
Kawamatsu dan Zeni terlihat terkejut. Di bawah cahaya emas, sembilan naga itu bergerak, dan kemudian semuanya terbang ke udara memancarkan udara hitam, menatap Airish dengan tatapan marah, seolah telah menghancurkan perbuatan yang telah dibuat mereka.
Sesaat, seluruh ruang tamu diselimuti udara hitam, Kawamatsu dan Zeni merasa sulit untuk bernapas.
Beberapa ratus pohon yang ada di halaman juga tampaknya merasakan sesuatu, dan kemudian mulai bergerak. Daun-daun bergemerincing.
Kawamatsu dan Zeni tercengang melihat beberapa raksasa itu.
Zeni, khususnya, seluruh tubuhnya basah kuyup, adalah karena kursi naga yang dia duduki setiap hari. Tak disangka, ada hal jahat di dalamnya. Memikirkannya saja membuatnya takut.
"Beberapa energi kebencian naga itu rusak dan menjadi kecewa dan berlari tersebar!" Ekspresi Airish terlihat datar.
Dia memainkan jarinya, dan cahaya emas itu seketika hilang ke dalam tubuh naga dalam sekejap.
Lalu terdengar suara nyanyian dari naga lainnya. Beberapa naga itu menghilang dan berubah menjadi gumpalan asap hitam, dan menyelimuti Airish. Airish membuka mulutnya dan menghirup semua udara itu. Semua asap hitam disedot Airish ke dalam perutnya.
Seketika, kondisi ruang tamu itu menjadi tenang.
"Jurus menenangkan diri yang diajarkan oleh Mukhlas sangat manjur. Bahkan bisa memperbaiki energi kebencian ini!" Airish terlihat sangat senang.
Seni Konsentrasi Hati ini dapat disempurnakan menjadi kekuatannya sendiri, bahkan bisa dipakai untuk mengubah energi kebencian menjadi energi spiritual.
Setelah energi kebencian itu masuk ke dalam perut Airish, dia bisa merasakan bahwa kekuatan di dalam tubuhnya telah meningkat banyak.
Setelah beberapa saat, Zeni terbangun dari paniknya, bergegas maju dan memberikan hormat kepada Airish dan berkata. "Terima kasih tuan Airish telah menyelamatkan hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakannya!"
"Sama-sama. Kami hanya meminta apa yang kami butuhkan!" Airish melambaikan tangannya.
Energi kebencian itu diserap dan disempurnakan, bahkan lebih efektif dari 40 hari latihan budidaya Airish.
Zeni tertegun. Dia tidak mengerti maksud dari Airish, tapi dia juga tidak berani bertanya secara rinci. Lagi pula, ada banyak hal yang orang biasa tidak bisa mengerti.
__ADS_1
"Tuan Airish, kalau begitu kursi Naga ini......" Zeni melihat ke arah kursi naga itu dan bertanya dengan hati-hati.
"Sekarang, kursi Naga ini telah menjadi kursi biasa, la sudah tidak memiliki penggunaan lain kecuali untuk memuaskan hasrat psikologi anda. Namun, ada beberapa pohon kuno di halaman anda yang perlu diurus dengan hati-hati. Mereka itu adalah dasar bagi dirimu untuk memperpanjang umur dan menguatkan kesehatan tubuhmu!" Airish melihat ke arah beberapa pohon kuno itu dan berkata.
Sayang sekali pohon kuno ini tidak bisa ditransplantasikan jika tidak, Airish benar benar ingin mengambil beberapa dan membawa ke Puncak bukit Perumahan Bougenville. Energi pohon kuno ini dapat membantunya untuk berlatih bagi dirinya.
"Baik, saya akan mengirim seseorang untuk merawat pohon-pohon kuno itu. Selain itu, saya akan membantu tuan Airish untuk menemukan batu sinabar yang kamu butuhkan. Saya sangat akrab dengan Pemimpin dari Yayasan Al Hikmah!" Zeni berkata.
"Kalau begini, terima kasih tuan Zeni!" Airish mengangguk. "Waktu sudah larut, saya juga seharusnya sudah kembali!"
Airish melihat jam, waktu juga menunjukkan hampir siang. Dia hendak pulang ke rumah untuk makan.
"Jika tuan Airish tidak keberatan, bagaimana jika kalau makan disini saja? Saya akan memerintahkan seseorang untuk mempersiapkannya!" Zeni bertanya dengan hati-hati.
