Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Airish Turun Tangan


__ADS_3

Selesai berkata, Bento kembali melompat, menyerang kearah Timotius.


"Hei, sudah dibilang kamu bukan tandingannya, malah maju untuk dipukul, benar-benar keras kepala!" Airish menggeleng tak berdaya.


"Jangan bicara lagi, cepat kembali!" Wildan menarik Airish kembali duduk.


Bento kembali melompat, tetapi karena terlalu maju, tendangan Timotius langsung mendarat di ulu hatinya, darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya.


Zeni dan para hadirin melihat adegan ini, terkejut bukan main. Bento merasakan wajahnya panas membara, dia bisa merasakan dengan jelas, Timotius tidak mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi statusnya sebagai pengawal pribadi Zeni, dihadapan banyak orang, dia sangat kehilangan muka, sekarang dia merasa lebih baik mati dibunuh Timotius, daripada harus kalah darinya.


Perlu diketahui bagi orang yang berlatih bela diri menganggap harga diri lebih penting dari pada nyawa, jika hari ini mengaku kalah, nama baiknya akan menjadi buruk, jangan-jangan dikemudian hari dia tidak bisa lagi bertahan di kalangan ini, mungkin juga Zeni tidak akan memakainya lagi.


"Timotius, kerahkan seluruh tenagamu, hari ini saya boleh mati, tapi tidak boleh gagal!" Selesai berkata, seluruh wajahnya memerah, badannya mulai perlahan-lahan mengembang besar.


"Pukulan Badai..." Bento berteriak sekali, badannya yang mengembang langsung seperti mengempis, kembali ke bentuk semula, tetapi badan Bento menjadi seperti peluru meriam melesat maju.


Timotius mengernyit alisnya. "Sepertinya jika tidak mengeluarkan jurus andalan, kamu tidak akan menyerah!"


Kedua kaki Timotius setengah berjongkok, permukaan lantai marmer di bawah kakinya langsung timbul beberapa retakan, dan pakaian yang dikenakannya melambai terbang tanpa diterpa angin.


"Saya akan bertarung mati-matian denganmu!" Sepasang mata Bento mulai berubah warna menjadi merah darah, sebuah pukul keras menghantam tubuh Timotius.


BAM...


Bunyi yang sangat keras, seperti halilintar di langit, membuat para hadirin menutup telinga. Timotius tidak bergerak, bahkan tubuhnya tidak bergoyang sama sekali, apalagi terluka.


Bento terpana, tapi kemudian melayangkan pukulan yang bagaikan badai mendarat ditubuh Timotius.


Bam...bam..bam...


"Sudah cukup!" Selesai berkata, Timotius melayangkan sebuah pukulan.


BAM...


Kepalan tangan kedua orang ini saling beradu, tubuh Bento langsung terlempar terbang keluar, lalu mendarat keras diatas tanah, lalu tidak bangkit lagi.


"Ini..."

__ADS_1


Kali ini, semua orang terbelalak, mulut Zeni terbuka lebar terkejut.


Sekujur tubuh Kawamatsu tergetar, dia tidak menyangka kemampuan Timotius sudah mencapai tahap yang sedemikian kuatnya, hati Kawamatsu tergetar, pandangan diam-diam melihat kearah Airish, sekarang sepertinya hanya Airish-lah yang mampu menghentikan Timotius. Bento yang tergeletak di atas tanah, berusaha keras ingin bangkit, tetapi gagal setelah mencoba dua kali.


"Kamu... Aura negatif mu belajar dari siapa?" Bento bertanya kaget.


"Yansen, kalian mengenalnya?” Timotius berkata sambil menegakkan badannya.


Mendengar nama itu, air muka Bento berubah drastis, kelihatan sekali sangat ketakutan, dan tubuh Kawamatsu juga tergetar.


Kelihatan sekali mereka berdua mengenal orang ini, dan orang ini sangat lihai. Tetapi orang lain tidak memberikan reaksi apapun, kelihatan asing dengan nama ini.


"Apa...apa hubunganmu dengan Guru Yansen?" Bento bertanya.


"Dia adalah Guruku, aura negatif ku belajar darinya."


Setelah mendengar perkataan Timotius, wajah Bento langsung lesu, menghela nafas dan menggeleng sedikit. "Wajar saja saya bukan tandinganmu, ternyata kamu berguru pada Guruku. Saya mengaku kalah!"


