Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 80. Pembukaan


__ADS_3

Kopi sudah tersaji di dalam cup kopi, beberapa dessert kecil juga sudah tersusun rapih di dalam sebuah wadah kecil.


Setelah semua persiapan untuk menyambut pembukaan kafe sudah siap, mereka tinggal menunggu jam pembukaan kafe 10 menit lagi, tepat pukul 17:00 sore dini hari. Andra, Aulia dan 9 karyawannya berdiri mengeliling meja masak dapur.


Andra sebenarnya sangat gugup dan panik memikirkan pembukaan untuk usaha baru di tempat dan Negara berbeda pula. Tapi rasa gugup dan paniknya ia sembunyikan saat melihat Aulia lebih panik dan gugup dari dirinya. Bola mata Andra terus tertuju pada Aulia terus mondar-mandir mengelilingi mereka semua.


“Aulia,” panggil Andra lembut.


Aulia tidak menggubris panggilan Andra. Aulia hanya berfokus pada rasa gugup dan cemas saat pembukaan nanti. Aulia terus memegang dagunya sembari berkata, “Apa yang harus aku katakan ketika ingin menarik pelanggan untuk masuk ke dalam kafe ini. Bagaimana caraku merayu mereka, dan bagaimana caraku….”


“Aulia, kenapa kamu panik. Kamu tenang saja, pembukaan kafe tidak seperti kita melakukan rapat besar. Tentang pembukaan biar kami para lelaki yang mengambil ahli. Tuan putri hanya boleh duduk santai dan melihat para lelaki tampan merayu para pejalan kaki untuk singgah ke kafe,” bola mata Andra mengarah pada 9 karyawannya, “Bukannya begitu boy?” sambung Andra bertanya kepada 9 karyawannya.


“Tentu. Serahkan semuanya pada lelaki tampan seperti kami!” sahut 9 karyawan dengan serentak.


Teng!teng!


Jam menunjukkan pukul 17:00 sore.


Andra menarik nafas, kedua bola mata memandang ke 9 karyawannya, “Mari kita berdoa sesuai Agama kita masing-masing. Doa di mulai,” perintah Andra menundukkan kepalanya.


9 karyawan menundukkan kepalanya, mereka berdoa sesuai Agama mereka masing-masing.


Andra menaikkan kepalanya, “Doa selesai, sekarang mari kita satukan tangan kita sebagai penyemangat untuk pembukaan hari ini,” Andra mengulurkan tangannya.


9 karyawan termasuk Aulia mengulurkan tangannya dan menumpukkan nya ke atas punggung tangan Andra. 9 karyawan saling menatap satu sama lain dengan serius, sesekali mereka menarik nafas untuk menetralkan pikiran dan hati agar tidak gugup.


“Mari semangat buat 9 karyawan tampan dan pengejar mimpi!” ucap Andra semangat, tangan mereka dengan serentak di ambung ke atas lain.


“Yeah!” teriak 9 karyawan serentak.


Andra mengambil nampan berisi cup kopi, “Mari kita mulai sekarang,” ajak Andra memberi perintah kepada 9 karyawannya.


“Siap Bos!” sahut 9 karyawan serentak.


“Aku ‘kan sudah bilang jangan panggil aku tuan atau semacamnya. Di sini aku tidak ingin ada perbedaan, tapi kalian tetap harus menghormati aku. Jadi panggil saja aku Andra!” tegas Andra.


“Maaf, kami tidak bisa. Kalau tuan merasa malu di panggil tuan, maka kami akan memanggil dengan sebutan Bos!” sahut 9 karyawan serentak.


“Terserah kalian saja,” sahut Andra mode malas.

__ADS_1


Di saat Andra dan 9 karyawan berdebat mengenai panggilan nama. Di saat itu pula Aulia berlari membawa nampan berisi dessert mereka keluar dari kafe.


Andra menepuk dahinya, “Dasar bocah,” gumam Andra sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat sikap Aulia masih seperti kekanak-kanakan.


“Walaupun Istri Bos masih bocah, tapi bisa buat anak itu!” sambung Joko.


“Hem” dengus Andra membulatkan bola mata besarnya.


“Teman-teman mari kita pergi berjuang,” sela Joko mengalihkan perhatian Andra agar tidak marah.


Andra dan 9 karyawannya berhamburan menuju trotoar depan kafe. Andra, Aulia dan 9 karyawan lainnya berpencar di sepanjang trotoar jalan. Trotoar jalan mulai rame saat beberapa karyawan pulang dari tempat kerja mereka.


Joko dan Didin menjadi satu tim, dengan berbekal sedikit keahlian bahasa Inggris mereka mendekati pejalan kaki sambil menawari kopi dan dessert.


