
Pada saat ini Jacky yang masih sedikit mabuk ditambah dengan dukungan begitu banyak orang maka Jacky mengatakan tantangan pada pria paruh baya.
"Adelia, jangan khawatir, karena saya disini kamu tidak perlu takut." Jacky menambah masalah dirinya sendiri.
"Jacky, saya dengar KTV ini bisnis milik Yayasan Teratai, artinya ini milik Kawamatsu. Perbuatan kita tadi apakah...." Faisal menyeletuk dengan hati-hati.
"Apa yang perlu ditakutkan? saya sangat akrab dengan Tuan Kawamatsu, tenang saja!" Jacky membual dengan angkuh.
Delilah yang mendengar KTV ini adalah milik Tuan Kawamatsu menjadi lega dan berkata. "Kalau ini bisnisnya Tuan Kawamatsu, maka tidak akan ada masalah, Jacky dan Tuan Kawamatsu sangat akrab."
Ucapan Delilah membuat orang-orang menjadi semakin menunjukkan kekagumannya pada Jacky, bisa mengenal Ketua Mafia di Kota Bandung benar-benar luar biasa, hal itu bisa dipamerkan seumur hidup.
"Jacky ternyata sangat misterius, bahkan bisa mengenal Tuan Kawamatsu!"
"Karena mengenal Tuan Kawamatsu, kita tidak perlu takut lagi, kalau mereka berani datang kita habisi saja mereka..."
"Kita sudah minum, Jacky juga ada disini, siapa yang berani mengganggu kita..."
Setelah mendengar Jacky mengenal Kawamatsu, sekelompok orang itu menjadi semakin sembrono. Airish yang duduk di pojok ruangan menyeringai dan tersenyum santai.
Sepertinya Jacky tidak akan tahu rasa kalau tidak diberi sedikit pelajaran untuk membangunkannya dari khayalannya.
"kunyuk! Tersenyum apa kamu, masih punya muka untuk tersenyum? Tadi saat pria tua itu mau membawa kami pergi kamu juga ketakutan sampai tidak berani bergerak, bagaimanapun Elsa adalah pacarmu, pacarmu sendiri saja tidak bisa kamu lindungi, apa kamu masih pantas disebut sebagai seorang pria? Sekarang malah berani tersenyum!"
Delilah yang melihat Airish tersenyum di pojok ruangan langsung menunjukkan ketidakpuasannya.
"Benar! apa kamu seorang pria? Pacarmu mau dibawa pergi oleh orang lain malah meratapinya begitu saja... Kalau bukan berkat Jacky kamu hari ini pasti dipermalukan!" Faisal juga, hanya duduk disana dan tidak berani bergerak, sama sekali tidak memiliki rasa setia kawan.
__ADS_1
Semua orang mulai menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap Airish dan Faisal, karena sejak tadi hanya mereka berdua lah yang duduk dan tidak berani bertindak. Airish memang merasa dirinya tidak perlu turun tangan, sedangkan Faisal memang ketakutan hingga tidak berani bergerak lagi.
"Sudahlah, tidak usah menghiraukan dua orang pengecut itu, satu orang pergilah keluar dan pesankan Lafite, kita minum-minum...." Jacky berkata sambil melambaikan tangannya.
Segera, seseorang keluar untuk memesan anggur, sedangkan yang lainnya menatap Airish dan Faisal dengan tatapan dingin, tidak ada yang menghiraukan mereka.
Pada saat itu, pria paruh baya botak itu membawa dua orang pengawalnya masuk kedalam ruang manajer Bandung Royal KTV.
Ruangan manajer didekorasi dengan mewah, seorang pria yang mengenakan jas duduk dibelakang sebuah meja kerja yang memiliki panjang hampir 3 meter, dan dibelakang pria itu terlihat seorang wanita yang mengenakan gaun dengan sisi gaunnya yang terbuka hingga ke bagian pinggang, memperlihatkan kulit putih halus, dengan riasan wajah yang tebal, sedang memijat pria bersetelan jas itu.
Pria bersetelan jas itu adalah manajer dari Bandung Royal KTV, Haryanto, dia juga bisa dianggap sebagai tangan kanannya Kawamatsu, kalau tidak, Kawamatsu tidak akan mungkin menyerahkan KTV ini untuk diurus olehnya.
