Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Bintang Tamu


__ADS_3

Rumah sakit Bandung


Vota terburu-buru datang, langsung melempar setelan jas kepada Faisal. "Pakai baju ini, ikut aku!"


"Ayah, saya sedang dalam masa penyembuhan, mau kemana?" Faisal bertanya bingung.


"Membawamu menghadiri sebuah pesta!" Ucap Vota.


"Tidak mau, pergelangan tanganku patah, sekarang sedang pemulihan, menghadiri pesta apa!" Faisal tidak tertarik setelah mendengarnya.


Dia pernah menghadiri banyak pesta, paling-paling makan minum, saling memuji. harus mengenakan jas yang formal, dia enggan pergi.


"Keparat! kamu tahu kali ini siapa yang menggelar pesta ini? Tuan Zeni. Semua tokoh terkenal dari kota Bandung akan hadir. kali ini kamu harus melakukan dengan baik, di kemudian hari bisnis keluarga Tanaka akan jatuh ke tanganmu, tidak boleh gagal." Vota memukul kepala Faisal sambil berkata.


Mendengar pesta ini digelar oleh Indrawan, Navaro tidak berani bersuara lagi, terburu-buru mengganti pakaian, tetapi karena lengannya patah, dia tidak bisa melakukannya sendiri!


"Mana kekasihmu? dia tidak disini menjagamu, pergi kemana? Suruh dia membantumu ganti baju! pukul sebelas siang di hotel Horison, tidak boleh telat. Saya masih ada urusan lain!" Selesai berkata, Vota pergi!


Faisal memeriksa jam, tidak berani berlama-lama, langsung menelepon Delilah menyuruhnya segera datang.


Pukul setengah sebelas tengah hari di depan hotel Horison penuh dengan mobil mewah. Tokoh tokoh terkenal dari dunia politik dan bisnis sudah mulai berdatangan.


Mereka saling menyapa, lalu dengan memegang undangan ditangan, berjalan memasuki hotel. Tetapi anak buah dan anggota keluarga, hanya boleh menunggu diluar hotel.


Pesta kali ini, Zeni hanya mengundang kepala keluarga atau para pemimpin, tujuannya supaya mengurangi jumlah peserta pesta, jika terlalu ramai dan ribut, dia takut Airish akan bosan.


Dengan tangannya yang patah, Faisal digandeng Delilah sampai di lokasi. Sesampai disana di lihatnya begitu banyak bos besar. Jantung Delilah berdetak keras karena terlalu bersemangat.


"Kamu berdiri disini saja, jangan membuat keributan. Yang datang kali ini bukanlah orang awam!" Vota mewanti-wanti Faisal.


"Ayah, saya tidak masuk?" Wajah Faisal bingung, menyuruhnya kemari, tetapi tidak mengizinkannya masuk.

__ADS_1


"Omong kosong, pesta kali ini yang diundang hanya kepala keluarga atau para pemimpin, apakah kamu layak?" Ucap Vota sambil melototi Faisal.


Faisal langsung merasa agak kesal. "Tidak mengizinkanmu masuk, jadi untuk apa suruh saya datang? Saya sudah hampir mati kepanasan!"


Mendengar ucapan Faisal, Vota benar-benar ingin menendangnya, banyak orang yang sedang menunggu diluar, apakah mereka semua juga orang bodoh?


Ini adalah kesempatan yang sangat langka, berkenalan dengan lebih banyak orang, memberikan keuntungan pada perusahaan, sayangnya Faisal hanya tahu berfoya-foya, tidak memikirkan yang lain.


"Kuperingatkan kamu, jika saya keluar tidak menemukanmu, kuhentikan uang sakumu setengah tahun!" Vota mengancam Faisal, dia takut Faisal tidak senang lalu pulang kerumah.


Mendengar akan menghentikan uang sakunya setengah tahun, Faisal bergetar ketakutan, segera mengangguk. "Saya tidak pergi, saya akan disini saja!"


Dengan lega hati Vota memasuki hotel, Faisal dan Delilah hanya bisa berjemur matahari di depan pintu hotel.


Saat ini, Airish dan Wildan tiba. "kamu tunggu saya disini, saya atur dulu, nanti kita diam-diam masuk dari pintu belakang!" Setelah turun dari mobil, Wildan berkata pada Airish.


