
Di kamar VIP di lantai 2, Winston mendengar suara keributan dari bawah dan mengernyitkan keningnya. Manajer hotel yang melihat ekspresi itu langsung berkeringat dingin.
"Ada apa dibawah?" Winston bertanya dengan nada yang sedikit tidak senang.
"Tuan Winston, ada yang membuat onar di resepsi pernikahan Tuan Faisal. Ada orang yang dipukuli dan barang-barang hancur..." Manajer itu sibuk menjelaskan. "Siapa yang berani membuat onar disini?" Wajah Winston terlihat marah.
"Kalian ini kerja apa sih? Hanya satu sampah tinggal utus beberapa orang petugas keamanan untuk mengurusnya, jangan sampai merusak reputasi hotel Horison ini" "Sudah diutus!" Manajer itu berkata.
"Lalu kenapa kamu masih disini? Tidak berencana pergi mengurusnya? Mau menunggu orang emosi dulu?" Winston berteriak dan membuat manajer itu lari terbirit-birit.
"kakek, kamu masih belum sehat, jangan marah-marah, saya akan kebawah dan melihat situasinya Wildan mencoba menenangkan Winston lalu keluar dari kamar VIP.
Sebagian besar permasalahan Keluarga Winston diurus oleh Wildan sekarang, karena Winston hanya memiliki seorang cucu, sementara putranya yang sebagai ketua kepolisian sibuk dalam pekerjaannya dan saat ini kesehatannya juga kurang baik, maka semua beban itu ditanggung oleh Wildan.
Aula pernikahan di lantai dasar.
Belasan petugas keamanan mengepung Airish, manajer hotel juga bergegas berlarian ke tempat kejadian, dan terus membungkuk penuh hormat pada Vota. Tuan Vota, saya sungguh minta maaf, saya tidak menyangka ada orang yang tidak takut mati berani datang kemari dan membuat onar di pernikahan putra Anda, saya akan segera mengusir pembuat onar ini...." Setelah berkata, dia memerintahkan belasan petugas keamanan.
"Untuk apa kalian termenung? cepat usir bajingan ini keluar dari sini!"
"Tunggu!" Disaat beberapa petugas keamanan bersiap turun tangan, Vota buka suara. "Berani membuat onar di pernikahan putraku, menganggu tamu-tamu penting aku, mana bisa dia pergi begitu saja. Itu sama saja dengan mencoreng wajah Keluarga Tanaka hari ini. Kalau tidak mencabut nyawanya pun setidaknya harus mematahkan tangan dan kakinya baru boleh pergi" Manajer hotel itu merasa serba salah, kalau mematahkan tangan dan kakinya dia bisa-bisa mendendam pada hotel mereka dan datang lagi untuk membuat keributan. Vota memahami maksud manajer hotel dan tersenyum. "Masalah ini biarkan Keluarga Tanaka yang mengurusnya, kalian pergi saja!"
__ADS_1
"Baik, baik, baik. kami akan segera pergi!" Manajer hotel itu segera mengangguk dengan senang karena dia tidak perlu mengurus apapun.
"Ayah, saya tidak mau hanya mematahkan tangan kakinya, saya mau membunuhnya, berani sekali membuat onar di pernikahanku, saya mau dia mati!" Faisal berkata dan menatap Airish dengan marah. "Airish, saya pasti akan membunuhmu hari ini, saya akan memberi tahumu apa akibatnya kalau membuat saya marah"
"Saya sudah bilang kan tadi, kalau saya menghadiri pernikahanmu maka pernikahanmu akan batal, kamu tidak percaya. Sekarang sudah percaya?" Airish menatap Faisal dan tersenyum mengejek.
"Percaya kepalamu!" Faisal mengangkat tinjunya dan melayangkannya ke arah Airish.
Bam......BAM........ lengan Faisal bengkok, dan jelas terlihat patah.
"Ah...." Rasa sakit itu membuat Faisal berteriak kesakitan. Semua orang yang melihatnya tercengang. Mereka membelalak tidak percaya Airish berani menghajar Faisal, benar-benar cari mati.
