Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 127. KEJUJURAN AULIA pada Vanesha


__ADS_3

Aulia, dan Venus sudah sampai di ruang rapat. Namun, Aulia dan Venus tidak melihat klien di dalam ruangan.


“Venus, apa kamu salah melihat jam pertemuan?” tanya Aulia.


“Tidak, saya sangat yakin jika wanita itu kemarin pagi sudah membuat janji kepada saya untuk bertemu pagi ini juga karena, dia akan pergi siangnya untuk mengantar sesuatu,” jelas Venus, tangannya memberi bukti e-mail masuk ke Aulia.


“Apa dia membohongi kita?” tanya Aulia penasaran.


“Sebentar, coba aku tanya,” Venus mengambil benda pipih nya dan menelpon nomor Perusahaannya.


Tutt!tut!!


📞[ “Halo selamat Pagi. Kami dari PT. SHM. Ada yang bisa kami bantu?” ] tanya seorang wanita dari sebrang.


📞[ “Selamat pagi juga. Saya adalah Sekretaris nona muda Aulia Laksmana. Saya ingin bertanya kenapa nona Anda tidak datang menemui kami?” ]


📞[ “Oh, saya mohon maaf. Saya lupa menyampaikan pesan nona muda kepada Anda. Nona muda mengatakan jika dia habis mengalami kecelakaan, dan tidak bisa bertemu dengan nona muda Aulia. Dan rapatnya harus di batalkan. Sekali lagi saya mohon maaf, tuan.” ] sahut wanita tersebut dari sebrang.


📞[ “Oh. Lain kali jangan seperti itu. Saya tutup dulu panggilan telponnya.” ] ucap Venus kecewa. Venus langsung menutup panggilan teleponnya.


“Kita di bohongi ya?” tanya Aulia sudah mendengar percakapan Venus dan wanita tersebut.


“Benar. Saya begitu bodoh karena sudah mempercayai seseorang seperti mereka,” Venus sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Aulia, “Maafkan saya, nona muda. Karena saya tidak becus memeriksa e-mail dari Perusahaan yang mengirim pertemuan. Nona muda jadinya repot-repot ikut ke sini,” sambung Venus merasa bersalah.


Aulia berbalik, “Haah…sebagai gantinya, kamu harus temani aku sarapan,” ucap Aulia berpura-pura marah.


“Baik, saya akan temani nona muda!” sahut Venus semangat. Ia langsung berdiri tegak, kakinya dengan cepat melangkah, dan membuka pintu ruangan, “Mari saya hantarkan.”

__ADS_1


Aulia pun berjalan keluar ruangan, diikuti Venus berjalan di belakangnya. Hati dan pikirannya bertanya-tanya tentang sosok pria mirip Azzuri. Sesampainya di depan lift, Aulia menghentikan langkah kakinya.


“Nona muda kenapa berhenti?” tanya Venus bingung.


Aulia memandang wajah Venus, “Venus, apa kalau kita terus memikirkan satu nama. Lalu saat kita berpapasan dengan seseorang yang mirip dengan orang itu. Apa benar kita bisa melihat wajah orang itu menjadi wajah seseorang yang sedang kita pikirkan?” tanya Aulia mengingat saat ia pergi menuju Perusahaan miliknya, mobil Aulia berpapasan dengan Azzuri.


“He he he…maaf nona muda. Untuk soal itu saya belum pernah mengalaminya, dan saya tidak pernah memikirkan siapa pun kecuali nona muda. Jika nona muda ingin bertanya tentang cinta, sebaiknya nona muda bertanya sama tuan dan nona besar. Atau nona muda bisa bertanya langsung sama tuan muda Alexdian,” sahut Venus jujur.


Aulia menekan tombol lift, lalu ia menghela nafas panjang, “Salah bertanya,” gumam Aulia. Kakinya melangkah masuk ke dalam, begitu juga dengan Venus.


Venus berdiri di belakang Aulia. Matanya terus tertuju kepada perut langsing Aulia tampak membuncit, ‘Waktu sepertinya begitu cepat berlalu. Mudah-mudahan nona muda, dan bayinya sehat selalu dan selamat sampai lahiran,’ batin Venus mendoakan Aulia.


Pintu lift terbuka. Aulia, dan Venus pun melangkah keluar lift menuju tempat parkiran mobil. Sesampainya di tempat parkir, Venus membuka pintu mobil. Aulia pun masuk, Venus juga masuk. Mobil di kendarai Aulia dan Venus kini perlahan keluar parkiran Perusahaan menuju tempat makan terdekat karena Aulia saat ini sedang lapar berat.


