Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 20. RENCANA YANG GAGAL


__ADS_3

Dhani mengambil benda pipih dari dalam dompet kecil miliknya, tangan kanan mengirim pesan singkat kepada nomor yang tidak di kenal. Setelah pesan singkat terkirim, kedua mata liar menatap Aulia dari atas sampai bawah, melihat di beberapa tempat baju gaun malam yang menampakkan bentuk tubuh Aulia.


‘Permainan baru akan segera di mulai. Permainan ini tidak akan sakit, permainan ini akan membawa kenikmatan bagi siapa saja yang memerankannya.’


“Kepada siapa kamu mengirimkan pesan?”


Dhani segera menyimpan benda pipih nya ke dalam dompet kecil, “Kamu sangat mirip seperti mendiang tuan Agung,” sahut Dhani, sudut bibir bagian atas menaik. Dhani terus menatap Aulia dalam-dalam, ‘Selamat datang kehancuran.’


Mobil milik Aulia terhenti tepat di depan sebuah Bar.


Senyum penuh makna dari Dhani terpancar jelas saat melihat kepanikan yang tersirat dari raut wajah Aulia yang sedang memandang dari kaca jendela mobil. Perlahan Dhani mendekatkan wajahnya ke pipi Aulia, “Aku yang merubah tempat tujuan Anda, nona muda!”


“Kamu!” ucap Aulia spontan menolehkan wajahnya ke sisi kanan, membuat Aulia menatap lekat wajah Dhani yang hanya berjarak 5 cm dari wajahnya. Aulia mengerutkan dahinya, sudut bibir bagian kiri menaik, kedua bola mata saling pandang, “Kali ini tamu yang tidak punya muka aku persilahkan melakukan apa pun yang ia inginkan,” Aulia mendekatkan bibirnya ke daun telinga kiri Dhani, “Aku penasaran bagaimana tampang asli kamu?”


“Seorang penjahat yang sedang menyamar tidak perlu membuka topengnya di depan Pihak yang berwajib!” Dhani menarik tubuhnya, tangan kanan membuka seatbelt, “Akh! Suasana yang terasa tegang.”


Aulia menahan pergelangan tangan kiri Dhani, “Hari ini adalah hari terakhir aku memberikan perjamuan buat wanita tua yang mengaku kerabat dekat mendiang Ibuku,” ucap Aulia dingin.


Dhani mendekatkan wajahnya kembali, “Tentu!” senyum penuh makna kembali terpancar, kedua mata Dhani perlahan menatap liar seluruh tubuh putih bersih Aulia yang sedikit terlihat, ‘Kali ini juga akan menjadi hari terakhir kamu menyandang status sebagai anak Konglomerat mendiang tuan Agung Laksmana. Setelah semua perbuatan yang akan aku rekaman dan aku sebarkan. Masa depan kamu yang indah dan cukup cemerlang akan segera musnah, bersama dengan kekayaan yang kamu pegang.’


Dari kejauhan terlihat seorang pria menghentikan sepeda motor miliknya. Pria tersebut adalah Andra, tatapan suram dari balik kaca helm menatap lurus ke dua wanita yang berjalan masuk ke dalam bar.


“Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal buruk kepada Aulia.”


Suara musik Dj menemani langkah kaki Aulia dan Dhani yang perlahan masuk ke dalam bar. Aulia menghentikan langkah kakinya di depan pintu, tatapan liar mengarah ke seluruh ruangan gelap yang dihiasi lampu kelap-kelip penuh warna.


“Mari kita bersenang-senang dengan mereka,” ucap Dhani menarik tangan kanan Aulia sampai ke tengah kumpulan pria dan wanita yang sedang berjoget.


Jedag-jedug!


Irama musik Dj terus menemani langkah tarian para pengunjung.


Aulia mengarahkan jari telunjuknya ke sudut meja, “Sebaiknya aku duduk di sana saja,” ucap Aulia mulai merasa tidak nyaman.


“Ayolah, nikmati masa muda kamu!” sahut Dhani menggenggam erat pergelangan tangan kanan Aulia.

__ADS_1


Aulia menghempas tangan Dhani, “Nikmati saja masa tua kamu dengan do..sa,” Aulia berbalik badan, kedua kaki melangkah menuju meja kosong yang berada di sudut ruangan.


“Baiklah, gadis dingin!” sahut Dhani menatap kepergian Aulia menuju meja yang berada di sudut ruangan.


Tidak lama Aulia pergi, datang seorang pemuda berumur 35 tahun ke arah Dhani. Sambil melenggak-lenggok tubuhnya yang kaku pemuda tersebut mendekatkan bibirnya ke daun telinga kanan Dhani sambil berkata, “Mana orangnya?”


Dhani mengarahkan bibirnya ke sudut ruangan, di mana hanya Aulia seorang yang sedang duduk sendirian di meja paling sudut. “Gadis remaja berusia 19 tahun, masih pera-wan, dan masih polos,” Dhani mendekatkan bibirnya ke daun telinga pria tersebut, “Kekurangannya hanya satu, yaitu datar dan dingin.”


“Menarik,” pria tersebut berbalik badan, menoleh sedikit ke sisi kanan, “Bayarannya akan segera aku transfer,” ucap pria tersebut sebelum melangkah pergi.


