Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 44. Kejujuran tuan Agung


__ADS_3

"Terimakasih," ucap Aulia menundukkan wajahnya.


"Sama-sama," sahut Azzuri tersenyum tipis, kedua kaki melangkah pergi meninggalkan ruang rawat inap Aulia.


Dokter Robin berjalan mendekati ranjang rawat inap Aulia sambil berkata, "Baru kali ini saya melihat tuan Azzuri Mahendra perduli dengan orang lain!" bola matanya mengarah ke tuan Agung, "Saya rasa tuan muda tertarik dengan putri Anda, tuan Agung!"


Sejenak tuan Agung melirik ke Andra seperti sedang memendam sesuatu, bola mata tuan Agung kembali melirik ke Dokter Robin, "Jika menyukai seseorang itu sudah pasti. Tapi Aulia sekarang harus tetap fokus dengan kesembuhannya. Dan tidak boleh berpikir berpacaran atau yang lainnya," tangan kanan membelai puncak kepala Aulia, "Bukan begitu sayang?"


Aulia mengangguk, "Tentu. Lagian aku juga sudah memiliki seseorang yang sudah memenuhi hatiku dari kecil," sahut Aulia semangat.


"Kamu kenapa di sana saja. Andra, mari ke sini!" ucap Marsya berjalan ke arah Andra. Marsya segera merangkul Andra, "Dokter, pria ini adalah...."


"Jangan katakan apa pun tante," sela Andra menggenggam erat punggung tangan Marsya.


"Baiklah," tangan kiri mengelus lembut punggung Andra, "Anak muda zaman sekarang memang suka malu-malu!"


"Ha ha. Tidak seperti kita dulu ya, Ma!" sambung tuan Agung.


"Apaan sih Pa! kalau versi Papa dan Mama sudah jauh berbeda," sahut Marsya sedikit malu.


"Sepertinya hari ini, hari yang sangat menyenangkan. Kalau gitu saya akan memeriksa nona muda," ucap Dokter Robin, tangan kanan mengeluarkan senter sebesar pulpen. Dokter Robin mendekati Aulia, "Saya periksa dulu, ya!" izin Dokter Robin membuka sedikit kelopak mata Aulia.


Saat terkena bias lampu kedua kelopak mata dan mata Aulia tidak merespon apa pun. Dokter Robin segera berdiri, menghela nafas ringan.


"Kenapa Dokter?" tanya Marsya.


"Saya harap ini akan segera berakhir. Kalau kondisi nona muda sendiri sudah membaik, tinggal memulihkan kebutaan semata saja. Sebelum pulang saya juga akan memberikan obat, jangan lupa di minum. Agar nona muda bisa kembali melihat!" ucap Dokter Robin memberikan sedikit semangat.


"Benarkah!" sahut Aulia semangat.

__ADS_1


"Tentu. Semakin nona muda bersemangat untuk sembuh, maka akan semakin bagus buat pemulihan nona muda," kedua bola mata beralih ke tuan Agung dan juga Marsya, "Hari ini nona muda sudah bisa pulang. Saya akan memberikan resep obat dan juga Vitamin."


"Terimakasih ya Dokter," ucap taun Agung.


"Sama-sama. Untuk memastikan kesembuhan kedua bola mata nona muda, jangan lupa seminggu sekali kontrol ke sini. Agar kita bisa mengetahui perkembangannya," tubuh sedikit membungkuk, "Saya pamit dulu," sambung Dokter Robin, kedua kaki melangkah pergi. Dan di susul perawat di belakangnya.


"Tante, aku permisi keluar dulu," ucap Andra membuka pintu.


"Biar Om temani kamu!" sahut tuan Agung.


"Tidak perlu Om," ucap Andra menolak lembut.


"Kebetulan Om ingin minum kopi. Apa kamu suka kopi?" tanya tuan Agung berusaha menerima ajakannya.


"Tidak terlalu," sahut Andra singkat.


Tuan Agung membelai puncak kepala Aulia, "Papa keluar sebentar," beralih ke Marsya, tak lupa satu ciuman manis mendarat di pipi kanan, "Papa keluar dulu. Mama mau dibelikan apa?"


"Ha ha. Mama ini malu-malu," ucap Aulia dengan bibir tertawa renyah.


