Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 125. Perbincangan


__ADS_3

"Pa, siapa pria tadi yang bersama Papa?” tanya Aulia. Kedua bola matanya melirik ke sisi jalan untuk mencari tahu siapa sosok pria tadi, dan kenapa dia sangat cepat sekali menghilang.


“Oh, pria yang tadi hanya bertanya tentang jalan saja, Nak. Katanya dia baru tinggal di sini jadi dia tidak tahu jalan mana menuju tempat tujuannya,” sahut tuan Agung berbohong.


“Tapi Pa, kalau Mama lihat-lihat dari samping pria memakai topi tadi itu adalah Azzuri. Kenapa Azzuri tidak melihat Ist..eh…” Marsya langsung menghentikan ucapannya saat mulutnya hendak kelepasan berbicara kalau Azzuri sebenarnya sudah menikahi Aulia tanpa diketahui Aulia.


Aulia menatap wajah Marsya. Dahi Aulia menyerngit, “Ist…apa Ma?” tanya Aulia penasaran dengan kalimat Marsya tadi.


Tuan Agung meraup wajah cemasnya, ‘Hampir saja,’ batin tuan Agung.


Tidak ingin membuat Aulia terus penasaran. Marsya mendekati Aulia, “Di luar sangat dingin. Mari kita masuk ke dalam mobil,” ajak Aulia menggenggam tangan Aulia, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Di susul tuan Agung ikutan masuk ke dalam.


“Pa, kita jalan-jalan sebentar untuk mencari makanan ringan ya! soalnya perutku masih lapar,” rengek Aulia merasa perutnya masih terasa kosong.


“Iya, tapi yang membelikanannya Papa saja ya! kamu dan Mama tunggu di dalam mobil nanti,” pinta tuan Agung.


“Tidak mau!” jawab Aulia membuang wajah dengan mulut mengerucut.


“Iya deh…iya,” sahut tuan Agung menyerah dengan sikap aneh Aulia.


Tuan Agung menghidupkan mesin mobilnya, lalu meninggalkan parkiran restauran. Baru separuh perjalanan pulang, Aulia tadi sedang duduk tegak, kini perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Marsya, dan tertidur.


“Azzuri..kamu jahat banget membuat aku hamil dan menanggung ini semua sendiri,” ngigau Aulia sambil tertidur.


Tuan Agung langsung memutar sedikit pandangannya ke belakang. Bibirnya menampilkan segaris senyuman, begitu juga dengan Marsya. Tidak ingin menggangguk tidur pulas putri kesayangannya, Marsya perlahan membenarkan posisi tidur Aulia. Meletakkan kepala Aulia dia atas pangkuannya.


“Pa..sepertinya Aulia hamil sepasang bayi kembar,” ucap Marsya menebak, saat melihat Aulia bisa makan nasi di campur madu sama sambal. Perubahan mood sekaligus dua karakter, kadang menjadi anak manja, kadang menjadi sedikit tomboi.


Tuan Agung melirik Marsya dari kaca spion tengah, “Mama benar. Kapan kita bisa mengecek jenis kelamin calon cucu kita?” tanya tuan Agung.


Marsya menundukkan pandangannya menatap wajah mulut Aulia sedikit tembem, “Nanti Mama tanya sama Aulia. Biasanya umur 5 bulan sudah kelihatan jelas jenis kelaminnya apa. Tapi kalau itu juga belum pasti Pa, karena rekaman medis kadang bisa salah,” sahut Marsya sedikit memelankan nada suaranya agar Aulia tidak terganggu.

__ADS_1


“Mama benar juga. Papa jadi ingat sewaktu Mama hamil dulu,” tuan Agung menggaruk kepala bagian belakangnya tak gatal, tawa pun terlihat jelas saat menatap wajah Marsya, “Maafkan Papa ya…Ma. Papa sempat menjadi Suami yang bodoh waktu pernah di hasut oleh mendiang Wardhani.”


“Pantes saja Aulia kadang bego, ternyata nurun dari kamu, Pa!” tuduh Marsya, tak lupa bibir tersenyum manis membuat jejeran gigi putih terlihat.


Karena keasyikan mengenang waktu dulu, mobil mereka pun sudah memasuki gerbang rumah, dan terparkir di garasi mobil.


“Loh! Venus sudah pulang,” ucap tuan Agung melihat mobil Venus sudah terparkir rapih di dalam garasi.


“Mungkin dia lelah kali Pa,” sahut Marsya. Marysa mengalihkan pandangannya ke Aulia, “Aulia…bangun Nak,” panggil Marsya menggoyang sedikit tubuh Aulia.