Tidak disangka Bento akan mengaku kalah, orang yang pantang menyerah seperti dia, mendengar nama Yansen, langsung mengaku kalah.


Alis Airish berkerut, melihat Kawamatsu dan bertanya. "Siapa itu Yansen?


Ketika mengucapkan nama Yansen, hati Kawamatsu masih penuh dengan ketakutan.


"Memetik daun melukai musuh?" Airish tersenyum sedikit.


"Oh ya?" Sambil berkata, Airish mengambil sebatang tusuk gigi, mengkibaskannya dengan jari, tusuk gigi tersebut langsung melesat cepat kearah Timotius. Timotius tidak sempat bereaksi, lengannya langsung tertusuk tusuk gigi itu, hanya tersisa sedikit tusuk gigi yang tersembul keluar.


"Siapa, siapa yang menyerang ku?" Timotius mencabut tusuk gigi itu dengan kuat dan meraung keras.


Namun, di dalam tatapan mata Timotius, terlihat ada sedikit kesakitan, dia tidak kebal walaupun dia telah menguasai pengendalian aura negatif padahal jika orang biasa dengan senjata tajam menyerang, tidak akan bisa menghancurkan penguasa aura negatif.


Tapi sekarang tusuk gigi kecil ini benar-benar langsung menusuk lengannya, hal ini mengejutkan Timotius. Dia tidak menyangka masih ada ahli yang bersembunyi di antara orang-orang ini.


Semua orang saling menatap, dan tidak ada yang tahu siapa yang menusuk tangannya.


Hanya Kawamatsu yang menatap Airish heran dengan kekaguman di matanya.

__ADS_1


"Aku..." Airish maju selangkah.


"Kamu?" Timotius memandang Airish dengan sedikit cemberut.


Airish baru berusia dua puluhan, bagaimana mungkin seorang pemuda memiliki keahlian seperti itu?


"Airish, kamu... jangan terlalu sombong, pasti bukan dia..." Wildan terkejut dan dengan cepat membawa Airish kembali.


"Tuan Wildan, Tuan Airish akan baik-baik saja, kamu tidak perlu panik!" Kawamatsu menghentikan Wildan.


"Bocah, ada harga yang harus dibayar untuk berlagak, kamu yakin mau membela Kawamatsu?" Timotius bertanya dengan suara dingin.


"Jangan bicara omong kosong, jika mau bertengkar, cepatlah, aku sangat sibuk!" Airish berkata dengan ekspresi datar.


Pada saat ini, Airish mulai memiliki lapisan tipis di sekeliling tubuhnya. Jika mereka tidak melihat dengan detail, mereka tidak akan melihatnya.


Lapisan tipis ini adalah energi spiritual yang ada disekitar yang bersatu, lalu membentuk perisai kuat yang melindungi Airish.


Tidak ada orang yang menghalangi Airish kecuali Wildan yang mati-matian berteriak agar Airish kembali.


Orang-orang ini ingin melihat apakah Airish benar-benar memiliki keahlian sehingga mampu membuat Zeni begitu menghormatinya.


"Cari mati!" Mata Timotius memancarkan cahaya dingin dan langsung bergegas menuju ke arah Airish.


Timotius bergerak sangat cepat, seperti kilatan petir, dia tiba di depan Airish dan langsung menggerakkan kepalan tangan yang besar ke arah Airish.


Pada saat ini. Airish menatap Timotius dengan tenang, menghadapi pukulan yang cepat dan keras, Airish sepertinya tidak merasakan pukulan itu.


"Ah..." Melihat ini, Wildan berseru, "Jangan!"


Tapi Timotius tidak berhenti, dia tetap meninju dada Airish dengan keras.


Bang!


Pukulan ini memiliki kekuatan ratusan kilogram. Semua orang khawatir Airish akan mati karena pukulan ini.


Tetapi ada sesuatu yang aneh, badan Airish yang beratnya hanya lebih dari 60 kilogram tidak bergerak sama sekali. Sebaliknya, lengan Timotius tertekuk.

__ADS_1


Kekuatan anti getaran yang besar menyebabkan lengan Timotius patah, dan tulang putih tebal langsung menembus kulit dan terlihat dari luar.


"Aaa!" Timotius berteriak kesakitan, menatap tangannya yang patah dengan rasa sakit yang tidak tertahankan.


__ADS_2