
Setelah selesai sarapan pagi bersama dengan keluarga. Tidak ingin membuat Aulia bosan di rumah, Andra mengajak Aulia berkeliling sejenak ke taman tak jauh dari rumah mereka.
Sepasang kekasih itu berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Tak lupa kupu-kupu dan suara kicauan burung ikut serta menemani langkah kaki mereka berdua.
Andra menghentikan langkahnya, ia berdiri menghadap Aulia. Sejenak kepala Andra tertunduk, senyum tipis terukir di wajah tampannya.
"Kenapa kamu menunduk?" tanya Aulia.
Andra menaikkan pandangannya, "Waktu begitu cepat berlalu. Dulu kita hanya sepasang anak laki-laki dan perempuan. Kerjaannya hanya tau lari-lari, bermain petak umpet, dan saling menjahili satu-sama lain. Tapi kini, di mulai dari dua hari ke depan. Aku dan kamu akan menjadi kita. Rasa bahagia yang tidak bisa aku ungkapkan dalam kata-kata, karena aku bisa menikahi orang yang sudah lama aku cintai..."
"Semua orang bisa menikah, tapi tidak semua orang bisa menikahi orang yang ia cintai. Suatu keberuntungan besar bagi kita berdua karena Allah telah membuat kita berdua berjodoh. Rasanya aku tidak sabar untuk menunggu hari sepesial itu. Hari di mana kamu akan menyelipkan namaku di sebuah janji sakral," Aulia menundukkan kepalanya, mengangkat tangan kanan Andra dan menempelkan punggung tangan ke dahinya, "Satu hal yang ingin aku lakukan. Mencium dan menempelkan punggung tangan kanan Suamiku di dahi ku. Dan aku akan katakan, 'Aku akan menunggumu pulang bekerja. Dan aku akan memasak makanan enak baik itu sebelum kamu berangkat pergi kerja atau kamu pulang.' Kalimat yang selalu ingin aku susun rapih untuk kamu....duhai calon Imam ku,' sambung Aulia dengan kalimat tulus.
Grep!!!
Andra memeluk tubuh Aulia, "Terimakasih telah menerimaku sebagai calon Suami kamu. Aku janji tidak akan melarang kamu ini dan itu. Aku juga berjanji tidak akan mengekang jenjang karir kamu. Kamu tidak perlu repot-repot membuat sarapan pagi atau makan malam untukku. Tugas seorang Istri adalah cukup melayani Suaminya di atas ranjang, bukan..."
Di tengah keseriusan mendadak Aulia bertanya dengan santainya, "Melayani Suami di atas ranjang? maksudnya aku jadi pelayan di atas ranjang. Atau aku harus jadi apa di atas ranjang?"
Andra perlahan melepaskan pelukannya, tangan kanan menggaruk rambut bagian belakang tak gatal, "Anu....apa ya? He He...ma-mari kita lanjut jalan-jalan lagi," ucap Andra mengalihkan pembicaraan.
"Yuk," ajak Aulia menggenggam tangan kanan Andra. Kedua langkah kaki mereka pun kembali berjalan mengelilingi taman tersebut.
Merasa lelah terus berkeliling di taman. Aulia dan Andra memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku taman. Karena hari mulai siang dan Matahari sedikit terik. Aulia menyingkap rambut panjangnya, tangan kanan mengipas wajahnya.
Glek!!
__ADS_1
Andra perlahan menelan saliva nya saat kedua mata tidak sengaja melirik ke jenjang leher Aulia di basahi oleh keringat. Merasa ada hasrat aneh mulai menjalar di darahnya. Andra segera membuang wajahnya, 'Ya Allah, kenapa otakku tiba-tiba ingin mengkhayal bebas. Apa ini coba seorang pria yang akan menikah. Pantes saja banyak orang yang mendapat bonus saat sebelum hari H tiba. Ternyata seperti ini cara pandang mereka. Jenjang leher di balur keringat, masa terlihat seperti gelas berisi es batu. 'Kan rasanya ingin ditenggak habis. Nyebut....nyebut Andra. Sadar diri kamu belum sah.'
"Kamu sakit?" tanya Aulia memecah lamunan Andra.
"Eh" jari telunjuk mengarah ke sebuah warung kecil tak jauh dari taman, "A-aku sebaiknya beli es krim dulu. Ka-kamu tunggu di sini ya!" ucap Andra mencairkan pikiran kotornya dengan beralasan ingin membeli es krim.
