
Setelah mendengar ucapan Puput, Chandra tercengang lalu menunjuk Airish. "Dia orangnya" Seketika mendengar jawaban itu, raut wajah Puput langsung berubah.
Sekarang Chandra mengatakan bahwa Airish perwakilan PT Krakatau dan hendak mengajukan permohonan kerjasama dengan PT Thamrin Brother, tetapi telah di usir oleh Chandra. Jantung Puput seolah terlepas.
"Minggir, minggir kalian semua...." Puput yang melihat situasi itu bergegas mengusir para petugas keamanan, lalu tersenyum pada Airish dan berkata: "Halo, Pak, saya adalah sekretarisnya Pak Alberto, Pak Alberto sedang menunggu Anda di ruangannya, silahkan ikut dengan saya..."
Airish mengangguk dan berlalu dengan Puput menuju ruangan Alberto.
Dan saat melewati Faisal, Airish menyeringai, tatapan matanya terlihat menghina.
Melihat punggung Airish bergerak menjauh, Chandra dan Faisal kebingungan, mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Pak Chandra, bukankah kamu mengatakan kalau Thamrin Brother akan menanda tangani kontrak kerja sama dengan Keluarga Tanaka? Kenapa Alberto malah memanggil Airish ke ruangannya?" Faisal bertanya pada Chandra.
"Benar, saya sudah berpesan pada Pak Alberto, saat itu Pak Alberto juga memutuskan untuk memilih Keluarga Tanaka sebagai rekan kerja sama, tapi sekarang apa yang terjadi di sini, saya juga tidak paham!"
Chandra juga tampak kebingungan, dia sendiri tidak mengerti situasi yang sedang terjadi.
"Saya akan memeriksanya, sudah banyak karyawan Thamrin Brother yang menerima sogokan dari Keluarga Tanaka, kalau berani tidak bekerja sama dengan keluarga Tanaka, saya akan membuat kalian menanggung konsekuensi atas perbuatan kalian...."
Setelah berkata, Faisal mengajak Delilah untuk keatas, dan tidak ada orang yang menghalangi mereka.
Chandra terdiam dalam kebingungan, dia sudah banyak menerima sogokan dari Keluarga Tanaka, dia juga orang yang paling berusaha keras agar kontrak kerja sama itu diserahkan kepada Keluarga Tanaka, kalau sampai gagal bekerja sama dengan keluarga Tanaka, maka habislah dia.
Memikirkan sampai disitu, Chandra juga diam-diam ikut menyusul, meskipun dia yang hanya manajer belum punya kewenangan untuk ikut dalam tanda tangan kontrak, tapi dia bisa menguping dari luar.
Seketika itu, pintu ruangan terbuka, Puput mempersilahkan Airish untuk masuk kedalam, dan pada saat Alberto berjumpa dengan Airish, dia segera memasang raut wajah penuh senyuman dan menyambutnya dengan penuh hormat.
"Tuan Airish, ternyata Anda benar-benar kemari, saya senang sekali, ayo silahkan duduk..." Alberto bergegas menarik kursi dan mempersilahkan Airish untuk duduk.
__ADS_1
Alberto yang begitu ramah membuat Airish sedikit bingung, meskipun dia berpesan pada Kawamatsu untuk memberitahukan kedatangannya, tapi tidak perlu sampai seperti ini.
"Pak Alberto, apa...apa kamu mengenalku?" Airish bertanya dengan kebingungan.
"Tentu saja, saya juga hadir di pertemuan Tuan Zeni, bahkan aksi Tuan Airish malam itu juga masih saya ingat dengan jelas, Timotius berani bersikap kurang ajar pada Tuan Zeni, akhirnya tersungkur hanya dengan satu tendangan dari Tuan Airish....." Alberto teringat malam pertemuan itu, hatinya sangat bersemangat.
Waktu itu Timotius beserta dengan anggota yayasan Budi Suci datang dan menakuti hadirin, bagaimanapun mereka semua adalah pebisnis, mereka tidak pernah berada dalam situasi mencekam seperti itu.
Kemudian Airish muncul dan menghabisi Timotius, hal itu membuat semua orang langsung memuja Airish.
Melihat Alberto membahas kembali masalah perjamuan Zeni, Airish tersenyum. Dia akhirnya mengerti kenapa Alberto bersikap begitu ramah padanya.
Kalau tahu seperti ini, dia tidak akan repot-repot berpesan pada Kawamatsu, dia bisa datang langsung saja.
