Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Akhir Pesta


__ADS_3

"Kamu ... kamu juga bisa mengendalikan aura negatif?" Timotius bertanya dengan wajah kusut.


"Tahu sedikit, itu hal mudah!" Airish tertawa dingin.


Namun, tidak ada yang percaya dengan apa yang dikatakan Airish. Timotius pun tidak bisa menguasai aura negatif. Bagaimana bisa dia bilang itu hal yang mudah?


Wildan membuka mulutnya lebar saat melihat Airish baik-baik saja.


"Dari mana kamu berasal? Mengapa kamu menguasai aura negatif seperti guru Yansen?" Timotius sedikit bingung, dari siapa Airish belajar aura negatif.


"Saya tidak belajar, lagi pula ini bukan aura negatif, yang disebut aura negatif itu hanyalah trik untuk menipu orang" Airish tersenyum dan meninju dada Timotius.


Timotius menyemburkan seteguk darah dan terpental.


Yang Airish lalukan tadi bukan aura negatif yang dia lakukan adalah teknik mengembalikan serangan. Bukan hanya pukulan Timotius, peluru pun tidak akan berkutik. Timotius menatap Airish dengan ketakutan, hatinya terkejut, dia tidak bisa berkata-kata.


Karena pukulan Airish, Timotius menyadari bahwa teknik aura negatifnya tidak berguna.


"Saudara, kalau boleh saya tahu siapa namamu, saya Timotius akan meminta bimbinganmu lagi di kemudian hari!"


Timotius tahu bahwa dia bukan lawan Airish, dan tidak ada gunanya jika mereka bertarung, Timotius pasti akan mundur lebih dulu.


"Timotius, apakah kamu ingin pergi? Saya beri tahu, karena Tuan Airish ada di sini hari ini, maka ini akan menjadi tempat pemakamanmu!" Kawamatsu dengan puas berkata sambil menatap Timotius.


Ekspresi Timotius berubah. dan dia menatap Airish dengan ketakutan. Jika Airish benar-benar ingin membunuhnya, dia tidak mungkin bisa pergi hari ini.


"Nama saya Airish, kamu bisa kembali kapan saja untuk membalaskan dendam padaku. Jika kamu tidak puas, kamu bisa memanggil gurumu!" Airish tahu apa yang Timotius maksud, dia pun tersenyum dingin.


"Tuan Airish, jangan membiarkan harimau kembali ke gunung..." Melihat Airish benar-benar ingin melepaskan Timotius, Kawamatsu segera membujuknya.


"Saya punya keputusanku sendiri, kamu jangan ikut campur!" Airish mengerutkan keningnya sedikit.

__ADS_1


Melihat Airish yang akan marah, Kawamatsu pun takut untuk berbicara lagi, dia kemudian kembali ke tempatnya.


"Baik saya sudah mengingatnya, gunung akan selalu disana, dan air akan selalu mengalir, kita pasti akan bertemu lagi!" Timotius menyeka darah di sudut mulutnya dan melambaikan tangannya.


"Ayo pergi!" Timotius membawa orang-orang pergi, dan hanya ada orang-orang yang menghadiri perjamuan yang tersisa di aula.


"Tuan Airish sangat hebat, saya benar-benar menyaksikan kemampuannya hari ini"


"Memiliki kemampuan seperti itu di usia yang begitu muda, masa depan Tuan Airish akan cerah!"


"Benar-benar pahlawan muda!"


Semua orang memuji Airish.


Zeni tidak menyangka Airish bisa mengusir dan menaklukkan setan ini. Ilmu bela dirinya yang begitu kuat membuat Zeni lebih memperhatikan Airish.


"Tuan Airish, maafkan ketidaktahuan saya, dan saya harap Tuan Airish tidak tersinggung!" Bento mendekati Airish dengan wajah penuh rasa malu dan meminta maaf.


Pada saat ini, Winston menatap Airish dan tidak bisa menahan senyum.


"Kamu bisa kung fu, dan kamu tidak mengatakan apa-apa sebelumnya, aku telah mengkhawatirkan mu!" Zeni tertawa terbahak-bahak.


Kompleks Perumahan Bougenville


Shinta duduk di ruang tamu setelah berkeliling. Shinta tidak pernah bermimpi bahwa dia bisa tinggal di rumah semewah ini.


