Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 102. Bandara


__ADS_3

1 minggu sudah berlalu Andra meninggalkan Aulia untuk selamanya di Dunia ini. Karena Aulia masih banyak pekerjaan, dan penampilan untuk pementasan launching perhiasaan model baru sudah dekat. Aulia akhirnya memutuskan untuk pamit pulang ke Paris.


Siang ini juga tuan Agung, Marsya, Tarjok, dan Ningrum mengantar Aulia ke Bandara.


Sambil menunggu pesawat akan terbang, Aulia menyempatkan diri melepaskan rindu sebelum kembali ke Negara orang.


Kini Aulia membungkukkan sedikit tubuhnya, dan menempelkan daun telinganya ke perut sedikit membuncit Ningrum, “Hai, adik kecil yang telat lahir. Hari ini mantan Kakak ipar kamu akan kembali ke Negera tempat ia mencari uang. Dan kamu jangan nakal di dalam perut tante Ningrum. Satu lagi, cepat lahir ya, agar aku bisa membawa kamu ke sana untuk menemani aku kerja,” ucap Aulia. Aulia juga mencium perut Ningrum, “Muach…mantan Kakak ipar kamu pergi dulu.”


“Jangan bilang mantan Kakak ipar dong Aulia. Genap 'kan saja menjadi Kakak, agar anak tante memliki Kakak," sahut Ningrum.


Aulia hanya nyengir.


“Kamu hati-hati di sana yang sayang. Jangan terus-menerus bersedih agar kamu bisa fokus bekerja. Ingat! Kalau kamu terus bersedih, Andra yang melihat kamu dari atas akan ikutan sedih. Apa kamu mau dia ikutan bersedih?” tanya Marsya.


Aulia membusungkan dadanya, dan memperlihatkan kedua otot lengannya, “Tentu saja aku tidak akan bersedih. Sekarang aku harus fokus kepada adik kecil yang telat lahir. Karena Andra sudah meninggalkan kita semua terlebih dahulu, maka aku akan menggantikan sosok Andra jika adik kecil lahir ke dunia,” ucap Aulia tulus.


Tuan Agung mendekati Aulia, dan mengelus puncak kepala putri kesayangannya, “Karena kamu akan menjadi Kakak sekaligus Abang, jadi Papa harap kamu akan menjadi wanita yang lebih kuat lagi setelah ini. Satu pesan Papa, kalau kamu sedang mengalami masalah kamu harus segera menghubungi Papa, dan jangan di pendam sendiri,” pesan tuan Agung.


Aulia mengangguk.


“Kalau gitu kamu harus segera pergi sayang. Karena 10 menit lagi pesawat kamu akan segera berangkat,” ucap Marsya.


“Iya Ma. Kalau gitu aku pamit pergi.”


Aulia menyalim tangan Tarjok, Ningrum, tuan Agung, dan Marsya. Begitu juga dengan Venus tak mau kalah, ia juga ikut menyalim.


“Aku pergi dulu, daaa!!” pamit Aulia melambai ke tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok.


“Saya pamit juga tuan, dan nona,” ucap Venus berpamitan ke tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok.


Karena pesawat akan terbang dalam waktu 10 meni, Aulia, dan Venus melangkah dengan cepat meninggalkan tuan Agung, Marsya, Ningrum dan Tarjok.


Melihat Aulia pergi meninggalkan tanah air dan akan pulang dalam beberapa bulan sekali. Marsya tadi terlihat tegar kini perlahan bersedih, Marsya menjatuhkan tubuhnya di badan tuan Agung.


“Mama kenapa?” tanya tuan Agung cemas.


“Huuaa…hiks!hiks. Putri ku kasihan, aku tidak sanggup melihat dia berpura-pura tegar seperti itu di depan kita semua. Cinta pertamanya kini sudah pergi, dan hanya bisa di kenang dan di kemas menjadi ‘CINTA MASA KECIL PRESDIR CANTIK’. Kenapa kebahagian itu harus direnggut secepat ini..hiks..hiks!” rengek Marsya.


Melihat Marsya menangis, Ningrum sedang sensitive bawaan sedang mengandung ikutan menangis.

__ADS_1


“Huaah…hiks..hiks. Andra. Kenapa kamu meninggalkan Aulia dan juga kami semua. Huah!!” tangis Ningrum tersedu-sedu.


Melihat para Istri menangis tersedu-sedu. Tuan Agung dan Tarjok bingung. Mereka saling memandang, lalu menghela nafas ringan.


Tarjok langsung memeluk tubuh Ningrum, “Sayang, kenapa kamu baru menangis sekarang. Apa kamu tidak malu dilihatin banyak orang?”


“Tidak, buat apa aku malu,” ketus Ningrum.