"Sekarang saya hanyalah seorang karyawan biasa, saya datang untuk menegosiasikan masalah kerja sama, masalah yang sudah berlalu tidak perlu dibahas lagi...." Airish berkata dengan sangat merendah.
"Baik, baik..." Alberto menganggukkan kepalanya dan segera memanggil sekretarisnya. "Puput, mana kontrak yang saya minta kamu siapkan?"
"Tuan Airish, dilihat dulu, kalau Tuan Airish rasa ada yang tidak cocok, bisa diganti...." Alberto menyerahkan kontrak itu pada Airish.
Airish mengambil kontrak itu dan tidak melihatnya lagi. "Tidak perlu dilihat lagi, saya percaya pada Pak Alberto..."
"Kalau begitu, kita langsung tanda tangani saja..."
Alberto bergegas mengambil pena dan menyerahkannya kepada Airish.
Tapi pada saat Airish mau menandatangani kontrak itu, Faisal dan Delilah menerobos masuk.
"Tuan Muda Faisal?" Alberto mengernyitkan keningnya dan menatap Faisal.
__ADS_1
Meskipun Faisal menerobos masuk dengan tidak sopan, Alberto juga tidak mengatakan apa apa, karena bagaimanapun Thamrin Brother tidak bisa mengalahkan kekuatan yang dimiliki oleh keluarga Tanaka.
Meskipun dalam industri otomotif, Thamrin Brother termasuk perusahaan yang paling besar, tapi keluarga Tanaka bergerak di seluruh industri, mereka juga merupakan grup yang bergerak diberbagai bidang.
"Pak Alberto, saya datang untuk menegosiasikan kontrak denganmu, saya ingat terakhir kali kita mendiskusikan kontrak ini sepertinya tidak ada masalah, kenapa tiba-tiba kamu malah menandatangani kontrak dengan orang lain?" Raut wajah Faisal menjadi sangat dingin.
"Tuan Faisal, kami sudah mempertimbangkannya dari berbagai aspek, dan merasa akan lebih baik apabila bekerja sama dengan PT Krakatau, karena kita semua juga pebisnis, tentu akan mementingkan keuntungan..."
Alberto menjelaskan sambil tersenyum.
"Sialan, kamu kira saya ini gila?" Faisal memelototi. "PT Krakatau mengutus seorang staf biasa, dan kamu langsung tanda tangan kontrak dengannya, apa mereka menyogok kamu? Saya kemari mewakili Keluarga Tanaka, saya datang langsung saja sudah sangat memberi muka padamu, jangan tidak tahu diri...."
Faisal mengamuk, awalnya dia kemari untuk menghina Airish, tapi tidak disangka malah dia yang menjadi badut, kalau Airish berhasil menandatangani kontrak dengan Thamrin Brother, mau ditaruh dimana mukanya?
Mendengar Faisal berkata demikian, senyuman di wajah Alberto juga sirna.
"Tuan Faisal, tolong jaga bicaramu, Thamrin Brother ini adalah perusahaan ku, saya mau bekerja sama dengan siapa juga tidak menjadi urusan Keluarga Tanaka, tidak peduli sekuat apa kalian!"
Alberto juga tidak segan segan lagi, raut wajahnya seketika menjadi dingin. Faisal tercengang, dia tidak menyangka Alberto berani berkata seperti itu padanya.
"Kamu berani berkata seperti itu padaku?" Faisal mengernyitkan keningnya, raut wajahnya memucat. "Percaya tidak kalau dalam waktu satu bulan, saya akan membuat perusahaanmu ini tidak bisa bertahan di Kota Bandung...."
"Hm!" Alberto mendengus.
"Terserah saja, saya tidak takut pada kalian!" Faisal seketika kehabisan cara karena ancamannya tidak berguna.
"Pak Alberto, Pak Alberto..." Saat itu, dari luar terdengar suara Chandra yang menghampiri dengan panik. "Sekarang dalam aspek produksi maupun pemasaran, perusahaan kita akan lebih baik apabila bekerja sama dengan keluarga Tanaka, keuntungan yang didapat akan lebih besar...."
Chandra sudah menerima sogokan dari Keluarga Tanaka, kalau kontraknya tidak berhasil ditanda tangani oleh mereka, dia harus mengembalikan uang yang sudah dia terima, dan Faisal bisa saja membocorkan hal ini.
__ADS_1
"Chandra, sejak kapan kamu mulai berhak mengatur masalah kontrak kerja sama? Jangan lupa, kamu hanyalah seorang manajer,