
Mobil di tumpangi tuan Agung, Aulia, dan Venus kini melaju meninggalkan kafe tersebut. Aulia terus memandang wajah tuan Agung dengan hatinya penuh dengan pertanyaan kenapa tuan Agung memberikan berlian mahal kepada pria itu.
“Kenapa kamu terus melirik Papa seperti itu?” tanya tuan Agung.
Aulia memiringkan duduknya, “Kenapa Papa memberikan berlian itu secara gratis?” tanya Aulia penasaran.
“Alasan Papa adalah tidak tega melihat pria yang sudah susah payah mencari uang demi kekasihnya. Tapi kekasihnya malah dijodohkan oleh orang lain. Sebagai tanda penghargaan atas usahanya Papa memberikan berlian itu buat nya. Dan Papa juga akan membayar biaya berlian tadi. Jadi kamu jangan kuatir akan kerugian atas ulah Papa,” sahut tuan Agung.
“Aku tidak merasa rugi jika kehilangan 1 berlian. Papa ada benarnya juga, kenapa zaman sekarang masih ada kata perjodohan. ‘Kan kasihan mereka yang saling cinta jadi harus berpisah,” Aulia menarik nafas lega, dan menyambung ucapannya, “Untung aku memiliki Papa dan Mama yang baik.”
“Nak,” panggil tuan Agung lembut.
“Iya Pa,” sahut Aulia.
“Sebelum Papa pulang ke tanah air, Papa bisa meminta janji kepada kamu tidak?” tanya tuan Agung.
“Tentu, katakan saja janji apa yang Papa inginkan dari ku.”
“Permintaan Papa tidak sulit. Papa hanya minta apa pun yang terjadi kamu akan tetap bersama dengan Andra. Papa juga tidak ingin mendengar jika kamu menjalin hubungan dengan Azzuri Mahendra hanya karena alasan bisnis dan lainnya. Ingat! Kamu sudah menikah dan kamu juga harus mengingat dan menghargai perasaan Andra sebagai suami kamu. Dan jangan melakukan kesalahan yang sama lagi hanya demi perusahaan atau membela yang lainnya!” tegas tuan Agung.
Aulia menunduk patuh, “Iya Pa, aku minta maaf atas kesalahanku yang lalu,” sahut Aulia patuh.
Bola mata tuan Agung mengarah ke Venus, “Kamu sudah dengarkan janji Aulia kepadaku. Jika gadis keras kepala ini masih tidak menurut dan masih melakukan semuanya dengan sesuka hatinya, maka kamu jangan segan-segan menghukum Aulia,” pesan tuan Agung ke Venus.
Bola mata Venus melirik ke spion tengah, melihat wajah Aulia tampak suram memandangnya. Venus hanya bisa mengangguk ketakutan.
Tidak ingin terus diceramahi oleh tuan Agung, Aulia mengambil tangan tuan Agung dan terus mencium punggung tangan tuan Agung sembari berkata, “Papa tenang saja, Aulia janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aulia janji akan selalu setia bersama dengan Andra, Aulia janji Pa.”
“Baiklah, karena sepertinya kamu terlihat sangat tulus, maka Papa akan percaya dengan ucapan kamu.”
Aulia memeluk tuan Agung, “Terimakasih Pa,” ucap Aulia senang.
“Sama-sama,” sahut tuan Agung.
Venus melirik dari kaca spion tengah, ‘Bahagia banget kalau memiliki tuan seperti mereka.’
.
.
Di sisi lain
💫Kediaman rumah Aulia💫
__ADS_1
Karena tuan Agung, Tarjok, Ningrum dan Marsya akan segera pulang siang ini. Ningrum dan Marsya menyusun barang-barang mereka ke dalam koper. Derai air mata sesekali terlihat melintas di pipi kedua wanita paruh baya tersebut. Kedua tangan mereka juga terlihat sesekali menyekanya agar tidak terjatuh di atas tumpukan baju.