“Oh ya, sepertinya langitnya sangat cerah. Apa kamu tidak ingin berbelanja, atau makan dan minum yang segar-segar?” bujuk Tarjok.


Bujukan Tarjok akhirnya berhasil. Ningrum kini berhenti menangis, dan berubah menjadi ceria. Sedangkan Marsya, dirinya hanya bisa tercengang saat melihat Ningrum tampak nangis seperti anak kecil.


Mendengar Tarjok membujuk Ningrum dengan cara berjalan-jalan. Marsya langsung melirik ke tuan Agung.


“Pa..”


“Iya Papa mengerti maksud Mama. Mari kita ikut pergi bersama,” sambung tuan Agung.


Tuan Agung, Tarjok, Ningrum, dan Marsya, akhirnya memutuskan untuk pergi. Mereka pun melangkah pergi meninggalkan Bandara.


.


Aulia sedang bersantai di dalam pesawat sambil membaca novel berjudul ‘SUAMI KE-13’. Venus sendiri meminta izin ke kamar mandi.


Saat Venus beranjak dari kursinya, ada seorang pria memakai jaket kulit, topi, dan kaca mata hitam datang dan mengambil alih bangku milik Venus.


Sontak saja kehadiran pria tersebut membuat Aulia terkejut, “Siapa kamu?!”


“Siapa aku tidak penting,” sahut pria tersebut datar.


“Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal suara ini. Kamu pasti Azzuri Mahendra!” ucap Aulia.


Mendengar ucap Aulia, pria tersebut hanya bisa mengulas senyum tipis. Ia pun menyandarkan tubuhnya seolah ingin tidur, dengan menurunkan topinya ke wajah.


Merasa kesal karena pria tersebut tidak menjawab ucapan Aulia. Aulia menyimpan bukunya, lalu membuka topi pria tersebut, dan membuangnya ke jalan.


“Benar dugaan ku. Ternyata kamu, Azzuri Mahendra. Mau apa kamu mengikuti aku terus?” tanya Aulia sedikit meninggikan suaranya.


Melihat semua penumpang melirik ke arahnya. Azzuri langsung membungkam mulut Aulia dengan jari telunjuknya, “Ssstt! Suara kamu sudah mengganggu penumpang lainnya,” ucap Azzuri sedikit berbisik.

__ADS_1


Aulia menepis tangan Azzuri, “Aku tanya kenapa kamu selalu mengikuti aku?!” tanya Aulia ikutan berbisik.


Azzuri tidak memperdulikan omelan Aulia. Azzuri malah memilih tidur kembali, dengan kedua tangan di lipat di depan dada.


“Aku sedang berbicara kepada kamu!”


“Kalau aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaan kamu. Aku mau tidur, karena setelah setelah pesawat ini turun aku ingin pergi rapat,” sahut Azzuri tenang.


“Iiihhhh!!!” gerutu Aulia menahan emosi.


“Apakah tuan Azzuri menyakiti nona muda?” tanya Venus baru saja tiba.


“Tidak, aku hanya ingin pindah dari sini, dan kamu silahkan duduk di sini!” perintah Aulia.


“Baik,” sahut Venus patuh.


Saat Venus dan Aulia hendak menukar tempat duduk, seorang pramugari mendekati Venus.


“Maaf tuan. Karena pesawat sebentar lagi akan mendarat, sebaiknya tuan kembali ke tempat duduknya dan jangan lupa memasang sabuk pengamannya,” perintah pramugari tersebut.


“Apa aku boleh pindah?” tanya Aulia ke pramugari.


“Maaf nona, sebaiknya Anda tetap duduk di bangku Anda karena pesawat akan mendarat,” sahut pramugari sopan.


“Baik,” sahut Aulia patuh.


Aulia pun duduk kembali dengan patuh.


“Kalau gitu saya duduk di bangku belakang saja. Jika nona muda membutuhkan saya, nona muda lambaikan tangan,” ucap Venus.


“Iya,” sahut Aulia.


“Kamu tenang saja, aku tidak selera melakukan apa pun dengan Aulia di tempat umum,” sambung Azzuri.


“Mau di tempat umum atau tidak, saya harap itu tidak akan terjadi. Kalau gitu saya permisi pergi,” ucap Venus.


Karena pesawat akan mendarat. Venus duduk di bangku belakang.


“Apa yang sedang direncanakan oleh tuan muda Azzuri buat nona muda. Kalau seperti ini ceritanya, aku tidak boleh jauh-jauh dari nona muda. Dan aku harus tetap waspada dengan gerak-gerik tuan muda Azzuri. Mudah-mudahan nona muda baik-baik saja sampai pesawat ini mendarat,” gumam Venus.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2