Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Dinner


__ADS_3

Kini Adrian berada di salah satu restoran yang cukup terkenal. Ia sengaja pergi ke restoran ini karena restoran ini pernah menjadi tempat perayaan 1 tahun hubungannya dengan Alin.


Sambil menunggu Alin, Adrian langsung saja memesankan makanan dan minumannya, karena Adrian tahu apa makanan dan minuman kesukaan Alin.


15 menit kemudian, Alin datang menghampiri Adrian. Dia meminta maaf karena sebelumnya ia bertemu dengan temannya terlebih dahulu.


"Banyak banget pesanan," ujar Alin sambil duduk.


"Iya, soalnya aku lapar dan juga pastinya kamu juga belum makan malam, kan?"


"Iya belum sih. Tapi masalahnya kalau terlalu banyak, uang aku gak cukup."


"Gak apa-apa, biar aku yang traktir." Mereka berdua pun menikmati hidangan yang telah disediakan.


Alin berterima kasih kepada Adrian karena Adrian selalu bersikap baik kepada Alin. Ia juga bingung bagaimana cara untuk membalas budi kepada Adrian.


"Ngomong-ngomong kamu udah kerja?" tanya Adrian, lalu Alin menggelengkan kepalanya seraya menjawab belum.


"Terus kamu balikin uang aku pakai uang siapa?"


"Aku pinjam uang sama teman."


"Ya ampun, kenapa harus pinjam ke orang lain sih? padahal aku kan gak nyuruh kamu cepat-cepat balikin uangnya."


Alin berkata bahwa dirinya tidak enak dengan Adrian. Ia sudah banyak merepotkan Adrian, makanya lebih baik ia meminjam uang temannya untuk melunasi hutangnya ke Adrian.


"Emang pinjam ke siapa?"


"Rosa."


"Aku balikin lagi ya uangnya ke dia. Soalnya pasti ada jaminan kan kalau kamu telat bayarnya?"


"Iya sih. Kalau aku telat bayarnya, handphone aku bakal diambil."


Adrian mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja. Setelah itu, ia mengirim pesan kepada Rosa, sebab ia ingin membayar hutang Alin.


"Pokoknya nanti kamu gak usah bayar hutang ke Rosa, soalnya sekarang aku mau transfer uang ke dia."


Ketika makan, Alin terus melihat kearah Adrian. Adrian sendiri bingung dengan tatapan mata Alin, seolah-olah Alin ingin mengatakan sesuatu.


"Ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Adrian memastikan.


"Aku cuma bingung, kamu ajak aku makan malam dalam rangka apa ya?" tanya Alin.


"Aku cuma pingin ketemu aja sama kamu."


"Oh cuma pingin ketemu," gumam Alin.


Entah mengapa Adrian merasa ad rasa kekecewaan dalam nada bicara Alin. Adrian rasa sepertinya Alin mengharapkan ucapan lain dari Adrian.

__ADS_1


Apa mungkin Alin menginginkan Adrian menembak dia?


Itulah yang dipikirkan Adrian tentang ucapan yang diharapkan Alin. Adrian mengira bahwa Alin mulai ada rasa lagi kepada Adrian. Karena selama ini Adrian sangat baik, jadi Adrian rasa Alin kembali menyukainya.


Trining! Trining!


Adrian melihat kearah ponselnya dan ternyata Vanya menelponnya.


Kedua mata Adrian dan Alin saling bertatapan. Adrian takut jika Alin yang tadinya kembali suka kepada Adrian, nantinya malah tiba-tiba tidak suka lagi karena Adrian masih merespon cewek lain.


Sedangkan disisi lain, Alin bingung karena Adrian hanya menatapnya tanpa mengangkat telepon tersebut.


"Kenapa gak diangkat?" tanya Alin.


Adrian buru-buru mematikan teleponnya. "Soalnya gak penting."


"Memang itu siapa?"


"Arya."


Alin tertawa kecil, ia tak habis pikir dengan Adrian. Bagaimana bisa dia menganggap panggilan telepon sahabatnya itu tidak penting, padahal dia sendiri belum mengangkat teleponnya.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Adrian dan Alin. "Ternyata kamu. Tadi aku telepon kamu buat memastikan apakah itu kamu atau bukan. Tapi ternyata itu emang kamu, makanya aku kesini."


