
Terlihat Adrian yang sedang sibuk memperhatikan sosial media seseorang. Ia sedang melihat postingan foto terbaru mantan-mantannya. Bukan hanya Alin saja, tetapi yang lainnya juga ia lihat.
Adrian sengaja melihat-lihat postingan terbaru mantan-mantannya, karena ia ingin melihat apakah mantan-mantannya jauh lebih bahagia atau tidak jika tidak bersama dengan Adrian.
Ternyata beberapa ada yang sangat bahagia karena sudah memiliki kekasih baru dan beberapa ada yang sedang galau. Entah itu galau karena memikirkan Adrian ataupun sosok lelaki yang lain.
Tapi Adrian berpikir bahwa salah satu dari mantannya pasti mengharapkan Adrian kembali.
"Lagi ngapain sih? kok serius banget wajahnya," ujar Arya saat melihat Adrian yang begitu fokus pada ponselnya.
"Lagi lihat-lihat postingan Instagram orang."
"Pasti lagi stalking mantan ya?"
"Enggak kok," bohong Adrian.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tetapi Adrian dan Arya masih berdiam diri diluar rumah.
"Lo ngantuk gak?" tanya Adrian.
"Belum."
"Kalau gitu kita jalan-jalan yuk!"
"Gak mau! lagian mau kemana coba malam-malam gini."
Arya masuk kedalam rumah, begitupun Adrian, karena tidak mungkin ia hanya seorang diri diluar rumah.
Sesampainya di kamar, Arya naik keatas ranjangnya. Sedangkan Adrian, ia duduk di sofa sambil menyalakan televisi.
"Lo tidur di kamar sebelah aja," kata Arya.
"Gak mau! soalnya di kamar itu agak angker."
"Udah gede masih aja takut hantu."
"Ketakutan itu tidak memandang umur." Adrian menatap tajam kearah Arya. Ia heran kepada Arya, padahal Arya juga sering ketakutan jika mengalami kejadian horor.
Ngomong-ngomong, sebelum datang ke rumah Arya, Adrian menelpon Arya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa ada orang tua Arya atau tidak. Ternyata saat ditelepon, Arya mengabarkan bahwa orang tuanya sedang tidak ada di rumah.
Jadi, dengan begitu Adrian datang ke rumah Arya. Karena jika tidak ada kedua orang tua Arya pasti suasananya tidak akan canggung.
Trining! Trining!
Mata Adrian membulat sempurna saat melihat nama yang tertera pada ponselnya.
"Arya!" teriak Adrian.
"Kenapa?" bingung Arya.
"Alin telepon gue."
"Hah!" Arya yang mendengar ucapan Adrian juga tampak syok, karena hal itu sangat mustahil dilakukan oleh Alin.
Lalu, Adrian buru-buru menjawab panggilan telepon tersebut. "Hallo."
"Adrian."
__ADS_1
"Ada apa, Lin?"
Alin terdiam sejenak, hingga membuat Adrian yakin bahwa dia sedang mengalami masalah.
"Adrian aku boleh pinjam uang gak? aku butuh banget. Aku janji kok akan balikin uangnya."
"Kamu butuh berapa?"
"Sepuluh juta."
"Ya udah kalau gitu kirim nomor rekening kamu sekarang."
Alin berterima kasih kepada Adrian karena Adrian telah menolongnya. Ia juga menjelaskan bahwa uang itu untuk membuat Alin keluar dari agensi model.
Alin juga menyesal, harusnya ia tidak langsung menandatangani kontrak dengan agensi itu. Makanya ia harus mengakhirinya dengan membayar denda.
Selesai telepon dengan Alin, Adrian merebahkan tubuhnya di kasur. Tadinya ia kira Alin menelponnya karena rindu dengan Adrian, tetapi nyatanya Alin malah ingin meminjam uang Adrian.
"Apa kata Alin?" tanya Arya.
"Dia telepon gue buat pinjam uang," jelas Adrian.
Arya terbahak-bahak karena ia pikir Alin merindukan Adrian.
"Jangan ketawa! gak lucu!" kesal Adrian.
"Tapi lo kasih uangnya?"
"Ya gue kasih lah."
...****************...
"Ngomong-ngomong semalam Alin pinjam uang untuk apa?"
