
Saat ini, Jacky sudah tidak bisa menjawab, dia sebenarnya tidak memiliki teman yang kenal dengan Tuan Kawamatsu, dengan statusnya itu mana mungkin dia bisa mempunyai koneksi dengan Tuan Kawamatsu.
Duar...
Tiba-tiba Haryanto membanting mejanya dan bangkit berdiri. "Besar sekali nyali kalian, berani menjual nama Tuan Kawamatsu sembarangan...."
Seketika, raut wajah mereka semua langsung berubah, aura dingin yang menyerang Jacky juga membuatnya terlepas dari pengaruh alkohol.
Dia sama sekali tidak menyangka, dia hanya pamer dan menyombongkan dirinya dengan berpura-pura mengenal Kawamatsu, dia tidak berniat menimbulkan masalah.
Melihat respon Jacky, Santoso mendengus dan maju menghampiri Jacky lalu menamparnya. "Bukankah kamu sangat berlagak? Berani memukuli bawahanku, berani menjual nama Tuan Kawamatsu, saya rasa kalian ini sudah bosan hidup..."
Tamparan Santoso membuat Jacky terbangun dan kembali pada kenyataan, dia sibuk memohon ampun. "Pak Santoso, saya salah, saya tidak akan berani lagi, tidak akan berani lagi..."
Jacky yang memohon ampun juga langsung menyadarkan Delilah dan juga teman-teman lainnya, mereka akhirnya tahu kalau Jacky tidak mengenal Tuan Kawamatsu, dia hanya membual.
Saat itu, mereka semua mulai gemetaran, kalau Jacky tidak mengenal Kawamatsu, maka mereka tidak punya dukungan.
"Sudah salah ya?" Herman mencibir. "Sekarang mengaku salah pun tidak ada gunanya lagi, kalian tunggu mati saja!"
Mendengar ucapan itu membuat Jacky tidak tahan lagi, suara gedebuk terdengar, dia menjatuhkan diri, berlutut dan berkata. "Kak Haryanto, saya tidak akan berani menggunakan nama Tuan Kawamatsu lagi, kumohon, kumohon ampunilah saya..."
Jacky mulai menangis tersedu-sedu, dalam hatinya sangat menyesali perbuatannya.
Jacky yang seperti ini membuat mereka lebih pucat lagi, Delilah juga menatap Jacky dengan tatapan kaget, entah apa yang sedang dipikirkan dalam hatinya.
Melihat Jacky yang berlutut dan memohon ampun, juga sekelompok anak muda yang kaget dan panik, Haryanto menatap Santoso dan berkata. "Pak Santoso, masalah ini berawal dari Anda, Anda saja yang putuskan harus bagaimana."
Haryanto sedang memberi muka pada Santoso, bagaimanapun Santoso adalah tamu VIP di KTV!
"Sekelompok bocah ini, kalau dibuat cacat juga tidak ada artinya, biarkan saja mereka pergi..." Santoso melambaikan tangannya.
Jacky yang mendengarnya sibuk bersujud dan berterima kasih, tapi pada saat mereka semua bernafas lega, Santoso menjatuhkan tatapannya pada Elsa, dan dua gadis lainnya dan berkata. "Yang pria boleh pergi, tapi tiga gadis ini harus tinggal untuk menemaniku..."
__ADS_1
Seketika itu, raut wajah Elsa, Delilah dan Adelia langsung berubah, raut wajah Jacky juga menjadi serba salah.
Bagaimanapun Adelia adalah pacarnya, dia boleh mengabaikan Elsa dan Delilah, tapi dia tidak bisa tidak peduli pada Adelia, Faisal juga baru mulai menganggapnya.
"Pak Santoso, ini adalah pacarku, apakah saya boleh membawanya pergi? Dua orang itu akan tinggal untuk menemanimu, saya dan pacar saya juga sudah tinggal bersama selama satu tahun lebih, saya rasa Pak Santoso juga tidak akan tertarik....." Jacky berkata dengan wajah tersenyum sambil menunjuk Adelia.
Sebenarnya dia sama sekali tidak pernah menyentuh Adelia, hanya saja dia sedang mencari cara untuk membebaskan Adelia.
Adelia menatap Jacky tapi dia tidak mengatakan apapun, karena disaat seperti ini, bisa melepaskan diri adalah yang terpenting.
Tentu saja ucapan Jacky membuat Santoso langsung menatapnya dengan jijik, dan melambaikan tangannya. "Enyahlah, dua gadis ini tetap tinggal..."