“Selamat sore, pasti Anda sangat lelah. Sebagai penawar rasa lelah Anda, kami menawarkan kopi dan makanan gratis untuk hari ini sebagai penyambut pembukaan kafe baru kami. Apakah Anda ingin mencoba kopi dua rasa dari dua Negara?” tawar Joko dengan senyum manis di wajah manisnya.


Penawaran Joko pun menarik peminat orang asing tersebut. Orang asing tersebut mengambil dua kopi, satu buatan Indonesia, satu buatan dari asal Negeri tersebut. Orang asing dan temannya mengangguk, dan saling bertatap muka.


“Gimana?” tanya Didin penasaran.


“Enak,” sahut orang asing tersebut serentak.


“Kalau gitu terimakasih, silahkan mampir jika berkenan,” tawar Joko mengarahkan tangannya ke kafe.


“Tentu, kami akan mampir nanti malam,” sahut mereka serentak.


“Kami tunggu,” ucap orang asing serentak.


Joko dan Didin membungkukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih,” ucap Didin dan Joko serentak kepada orang asing tersebut.


“Sama-sama,” kedua orang asing itu pun pergi sembari menganggukkan kepalanya dengan wajah terlihat puas dan senang menikmati secangkir kopi buatan Joko.


Di saat semua Andra dan 9 karyawan menawarkan makanan gratis untuk pembukaan kafe dengan cara serius. Aulia malah menawarkan dengan cara berbeda, membuat Andra dan 9 karyawannya menatap heran.


“Mampir-mampir. Silahkan mampir ke kafe baru ini. Bukan hanya makanan dan minumnya memiliki dua rasa berbeda dari dua Negera menjadi satu di dalam kafe kecil. Tapi di sini juga menyediakan karyawan tampan untuk dipandangi dari dua Negera berbeda pula. Di jamin kalian tidak bakalan menyesal masuk ke sini. Mari masuk…mari,” ucap Aulia semangat.


Mendengar promosi Aulia semua pejalan kaki wanita mulai mengalihkan kedua kaki mereka masuk ke dalam toko. Banyak pasang mata genit wanita memandang 9 karyawan toko dengan mulut saling berbisik satu-sama lain.


“Wanita ini memang tidak berbohong. Semua karyawannya memang cakep-cakep.”

__ADS_1


“Aku jadi pingin ngajak berkencan. Boleh tidak ya, minum kopi sambil berkencan dengan salah satu karyawannya?”


“Coba saja tanya. Aku rasa di perbolehkan.”


“Maaf, tidak boleh berkencan di tempat kerja tapi kalau kalian mau mengatur jadwal kencan di luar jadwal kerja aku rasa bisa,” sambung Aulia menyelinap masuk dari kumpulan wanita.


“Haaa..benarkan?!”


“Tentu,” sahut Aulia penuh keyakinan.


Mendengar hal itu 9 karyawan berkumpul, “Apakah kita akan di jual?” tanya mereka serentak.


Sekali lagi Andra di buat pusing oleh tingkah Aulia. Andra mendekati Aulia, “Aulia,” panggil Andra.


“Iya,” sahut Aulia meninggalkan kerumunan.


“Wah, pria ini tampan dan juga kekar.”


“Apa kami juga boleh mengatur kencan dengannya?”


Ucap sekumpulan wanita asing melihat Andra sangat tampan dan berkarisma dari 9 karyawan lainnya.


Ehem! Maklum saja, Suami orang di mata wanita lain memang seperti itu.


Aulia memasang bola mata tajam, “Tidak boleh! Berani kalian mendekatkan ujung jari kalian ke kulit pria ini. Maka semua kuku akan segera terlepas dari tempatnya. Mau masuk atau tidak?!” ucap Aulia merubah mode imutnya menjadi psikopat.


“Ma-masuk saja deh,” sahut sekumpulan wanita asing masuk ke dalam kafe dengan tergesa-gesa.


Dari kejauhan terlihat sebuah mobil mewah terparkir di pinggiran toko es krim. Di dalam mobi terdapat 3 orang pria sedang menikmati es krim, senyum mereka sesekali mengambang saat melihat Aulia dan Andra seperti sedang berdebat kecil.


“Aku tidak menyangka jika mereka bisa sampai di titik seperti ini,” ucap pria memakai stelan jas krim susu. Pria itu adalah tuan Agung.


“Iya, aku jadinya bisa tenang meninggalkan Andra dan Aulia di sini,” sahut Tarjok.


“Venus, aku titipkan anak-anak kami berdua kepada kamu. Kalau mereka mendapatkan masalah, tolong kabari kami secepatnya,” ucap tuan Agung memberi perintah.


“Baik, tuan,” sahut Venus.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2