Kedua bola mata Andra membulat sempurna. Rasa amarahnya seketika mereda saat mendengar tawa dan senyum di wajah Aulia, 'Bagaimana aku bisa marah kepada kamu. Kamulah wanita yang aku cintai dari aku kecil. Pertama aku melihat tangan mungil menggenggam tanganku, dengan senyum manis di wajah polos kamu. Saat itu juga aku mulai menyadari jika kamu adalah pelangi di hidupku. Meski aku tahu sekarang kamu sedang mengkhianati aku, tapi aku sangat yakin itu semua pasti ada alasannya. Satu-satunya kunci dari jawaban atas pertanyaan ku, pasti terletak pada tuan Agung.'


"Sudah, mari kita pergi!" ucap tuan Agung memecah pikiran Andra.


"Oh...mari Om!" sambut Andra ikut pergi meninggalkan ruang rawat inap Aulia.


Kedua kaki tuan Agung dan Andra terus melangkah di koridor menuju kantin rumah sakit. Kedua langkah itupun terhenti tepat di depan sebuah mesin kopi.


Tuan Agung mengambil kopi buat Andra dan dirinya. Tangan kanan berisi kopi mengulur, "Minum dulu biar segar," ucap tuan Agung.

__ADS_1


"Terimakasih," sahut Andra, kedua mata melihat kopi hitam di dalam wadah gelas plastik kecil.


"Maafkan Om," ucap tuan Agung memecah keheningan.


"Ma...maaf atas apa ya Om?" tanya Andra bingung.


Tuan Agung mengarahkan tangan kanan ke kursi, "Sebaiknya kita duduk di sana dulu. Nanti akan Om beritahu," ajak tuan Agung menuju ke kursi paling ujung.


Andra pun melangkahkan kedua kakinya. Andra dan tuan Agung pun duduk di kursi tersebut.


"Om mau bilang apa?" tanya Andra penasaran.


Tuan Agung menarik nafas, setelah merasa hati sedikit lega. Tuan Agung mulai berbicara, "Kurang lebih seminggu yang lalu Aulia menelpon Om, Aulia berkata jika dirinya telah menyatakan cinta kepada Azzuri Mahendra. Aulia bilang semua itu iya lakukan karena ingin melindungi dirinya sendiri dan diri Om dari musuh yang tak terlihat. Termasuk Azzuri Mahendra, adalah salah orang yang ingin membalaskan dendam nya melalui Aulia...."


"Kenapa mereka selalu mengincar Aulia?" tanya Andra bingung.


"Karena mereka tahu jika Marsya dan Om sangat menyayangi Aulia. Musuh tersembunyi sekarang terlihat karena bisnis berlian milik Aulia dan bisnis milik Om semakin berkembang pesan. Mereka iri dengan kesuksesan yang Om dan Marsya miliki-" tuan Agung menggantung ucapan, tangan kanan memukul pelan bahu Andra, "Sedangkan Azzuri sendiri. Dia adalah seorang pengusaha yang terkenal licik dan juga sedikit kejam. Awalnya Aulia tidak ingin menyatakan cinta kepada Azzuri. Tapi...." tuan Agung melambai, "Akh sudahlah, Om berharap kamu jangan kecewa dengan Aulia. Dan kamu juga harus yakin jika di hati Aulia hanya ada diri kamu?" sambung tuan Agung memutus ucapannya.


"Bagiamana jika Azzuri tidak mau melepaskan Aulia?" tanya Andra spontan.


"Itu tidak akan mungkin terjadi. Aulia pasti punya cara untuk melepaskan diri dari pria seperti Azzuri!" sahut tuan Agung penuh keyakinan.


"Baiklah, aku percaya dengan ucapan Om. Dan aku juga akan tetap berjuang untuk hidup bersama dengan Aulia," ucap Andra terdengar tegas.


Tuan Agung memukul pelan punggung Andra, "Inilah yang Om suka dari kamu. Om sangat yakin jika suatu saat kalian pasti akan segera bersama. Dan semua ketegangan dan kekacauan ini pasti akan cepat selesai. Apa kamu tidak masalah jika dihadapkan dengan masalah yang serumit ini?"


"Kenapa tidak. Justru masalah inilah yang akan membuat aku menjadi pria pantang menyerah. Aku juga berjanji akan membuat hidup Aulia bahagia!"


"Anak muda yang sangat-sangat penuh dengan semangat. Salut Om!" puji tuan Agung.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2