Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 48. Tanggung jawab!


__ADS_3

"Kenapa berisik sekali di depan?" tanya Aulia sambil berjalan menuju ruang tamu di tuntun oleh Andra.


"Sepertinya kamu mendapat hadiah," sambung Andra.


"Tentu saja tidak, ini adalah...hmmmm!" ucapan Venus terhenti saat ujung kaki di injak oleh tuan Agung.


"Diam!" gumam tuan Agung sedikit berbisik.


"Tidak apa?" tanya Aulia penasaran.


Tuan Agung segera berjalan mendekati Aulia. Tangan kanannya langsung merangkul tubuh mungil putrinya, "Putri kesayangan Papa sudah makan?" tanya tuan Agung mengalihkan pembicaraan.


"Aulia, Mama dan Andra sedang menunggu Papa pulang. Papa sudah makan?" tanya Aulia balik.


"Tentu saja belum," tuan Agung menuntun Aulia kembali ke ruang makan, "Karena semuanya belum makan, mari kita segera makan sebelum semua masakan Istri tercintaku dingin," ucap tuan Agung di kalimat terakhir melirik ke Marsya.


Tuan Agung, Marsya dan Venus sudah berjalan masuk ke ruang makan. Sedangkan Andra masih berdiri di depan tumpukan kotak hadiah hampir memenuhi ruang tamu. Tangan kanan perlahan mengambil satu kotak hadiah kecil, bola mata Andra melihat sebuah kertas bertulis, "Buat nona muda Laksamana Aulia. Semoga Anda memaafkan kami semua" Andra kembali meletakkan kotak hadiah tersebut. Dahinya mengerut seakan Andra tahu jika semua hadiah ini adalah ulah dari Azzuri. Andra menarik nafas dalam-dalam dan menyebarkannya ke seluruh tubuh, "Kenapa aku kuatir. Bukannya Aulia sudah berjanji tidak akan menghubungi Azzuri!" gumam Andra pelan.


"Andra! kenapa kamu masih di sana," panggil Marsya, tangan kanan melambai, "Mari sini. Cepat makan sebelum semuanya dingin."


"Iya!" Andra segera berbalik badan, kedua kaki terus melangkah menuju ruang makan.


Andra, tuan Agung, Marsya, Aulia dan juga Venus sedang menikmati santap makan siang. Makan hangat di siang hari dengan keluarga terlihat sangat-sangat nyaman. 30 menit sudah berlalu, tuan Agung dan Venus berpencar kembali untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Sedangkan Andra, Marsya dan Aulia duduk di ruang Tv sekaligus ruang tamu.


"Ma..kapan aku kembali cek up ke rumah sakit?" tanya Aulia penasaran.


"Kurang lebih 6 hari lagi. Sekarang kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan lupa di minum obatnya agar penglihatan kamu cepat kembali pulih," ucap Marsya sedikit bersemangat.


"Iya Ma. Aku juga sudah tidak sabar untuk mengajak Andra keliling Paris."


"Hem" Andra menarik hidung mancung Aulia, "Jangan berpikir untuk jalan-jalan dulu. Kamu harus segera sembuh dulu!" ucap gemas Andra.


"Mama..lihat nih!" keluh Aulia mengelus hidung mancungnya.


"Kalian ini sungguh menggemaskan. Berdua saja sudah ramai, apa lagi kalau Mama nanti sudah punya cucu," Marsya melirik bola mata ke atas, dahi mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu, "Mama sepertinya harus membayangi Aulia harus memiliki anak berapa nantinya!" sambung Marsya sangat yakin.

__ADS_1


"Iih...Mama. Apaan sih!"


"Haha" Andra tertawa renyah, bola mata melirik ke Aulia terlihat malu-malu.


Aulia memutar duduknya, kedua tangan dilipat di depan dada, "Dan kenapa kamu juga ikut tertawa. Nggak lucu tahu!" ucap Aulia memanjangkan mulutnya.


Ding dong!!!!


Marsya, Aulia dan Andra melirik ke belakang serentak.


"Siapa lagi itu Ma?" tanya Aulia penasaran.


"Nggak tahu!" sahut Marsya menaikkan kedua bahunya.


"Biar aku saja yang buka," sambung Andra segera berdiri dan beranjak pergi.


"Kalau tidak kenal tidak perlu di buka ya, Andra!" ucap Marsya sedikit berteriak.


"Iya!" sahut Andra ikut berteriak.


