
"Tadi saya ditelepon petugas keamanan disini yang mencurigai kalau kamu mencuri kunci, dan menghalangi kamu, saya takut ada kesalahpahaman, jadi segera kemari!"
Airish melihat Wildan yang menyempatkan diri untuk segera kemari merasa terharu. "Tidak apa apa, hanya kesalahpahaman, sudah dijelaskan juga, tapi sebenarnya saya perlu bantuanmu!"
"Ada apa, katakan saja!" Wildan mengangguk.
"Saya memberitahu orang tua ku kalau rumah ini dipinjamkan kepadaku. Karena kamu sudah kemari, sekalian bantu saya mengiyakan kalau rumah ini kamu pinjamkan kepadaku. Banyak hal yang saya tidak ingin mereka tahu" Airish berbisik.
"Oh, gampang!" Wildan tersenyum dan melangkah masuk kedalam villa.
"Ibu, ini adalah temanku yang meminjamkan rumah ini kepada kita, Wildan Winston!"
Setelah masuk, Airish memperkenalkan Wildan kepada Shinta.
Saat mendengar pemilik rumah datang, Shinta yang duduk di sofa bergegas bangkit berdiri. "Halo Bibi, apa kabar. Maaf saya datang terburu-buru jadi tidak membawakan kalian apa-apa!" Wildan berkata dengan sangat sungkan.
"Tuan Wildan, jangan sungkan, kamu bisa meminjamkan rumah ini kepada Airish saja kami sudah tidak tahu harus berkata apa. Kalau bukan karena kamu, saya rasa seumur hidup kami pun tidak akan pernah merasakan rasanya tinggal dirumah seperti ini!" Shinta berkata dengan rendah hati.
Shinta tidak peduli apa status Wildan, kalau dia sanggup meminjamkan rumah mewah ini kepada Airish, artinya dia tidak membenci Airish, malah memiliki kesan baik terhadap Airish. Kalau hanya teman biasa tidak mungkin meminjamkan rumah semahal ini.
Hingga sore hari akhirnya Wildan pamit pulang. Setelah Wildan pulang, Airish berjalan menuju kamar tidur.
Setelah masuk kamar, Airish tidak langsung tidur. Dia duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya, memfokuskan konsentrasinya, seni Konsentrasi Hati mulai aktif, dan energi spiritual di sekitarnya langsung mengalir menuju tubuh Airish.
Selama satu tahun Airish terus berusaha keras dan berlatih. Dia tidak pernah istirahat satu hari pun, ini juga merupakan permintaan Mukhlas. Meskipun sekarang dia sudah bebas dan Mukhlas tidak bisa mengaturnya lagi, tapi Airish tetap mempertahankan konsistensinya.
__ADS_1
Segera, energi spiritual yang ada di puncak bukit memasuki tubuh Airish bersamaan dengan nafasnya. Energi spiritual itu membentuk pusaran kecil di sekitar tubuh Airish dan kemudian dihirup olehnya. Sekarang Airish hanya melatih kekuatan tahap energi positif, oleh karena itu energi yang dia serap relatif kecil, bahkan jika dia menghirup energi spiritual dalam jumlah banyak, tubuhnya saat ini tidak dapat mengkonsumsi energi itu sekaligus, dia perlu meningkatkan kekuatannya secara bertahap.
Waktu berlalu dengan cepat, matahari sudah terbit, dan Airish mulai membuka matanya perlahan.
Dia menghembuskan nafas panjang, lalu merasa tubuhnya jauh lebih nyaman daripada sebelumnya. "Energi spiritual di sini jauh lebih kaya dan lebih murni daripada di penjara." Setelah berlatih dia bahkan tidak merasa kelelahan.
"Airish, ayo sarapan!" Suara Shinta terdengar dari luar kamar, Airish merenggangkan otot dan tulangnya lalu membuka pintu dan keluar dari kamar. Sarapan disiapkan oleh Shinta, sangat mewah. Apalagi setelah kedatangan Wildan semalam, sifat Shinta terhadap Airish jelas menjadi lebih lembut, yang paling terlihat adalah senyuman di wajahnya, tidak terlihat muram lagi.
Setelah sarapan, Shinta mengajak Airish untuk menemaninya berkeliling, lalu mereka turun bukit, dan mengunjungi beberapa pasar antik untuk mencari bahan obat yang akan di gunakannya untuk menyembuhkan penyakit yang di derita oleh Winston.