"Iya. Kalau gitu cepat ya," ucap Aulia.
Andra pun beranjak pergi, kedua kakinya berlari kencang menuju warung.
5 menit Andra pergi, datanglah seorang wanita berumur mendekati Aulia. Wanita adalah Wardhani.
"Mau apa kamu?" tanya Aulia sinis.
"Tentu saja ingin mengucapkan selamat buat anakku tersayang," ucap Wardhani berusaha memegang wajah Aulia. Tapi Aulia segera menepis tangan Wardhani.
Prok!prokk!!!
Wardhani memberi tepuk tangan buat Aulia karena Aulia berani berbicara lantang dengannya. Wardhani menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lekat sembari berkata, "Kamu adalah anak yang tak tahu diri. Sudah memiliki seorang Ibu yang tak diri, eh....punya anak juga lebih tidak tahu diri. Apa kamu sadar...."
"Apa aku harus sadar jika aku bisa membuat usaha Papa dan Mama berjalan dengan mulus dan sukses?" sela Aulia menekan nada suaranya. Aulia perlahan berdiri, ia mendekatkan wajahnya hingga membuat tubuh Wardhani ke belakang, "Satu hal yang harus kamu camkan dan kamu ingat di dalam hati dan pikiran kotor kamu. Mama ku adalah seorang wanita yang baik. Aku juga memiliki Papa yang baik," emosi Aulia sedikit memuncak saat Wardhani menyinggung Marsya. Perlahan kedua kaki Aulia berjalan maju ke depan, membuat Wardhani berjalan mundur ke belakang. Jari telunjuk Aulia juga sesekali menyentuh bidang dada Wardhani, "Yang harus sadar diri itu kamu! sudah berselingkuh, membuat Mamaku untuk melahirkan seorang anak dan akan merebut anaknya demi mendapatkan harta Papa. Habis itu kamu juga akan memisahkan seorang anak dengan Ibunya ketika dia lahir. Kamu itu manusia atau bi-natang?"
Tangan kanan Wardhani hendak melayang. Namun dengan cepat Andra menangkap tangan Wardhani dari samping.
Tidak ingin ditangkap oleh Andra. Wardhani melayangkan tumit sepatunya ke kaki Andra.
__ADS_1
Blam!!
"Akh!" spontan Andra melepaskan tangan Wardhani.
Wardhani pun segera berlari kencang meninggalkan Aulia dan Andra.
"Apa ada yang terluka? atau tangan wanita itu sempat menyentuh kulit kamu? Aulia nafas kamu juga memburu. Apa kamu sakit?" tanya Andra cemas. Kedua tangan berulang kali mengecek suhu Aulia dengan menempelkan punggung tangan ke dahinya.
"Sebegitu kuatir nya kah kamu kepadaku! wahai calon Imam ku?" tanya Aulia tersenyum manis melihat raut wajah Andra dipenuhi kekuatiran.
"Tentu saja. Jika kamu terluka atau kamu mengalami hal buruk lainnya. Hidupku seperti di ambang kematian. Lebih bagus aku yang terluka, daripada kamu. Lebih bagus aku tidak bahagia daripada kamu!"
"Cinta yang begitu besar hanya untuk wanita seperti ku. Kamu memang pria yang konyol," ucap Aulia sedikit malu.
"Iya, aku memang pria konyol yang tak menginginkan sebuah senyuman manis itu terlepas dari wajah kamu!" Andra membelai lembut sebelah pipi Aulia, "Jadi aku mohon. Berteriak lah jika ada seseorang yang ingin menyakiti kamu. Jangan di lawan sendiri. Karena aku berdiri dan bisa bernafas di sini hanya untuk membuat kamu tetap bahagia."
Cuit!!!!
Satu cubitan manis diberikan untuk Andra.
"Aduh...sakit," keluh Andra mengelus perut sampingnya.
"Habisnya dari tadi kamu gombal mulu. Apa kamu tidak ada kerjaan lain?"
"Tapi aku sedang di pingit, sekaligus menjadi penjaga kamu. Aku juga dilarang membuka warung sendiri. Dan semua jualanku ditangani oleh Mama Ningrum."
__ADS_1
"Benarkah?"
...Bersambung...