Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Hari Keberuntungan


__ADS_3

Adrian, Alin dan Arya sedang menikmati makanan. Lebih tepatnya Arya yang sedang makan, karena Adrian dan Alin sudah kenyang.


"Adrian, Arya, aku pulang dulu ya. Lagipula hujannya udah reda," ujar Alin.


"Ya udah kalau gitu aku antar ya."


"Gak usah, aku pulang naik ojek online aja."


"Kalau gitu hati-hati ya," ujar Adrian. Lalu, Alin segera pergi.


Arya mendekat kearah Adrian, ia masih penasaran dengan apa yang dibicarakan Adrian dan Alin.


"Tadi Alin kenapa sih?" tanya Arya.


"Gak kenapa-napa kok."


"Gue jadi curiga. Apa jangan-jangan kalian berdua pacaran lagi ya? makanya tadi Alin nangis karena dia  terharu."


"Sok tahu banget."


...****************...


Malam pun tiba, kini saatnya untuk Adrian pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya. Tetapi bukan hanya dengan keluarganya, tapi juga dengan Arya.


Ya, Arya akan menginap di rumah Adrian. Tadinya dia masih bimbang untuk menginap atau tidak, namun karena dia sudah lama tidak menginap di rumah Adrian, jadi dia memutuskan untuk menginap saja.


Tiba di ruang makan, Adrian dan Arya segera duduk sambil menikmati makan malam.


Selama menikmati makan malam, Adrian tidak berbicara sepatah katapun. Ia hanya melamun sambil memikirkan Alin, sejujurnya ia sangat tidak terima jika Alin diperlakukan seperti itu oleh mantannya.


Kecewa? tentu saja. Lagipula siapa yang tidak kecewa jika perempuan yang selama ini ia cintai ternyata sudah tidur dengan lelaki lain.


Tetapi tetap saja, bagaimanapun juga dalam hal ini Alin tidak salah.


"Perut kamu masih sakit gak?" tanya Mamah yang membuyarkan lamunan Adrian.


"Udah gak sakit kok, Mah."


"Tante, Adrian pacaran lagi ya sama Alin?" tanya Arya tiba-tiba.


"Kamu pacaran lagi sama Alin?" kaget Mamah.


Adrian menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.


"Tapi kok akhir-akhir ini kamu sering ketemu sama Alin," heran Mamah.


"Sering ketemu bukan berarti pacaran."

__ADS_1


"Tapi kamu masih cinta sama Alin, kan?" sahut Papah.


Adrian mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Adrian masih cinta sama Alin."


Mendengar perkataan Adrian, sontak Papah menyuruh Adrian agar cepat-cepat melamar Alin.


Adrian niatnya memang ingin melamar Alin, namun ia tidak tahu bagaimana perasaan yang sebenarnya.


Alin memang terlihat masih menyukai Adrian, tetapi sepertinya sekarang dia tidak ingin berkomitmen dikarenakan mantannya.


Tentu saja karena mantannya itu, Alin merasa menjadi seseorang yang tidak pantas untuk siapapun.


"Alin masih cinta gak sama kamu?" tanya Mamah.


"Gak tahu."


"Kalau belum ada kepastian dari Alin, lebih baik kamu nikah aja sama Vanya. Dia baik loh, selain itu katanya dia juga suka loh sama kamu."


"Vanya yang model itu suka sama Adrian, Om?" tanya Arya, lalu Papah Adrian mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Arya.


Menurut Adrian, Vanya memang gadis yang baik. Namun sayangnya dia mempunyai banyak teman pria, ditambah lagi dia terlalu manja dan juga suka tebar pesona, makanya Adrian tidak begitu suka dengannya.


Selain itu, Fahrul selaku mantannya Vanya juga melarang Adrian dekat dengan Vanya. Sebab, Vanya agak matre orangnya.


Sebenarnya Adrian tidak mempermasalahkan matre atau tidaknya, karena dulu juga Adrian pernah berpacaran dengan perempuan matre. Jadi ia pikir tidak ada salahnya selagi si cowoknya tidak keberatan membiayai keperluan ceweknya.


"Jadi mau pilih Alin atau Vanya?" tanya Mamah.


"Apa sih yang membuat kamu jatuh cinta banget sama Alin?"


