
Hanya Elsa yang menatap Airish dengan khawatir, matanya berlinang air mata. "Kak Airish, maaf, maaf...."
Elsa tahu kalau Airish bertindak demi dirinya, kali ini bisa-bisa Airish kembali dijebloskan ke dalam penjara, bahkan mungkin akan kehilangan nyawanya.
"Tenang saja, tidak akan ada masalah..." Airish tersenyum santai.
Melihat Airish terlihat tenang membuat mereka menjadi lebih marah lagi, cacian dan kutukan pada Airish mulai terdengar.
Sedangkan raut wajah Haryanto menjadi semakin muram. "Herman, lumpuhkan bajingan itu..."
Herman mengangguk dan mulai melangkah menuju Airish, tinjunya yang bagaikan samsak pasir mengarah ke dada Airish.
Kalau pukulan itu menghantam kepala Airish, pasti akan meledakkan kepalanya dalam sekejap.
Melihat situasi itu, mereka semua kaget dan menghindar, mereka takut akan kecipratan darah, hanya tatapan mata Elsa yang tidak bergerak, dia menggertakkan giginya dan menghadang di depan Airish.
Airish bertindak demi dirinya. Elsa juga berencana mengorbankan nyawanya, dia tidak boleh berdiam diri dan melihat Airish dibunuh begitu saja dihadapannya.
Angin kencang bertiup kearah Elsa, Elsa yang ketakutan menutup matanya, sedangkan tangannya menarik Airish dengan erat kebelakang tubuhnya.
"Elsa..." Adelia juga tidak dapat menahan dirinya dan berteriak.
Meskipun dia baru mengenal Elsa, tapi Adelia merasa Elsa adalah orang yang baik, berpengetahuan luas, sangat disukai oleh orang-orang kalau dia mati karena Airish akan sangat disayangkan, maka dia tidak bisa menahan dirinya dan berteriak.
Dia melihat tinju Herman menuju kearah Elsa merasakan kematian yang mendekat, tapi setelah tiupan angin kencang itu, tidak ada lagi pergerakan, dia perlahan membuka matanya, dan menemukan tinju Herman hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, sedangkan tangan Airish mencengkram tinju Herman dan membuat dia tidak bisa menggerakkannya.
Saat itu, semua orang membelalakkan matanya, mereka tidak habis pikir, sedangkan wajah Herman juga langsung berubah, tatapannya terlihat terkejut, karena dia dapat merasakan ada aliran kekuatan besar yang terus keluar dari dalam tubuh Airish, tidak peduli sekuat apapun dia mencoba semuanya berakhir sia-sia.
"Kalau kalian bukan bawahannya Kawamatsu, kalian pasti sudah menjadi mayat sekarang..."
Airish menyeringai, membuat Herman tiba-tiba mundur dan terduduk dilantai.
__ADS_1
Melihat Herman seperti itu, Haryanto semakin marah lagi. "Bajingan, dasar sampah, hanya seorang bocah saja tidak bisa kamu urus?"
Haryanto menendang Herman dengan kuat.
Herman bergegas berdiri, dan menundukkan kepalanya dengan canggung, meskipun dia terjatuh, tapi Herman tidak terluka, Airish sedang berbelas kasihan karena bagaimanapun bisa dibilang mereka adalah bawahannya.
"Biarkan kami pergi, maka masalah hari ini dianggap selesai, kalau tidak, kamu akan menyesal." Airish berkata pada Haryanto.
"Menyesal?" Haryanto mencibir. "Saya tidak pernah tahu apa itu menyesal..."
Selesai berkata, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, belasan orang yang memegang parang menerobos masuk, dan langsung mengepung Airish dan yang lainnya.
Tadi saat dikepung belasan orang dengan tangan kosong, Jacky dan yang lainnya masih bisa mengendalikan diri walaupun wajah mereka terlihat sangat sangar. Tapi sekarang saat dikepung belasan orang yang memegang parang, Jacky dan yang lainnya terkejut, seolah mereka merasakan dinginnya parang itu, beberapa diantara mereka hampir pingsan, ada yang mengompol, dan bahkan Jacky sendiri juga tidak luput, celananya basah.
"Bajingan, percaya tidak saya pasti akan membuatmu menjadi daging cincang hari ini?" Haryanto berkata dengan muram.
