
Aulia, akhirnya memutuskan untuk menemani Maya sarapan pagi bersama dengan Venus. Hal ini Aulia lakukan karena Aulia berpikir jika memang sudah seharusnya Venus memiliki kekasih hati. Dan Aulia juga ingin melihat Venus bahagia bersama dengan pasangannya, tidak terus-menerus bersama dengan dirinya.
“Apa kamu menyukai Venus?” tanya Aulia terang-terangan kepada Maya.
Mimik wajah Maya langsung berubah menjadi merah padam. Maya juga mendadak salah tingkah sehingga minuman di dalam genggamannya tumpah membasahi celana Venus.
“Eh, maaf-maaf,” ucap Maya kikuk.
Dengan melihat wajah dan perilaku Maya, Aulia dapat memahami jika Maya beneran suka kepada Venus. Melihat sikap malu-malu Maya, Aulia hanya bisa menyembunyikan tawanya di balik wajah datarnya.
Maya segera mengambil tisu, ia juga dengan cepat bergerak mendekati Venus. Saat tangannya hendak membersihkan tumpahan di celana Venus. Tangan Maya mendadak tergelincir dan terjatuh mengenai titik pusat Venus.
'Apa ini! kok lembut dan sedikit berbeda,' batin Maya.
Wajah Venus memerah, kedua bola mata menatap tajam Maya, 'Apa yang dilakukan wanita ini. Kenapa posisinya sangat pas. Membuat aku... tidak-tidak. Aku harus waras,' batin Venus.
Aulia, dan Venus tercengang saat posisi tangan Maya sangat pas dengan bentuknya.
“Ouw! Sangat pro,” ucap Aulia.
Venus langsung mendorong tubuh Maya. Venus juga spontan berdiri, wajah Venus semakin memerah menahan malu di depan Aulia.
“Nona muda, saya permisi untuk ganti pakaian,” pamit Venus.
“Venus, a-aku minta…”
“Tidak perlu. Kamu hanya bisa membuat masalah saja,” putus Venus datar.
Venus pun melangkah pergi, membawa kedua kakinya dengan cepat meninggalkan Aulia dan Maya.
Melihat Venus sepertinya marah kepadanya. Maya segera menyusun sisa makannya.
“Padahal aku ingin lebih dekat dengannya. Tapi kenapa nasib ku selalu saja sial,” gumam Maya sedih.
Tidak ingin melihat Maya putus asa untuk mengejar cintanya. Aulia berpura-pura membantu Maya menyusun sisa makanan, sesekali senyum manis ia tunjukkan buat Maya.
“Kalau boleh aku tahu. Katanya awal kalian bertemu kamu melepas semua baju kamu di depan Venus. Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” tanya Aulia.
__ADS_1
Maya langsung menghentikan tangannya, wajah tertunduk malu.
“Itu semua karena aku sudah jatuh hati saat pandangan pertama dengan Venus. Aku melakukan hal itu karena ada yang mengatakan jika kamu jatuh hati kepada seorang pria, dan agar pria itu suka dengan kamu. Maka kamu ajak pria itu tidur dengan-mu. Namun…”
“Namun kenapa?” sela Aulia penasaran.
Maya semakin menunduk malu, kedua tangan menggenggam erat rok miliknya, “Aku malah membuat malu diriku sendiri. Waktu itu aku tidak menjaga kebersihan yang ada pada bagian tertutup. Karena aku pikir wajah cantik saja sudah cukup. Soal hutan belantara itu belakangan. Tapi setelah aku melihat ekspresi wajah Venus antara jijik dan takut. Venus juga meninggalkan aku begitu saja di kamar hotel. Akhirnya aku memutuskan untuk merawat dan membersihkan seluruh bagian dalam tubuhku,” sahut Maya mengingat kejadian itu.
“Setelah itu kenapa kamu masih terus mendekati Venus. Dan kenapa kamu juga masih mencintai mendiang suami ku dulu?” tanya Aulia penasaran.
Maya langsung bersujud, “Maafkan aku. Dulu aku berpikir, tidak dapat yang kampungan, anak kota pun jadi. Tapi setelah aku sadari, selama aku berteman dengan Andra dan mengejarnya. Hati Andra sudah terkunci untuk wanita manapun, dan hanya terbuka untuk kamu. Di sana aku pun mulai menyerah dengan perasaanku, dan aku memulai membuka perasaanku dengan pria lain. Tentang kenapa aku bisa mencintai Venus. Saat itu aku membawa Venus ke hotel, berharap Venus akan memilihku. Aku pun mulai melakukan aksi erotis. Namun, bukannya selera dengan perbuatan ku. Venus malah ketakutan. Di situ aku melihat jika Venus adalah pria yang baik, dan mampu menahan hasratnya. Dari situ aku mulai jatuh cinta sungguhan dengan Venus,” ucap Maya di akhir kalimat penuh cinta.
