
Airish tercengang lalu menjawab dengan canggung. "Saya ada sedikit urusan siang ini, kamu makan saja sendiri ya, kalau mau merayakannya, nanti malam saja kita rayakan bersama...."
Elsa yang mendengar itu hanya bisa menjawab dengan kecewa. "Baiklah...."
Melihat bayangan Airish yang berjalan keluar dari perusahaan, Elsa merasa selalu ada jarak diantara dirinya dan Airish, dia tidak bisa melihat isi hati Airish, dan dia juga tidak bisa membuat jalan masuk kedalam hati Airish.
Setelah keluar dari perusahaan, Airish awalnya ingin mengendarai accord tua miliknya, tapi dia melihat tidak jauh dari sana, Wildan sedang duduk didalam mobil dan tidak berhenti menekan klakson.
Airish melihat Wildan yang datang menjemputnya langsung menyimpan kembali kunci mobilnya dan berjalan menghampiri Wildan.
"Kamu tidak sibuk? Kenapa bisa datang menjemput ku?" Setelah naik ke mobil, Airish bertanya sambil tersenyum.
"Tuan Zeni sudah sampai, kalau kamu sampai tidak hadir, betapa memalukannya saya...."
Setelah berkata, Wildan langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.
Pada saat itu, Elsa sedang melihat keluar jendela dari lantai atas, dia melihat Airish naik ke sebuah mobil mewah berwarna merah, dan yang menyetir adalah direktur utama Krakatau, hanya saja karena jaraknya lumayan jauh, Elsa tidak melihat dengan jelas wajah orang itu. Elsa bergumam dalam hatinya, dan matanya mulai basah.
Winston dan Zeni sedang duduk di ruang tamu sambil minum teh dan berbincang-bincang.
Dulu, dengan status Winston sebagai orang terkaya di Kota Bandung pun dia akan punya kesempatan untuk duduk bersama dan mengobrol dengan Zeni.
Segera, Wildan dan Airish sudah tiba, saat melihat Airish, Zeni bergegas bangkit berdiri. "Tuan Airish..."
"Tuan Zeni tidak perlu segan seperti itu, kamu tampaknya makin tangguh akhir-akhir ini...” Airish tersenyum.
"Semua ini berkat Tuan Airish, kalau bukan karena Tuan Airish, energi tulang-tulang tua ku ini pasti sudah habis disedot oleh rajawali kebencian sejak lama!"
Zeni tahu Airish adalah alasan tubuhnya menjadi semakin sehat, kalau bukan karena Airish turun tangan membereskan Kursi rajawali yang dia duduki setiap harinya, dia pasti sudah mati.
__ADS_1
"Itu karena tubuh Tuan Zeni yang memang tangguh..." Airish tersenyum.
"Airish, saya dengar dari Wildan, kamu sekarang bekerja di PT Krakatau?" Winston bertanya pada Airish.
"Iya, menjadi seorang staf pemasaran!" Airish mengangguk.
"Untuk apa sesusah itu? Waktu saya bertanya apakah kamu suka berbisnis, kamu menjawab tidak suka, sekarang malah menjadi staf pemasaran, apa kamu mau belajar dari titik paling bawah?" Tanya Winston.
Airish menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskannya, saat dia pergi wawancara, dia tidak tahu kalau perusahaan itu adalah milik Keluarga Winston, lagipula dia juga tidak berniat untuk terus bekerja disana, ini hanya permasalahan sementara untuk menenangkan kedua orang tuanya saja.
Melihat Airish tidak menjawab, Winston meneruskan perkataannya. "Saya sudah mengutus orang untuk mengurusnya, mulai hari Senin nanti, jabatan Wildan sebagai direktur akan diserahkan kepadamu, lagipula Wildan hanya pergi kesana beberapa bulan sekali, kalau semuanya hanya mengandalkan Bobby, saya juga tidak tenang...."
Airish yang mendengarnya
seketika tercengang, dia buru-buru melambaikan tangannya. "Pak Winston, saya tidak mau, saya benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus perusahaan, menjadi staf pemasaran disana hanya untuk menenangkan kedua orang tuaku saja, saya masih punya hal penting yang harus saya urus!"