"Seingat aku, Kawamatsu tidak mengizinkan kalian untuk bertarung dan membunuh lagi, menyuruh kalian untuk berbisnis sesuai aturan, tapi hari ini kamu malah mau membuat kehebohan, apa kamu tidak mau meminta petunjuk Kawamatsu dulu?" Airish berkata dengan tenang.
Selesai berkata, Haryanto mengeluarkan ponselnya dan keluar dari ruangan.
Melihat Haryanto yang meminta petunjuk dari Kawamatsu membuat Jacky dan yang lainnya menjadi lebih pucat lagi. Perlu diketahui Kawamatsu memiliki reputasi yang buruk di Kota Bandung, dia adalah raja pembunuh berdarah dingin yang sadis. Kalau benar-benar menyinggung Kawamatsu, maka mereka semua tidak akan ada yang tersisa, pada saat itu, mereka pasti akan disiksa hingga mati.
"Airish, dasar tidak punya otak, sekarang kami semua akan mati bersamamu, tidak akan ada satupun yang bisa keluar dari sini hidup-hidup, bisa-bisanya kamu malah menyeret Tuan Kawamatsu. Habislah sudah kita"
Jacky yang melihat Haryanto pergi menelpon Kawamatsu langsung mencaci maki Airish. Airish mengernyitkan keningnya, dia menatap Jacky dengan dingin, membuat Jacky seolah terjatuh kedalam gua es dan langsung terdiam.
"Saya tidak mau mati, saya tidak mau mati, ayah...ayah...." Delilah mulai menangis, dia terus bergumam seperti orang gila.
Seketika, banyak diantara mereka yang mulai menangis, seluruh ruangan itu langsung dipenuhi oleh suara tangisan.
Disisi lain, Haryanto sedang menelepon Kawamatsu untuk meminta petunjuk bagaimana dia harus mengurus bocah-bocah itu.
__ADS_1
Biasanya, Haryanto akan mengambil keputusan sendiri dan menghabisi Airish dan yang lainnya, hanya segerombolan orang biasa, kalau hilang pun tidak akan menimbulkan keributan.
Tapi sekarang tidak bisa, Kawamatsu sudah memerintahkan mereka tidak boleh bertarung dan membunuh sembarangan, Haryanto hanya bisa bertanya kepada Kawamatsu harus bagaimana.
Pada saat itu, Kawamatsu sudah tertidur, dan saat mendapatkan telepon dari Haryanto dia menguap beberapa kali. "Haryanto, sudah selarut ini, apa ada masalah di KTV?"
"Tuan Kawamatsu, ada beberapa bocah yang membuat keributan di KTV, mereka melukai Herman terlalu berlebihan, saya ingin bertanya kepada Tuan Kawamatsu, apa mereka boleh dihabisi saja..." Haryanto bertanya dengan hati-hati.
"Bocah-bocah?" Kawamatsu mengernyitkan keningnya.
"Siapa mereka? Apakah anggota yayasan Budi Suci?"
Dengan reputasi Kawamatsu di Kota Bandung, belum ada orang yang berani membuat onar di wilayah kekuasaannya, kecuali anggota yayasan Budi Suci, bagaimanapun Timotius juga dilukai oleh Airish beberapa waktu lalu.
Sekarang yayasan Budi Suci sedang mencari perkara dengan Yayasan Teratai, jadi tidak ada yang tidak mungkin.
"Bukan, hanya segelintir orang biasa, katanya mereka bekerja di perusahaan milik Keluarga Tanaka, dan ada seorang bocah yang bernama Airish, dia yang melukai Santoso..." Haryanto berkata.
Mendengar nama Airish, Kawamatsu langsung melompat turun dari tempat tidurnya.
"Haryanto, saya akan segera kesana, sialan, kamu jangan berani bertindak, tunggu saya...." Selesai berkata, Kawamatsu langsung mematikan teleponnya dan berlari keluar.
Haryanto yang mendengar Kawamatsu begitu tergesa-gesa menjadi bingung, tapi karena itu perintah Kawamatsu, dia tidak berani membantah.
Dia kembali ke ruangannya, udara di kantornya sudah bau pesing sejak tadi.
"Sialan..."
Haryanto menutup hidungnya. "Buka jendelanya, dasar tumpukan sampah...."
Segera, jendela terbuka dan udara segar berhembus masuk, dan menyingkirkan bau pesing yang ada didalam ruangan.
__ADS_1