"Faisal!" Vota bergegas memapah Faisal, dan memeriksa lengan Faisal yang patah. Ini akan membutuhkan beberapa bulan untuk pulih. "Bajingan! berani memukul putraku? saya akan membunuhmu..." Vota awalnya hanya ingin memberi pelajaran kepada Airish, asalkan bisa membalas Airish saja sudah cukup, karena bagaimana pun resepsi pernikahan masih harus berlangsung.
Vota mengeluarkan ponselnya dan menelpon para pengawal yang ada dirumahnya untuk datang kemari.
Pengawal-pengawal itu merupakan ahli bela diri yang dia bayar dengan harga mahal. Mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan Bobby dan bawahannya. Bobby dan bawahannya hanyalah preman jalanan yang terus mengikuti Faisal dan mengambil hati Faisal, yang notabenenya adalah konglomerat generasi kedua.
Saat melihat Vota menelpon pun Airish tidak panik, dia malah kembali duduk di kursinya, dan menyeruput tehnya. Tindakan Airish membuat Vota semakin marah, ini jelas-jelas sedang meremehkan Keluarga Tanaka. "Ayah, bunuh dia! Saya mau membunuhnya." Faisal yang lengannya sudah patah berteriak penuh amarah.
"Faisal, kamu tenang saja, hari ini saya pasti akan membunuh bajingan ini dan melemparkannya ke laut untuk dimakan ikan!" Vota menatap putranya dengan sedih, dan berjanji pada Faisal.
__ADS_1
Vota tahu kalau Airish pasti mempunyai kemampuan, maka dia tidak langsung turun tangan dan menunggu para pengawalnya tiba terlebih dulu. Disaat itu, pintu aula pernikahan dibuka oleh seseorang. Wildan bergegas masuk kedalam dia ingin tahu siapa yang sebenarnya membuat keributan disini."
"Paman Vota, apa yang terjadi?" Setelah masuk, Wildan langsung menghampiri Vota dan bertanya padanya.
"Bocah ini berani datang membuat onar di pernikahan putraku, bahkan memukul putraku, saya akan memutilasinya di hotel kalian hari ini..." Vota menunjuk Airish yang duduk tenang menyeruput teh di mejanya.
Dan saat Wildan melihat kearahnya, dia langsung tercengang. Bagaimana pun dia tidak habis pikir, orang yang membuat keributan adalah Airish. Airish belum pergi.
"Tuan Airish?" Winston bertanya dengan wajah keheranan. "Mengapa kamu bisa ada disini?"
"tuan Wildan, apakah sangat aneh?" Airish tersenyum pada Wildan.
"Wildan, kamu kenal dengan orang ini?" Vota mengernyitkan keningnya.
"Vota, sepertinya ada kesalahpahaman disini, ini adalah Tuan Airish yang datang untuk mengobati kakekku, pasti ada kesalahpahaman." Wildan menjelaskan.
"Mengobati?" kerutan yang ada di kening Vota semakin jelas terlihat.
"Kamu siapa? Bicara omong kosong apa? Bocah ini mana tahu mengobati penyakit, dia baru bebas dari penjara beberapa hari ini, penyakit apa yang bisa dia obati, saya sudah lama mengenalnya dan tidak pernah tahu kalau dia bisa mengobati penyakit, kalian jangan mau ditipu olehnya!" Delilah berteriak kesal pada Wildan.
Wajah Wildan seketika menjadi dingin. Tapi saat melihat Delilah yang mengenakan gaun pengantin, dia menyadari kalau Delilah adalah calon menantu Keluarga Tanaka.
__ADS_1
Wildan menahan emosinya dan berkata "Tuan Airish bisa mengobati atau tidak, saya punya pendapat saya sendiri. Karena jika tidak pernah mengetahuinya tidak menjamin Tuan Airish tidak bisa!"
"Diam saja kamu, bocah seperti dia kalau punya kemampuan bagaimana mungkin saya tidak tahu? Kami sudah berteman 4 tahun sejak kuliah, juga sudah berpacaran selama beberapa tahun, setiap kali saya sakit, dia selalu membawaku ke rumah sakit, suatu kali saat hujan deras, dia menggendongku ke rumah sakit, kalau dia bisa mengobati kenapa harus ke rumah sakit?" Delilah terlihat menghina, dimatanya Airish sudah tidak lagi berharga. Mendengar ucapan Delilah, Wildan menatap Airish, dan akhirnya mengerti kenapa Airish bisa membuat onar disini.