"Adrian juga gak tahu. Tapi intinya Adrian merasa nyaman sama dia dan juga kalau sama dia, Adrian selalu jadi diri sendiri."


Jika dibandingkan dengan mantan-mantan Adrian, memang hanya dengan Alin lah, Adrian bisa menjadi dirinya sendiri. Beda lagi jika dengan mantan yang lain, Adrian selalu merasa sikap dirinya bukanlah sikap yang sebenarnya.


Kadang Adrian selalu menunjukkan sisi kerennya didepan mantan-mantannya yang lain, sedangkan sisi buruknya tidak ia tunjukan.


Sisi buruk Adrian adalah dia selalu merasa bahwa banyak wanita yang menyukainya. Ya benar, Adrian dulu selalu membahas beberapa nama orang yang menurut Adrian suka kepadanya, ia selalu menceritakan tentang itu kepada Alin.


Respon Alin waktu itu hanya biasa saja, karena sepertinya Alin juga berpikir pasti banyak yang menyukai Adrian.


Tapi sayangnya itu semuanya tidak benar, mungkin itu hanya perasaan Adrian saja. Belum tentu juga gadis-gadis yang ia bicarakan itu benar-benar suka kepadanya.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya sangat marah. Makanya dia meminta putus tanpa memberitahu alasannya kepada Adrian.


Meskipun alasan utamanya karena Saskia, tapi tetap saja hal itu juga membuat Alin geram dengan Adrian. Sampai-sampai setelah putus, Alin selalu menghindar karena ia sangat kesal terhadap Adrian.


Skip

__ADS_1


Setelah makan malam, Adrian, Arya, dan Papah Arya sedang menonton televisi di ruang tengah. Mereka bertiga bertaruh untuk mendukung tim bola favoritnya.


Adrian dan Arya mendukung tim yang yang sama dan jika tim mereka kalah, mereka berdua harus membayar sebesar 5 juta kepada Papah Adrian. Tetapi jika Adrian dan Arya menang, mereka akan diberi 10 juta per-orang.


Memang tak adil untuk Papah Adrian, tetapi itu keinginannya. Lagipula uang segitu tak berarti apa-apa buatnya.


"Den, ini handphonenya bunyi," ujar Bibi sambil memberikan ponsel kepada Adrian.


"Makasih, Bi."


Adrian buru-buru menjawab telepon itu karena telepon tersebut dari Alin.


"Hallo, Lin."


"Adrian, aku mau jawab pertanyaan kamu."


Adrian kebingungan, ia lupa pernah memberikan pertanyaan ke Alin. Jadi, ia memilih dia saja agar Alin menjelaskan pertanyaan apa yang disampaikan Adrian.


"Aku kayaknya suka sama kamu," jelas Alin.


Ya, Adrian baru ingat bahwa sebelumnya Alin menggantungkan perasaan Adrian. Tapi kini Alin menjawab dengan mengatakan bahwa dia juga menyukai Adrian.


"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya Adrian memastikan, lalu Alin mengiyakan ucapan Adrian.


Sudah dipastikan saat ini Adrian senangnya bukan main. Ia jadi tidak galau lagi karena Alin.


Mungkin sebentar lagi Adrian akan langsung saja melamarnya, karena Papah Adrian ingin sekali melihat anaknya menikah.


"Adrian, kalau gitu aku tutup ya teleponnya. Maaf ya kalau aku ganggu kamu."


"Gak ganggu kok."


"Ya udah kamu istirahat ya, jangan lupa makan obatnya biar kamu cepat sembuh."


"Iya."


Setelah Alin menutup teleponnya, Adrian langsung teriak-teriak karena saking senangnya.


"Kenapa sih?" bingung Papah.


"Adrian sama Alin pacaran lagi, Pah."


"Udah langsung nikah aja. Jangan pacar-pacaran."


"Iya, nanti Adrian mau langsung lamar Alin kok."


Gollll!

__ADS_1


Arya berteriak karena tim favoritnya berhasil memasukkan bola.


Entah mengapa Adrian merasa kalau hari ini merupakan hari keberuntungannya, karena yang pertama, ia dijenguk dan cintanya diterima oleh Alin. Dan yang kedua, tim bola favoritnya berhasil memasukkan bola ke tim lawan.


__ADS_2