Bukannya bangun, Aulia malah melingkarkan kedua tangannya di tubuh langsing Marsya, “Jangan pergi,” mengigau Aulia entah bermimpi tentang siapa.


“Sudah, jangan di banguni. Biar Papa saja yang membawa Aulia masuk ke dalam,” ucap tuan Agung. Tuan Agung turun, membuka pintu mobil, dan langsung menggendong putrinya di depan.


“Papa kuat menggendongnya?” tanya Marsya saat melihat kedua tangan tuan Agung gemetar.


“Sepertinya kita besok harus membeli kursi roda, Ma. Papa pikir Aulia ringan, ternyata putri kecil kita sangat berat. Lebih berat dari Mama. Kalau gitu Papa bawa Aulia dulu ke dalam,” ucap tuan Agung sedikit menekan nada suaranya karena menahan beban berat tubuh Aulia.


Marsya mengambil semua barang belanjaan miliknya, dan juga Aulia. lalu Marsya berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah meletakkan barang belanjaan miliknya ke kamar, Marsya berjalan menuju kamar Aulia untuk meletakkan barang belanjaan milik Aulia.


“Pa..tidurnya sangat nyenyak ya,” ucap Marsya saat melihat Aulia tidak terganggu saat tuan Agung memindahkan tubuhnya ke atas ranjang.


“Iya, macam kebo!” sahut tuan Agung menatap putrinya sedang ngelungker memeluk guling.


“Venus kemana ya, Pa?” tanya Marsya tidak melihat Venus menyambut kedatangan mereka.


“Tidak tahu, coba Papa lihat dulu di kamarnya,” sahut tuan Agung. Tuan Agung berbalik, kakinya melangkah meninggalkan kamar Aulia.


Sesampainya di depan pintu kamar Venus. Tuan Agung mendengar suara rintihan Venus dari dalam kamarnya. Tuan Agung langsung mendobrak pintu kamar Venus.


“Kamu kenapa?” tanya tuan Agung cemas dari depan pintu, menatap Venus sedang duduk di bawah ranjang.

__ADS_1


Venus menolehkan wajahnya, terlihat telapak tangannya mengeluarkan darah, “Hanya luka kecil tuan,” sahut Venus berbohong.


Tuan Agung segera mempercepat langkah kakinya, ia langsung berjongkok di hadapan Venus. Tuan Agung juga melilitkan perban sudah tersedia di atas ranjang Venus.


“Kenapa kamu bisa terluka?” tanya tuan Agung cemas.


“Tadi saat di Kafe ada sekelompok geng berkelahi di depan Kafe. Saat saya hendak mengamankan sisa pengunjung yang duduk di teras Kafe untuk masuk ke dalam Kafe. Saya ingin di serang dari salah seorang wanita yang ada di dalam geng tersebut. Saat wanita itu hendak menusuk saya, refleks tangan saya menahan pisau tersebut. Melihat saya terluka geng tersebut meninggalkan saya begitu saja,” jelas Venus mengingat kejadian naas menimpa dirinya.


Tuan Agung menarik nafas lega, lalu menatap Venus, “Untung saja hanya luka di tangan tidak di bagian lainnya,” gumam tuan Agung cemas.


“Tuan, apakah Anda bisa menjahitkan luka di tangan saya?” tanya Venus, tangannya memberikan benang, dan jarum.


“Kenapa tidak ke rumah sakit saja?” tanya tuan Agung.


“Jika saya bisa mengatasi ini sendiri, kenapa saya harus meminta pihak rumah sakit yang menanganinya,” sahut Venus.


Tuan Agung mengambil botol alkohol di samping kotak P3K, tuan Agung membuka tutup botol dan menyiram luka Venus.


“Akh!” keluh Venus menahan perih.


“Jika sakit kenapa kamu tidak mau aku bawa ke rumah sakit?” tanya tuan Agung, tangannya mengambil jarum, dan benang.


“Saya tidak suka rumah sakit,” sahut Venus. Wajahnya di tekuk menahan sakit saat jarum menyentuh kulit ia buang ke sisi kanan.


“Venus, apakah kamu tidak ingin menikah?” tanya tuan Agung karena merasa jika umur Venus sudah semakin mendekati kepala 3.


Venus hanya menggeleng.


“Sudah selesai. Kalau gitu kamu istirahat saja,” perintah tuan Agung. Tuan Agung pun melangkah pergi meninggalkan kamar Venus.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2