Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali
Serangan Timotius


__ADS_3

Selesai berkata, Kawamatsu langsung mengambil ancang-ancang, bersiap menghadapi serangan Timotius.


"Bernyali, hari ini saya harus membunuhmu, dan mengambil alih Yayasan Teratai!" Sambil berkata, Timotius berjalan maju menyerang Kawamatsu. Sambil berkata, Timotius berjalan maju menyerang Kawamatsu.


"Kurang ajar!" Zeni menggebrak meja dengan keras, amarahnya memuncak.


Orang-orang yang hadir dikejutkan oleh amarah Zeni, melihat dia mengamuk, Bento yang berdiri disampingnya langsung melompat keluar, dan mendarat tepat di depan Zeni.


"Timotius, tidak memberi Tuan Zeni muka, kamu sedang cari mati!" Dari tubuhnya memancarkan energi bermusuhan yang sangat kuat, tulang-tulangnya bergemeretak.


Timotius menghentikan serangannya, mengernyitkan alis menatapnya. "Bento, jika hari ini terjadi pertarungan sengit, kamu pasti tidak bisa mengalahkan ku, lagi pula saya memiliki puluhan bawahan disini!"


"Huh, menang atau tidak, dicoba dulu baru jelas!" Bento mendengus dingin, langsung mengambil ancang-ancang.


"Tuan Zeni, saya tidak bermaksud bermusuhan denganmu, tapi kamu memaksa, yayasan Budi Suci tidak loyo, paling-paling kita bertarung habis-habisan, sampai waktunya semua orang yang berada disini jangan harap bisa keluar hidup-hidup." Mata Timotius memancarkan sinar dingin, kelihatannya memang sudah bersiap untuk bertarung mati-matian.


Wajah Zeni memerah, sekujur tubuhnya gemetar marah karena provokasi dari Timotius. Di kota Bandung tidak ada orang yang berani tidak memberinya muka, dan hari ini Timotius mempermalukannya.


Tetapi melihat puluhan anak buah Timotius yang beringas, berdiri dibelakangnya, Zeni agak serba salah, Timotius sudah merencanakan semua ini, jika hubungan mereka menegang, maka akan sulit untuk diselesaikan.


"Tuan Zeni, hari ini biarkan saya dengan Timotius menyelesaikan semua ini, kalian tidak usah turun tangan!" Kawamatsu tahu Zeni serba salah, selesai berkata, dia maju kearah Timotius dan menyerangnya.


Pukulan Kawamatsu melayang, terdengar suara angin melesat, sangat cepat, kekuatan yang dikeluarkan juga sangat besar. Dia tahu bertarung dengan Timotius, tidak boleh setengah-setengah.


Timotius melihat Kawamatsu menyerang duluan, air mukanya memancarkan senyum dingin, tidak menghindar, malah menghadang langsung menyambut serangan tersebut.


BAM...


Pukulan Kawamatsu menghantam keras di dada Timotius, sebuah serangan balik yang kuat, membuat Kawamatsu terpantul mundur tiga langkah, sebaliknya Timotius tidak bergerak sama sekali, bahkan tidak cedera sedikitpun.


Air muka Kawamatsu sedikit memucat, dengan tatapan terkejut dia memandang Timotius, kemampuan Timotius sudah meningkat banyak.

__ADS_1


"Hahaha, Kawamatsu, pukulanmu ini, hanya seperti kelitikan, jangan berhenti, lanjutkan seranganmu!" Timotius mendongak kepalanya tertawa terbahak-bahak, meremehkan Kawamatsu.


Kawamatsu termasuk lelaki sejati, mana bisa menerima hinaan dan tantangan Timotius di hadapan banyak orang.


Teriakan marah disertai dengan terjangan kearah Timotius, kali ini tangannya menggenggam sebuah bangku kayu.


Krak...


Bangku tersebut menghantam keras ke badan Timotius, dan langsung patah berkeping-keping, dan Timotius berdiri disana dengan sikap meremehkan, tidak bergerak.


"Kawamatsu! Aura negatif aku sudah berhasil ku latih, kamu tidak akan bisa melukaiku, sekarang giliranku!" Selesai berkata, sebuah tendangan melayang kearah Kawamatsu.


Kawamatsu tidak sempat menghindar, tendangan telak membuatnya terlempar keluar, darah segar tersembur dari mulutnya, tubuhnya tergeletak di tanah, rasa sakit yang tak tertahankan menyebabkan raut wajah Kawamatsu mengerikan.


Melihat keadaan Kawamatsu, Airish bangkit berdiri mengerutkan alisnya, tetapi dihalangi oleh Wildan. "Kamu jangan memaksakan diri, orang ini kelihatan sangat lihai, kamu mungkin saja bukan tandingannya!"