"Buat bayar denda."
"Denda apa?"
"Dia waktu itu kan udah kontrak sama agensi, tapi sekarang dia pingin keluar dari agensi itu. Makanya dia harus bayar, karena persyaratan dikontraknya harus bayar kalau pingin keluar dari agensi."
Tingtong! Tingtong!
Arya pergi keluar untuk menemui orang yang menekan bel rumahnya.
Beberapa menit kemudian, Arya datang bersama seseorang.
Mata Adrian dan Arya saling bertatapan seolah-seolah Ardian bertanya siapa orang itu.
"Kenalin ini Mawar, pacar gue."
Adrian sangat terkejut karena yang ia tahu pacarnya Arya itu Cindy. Tetapi sekarang, Arya malah membawa Mawar ke rumahnya.
"Mawar, kamu duduk dulu ya. Aku mau ambil minuman dulu buat kamu," ujar Arya sambil pergi menuju dapur.
Tiba-tiba Mawar duduk disebelah Adrian. Lalu, ia menatap kearah Adrian.
Adrian yang tidak nyaman akan hal itu langsung saja bertanya kepada Mawar. "Kenapa?"
__ADS_1
"Sebelumnya aku kayak pernah lihat kamu deh," kata Mawar.
"Wajar aja kamu kenal aku, soalnya aku emang terkenal" canda Adrian.
Bagaimana tidak, papah Adrian adalah seorang pengusaha sukses dan mamahnya adalah seorang aktris. Jadi wajar saja bila orang-orang mengenal Adrian.
Kemudian, Arya kembali menghampiri Adrian dan Mawar. "Ini minumnya."
"Makasih," ujar Mawar.
Adrian menatap sinis kearah Arya. Ia tak habis pikir bahwa sahabatnya melakukan aksi perselingkuhan.
Ingin sekali Adrian memberitahu Cindy tentang hal ini. Namun apa boleh buat, Arya ini adalah sahabat Adrian,. jadi Adrian tidak bisa membocorkan rahasianya.
Biarlah itu menjadi urusannya, lagian Adrian tidak peduli dengan apa yang dilakukan Arya.
"Gue pulang ya."
"Ya udah hati-hati ya," ujar Arya. Lalu, Adrian berjalan keluar rumah.
Sesampainya diluar, Adrian langsung menaiki dan melajukan mobilnya. Saat keluar dari rumah Arya, Adrian berpapasan dengan mobil yang sangat familiar.
Ya benar, itu adalah mobil Cindy. Arya bisa tahu itu mobil Cindy karena saat di vila, ia melihat mobil itu.
Adrian jadi membayangkan situasi dimana Cindy melihat Arya sedang bermesraan dengan Mawar. Pasti saat itu juga Cindy langsung memutuskan Arya. Sedangkan disisi lain, Arya pasti memohon-mohon supaya Cindy memaafkannya.
"Lagian ada-ada aja sih Arya. Udah tahu gak ada keahlian dalam perselingkuhan, ini dia malah coba-coba lagi," gumam Adrian.
...****************...
Ketika diperjalanan pulang, Adrian baru sadar jika teman-teman mamahnya pasti masih berada di rumah. Jadi akhirnya Adrian pergi menuju rumah saudaranya.
Ketika sampai di rumah saudaranya, Adrian langsung mengetuk pintu rumah saudaranya.
Tok! Tok! Tok!
Tak butuh waktu lama, saudara Adrian langsung membukakan pintu.
"Loh! ngapain kesini?"
"Mau main lah."
"Tumben banget kesini."
Adrian merangkul pundak saudaranya itu. "Soalnya gue kangen sama lo." Kemudian, mereka berdua masuk kedalam rumah.
Kebetulan sekali, ternyata mereka sedang sarapan pagi. Jadi Adrian bisa sekalian menumpang makan, karena dari tadi ia belum sarapan.
"Mamah sama papah kamu apa kabar?" tanya Om Arif.
"Baik kok, Om."
"Pasti mereka selalu sibuk ya?" tanyanya lagi, lalu Adrian hanya mengangguk pelan.
"Udah jangan ngobrol! ayo makan!" perintah Tante Dinda.
Akhirnya mereka menikmati sarapan bersama sambil membahas kesibukan Adrian saat ini.
__ADS_1