Airish menunggu Wildan pergi mengurus sesuatu, Airish berdiri disana merasa agak bosan, para tamu yang datang adalah kalangan atas, Airish tidak mengenal mereka, hanya bisa memainkan ponselnya dengan bosan.


"Kak Faisal, bukankah itu adalah Airish? Dia juga layak menghadiri pesta ini?" Delilah berbisik pada Faisal.


Faisal memandang kesana, ternyata benar orang itu adalah Airish, dan berjalan kesana dengan mata bersinar dingin.


Melihat ini, Delilah segera mengikutinya, matanya penuh rasa benci menatap Airish, kejadian di mall tadi, Delilah masih tidak bisa melupakannya.


"Airish, orang sepertimu layak berada disini? Tahu tidak siapa orang-orang yang datang kesini?" Faisal menatap Airish, dengan gaya arogan. "Mengenakan baju baru, kamu mengira diri sendiri kalangan atas?"


Airish menatap dingin Faisal sekilas, tidak menghiraukannya.


"Airish, mana gayamu yang brutal seperti waktu di mall? Mana Wildan, mengapa dia tidak membawamu masuk? Apakah dia sendiri juga tidak bisa masuk? Puih...” Delilah kembali meludahi Airish dengan kasar, kali ini ada Faisal, dia tidak percaya ada yang berani menyuruhinya mengelap lagi.


Raut wajah Airish marah. "Ingat, sebentar lagi saya akan menyuruhmu menjilat kembali seperti seekor anjing!"

__ADS_1


"Hahaha, puih..." Delilah tertawa terbahak-bahak, lalu meludah sekali lagi. "Kamu kira siapa kamu, menyuruhku menjilat kembali, kamu hanyalah seorang tahanan kerja, apa hebatnya"


"Semuanya lihatlah, scorang tahanan kerja mengenakan pakaian rapih ingin menghadiri pesta, Tidak bercermin dulu!" Delilah berteriak, menarik perhatian banyak orang yang menonton.


Wajah Airish datar, hanya diam melihat Delilah yang berakting!


"Faisal, siapa orang ini, terlihat asing!" Saat ini, seorang pemuda seumuran Faisal bertanya.


Perlu diketahui orang yang datang kesini adalah tokoh-tokoh terkenal dan berpengaruh di kota Bandung, atau anggota keluarga mereka, yang saling mengenal ataupun pernah bertemu muka. Tapi Airish terlihat asing, tidak seperti orang dari kalangan atas, sehingga penasaran dan bertanya pada Faisal.


"Oh dia, dia adalah mantan dari kekasihku, menjadi anjing peliharaan kekasihku selama empat tahun, bergandeng tangan saja tidak pernah, kemudian kujebloskan dia ke dalam penjara, mendekam di penjara selama tiga tahun, dua Minggu yang lalu baru saja dibebaskan!" Faisal menjelaskan dengan tawa dingin,


Penjelasan Faisal, menyebabkan orang-orang disekeliling memandang Airish dengan tatapan muak, orang-orang yang berstatus seperti mereka, tidak sudi berdiri bersama dengan tahanan kerja.


Semua orang menjauhi Airish, berbisik sarkas, ekspresi Airish cuek, seperti tidak mendengar semua ini.


"Airish, kamu belajar menebalkan muka di dalam penjara ya, sudah seperti ini, mau punya muka berada disini." Delilah melihat Airish cuek saja, segera berkata dengan ekspresi dingin.


"Airish!" Saat ini, Wildan sudah selesai mengatur, berjalan kemari, ketika melihat Delilah dan Faisal, langsung mengernyit alis. "Untuk apa kalian berdua disini?"


Tentu saja untuk menghadiri pesta!" Delilah berkata dengan sombong.


Ada Faisal yang mendukungnya, dia tidak perlu takut Wildan lagi.


"Puh." mendengar perkataannya, Wildan tidak dapat menahan tawanya. "Menghadiri pesta? mengapa kalian tidak masuk? Apakah karena tidak memiliki undangan, tidak bisa masuk?"


Delilah membuka mulut, tapi tidak bersuara, karena mereka memang tidak memiliki undangan, tidak bisa masuk.


Melihat sikap Delilah yang mengempis, sudut bibir Wildan terangkat, menarik tangan Airish dan berkata. "Ayo. kita masuk kedalam!"


Melihat Wildan dan Airish yang bersiap masuk, Delilah langsung terpana. "Memangnya kalian memiliki undangan?"

__ADS_1


__ADS_2