Meskipun mereka hanya akan tinggal dirumah ini untuk sementara waktu, mereka cukup beruntung.


"Sepertinya Tuhan sedang sangat baik dengan keluargaku. Airish baru saja dibebaskan dari penjara, dan langsung bertemu dengan orang yang sangat baik. Tidak di sangka keluarga mereka sekarang sangat berbeda.


Tetapi tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas dan sepatu kulit mendorong pintu dan pria itu tiba-tiba menerobos masuk, membuat Shinta terkejut.

__ADS_1


Lalu Shinta membuka pintu dan pria itu berkata. "Airish, anakmu, menyelamatkan nyawa ayah Wildan, Wildan ingin membalas kebaikannya, apakah kamu benar-benar berpikir mereka berdua begitu saja memberikan rumah mewah ini? Pria itu tersenyum dingin pada Shinta setelah dia selesai berbicara. Tatapan matanya pun penuh ejekan. "Bagaimana mungkin seorang pria biasa dan pernah dipenjara tiba-tiba di beri sebuah rumah yang mewah?"


Melihat reaksi Shinta, pria itu sangat puas, dan dia mengeluarkan setumpuk uang dari tasnya dan melemparkannya ke depan Shinta. "Ambil uang ini dan cepat pergi dari sini, jangan sampai saya yang mengusir kalian dengan paksa."


Setelah pria itu selesai berbicara, dia berbalik dan pergi. Dia lalu masuk ke mobil sport di luar halaman dan pergi dari rumah itu. Shinta sepertinya disadarkan dari mimpinya dan kembali ke kenyataan.


Setelah beberapa saat, Shinta menghela nafas berat, bangkit dan mulai mengemas barang barangnya, mereka tidak layak untuk tinggal di sini. Mata Shinta memerah, dan air mata terus mengalir di matanya.


Shinta merapikan barang-barang dengan cepat, kemudian melangkah maju. "Nanti aku akan bicarakan lagi dengan Airish saat dia kembali dan sadarkan dia."


Shinta pergi dan kembali ke rumah mereka.


"Shinta, bukankah kamu ikut dengan Airish untuk tinggal di rumah besar itu, kenapa kamu kembali?" Baru saja kembali ke rumahnya, seorang wanita paruh baya bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Bibi Melissa, dia tidak terbiasa tinggal disana, jadi dia kembali ke rumahnya..."


Mendengar tetangga lamanya, Melissa, bertanya, Shinta tersenyum canggung.


Hidup Melissa ini juga tidak mudah, suaminya meninggal ketika anaknya masih kecil, dia membesarkan putrinya sendiri.


"Bagus juga kalian kembali, jadi kita masih bisa ngobrol. Airish baru saja keluar dari penjara, bagaimana bisa ada orang yang begitu baik, membiarkan dia tinggal di rumah yang besar? jangan sampai dia dimanfaatkan. Jangan sampai dia masuk penjara sekali lagi, hidupnya akan hancur..." Melissa berkata dengan santai.


Meskipun kata-katanya tidak enak didengar, tetapi tidak membuat sakit hati, dia termasuk orang yang memiliki lidah yang tajam namun berhati yang lembut.


"Saya tahu..." Shinta tersenyum dan mengangguk.


Saat ini di Hotel Horison, perjamuan makan telah selesai dan semua orang sudah meninggalkan tempat. Sebelum Zeni meninggalkan Airish, dia berkata. "Tuan Airish, jika lain kali kamu membutuhkan apa-apa, kamu boleh datang ke tempatku, dan katakan saja!" Zeni berkata jujur.


Setelah beberapa salam, Airish berencana untuk pergi, tetapi Bento menghentikannya. Lalu Bento tiba-tiba berlutut di depan Airish.


"Tuan Airish memiliki bakat dalam seni bela diri, saya harap Tuan Airish dapat menerima saya sebagai murid..." Bento yang baru saja melihat keahlian Airish, ingin mempelajari teknik itu dari Airish.

__ADS_1


Airish mencengkeram bahu Bento dan mengangkatnya dengan sedikit kekuatan. "Saya tidak memenuhi syarat untuk menjadi guru karena kemampuan saya, kamu terlalu meninggikan aku..."


__ADS_2