Andra membuka pintu tanpa melihat siapa tamunya. Alis kanan Andra naik melihat tamu tersebut adalah Azzuri bersama dengan Jack sedang berdiri di depan pintu.


"Wah! ternyata saingan yang membukakan aku pintu," ucap Azzuri mengulas senyum tipis di wajah tampannya.


"Maaf, Anda tidak pantas menjadi saingan ku!" tegas Andra datar.


"Kenapa?"


"Karena Aulia saja tidak mengakui hubungan kalian berdua. Dan....bukannya Anda dan Aulia sudah putus?" tanya Andra kembali.


"Putus status kan tidak termasuk putus yang lainnya," sahut Azzuri santai.


"Aku baru tahu jika seorang pria berkelas dan juga sangat ditakuti banyak orang, bisa tidak memiliki muka hanya untuk mengejar kekasih orang lain!" ucap Andra sedikit menekan nada suaranya.


"Lebih bagus tidak punya muka karena ingin merebut kekasih orang lain. Daripada merebut Istri orang dari Suami sahnya," sahut Azzuri dengan bibir kembali memberi senyum manis penuh makna.

__ADS_1


"Anda seperti seorang pria depresi yang haus akan belaian seorang wanita, hingga Anda terus mengusik hubungan orang lain. Bukannya pria seperti Anda lebih muda untuk mendapatkan wanita di luar sana, daripada Anda terus mengusik gadis polos yang tidak berdaya."


"Aku sudah puas bermain dengan kucing liar. Walaupun gadis di Apartemen ini polos dan tidak berdaya. Tapi gadis ini seperti kucing kecil yang terus berlari ke depan. Namun sebenarnya kucing ini ingin di tangkap dan di belai dengan penuh kemewahan."


"Anda sangat buruk sekali menyamakan Aulia dengan seekor kucing kecil. Jika menurut Anda kemewahan bisa memenuhi hasrat diri. Kenapa banyak orang kaya yang rela menga-khiri hidupnya dengan cara tragis!" Andra menggeleng, "Sungguh kasihan orang-orang yang memiliki uang banyak."


Grepp!!


Azzuri mencengangkan kerah baju bagian depan. Tatapan suram terlihat jelas saat melihat wajah tenang Andra, "Aku benci jika ada orang yang selalu menjawab semua perkataan ku. Aku sudah cukup sabar dan berbaik hati meladeni orang miskin seperti kamu!"


"Walaupun aku miskin. Tapi sebagian uang Anda adalah hasil pembayaran pajak para rakyat miskin. Semua barang yang ada jual, juga sebagian ada kalangan miskin yang membelinya," Andra melepaskan genggaman tangan Azzuri, "Termasuk Anda juga bisa aku be-li!" sambung Andra tegas dan sedikit menekan di kalimat terakhir.


Bam!!


Satu bogem mentah mendarat di sudut b-ibir bagian kiri Andra.


"CK" Andra menyeka kasar sudut bibirnya. Tatapan suram mengarah ke Azzuri, "Pria yang sangat kasar tidak pantas mengejar cinta dari wanita lembut dan baik seperti Aulia!" tegas Andra meninggikan nada suaranya.


Azzuri kembali melayangkan bogem mentah.


Bam!


"Akh!"


Kali ini bogem mentah tersebut mendarat di peli-pis Aulia.


"Aulia!" teriak Andra dan Marsya serentak.


Andra segera menangkap tubuh Aulia hendak pingsan kelantai. Tatapan suram dan tajam Andra alihkan ke Azzuri, "Cepat panggil Dokter Robin. Dan masalah kita belum selesai!" Andra segera menggendong tubuh Aulia dan membawa masuk ke kamar.


"Kamu benar-benar seorang pria pengacau!" ketus Marsya terlihat tidak senang kepada Azzuri. Marsya berbalik badan, kedua kakinya ikut melangkah menuju kamar Aulia.


"Ahh, kenapa jadi seperti ini sih!" keluh Azzuri karena dirinya tidak bisa mengontrol emosi.


"Bukannya saya sudah katakan. Sebaiknya Anda tidak perlu berbuat kasar, karena Aulia tidak suka dengan cara yang kasar. Putriku adalah wanita lemah lembut, begitu juga dengan Istriku. Sekarang kamu harus bertanggungjawab atas ulah kamu sendiri!" tegas tuan Agung baru saja sampai.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2