“Kok aku jadi menangis seperti ini,” rengek Marsya menutup kopernya.
“Sama, aku juga kenapa menangis seperti ini. Padahal kita ‘kan hanya mau pulang bukan berpisah untuk selamanya dengan anak-anak kita,” sambung Ningrum ikutan bersedih.
“Mungkin karena kita cuman memiliki anak satu. Coba kita memiliki anak dua atau tiga, pasti bakalan tidak sesedih ini aku rasa,” rengek Marsya kembali.
“Pingin buat yang baru tapi sudah tua,” sambung Ningrum.
Marsya merangkak mendekati Ningrum, “Mari berpelukan agar hati ini tenang,” ajak Marsya merentangkan kedua tangan dan memeluk Marsya.
Di saat Marsya dan Ningrum saling berpelukan, Aulia masuk tanpa membuka pintu.
“Mama…tante,” panggil Aulia berlari menuju mereka berdua dan memeluknya.
“Aulia!” ucap Ningrum dan Marsya serentak. Derai air mata kembali mengalir saat melihat senyum tulus dan pelukan hangat dari Aulia.
“Hiks!hiks!”
Aulia melepaskan pelukannya, bola matanya melirik secara bergantian ke Ningrum dan Marsya, “Lah kok menangis?” tanya Aulia heran.
“Ibu mana yang tidak bersedih jika dirinya akan pergi jauh dari kedua anaknya. Ibu mana yang tidak sedih kalau kedua matanya tidak bisa melihat anaknya di setiap ia membuka mata dan menutup mata. Rasanya kami belum ikhlas untuk meninggalkan kalian berdua di sini. Kalian ‘kan masih membutuhkan perlindungan dari dua wanita hebat seperti kami!” rengek Marsya dan Ningrum serentak.
“Aku tahu perasaan Mama dan tante kepada kami di sini. Tapi aku minta jangan terus bersedih hanya karena perpisahan sementara seperti ini. Kalau Mama dan tante merindukan kami di sini, ‘kan ada ponsel. Kita bisa melakukan Video call dari jarak jauh jika tante dan Mama rindu. Jadi jangan menangis lagi ya?!”
“Hem” sahut Ningrum dan Marsya mengangguk.
Aulia berdiri, masing-masing tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Ningrum dan Marsya, “Jadi, mari kita turun ke bawah. Soalnya para Lelaki sudah menunggu bidadari nya di bawah,” ajak Aulia.
Ningrum dan Marsya berdiri. Ningrum dan Marsya juga memberi ciuman manis secara serentak di masing-masing pipi Aulia.
“Mama…tante!” ucap Aulia terkejut, kedua tangan memegang pipinya.
Marsya dan Ningrum mengambil masing-masing koper mereka, “Aulia, mari kita turun!” ajak Marsya dan Ningrum serentak.
“Yuk!” sahut Aulia.
Marsya, Ningrum, dan Aulia berjalan melangkah keluar dari dalam kamar. Sesampainya di bawah, kesedihan Marsya dan Ningrum menghilang saat melihat Tarjok dan tuan Agung bergaya ala koboy.
“Ha ha ha”
Kesedihan terganti menjadi tawa renyah keluar dari mulut mereka semua.
__ADS_1
“Kami para suami yakin jika Ibu Negera pasti akan sangat sedih meninggalkan putri kesayangannya di sini sendirian. Jadi kami para suami menghibur para Istri untuk kembali ceria dan tertawa!” ucap tuan Agung dan Tarjok serentak.
Aulia tercengang, “Sejak kapan Papa dan Om bisa bertingkah konyol seperti ini?”
“Sudah lama, kamu saja yang tidak tahu. Semua ini demi membahagiakan istri,” sahut tuan Agung dan Tarjok.
Aulia melirik ke Andra.
Melihat lirikan Aulia, Andra langsung paham apa maksud dari lirikan tersebut. Andra membuang wajah paniknya sembari berkata, “Itu tidak akan pernah terjadi padaku!”