Di villa tengah bukit milik Delilah, Delilah, Jacky dan Adelia masih disana, mereka menginap.
Saat itu wajah Delilah terlihat marah, dia mengingat Airish yang merusak resepsi pernikahannya, dan langsung kesal.
"Jacky, kapan saudara-saudara mu itu akan tiba?" Delilah bertanya pada Jacky.
"Segera, saudaraku itu pelatih bela diri, kalau hanya mengalahkan Airish itu hal mudah bagi mereka yang berkelana di jalanan, dan penuh solidaritas!" Jacky tahu Delilah tidak akan puas kalau tidak melampiaskannya, jadi dia menelpon teman temannya untuk datang melawan Airish, dia juga ingin membalaskan dendamnya pada Airish.
"Baguslah, saya tidak percaya kalau Airish tidak akan pernah turun dari sana, dan Keluarga Winston akan melindunginya seumur hidup!" Delilah menggertakkan giginya. "Sampah itu bahkan mematahkan tangan Faisal, merusak resepsi pernikahanku, dia pantas mati!"
Setelah berkata dengan marah, Delilah menatap Jacky dan berkata. "Saya mau ke rumah sakit untuk menjenguk Faisal, masalah Airish saya serahkan padamu, kalau sudah beres, bagianmu tidak akan berkurang sedikitpun!"
"Tidak masalah, kamu tunggu saja kabar baik dariku" Jacky mengangguk dengan senang.
Airish berjalan turun bukit, dan saat sampai di pertengahan, ada lima orang yang menghalanginya.
__ADS_1
"Airish, saya sudah menunggu setengah hari disini, akhirnya kamu turun juga!"
Jacky tersenyum dingin sambil menatap Airish. Dibelakang Jacky ada beberapa orang yang membawa tongkat dengan wajah garang.
"Untuk apa kamu menungguku?" Airish melirik dingin kearah Jacky.
"Kalau mau berkelahi, hanya beberapa orangmu ini tidak akan cukup untuk melawanku, sepuluh pengawal Keluarga Tanaka saja sudah ku kalahkan, kamu kira hanya beberapa orang ini bisa melawanku?"
Shinta yang berada di sebelah Airish ketakutan dan mengajak Airish pulang. "Ayo nak, kita pulang saja. Jangan berkelahi lagi, ibu tidak mau kau masuk penjara lagi."
"Hahaha. Airish, kamu sepertinya tidak tahu siapa orang-orang ini, malah berani membual, jangan nanti kamu memohon ampun dan menangis seperti perempuan saja!" Jacky tertawa terbahak-bahak, dia meremehkan Airish.
Jacky tahu kalau Bobby dan belasan bawahannya yang melawan Airish semalam hanyalah preman-preman kecil, mereka tidak punya kekuatan, tentu kalah dengan Airish.
Tapi hari ini berbeda, orang yang dia cari adalah orang-orang yang berlatih bela diri, mereka sudah bisa melakukan pertarungan satu lawan sepuluh. Tidak ada sulitnya mengalahkan Airish. "Sepertinya tamparan semalam sudah membuatmu gila, seharusnya saya patahkan saja tangan dan kakimu, agar menghemat pertunjukkan badutmu di depanku!" Airish melirik Jacky.
"Sialan masih berani mengungkit masalah semalam. Hari ini kalau saya tidak membuatmu berlutut di hadapanku maka saya tidak lagi bermarga Takeshi!" Jacky berkata lalu menoleh pada orang-orang yang ada dibelakangnya. "Saudaraku, pukul bocah ini sampai dia berlutut di tanah, ada yang berani membayar seratus juta untuk kalian yang bisa menghabisinya, itu semua tergantung kalian!"
Setelah mendengar ada bayaran seratus juta, tatapan beberapa orang itu langsung bersinar.
"Tenang saja, kalau kamu memerintahkan untuk membuatnya menangis maka kami tidak akan membiarkannya tertawa"
"Kalau kamu mau dia berlutut maka kami tidak akan membiarkannya berdiri!"
"Bocah ini terlihat begitu lemah, satu tendangan aku akan membuatnya berteriak kesakitan!" Beberapa orang itu menatap Airish dengan jijik.
__ADS_1