Adrian meneguk salivanya. Bagaimana bisa tiba-tiba Vanya berada dihadapannya. Rasanya ia malu setengah mati karena telah berbohong kepada Alin bahwa tadi yang meneleponnya adalah Arya.


"Aku temannya Adrian," sahut Alin.


Pada saat Alin berkata seperti itu, hati Adrian sedikit sakit. Memang benar bahwa sekarang mereka berteman, namun Adrian masih mengharapkan Alin sebagai kekasihnya.


"Oh cuma teman, aku kira kalian pacaran," ujar Vanya.


"Gak kok, kita cuma teman doang," ujar Alin.


"Meskipun kita cuma teman, tapi aku masih suka sama dia," ujar Adrian sambil menatap Alin.


Vanya terdiam sejenak. "Ya udah kalau gitu aku kesana ya, soalnya takut ganggu makan malam kalian," ujar Vanya, lalu ia kembali berjalan kearah temannya.


Alin merasa tidak enak kepada Vanya, karena setelah Adrian berkata seperti itu, raut wajah Vanya seketika terlihat sedih.


Suasana menjadi hening, Adrian maupun Alin hanya melamun sambil menatap makanan yang ada di meja.


Sebagai lelaki, Adrian mencoba mencari topik terlebih dahulu agar Alin tidak canggung lagi kepada Adrian. "Oh iya, Galih sebentar lagi mau nikah loh."


"Iya, aku tahu kok. Baru aja kemarin dia kasih tahu aku," jelas Alin.


"Nanti berangkat kesananya bareng ya."


"Iya, tapi aku ajak Rara juga ya," ujar Alin, lalu Adrian hanya mengangguk.

__ADS_1


...****************...


Adrian mengantarkan Alin pulang menuju rumahnya.  Ia mengemudi sambil sesekali melihat kearah Alin yang sedang tertidur karena kecapekan.


Sejujurnya Adrian juga sangat lelah, namun karena ada Alin, seketika energinya terisi penuh.


Sebelum sampai rumah Alin, Adrian melajukan mobilnya menuju tempat kulineran, karena tidak afdol rasanya jika datang ke rumah Alin tanpa membawa sesuatu.


Skip


Sesampainya di tempat yang menjual berbagai makanan, Adrian langsung saja memberhentikan mobilnya. Ia buru-buru turun dan membelikan beberapa makanan.


Ekspektasi Adrian ternyata salah, ia kira tempatnya akan sepi, tetapi ternyata masih banyak orang yang sedang menikmati kulineran di malam hari.


"Adrian," panggil seseorang.


Spontan Adrian menengok kearah orang yang memanggilnya. "Loh! kok lo disini."


"Iya, soalnya pacar gue pingin kulineran di malam hari," kata Arya.


"Btw, cewek yang kemarin mana?" tanya Adrian.


Arya menatap tajam kearah Adrian. Arya tidak mengira bahwa sahabatnya akan berbicara soal selingkuhannya didepan pacarnya.


"Cewek? kamu selingkuh ya?" tanya Cindy dengan nada marah.


"Enggak. Adrian cuma bercanda, sayang."


"Gue duluan ya, soalnya kasihan Alin kalau kemalaman," ujar Adrian sambil berjalan kearah mobilnya.


Ketika masuk mobil, ternyata Alin sudah bangun dari tidurnya.


"Dari mana?"


"Aku habis beli makanan buat kamu dan ibu kamu."


"Ya ampun, gak usah repot-repot. Lagipula aku kan udah makan banyak tadi."


"Ya udah berarti ini buat ibu kamu aja." Adrian meletakkan makanan tersebut di kursi belakang. Sesudah itu, ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Alin.


Sambil melajukan mobil, Adrian berbicara bahwa tadi ia bertemu dengan Arya dan Cindy.


"Waktu itu aku ketemu Arya sama cewek lain," ujar Alin.


Adrian terdiam, karena ia tahu pasti yang Alin lihat adalah Mawar, alias selingkuhannya Arya.


"Arya gak selingkuh, kan?"


Adrian diam saja, ia bingung harus berkata apa. Ia tidak ingin menyebarkan aib sahabatnya sendiri, jadi Adrian lebih memilih untuk diam.

__ADS_1


__ADS_2