Wildan khawatir Airish bukan tandingan Timotius, takut dia cedera. Dia tidak tahu hubungan antara Airish dan Kawamatsu, seberapapun lihainya Timotius, Airish tidak akan berpangku tangan.


Bento mengangguk, mengepalkan tinjunya, dan langsung menerjang kearah Timotius. Menghadapi serangan Bento, Timotius tidak begitu santai lagi, juga tidak berani lagi berdiri tidak bergerak dipukul orang.


Perlu diketahui pukulan Bento, dilihat dari tenaga maupun kecepatan, lebih kuat dari Timotius, sudah mencapai level yang tertinggi.


Timotius memiringkan tubuhnya, berhasil mengelak pukulan Bento, tetapi tidak membalas. Sebaliknya berpaling kepada Zeni. "Tuan Zeni, sudah kubilang tidak ingin bermusuhan denganmu, kamu benar ingin memaksaku?"


Air muka Zeni keruh, membisu.


Timotius dengan mudah menghindari pukulannya, membuat Bento merasa kehilangan muka, amarah dihatinya membara. "Jangan banyak omong kosong, terima serangan ku!"


Sebuah serangan pukulan belakang, menyerang langsung kearah Timotius, jika pukulan ini mengenai sasaran, bisa diprediksi kepala akan langsung pecah.


Kedua mata Timotius membeku, dengan marah berkata. "Kalau memang begitu, saya tidak sungkan lagi!"

__ADS_1


Selesai berkata, Timotius mengulur tangan menangkap pergelangan tangannya, bergulat dengan Bento, lalu sebuah jurus kait kiri dilayangkan kearah Bento.


Bento kaget, memiringkan kepalanya, diikuti dengan sebuah tendangan, ingin memukul mundur Timotius.


Tetapi Timotius tidak berkelit, tendangan Bento mendarat di dadanya, getaran pantul yang sangat besar, membuat Bento langsung tergetar dan terlempar.


Dengan susah payah Bento menegakkan tubuhnya, melihat ekspresi kaget orang-orang yang menonton, amarahnya bangkit.


"Timotius, hari ini salah satu dari kita harus mati!" Sambil berkata, dia kembali menerjang ke arah Timotius.


"Berhenti!" disaat Bento akan menerjang kearah Timotius, mendadak sebuah bayangan muncul dihadapan Bento, langsung menghalanginya.


"Kamu bukan tandingannya, jika melanjutkan pertarungan ini tidaklah berarti, saya saja yang menghadapinya!" Airish berkata sambil menghalangi Bento.


Bento merasa terhina, berkata tegas "Minggir, dengan perawakan kamu yang seperti ini, jangan jangan hanya sebuah pukulan saja sudah mati!"


Saat ini Bento sudah kehilangan akal, mengucapkan perkataan yang kasar pada Airish, dia lupa identitas Airish, yang bahkan Zeni pun menaruh hormat.


Tetapi Bento tidak pernah menyaksikan kehebatan Airish, sehingga dalam hatinya, dia tidak begitu menaruh hormat pada Airish, dia hanya memberi muka pada Zeni saja.


Di dalam seni bela diri, perkembangan berlangsung secara bertahap. Airish hanyalah pemuda berusia dua puluh tahunan, bahkan jika sudah berlatih bela diri sejak berada di dalam perut ibunya, bisa seberapa lihai?


"Diam, keparat, berani bersikap kurang ajar pada Tuan Airish?" Zeni melihat Bento berkata kasar pada Airish, langsung memarahinya.


Perlu diketahui Zeni jarang memarahi Bento, dan tidak pernah menganggap Bento sebagai bawahannya, tetapi cara Bento berbicara pada Airish hari ini, membuatnya tidak berani membiarkan sikap Bento yang seperti ini.


Bento menutup mulut, tetapi dari matanya tersirat bahwa dia tidak menaruh respek pada Airish, dia takut pada Zeni, bukan pada Airish.


Saat ini Wildan maju dan menarik Airish, berkata. "Kamu jangan memaksakan diri, kamu tidak melihat bahkan Kawamatsu dan Bento juga bukan tandingannya? Kamu seseorang yang belajar ilmu pengobatan, jangan ikut campur disini!" Wildan masih mengira Airish hanya mengerti tentang pengobatan, yang lainnya tidak bisa.


"Cepat mundur, pukulan tidak bermata, ini bukan saatnya kamu memaksakan diri!" Bento melihat tujuan Airish adalah untuk pamer, dengan wajah menghina Bento berkata.

__ADS_1


__ADS_2