“Apa kamu yakin mencintai Venus dengan setulus hati kamu. Apa kamu tidak ingat pekerjaan Venus itu apa saja?” tanya Aulia.
Maya segera duduk tegak, kedua bola mata serius langsung memandang wajah datar Aulia.
“Tentu saja aku mengetahui pekerjaan Venus. Venus itu adalah seorang Asisten, penjaga, sekaligus kaki tangan kamu. Dan aku tidak masalah dengan hal itu,” sahut Maya serius.
Aulia mendekatkan wajahnya, “Benarkah! Apa kamu tidak cemburu jika Venus lebih memprioritaskan aku?” tanya Aulia kembali.
Aulia kembali mendekatkan wajahnya, “Karena kamu orang kepercayaan yang memegang usaha milik mendiang Suamiku di sini. Dan jika suatu saat kalian bersama, apa kamu sanggup di tinggal pergi selama beberapa bulan oleh Venus ke Luar Negeri?”
Maya mengangguk, “Sanggup. Kenapa tante Ningrum, dan nona besar Marsya mampu bertahan hidup jauh dari pasangannya. Tapi aku tidak,” sahut Maya serius.
“Ahh…yang benar kamu?”
“Serius. Aku tidak bohong!” sahut Maya serius.
Aulia menunjukkan kedua otot lengannya, “Kalau gitu semangat untuk mengejar cinta Venus!”
Setelah mendapat restu dari Aulia, wajah Maya langsung berbinar terang. Maya spontan memeluk tubuh Aulia.
“Terimakasih,” ucap Maya.
“Sama-sama,” sahut Aulia tenang.
Ternyata dari depan pintu belakang sudah berdiri, Maya, Ningrum, dan Venus. Mereka tersenyum haru melihat Aulia sudah berubah menjadi ceria.
__ADS_1
“Akhirnya Aulia kembali ceria,” ucap Ningrum senang.
“Iya, akhirnya Aulia bisa tersenyum dan tidak murung kembali,” sahut Marsya.
Melihat Aulia sudah tampak ceria, Ningrum berbalik badan, “Kalau gitu aku permisi pulang,” pamit Ningrum hendak melangkah pergi.
Marsya langsung menahan bahu belakang Ningrum, “Jangan pergi.”
“Kenapa?” tanya Ningrum.
“Aku tahu kalau kamu juga sedang bersedih. Makanya aku di sini ingin mengajak kamu berbincang dan melepas kerinduan Andra dengan duduk bersama Aulia,” bujuk Marsya.
Ningrum mengangguk, “Baiklah. Mari kita pergi bersama,” sahut Ningrum menerima tawaran Marsya.
Ningrum dan Marsya pun berjalan sambal bergandeng tangan mendekati Aulia.
“Hai, apa dua wanita tua ini boleh duduk bersama dengan kedua gadis cantik?” tanya Marsya.
“Mama…tante. Tentu saja boleh dong. Kenapa pula tidak boleh,” sahut Aulia.
Maya menepuk kedua sisi kanan dan kirinya, “Mari duduk bersama dengan kami. Dan membicarakan hal tentang wanita,” ajak Maya.
Ningrum dan Marsya duduk bersamaan dengan Aulia dan Maya. Terlihat dari raut wajah mereka saling melempar canda-tawa. Rasa kesedihan akan kehilangan sosok spesial di hati mereka terlihat perlahan memudar. Begitu juga saat melihat Aulia, rasa rindu Ningrum perlahan menghilang.
Di sisi lain ada 3 pasang mata pria menatap dari depan pintu. 3 pasang mata itu adalah milik tuan Agung, Tarjok, dan Venus.
“Akhirnya mereka bisa kembali ceria lagi,” ucap tuan Agung.
“Iya, di sini Ningrum tampak ceria, dan penuh kehangatan. Tapi setelah di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar mendiang Andra. Memeluk erat harum wangi sarung bantal Andra. Ingin rasanya aku membuatnya bahagia dengan kehadiran sosok bayi di dalam kandungannya. Tapi apalah daya, sampai sekarang Allah belum menjawab doa kami. Dan kami hanya bisa pasrah dengan hidup berdua hingga maut menjemput kami berdua,” sambung Tarjok.
Tuan Agung mengelus punggung Tarjok, “Kamu jangan bersedih seperti ini. Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan seorang anak. Jadi kamu jangan putus asa, semangat terus untuk membuat anak baru,” ucap tuan Agung memberi semangat.
“Anda benar juga. Aku memang sudah terus berusaha, sudah hampir dua bulan kami ngebut terus membuat…eh tunggu. Dua bulan?!”
“Jangan-jangan Ningrum?!”
...Bersambung...
__ADS_1