Jacky yang mendengarnya langsung berterima kasih kepada Santoso, dan berbalik hendak pergi.
"Jacky, kamu tidak boleh meninggalkanku, kamu tidak boleh meninggalkanku..." Delilah panik, dan bergegas menarik lengan Jacky.
Sedangkan Elsa juga panik dan menatap Airish pasrah, saat ini dia hanya bisa memohon kepada Airish, karena dia tidak kenal dengan yang lain, tidak akan ada orang yang membantunya saat ini.
Seketika Delilah menjadi putus asa, sedangkan mata Elsa mulai bergenang air mata, dia menarik lengan baju Airish dengan ringan, meskipun dia ingin Airish bisa pergi dari tempat itu, tapi dia juga tidak ingin tinggal disana, dalam hatinya sangat serba salah.
"Tenang saja, saya tidak akan pergi..." Airish menatap Elsa sambil tersenyum.
"Airish, ayo pergi!" Faisal orang pertama yang bergegas meninggalkan ruangan, namun berbalik dan berteriak pada Airish.
Adelia juga berbalik dan melihat kalau Airish tidak bergerak, lalu berteriak. "Airish...."
Santoso menyadari kalau Airish tidak berniat pergi, raut wajahnya dingin. "Kenapa, tidak tega meninggalkan pacarmu, tidak mau pergi ya?"
Sambil berkata, dia mengulurkan tangannya menuju wajah Elsa.
Elsa yang sudah ketakutan hingga pucat tidak berani bergerak dan mengelak.
Tapi pada saat tangannya hampir menyentuh Elsa, Airish mengulurkan tangannya dan meraih pergelangan tangan Santoso. "Saya sama sekali tidak berniat pergi...."
__ADS_1
Airish berkata dan sambil mengerahkan sedikit tenaganya, yang terdengar hanyalah suara tulang retak, dan pergelangan tangan Santoso seketika patah.
Rasa sakit itu membuat Santoso langsung berteriak, teriakannya menyayat hati orang yang mendengarnya.
"Mati rasa! cepat lepaskan, tanganku sudah patah, saya akan membunuhmu, pacarmu pun akan kumainkan hingga mati..." Raut wajah Santoso penuh kengerian, dan mulai berteriak keras.
Bam....
Tendangan Airish menghantam bagian vital Santoso dan langsung membuatnya terhempas.
Santoso tersungkur di tanah sambil meringkuk, wajahnya menjadi keunguan, tendangan Airish langsung membuat Santoso kehilangan kemampuannya sebagai seorang pria.
Haryanto yang melihat itu langsung mengamuk, berani memukuli tamunya dihadapannya membuat Haryanto merasa tidak dianggap.
"Bajingan, berani memukuli orang di hadapanku, bernyali juga kamu!" Wajah Haryanto menjadi dingin dan menakutkan, dia mengibaskan tangannya.
"Tutup pintu itu, siapapun tidak boleh pergi..."
Jacky dan yang lainnya yang bersiap keluar langsung dihadang, pintu ruangan itu langsung di tutup.
Seketika mereka semua menunggu Airish dengan jengkel, kalau bukan Airish berlagak dan sok jago, mereka pasti sudah meninggalkan tempat itu.
"Airish, sialan, kamu sedang berlagak apa? Sekarang kami pun tidak bisa pergi lagi..." Jacky berteriak marah pada Airish.
Sekarang Airish memukuli sampai seperti itu, masalah ini pasti tidak bisa didiskusikan lagi, mereka baru saja bernafas lega, tapi Airish malah berlagak demi seorang wanita, membuat mereka semua juga ikut terlibat dalam masalahnya.
"Airish, kamu mau mati, kenapa menyeret kami juga..."
"Benar, berlagak apa kamu? Kalau merasa jago berkelahi, berkelahi saja sendiri di jalanan..."
"Habislah sudah, kali ini kita juga terlibat dalam masalahnya..."
Semua orang mulai menyalahkan Airish. Bahkan Adelia juga tidak terkecuali, meskipun dia adalah orang yang ditinggalkan, tapi sampai saatnya dia mungkin hanya perlu menemaninya minum anggur, tidak sampai menemaninya tidur, mungkin itu akan berlalu begitu saja, tapi sekarang, dia memukuli orang sampai seperti itu, sepertinya menemani tidur pun tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini.
__ADS_1