"Pak Santoso, ada masalah apa yang membuatmu sampai datang kemari untuk mencari ku?" Haryanto menyipitkan matanya dan bertanya dengan tenang.
"Pak Haryanto, Bandung Royal KTV milik kalian ini sudah terlalu kacau, tadi ada segerombolan anak muda yang berani turun tangan memukuli bawahanku, bahkan jejak kakinya masih membekas di perut bawahanku!" Santoso si pria paruh baya botak itu berkata sambil menunjuk-nunjuk anak buahnya.
"Terjadi masalah seperti itu ya?" Haryanto membuka matanya, dan meluruskan duduknya. "Siapa yang melakukannya? Apakah orang-orang dari yayasan Budi Suci?"
Menurut Haryanto, hanya orang-orang dari yayasan Budi Suci sajalah yang berani membuat keributan di wilayah mereka
"Sepertinya bukan, mereka hanya sekumpulan anak muda, saya mendengar suara nyanyian merdu dari beberapa gadis yang ada di ruangan mereka, dan ingin membawa mereka untuk bernyanyi di ruanganku, tidak disangka mereka malah berani bertindak."
 Tatapan Pak Santoso bagaikan kilat dingin, dia menggertakkan giginya dan berkata. "Karena saya masih menghormati tempat ini adalah milik Tuan Kawamatsu, maka saya datang kemari untuk memberitahukan kepada Pak Haryanto, kalau Pak Haryanto tidak mau mengurusnya, jangan salahkan saya kalau memanggil orang untuk mengurusnya sendiri!"
"Hanya sekelompok bocah saja, untuk apa Pak Santoso marah-marah? Saya akan mengutus orang untuk pergi bersama Pak Santoso ya..."
Haryanto berkata lalu berteriak memanggil seseorang dari luar. "Herman...."
__ADS_1
Seketika, seorang pria yang berwajah sangar dengan lengan yang penuh tato berjalan masuk.
"Kak Haryanto..." Herman menjawab dengan penuh hormat.
"Barusan ada yang membuat keributan di KTV, kamu ikutlah dengan Pak Santoso untuk mengurusnya, yang terpenting jangan sampai ada yang kehilangan nyawa, belakangan ini Tuan Kawamatsu sudah berpesan, kita harus merendah!" Haryanto berpesan kepada Herman.
"Baik Kak Haryanto, saya mengerti..." Herman menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih banyak Pak Haryanto!" Pak Santoso juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Haryanto.
"Pak Santoso mengalami kejadian tidak enak seperti ini di wilayahku, tidak perlu sungkan begitu, kedepannya bisnis kami masih memerlukan bantuan dari Pak Santoso...." Haryanto tersenyum tenang.
Segera, Santoso membawa Herman menuju ruangan tempat Airish dan yang lainnya berada, diikuti oleh belasan preman KTV.
Pada saat itu di ruangan VIP, Jacky dan yang lainnya sedang menikmati Lafite, wajah mereka memerah dan mereka berteriak dengan semangat, tiba-tiba pintu ruangan ditendang hingga terbuka.
Semua orang tercengang, dan saat melihat pria paruh baya itu kembali dengan membawa orang, wajah mereka satu per satu menunjukkan keterkejutan, karena kali ini mereka membawa belasan orang dengan wajah yang sangar.
"Pak Santoso, tadi siapa yang memukuli bawahanmu? Herman bertanya kepada Santoso.
Santoso menunjuk Jacky dan berkata. "Dia, bocah itu yang memukuli bawahanku.
Santoso menatap dan menilai Jacky sekilas, lalu menyapu seisi ruangan, dan langsung mengetahui kalau mereka hanyalah orang biasa, bukan preman ataupun anggota mafia.
"Kamu yang tadi memukuli bawahannya Pak Santoso?" Herman berjalan kehadapan Jacky dan berkata dengan tenang.
Melihat wajah sangar Herman dan tato yang ada di lengannya, Jacky sedikit ketakutan tapi karena sudah mabuk, dia tetap mengangguk. "Benar, saya yang memukulinya, dia melecehkan pacarku.
__ADS_1
Herman sedikit tidak menyangka Jacky akan langsung mengaku, dia kembali menilai Jacky dan berkata. "Hebat juga bocah sepertimu, berani berbuat berani bertanggung jawab, saya juga tidak akan mempersulit kamu."