Karena Kafe tidak jauh dari Perusahaan Aulia. Mobil mereka pun kini sudah terparkir di tempat parkir Kafe tersebut. Aulia, dan Venus kini berjalan masuk ke dalam Kafe. Saat ingin mencari tempat duduk, Aulia melihat ada sosok tuan muda Alexdian bersama seorang wanita cantik.


“Baik nona muda,” sahut Venus. Ia langsung melangkah ke tempat pemesanan. Sedangkan Aulia berjalan mendekati meja tuan muda Alexdian.


“Tuan muda,” sapa Aulia berdiri di samping meja tuan muda Alexdian.


“Aulia,” sapa Vanesha.


Karena kepergok berduaan bersama calon tunangannya, tuan muda Alexdian membuang wajahnya ke sisi kanan dengan tubuh sedikit membungkuk ke bawah.


“Apakah tuan muda sakit perut?” tanya Venus tiba-tiba sudah berdiri di sisi kanan tuan muda Alexdian.


“Kamu!” teriak tuan muda Alexdian, terkejut saat melihat Venus sudah berdiri di sampingnya. Tangannya mengelus dada kirinya, “Hampir saja jantungku lepas,” gumam tuan muda Alexdian.

__ADS_1


Aulia menarik kursi di sisi kanannya, dan menepuk bangku kosong, “Venus, silahkan duduk di sampingku,” pinta Aulia mempersilahkan duduk di bangku sebelahnya.


“Terimakasih nona muda, pesanan nona muda sebentar lagi akan datang,” ucap Venus duduk, dan memberitahu Aulia.


“Terimakasih kembali, Venus,” sahut Aulia memberikan senyum manis kepada Venus.


Melihat keakraban Aulia, dan Venus. Vanesha menjadi bingung, apakah mereka majikan dan nona. Atau sepasang ke kasih?


“Apakah pria ini kekasih kamu, Aulia?” tanya Vanesha kepada Aulia.


Aulia menggeleng, “Tidak,” tangan kanan mengelus bahu kiri Venus, dan melanjutkan ucapannya, “Dia adalah Venus. Sekretaris ku, sekaligus malaikatku!” puji Aulia di kalimat terkahir.


Perasaan Venus melayang ke tingkat awan saat mendengar pujian dari Aulia. Jarang-jarang Aulia memuji dirinya. Seumur hidup baru kali ini dapat pujian.


“Ngomong-ngomong kapan kalian menikah?” tanya Aulia penasaran.


Vanesha menatap wajah malu tuan muda Alexdian, “Tidak tahu. Alexdian saja, masih belum menerima ku sebagai calon tunangannya. Kalau aku, menunggu sampa ia mengatakan ‘IYA’ baru aku menikah dengannya,” jelas Vanesha tak ingin memaksakan perasaan tuan muda Alexdian untuk menerima dirinya sebagai calon tunangannya.


Aulia melirik ke tuan muda Alexdian, “Vanesha…kalau aku boleh jujur ya. Sebaiknya kamu cari pria yang lebih baik dari tuan muda Alexdian. Dia ini, adalah pria yang ingin merusak rumah tangga Papa dan Mama ku. Sampai sekarang saja dia masih terus mengejar Mama,” ceplos Aulia.


Sejenak wajah Vanesha berubah menjadi suram. Karena Aulia terlihat seperti gadis lugu dan baik. Vanesha juga sudah mengetahui hal itu. Vanesha mencoba meredam kecemburuannya. Senyum manis segaris terlihat di bibir tipis merah mudahnya, “Aku sudah tahu. Namanya, seorang pria dewasa. Dan dia juga lebih tua dariku, jadi wajar saja jika tuan muda Alexdian masih menyimpan perasaan kepada wanita, atau cinta pertamanya. Tentang mencari pengganti buat aku jadikan calon Suami. Aku rasa aku tidak memilikinya, karena aku juga merasakan cinta pertama saat masih kecil melihat tuan muda Alexdian datang ke pesta ulang tahun ku yang berumur 12 tahun. Dari situ aku mulai menaruh hati kepadanya,” jelas Vanesha tentang perasaannya. Dan saat pertemuan pertama bersama dengan tuan muda Alexdian.


“Wah…sangat keren. Tapi…apa kamu mau menikah dengan pria tua bangka seperti tuan muda Alexdian?” tanya Aulia, ucapannya menusuk hati tuan muda Alexdian saat berkata ‘tua bangka’.


Vanesha mengangguk, “Tentu saja aku mau, dan sangat yakin kepadanya,” jelas Vanesha semangat.


Percakapan terhenti saat pelayan mengantarkan makanan, dan minuman pesanan Aulia, Venus, dan lainnya. Aulia, Venus, tuan muda Alexdian, dan Vanesha menikmati santap sarapan paginya. Dengan tawa sesekali menemani mereka

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2