“Sudah-sudah, jangan bergurau lagi. Ini sudah siang, dan saatnya kita berangkat,” sela Marsya memutus gurauan tuan Agung dan Tarjok.
Tuan Agung dan Tarjok mendekati Andra dan Aulia. Masing-masing tangan mereka diletakkan di atas puncak kepala anaknya. Tuan Agung dan Tarjok mulai memberi saran kepada Andra dan Aulia.
“Aulia, kamu sekarang sudah menjadi seorang Istri dari pria bernama Andra. Kamu juga seorang Presdir di Perusahaan kamu sendiri. Kamu juga lebih sukses dan lebih memiliki segalanya daripada Andra untuk sekarang. Tapi, Papa hanya ingin memberi kamu satu pesan yang harus kamu patuhi. Setinggi apa pun jabatan kamu, dan sekaya apa pun kamu di luar sana. Jika sudah sampai di rumah kamu tetaplah menjadi seorang Istri. Tugas seorang Istri itu hanya ada dua, melayani suami di ranjang, dan saling berbagi cerita. Dan satu lagi, jangan coba-coba melirik ke lelaki lain selain Andra,” ucap tuan Agung serius.
Aulia mengangguk, “Iya Pa.”
“Kamu juga Andra. Kamu sekarang adalah seorang suami sekaligus kepala rumah tangga. Jika kamu dan Aulia sedang berantem atau ada wanita luar menggoda kamu di saat kamu sudah jaya di sini. Hanya satu pesan Papa, ingatlah bagaimana susahnya kamu menjaga Istri kamu dulu hingga kini bisa menjadi Istri kamu. Ingatlah bagaimana sulitnya kamu untuk mencapai kesuksesan dalam waktu singkat hanya untuk bisa setara dengan Aulia. Jika kamu marah dengan Aulia, lebih baik keluar sejenak untuk menenangkan pikiran. Atau kamu bisa memandang wajah Aulia hingga kamu sadar di balik wajah marahnya ada wajah cantik dan sifat baik Istri kamu!” ucap Tarjok memberikan saran buat Andra.
“Baik Pa,” sahut Andra patuh.
Tak ingin membuat suasana semakin sedih. Tuan Agung langsung menggandeng tangan Marsya, dan membawa koper.
“Nah, kalau gitu kami berangkat dulu. Kalian hati-hati di sini, jika ada hal buruk menimpa kalian berdua hubungi Papa,” sambung tuan Agung memutus kesedihan.
“Kami ikut mengantar ya Pa?”
“Tidak perlu, kalian di rumah saja. Kalau kalian ikut mengantar, Papa tidak jamin diri Papa tidak akan cemas memikirkan kalian di jalan pulang nanti,” sahut tuan Agung menolak tawaran Aulia.
Setelah perpisahan singkat dengan suka-duka. Marsya, Ningrum, tuan Agung, dan Tarjok kini melangkah pergi dari kediaman rumah Aulia dan Andra. karena tuan Agung menolak permintaan putrinya, Aulia hanya bisa mengantar kepergian mereka dari tera rumah.
Aulia dan Andra melambai ke mobil tuan Agung, Marsya, Ningrum dan Tarjok sudah meninggalkan halaman rumah, “Daaa!” melihat mobil mereka sudah keluar dari pagar rumah, Aulia menghela nafas berat, “Fyuh!”
“Kenapa Aulia?” tanya Andra bingung.
“Rumah kita jadi sepi sekarang,” ucap Aulia sedih.
“Kamu jangan bersedih ya. Bukannya kamu bilang rumah ini akan kita buat sangat ramai dengan kehadiran anak-anak,” sahut Andra mengingat ucapan Aulia.
Aulia berubah menjadi semangat, ia langsung menggenggam erat tangan Andra, “Kalau gitu mari kita buat,” ajak Aulia masuk ke dalam rumah.
“Eh, sebentar lagi aku mau buka kafe Aulia!” teriak Andra.
__ADS_1
...Bersambung...