Zeni yang sekarang, sangatlah mengagumi Airish, dia ingin menemukan kesempatan untuk mencari muka dengannya.
Melihat tampang Zeni seperti itu, Airish mengangguk-anggukkan kepalanya. "Itu sangat merepokan Tuan Zeni!"
Di rumah sakit Bandung, lengan Faisal telah diperban, dan Delilah sedang merawatnya.
"Airish, ketika saya sembuh, saya pasti akan membunuhnya....." Faisal meraung dan melampiaskan amarahnya.
Dia mematahkan lengannya, merusak acara pernikahannya, dan membuat keluarga Tanaka menjadi bahan lelucon di kota Bandung. Dia tidak bisa menerimanya.
"Kak Faisal, janganlah kamu marah. Saya akan menyuruh Jacky untuk pergi menghabiskan si Airish itu. Kali ini saya akan mencari orang yang sudah terlatih, pasti dia akan menghabiskan Airish sampai mati!" Delilah berkata sambil mengupas jeruk.
"Kalau bukan karena keluarga Winston menghalanginya, Airish pasti sudah mati." Faisal menggertakkan giginya dan tatapan matanya terlihat dingin. Dia mengambil jeruk yang dikupas oleh Delilah dan melemparkannya ke dalam mulutnya. Tepat pada saat itu, telepon genggam Delilah berdering. Setelah terhubung, raut wajah Delilah berubah dengan cepat, lalu kemudian dengan cepat dia menutup telepon itu! "Siapa?" tanya Faisal.
"Jacky menelepon. Dia berkata, mereka semua dihabisi oleh Airish, bahkan lengan Jacky juga patah!" Delilah mengerutkan keningnya.
"Apa yang telah dipelajari Airish selama satu tahun di penjara? Bagaimana dia bisa menjadi begitu hebat dalam berkelahi?"
__ADS_1
"Sampah. Teman sekelas kamu yang tidak berguna. Orang mahir apa yang mereka cari, semuanya hanyalah sampah. Sepertinya saya harus pergi mencarinya sendiri!"
Faisal bahkan terlihat makin marah saat ini. Melihat Delilah yang ada di depannya, dia menariknya dan langsung merobek pakaiannya!
"Ah.... Kak Navaro!" Delilah berteriak. Mereka sedang berada di kamar rumah sakit!
Faisal tidak peduli akan hal itu. Dia hanya ingin melampiaskan amarahnya. Tetapi ketika dia hendak melampiaskan amarahnya, dia menyadari bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa. Faisal panik. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi padanya.
Jangan-jangan, lengannya patah, bagian tubuh lain juga akan terpengaruh.
"Kak....kak Faisal, apakah kamu terlalu gugup?" Delilah bertanya dengan hati-hati.
"Gugup kepalamu. Berbaringlah.....”
Faisal dengan kuat mendorong Delilah, dan mulai sibuk lagi, tapi tidak peduli seberapa sibuk dia, tidak ada gunanya.
"Uhuk uhuk......"
Saat itu, Vota masuk ke dalam. Melihat putranya sedang bermain dengan Delilah. Wajahnya memerah dan dia batuk dua kali.
Faisal terkejut, dan Delilah bahkan lebih terkejut dan bergegas untuk mengenakan pakaiannya.
"Omong kosong apa ini. Lenganmu patah. Kamu masih bisa melakukan hal seperti ini?" Vota memarahi Faisal.
Faisal menundukkan kepalanya, tapi matanya penuh dengan amarah: "Ayah, saya ingin Airish mati. Saya pasti akan membuatnya mati!"
Faisal menyalahkan Airish atas kegagalannya. Dialah yang mematahkan lengannya dan membuatnya seperti sekarang ini.
Memang Airish yang melakukan ini. Tapi dia tidak mematahkan lengannya, melainkan ketika mereka berada di kediaman keluarga Winston, Airish langsung menghancurkan kemampuan Faisal untuk menjadi seorang pria.
"Kamu tidak perlu khawatir tentang hal ini. Kamu hanya perlu untuk merawat dirimu saja. Airish, saya masih ingin menyelidikinya. Kawamatsu bahkan tidak berani menyentuhnya. Saya ingin melihat latar belakang dari anak ini, seberapa besar dekingan yang dia miliki!"
__ADS_1