarga Alin saja.
"Aku buka pintu dulu ya," ujar Adrian.
"Aku ikut," kata Alin.
Mereka bergegas pergi keluar untuk menemui orang itu.
Ketika sampai diluar, Adrian bertemu dengan mantan keduanya yang bernama Raisa.
"Hai," sapa Vanya pada Adrian dan Alin. Lalu, Adrian dan Alin hanya tersenyum saat disapa oleh Vanya.
"Kamu kok bisa tahu alamat rumah aku sama Alin," heran Adrian.
"Aku tahu dari Arya. Aku minta alamat kamu karena aku mau kasih kado ini untuk kalian berdua. Oh iya, maaf ya kemarin aku gak datang ke acara pernikahan kalian," jelas Vanya.
"Oh iya, gak apa-apa kok," kata Adrian.
Adrian menyuruh Vanya untuk masuk kedalam, karena tidak enak jika mengobrol diluar. Tetapi Vanya menolaknya, karena tujuan utama dia datang kesini hanya untuk memberikan kado.
Karena Vanya buru-buru, dia langsung memberikan kado tersebut kepada Adrian.
"Makasih ya kadonya," kata Adrian.
Sesudah Vanya pergi, Adrian dan Alin kembali masuk kedalam rumah.
"Kamu mengundang Vanya?" tanya Alin, lalu Adrian hanya mengangguk mengiyakan bahwa dirinya memang mengundang Vanya.
"Aku kira yang kamu undang cuma keluarga besar kamu."
"Aku undang dia karena ada alasannya."
"Pasti karena kamu dulu sempat dekat dengan dia ya? makanya sampai diundang segala."
Adrian menatap datar kearah Alin, lalu ia menjelaskan bahwa Vanya merupakan anak dari teman Papah, makanya Adrian mengundangnya.
"Dulu kamu pasti pernah suka ya sama dia?" tanya Alin.
"Lin, udah jangan cemburu kayak gitu. Lagipula dia kan datang kesini buat kasih kado untuk pernikahan kita."
"Aku gak cemburu. Aku cuma tanya doang kok."
"Tapi pertanyaan kamu itu seolah-olah kayak kamu lagi cemburu."
Alin tidak membalas perkataan Adrian. Ia lebih memilih untuk membuka kado pemberian Vanya.
"Lucu banget," ujar Alin saat melihat baju tidur couple pemberian Vanya.
"Adrian, aku boleh minta nomer telepon Vanya gak? soalnya tadi aku lupa belum bilang makasih sama dia."
__ADS_1
Adrian menahan tawanya, lantaran tadi Alin cemburu kepada Vanya. Tapi sekarang, Alin justru ingin berterima kasih.
"Mana nomer teleponnya?"
Adrian memberitahu nomer telepon Vanya kepada Alin. Lalu, Alin segera menyimpan nomer telepon Vanya pada kontaknya.
"Vanya sempurna banget hidupnya. Dia cantik, kaya, dan juga terkenal," ujar Alin.
"Iya juga ya."
"Jadi menurut kamu Vanya cantik?" tanya Alin sedikit cemburu.
"Cantik lah, kan dia perempuan."
...****************...
Malam ini, Adrian dan Alin memutuskan untuk pergi menuju suatu tempat yang memang ingin mereka kunjungi sejak lama.
Tempat tersebut adalah tempat untuk menikmati kuliner di malam hari.
Sebenarnya waktu dulu mereka pernah kesini, hanya saja waktu itu hanya Adrian saja yang membeli makanan, sedangkan Alin hanya berdiam diri di mobil karena ia sedang tertidur.
Jadi, sekarang waktu yang tepat untuk menikmati kulineran bersama pasangan.
Skip
Sesampainya ditempat tujuan, keduanya langsung memesan beberapa makanan dan minuman. Setelah itu, mereka duduk ditempat yang telah disediakan.
Selain menikmati kulineran, mereka juga dapat melihat kembang api dan wahana kincir angin yang begitu indah.
"Nanti selesai makan, kita naik kincir angin yuk," ajak Alin dan dibalas anggukan oleh Adrian.
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai menghabiskan makanan dan minuman. Jadi, kini saatnya untuk mereka menaiki wahana kincir angin.
Sambil menunggu Adrian membeli tiket, Alin memutuskan untuk memotret pemandangan kembang api yang begitu indah.
"Alin!" panggil Adrian sambil melambaikan tangannya seolah menyuruh Alin untuk datang menghampirinya.
Alin bergegas menghampiri Adrian. Setelah itu, keduanya segera menaiki kincir angin tersebut.
Saat posisi kincir angin mereka berada diatas, Alin langsung memotret pemandangan yang ada dibawahnya.
"Kayaknya lebih menarik yang dibawah ya daripada aku?" sindir Adrian.
Alin menoleh kearah Adrian, lalu ia tersenyum. "Enggak kok. Justru lebih menarik kamu."
Adrian menggenggam tangan Alin, lalu menciumnya. "Aku bahagia banget karena bisa memiliki kamu."
"Aku juga." Alin tersenyum bahagia.
Adrian mendekat kearah Alin, lalu ia mencium bibir Alin. Lalu, Alin juga membalas ciuman Adrian.
...TAMAT...
...----------------...
__ADS_1