Airish tidak ingin terjerat oleh hal-hal duniawi, dia harus bergegas untuk melatih diri, kalau tidak, waktu perjumpaan dengan orang tua kandungnya, akan terlewatkan. Dia tidak akan bisa mencapai pulau tak Andalas.
Winston mengira Airish hanya malu-malu, jadi menolak dengan sopan, maka dia bersikeras untuk menyerahkan perusahaan itu pada Airish.
Airish yang melihat situasi itu juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hidangan sudah disiapkan, dan mereka makan sambil mengobrol.
"Tuan Zeni, Anda mencari aku apa karena masalah batu Sinabar?"
Airish mengiyakan permintaan Wildan karena Wildan mengatakan Zeni juga mencarinya.
"Tuan Airish, saya sudah menghubungi pemimpin itu, dia sedang dalam perjalanan pulang, seharusnya dia akan tiba dalam beberapa hari.
__ADS_1
"Merepotkan Tuan Zeni ya!" Airish sekarang sudah tidak sabar ingin segera mencapai tingkat manusia abadi.
"Tidak masalah, malah saya yang memerlukan bantuan Tuan Airish..." Zeni berkata.
"Tuan Airish, ada masalah apa? Katakan saja, kalau saya bisa membantu, saya tidak akan pernah menolak..." Airish mengangguk.
"Tuan Airish, saya tahu Tuan Airish punya kekuatan yang tidak bisa dibayangkan orang biasa, saya punya seorang teman lama, dia dan istrinya pergi berziarah, namun saat kembali, istrinya mulai menjadi gila, dia sudah mencari banyak dokter untuk berobat, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya, jadi saya ingin bertanya apakah Tuan Airish bisa menyembuhkannya...."
Setelah Zeni melihat bagaimana Airish membereskan rajawali kebencian yang ada di kursi rajawali miliknya, dia sudah sangat kagum terhadap Airish.
"Berziarah dan menjadi gila setelah pulang? Paling hanya kesurupan, bukan masalah besar..." Airish berkata dengan tenang.
"Kalau Tuan Airish bisa menyembuhkannya, maka saya akan memberitahu temanku agar dia membawa istrinya untuk menemui Tuan Airish..." Zeni mengeluarkan ponselnya dengan bahagia dan menelpon temannya.
Airish mengulurkan tangannya dan menghentikan Zeni. "Tuan Zeni, jangan tergesa gesa, hal semacam ini akan lebih jelas terlihat pada saat malam hari, Tuan Zeni beritahu saja alamatnya kepadaku, saya yang akan kesana sepulang kerja.
"Kalau begitu, benar-benar merepotkan Tuan Airish ya..." Tuan Zeni berterima kasih pada Airish.
"Hanya seperti menjentikkan jari, saya meminta Tuan Zeni mencari batu Sinabar, itu jauh lebih merepotkan..."Airish tersenyum.
"Karena saling membantu, tidak perlu saling sungkan-sungkan juga, ayo dimakan, nanti lauknya dingin..."
Winston bersuara, karena dia tidak yakin berapa lama mereka akan saling mengucapkan terima kasih.
Setelah makan, Wildan mengantarkan Airish kembali ke perusahaan.
"Airish, malam ini saya akan menjemputmu, lalu kita kesana bersama-sama, saya belum pernah melihat orang yang kerasukan!" Wildan berkata dengan semangat pada Airish.
"Kamu tidak takut?" Airish melihat Wildan yang bersemangat bertanya sambil bercanda padanya.
__ADS_1
"Untuk apa takut, kan ada kamu, saya tahu tabib seperti kalian ini sangat hebat, kalian bisa mengusir jin dan menarik jiwa, ada anak-anak yang selalu menangis saat malam hari karena dikejutkan dan beberapa tabib hanya perlu membaca beberapa mantra, tidak perlu disuntik" Wildan berkata dengan acuh tak acuh.
Airish tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi, dia tahu kalau Wildan benar-benar melihatnya, dia akan ketakutan setengah mati.