Ada hubungan apa Dhani dengan pria tersebut. Apa yang yang mau dilakukan pria tersebut kepada Aulia, dan kenapa Dhani membahas tentang uang. Apa pria ini termasuk salah satu rencana Dhani yang baru saja ia pikirkan sendiri.


Pria tersebut semakin dekat dengan meja Aulia, tangan kanan pria tersebut melambai saat satu langkah mendekati meja Aulia, “Hai” jari telunjuk tangan kanan mengarah ke bangku kosong yang ada di sisi kiri Aulia, “Boleh saya duduk di sebelah Anda, nona muda?”


“Tidak. Aku tidak menerima orang lain untuk duduk di sebelahku,” sahut Aulia dengan tatapan dingin.


‘Menarik. Sungguh gadis yang sangat cantik.'


Pria tersebut tidak memperdulikan ucapan Aulia. Sambil tersenyum ia duduk di sisi kiri Aulia, “Meja lain sudah penuh, jadi izinkan saya duduk di sebelah Anda,” tangan kanan pria tersebut mengulur, “Perkenalkan nama saya….”


“Jangan mengubah topik pembicaraan,” lirikan tajam mengarah kepada pria tersebut, “Jika kamu terus mengusikku, maka aku harap engkau pergi dari kursiku!”


“Maafkan saya sudah membuat kamu menunggu lama,” ucap Dhani berpura-pura tidak tahu. Tangan kiri menutup mulutnya, tangan kanan melambai, “Saya pikir kamu hanya sendirian di sini, ternyata ada seorang pria tampan yang juga berkelas duduk di sebelah kamu,” Dhani meletakkan minuman jus yang baru saja di antar oleh pelayan di meja Aulia, “Minum dulu agar tidak haus,” Dhani berbalik badan, tangan kanan melambai, “Selamat bersenang-senang,” ucap Dhani mengakhiri percakapan, kedua kaki melangkah pergi meninggalkan Aulia dan pria tersebut. Sambil berjalan, Dhani tersenyum tipis, ‘Selamat datang kemenangan, dan selamat tinggal Aulia Laksamana.’


Tatapan suram mengarah ke punggung Dhani yang kini menghilang di dalam kerumunan pengunjung. Aulia segera berdiri, “Sudah habis batas kesabaran ku,” gumam Aulia pelan.


“Mau kemana kamu gadis cantik?” tanya pria tersebut menahan pergelangan tangan kiri Aulia.


“Bukan urusan kamu!” Aulia berusaha melepaskan genggaman dari tangan pria tersebut, namun tenaga pria tersebut lebih kuat dari dirinya sehingga Aulia tidak bisa melepaskannya.


“Kamu semakin membuat aku memanas dan sangat bersemangat,” ucap pria tersebut.


“Lepaskan,” tangan kanan Aulia menaik, “Aku bilang….”


Grep!

__ADS_1


Pria tersebut dengan cepat menarik tubuh Aulia, membawanya tubuh mungil Aulia ke atas pangkuannya. Tangan kanan pria tersebut menggenggam erat kedua pergelangan tangan Aulia, bibir hitam yang sedikit tebal mendekati daun telinga Aulia, “Temani aku malam ini,” tangan kiri perlahan menjalar di atas paha kiri Aulia, “Mulut terus memberontak, tapi tubuh gemetar. Apa kamu sudah tidak tahan?”


Bam!


“Auw!” keluh pria tersebut memegang pelipis kirinya.


“Andra!”


Tatapan Andra semakin suram saat melihat air mata memenuhi kedua bola mata indah Aulia. Emosi yang memuncak membuat nafas Andra naik-turun. Kedua tangan Andra perlahan membawa Aulia turun dari pangkuan pria tersebut. Andra melepaskan jaket miliknya, menutup tubuh Aulia yang terlihat gemetar, “Kamu diam lah di sini!”


“Siapa kamu?”


“Siapa aku tidak penting bagimu,” tangan kiri segera mencengkram erat leher kemeja pria tersebut, kepalan tinju yang berada di tangan kanan melayang kembali, dengan mulut yang sedikit berteriak, “Ini untuk tangan kiri kamu yang berani menyentuh kulitnya.”


Bam!


“Akh!” pria tersebut terjatuh di atas lantai.


Andra kembali mencengkram kerah leher pria tersebut, membawa pria tersebut berdiri kembali. Tangan kanan Andra kembali membuat kepalan tinju, “Ini buat tangan kanan kamu yang berani menggenggam erat kedua pergelangan tangan Aulia.”


Bam!


“Aaa!”


“Andra hentikan!” ucap Aulia berusaha meraih lengan kiri Andra, tapi tak sampai.


“Biarkan aku menunjukkan rasa sopan kepada pria tua ini!” Andra kembali melayangkan kepalan tinjunya, “Ini buat kamu yang sudah menakuti Aulia.”


Bam!


Bug!


Dhani yang sedang bersenang-senang dengan seorang pria membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat melihat pria yang membayar dirinya mahal dihajar habis-habisan oleh Andra. Dhani segera berdiri, “Aku harus kabur,” ucap Dhani segera berlari meninggalkan meja miliknya.


“Hei! Hentikan perkelahian ini. Kamu bisa membuat bar milikku merugi,” ucap seorang wanita paruh baya memisahkan perkelahian yang Andra lakukan.

__ADS_1


Andra segera melepaskan pria tersebut, tangan kanan menggenggam erat pergelangan tangan Aulia, “Ayo pulang!”


...Bersambung...


__ADS_2