
Mobil ditumpangi Aulia, tuan Agung, dan Venus melaju ke Alamatnya sesuai pria itu kirim ke Aulia. Di saat Venus, dan tuan Agung terlihat cemas, disitu Aulia malah asik makan bekal buatan Ningrum.
Tuan Agung melirik ke putri kesayangannya, “Enak?” tanya tuan Agung datar.
“Iya Pa. Entah kenapa semenjak aku menikah dengan Andra, nafsu makanku jadi bertambah,” sahut Aulia memasukkan kembali sendok berisi nasi terakhir ke dalam mulutnya.
“Awas gendut kamu. Entar Andra berpaling dari kamu dan memilih wanita asing di sini!” ucap tuan Agung mulai bergurau.
“Papa!” Aulia langsung menutup kotak makanannya dan meletakkannya ke bagasi belakang.
“Kenapa?” tanya tuan Agung merasa tidak bersalah.
“Ucapan Papa seperti mendoakan aku ingin berpisah dengan Andra. Apa Papa sudah tidak sayang dengan kami berdua?"
“Papa tidak bilang berpisah, Papa hanya bilang berpaling. Itu saja kok!” tegas tuan Agung mengulang kalimatnya.
Aulia tidak memberikan komentar apa pun. Ia hanya diam, menekuk wajahnya dengan lirikan tajam mengarah ke luar jendela mobil.
Melihat Aulia menekuk wajahnya, tuan Agung memberikan botol minuman air mineral, “Minum dulu. Entar sayang nasinya nggak sampai ke usus,” ucap tuan Agung kembali bergurau.
Aulia menarik botol minuman dari tangan tuan Agung, “Terimakasih,” ketus Aulia.
“Sama-sama,” sahut tuan Agung manis.
Aulia melirik tuan Agung dari ujung ekor matanya, “Pa!” panggil Aulia singkat.
“Iya ada apa?” tanya tuan Agung.
“Apa Papa sangat mencintai Mama?”
Mendengar pertanyaan lucu dari Aulia, tuan Agung membelai puncak kepala Aulia sembari berkata, “Jika Papa tidak mencintai Mama kamu. Mungkin Papa dan Mama kamu tidak akan bisa berdiri di tengah-tengah kamu sampai sekarang. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu!”
Bola mata Aulia menyusuri wajah awet muda tuan Agung, “Habisnya wajah Papa tidak mencerminkan umur Papa. Aku sangat yakin pasti banyak wanita lain di luar sana menggoda Papa. Iyakan?”
“Memang benar banyak wanita lain menggoda Papa di luar sana. Tapi Papa hanya bisa tergoda dengan Mama kamu!” sahut tuan Agung mulai berfantasi liar.
“Oh” ucap Aulia mengangguk.
Karena titik GPS menunjukkan mereka sudah dekat dengan lokasi pria tersebut. Venus melirik dari kaca spion tengah dalam mobil, “Nona muda apakah itu kafenya?" tanya Venus menunjuk ke kafe kecil terletak tak jauh dari jalan menuju Bandara.
“Katanya ia,” sahut Aulia melihat bukti chat pria tersebut.
“Majukan mobilnya mendekati kafe sedikit kafe tersebut," ucap tuan Agung memberi perintah untuk sedikit mendekat ke kafe tersebut.
“Baik,” sahut Venus melajukan mobilnya.
“Nak, sebaiknya kamu telpon pria itu. Katakan kepadanya kalau kita sebentar lagi akan sampai,” ucap tuan Agung.
__ADS_1
“Baik Pa,” sahut Aulia mengambil ponsel miliknya dan menelpon pria tersebut.
Tutt!! Tuutt!!!
Karena panggilan telpon Aulia tidak kunjung di angkat, Aulia mulai panik, “Kok tidak diangkat ya Pa?”
Cit!
Venus pun menghentikan mobilnya dengan jarak 5 langkah dari kafe tersebut.
Venus melirik dari balik kaca spion tengah, “Nona muda di sini saja, biar saya saja yang turun untuk mengecek keadaan di sana,” ucap Venus membuka seatbelt.
Tuan Agung menahan bahu Venus dari belakang, “Jangan. Aku masih membutuhkan kamu di sini untuk menjaga Aulia dan Andra. Sebaiknya aku saja yang turun dan mengeceknya ke sana.”
“Jangan tuan, saya saja yang melihatnya!” tegas Venus menahan lengan tuan Agung.
“Kalau gitu kita bareng-bareng saja,” ucap tuan Agung membuka seatbelt miliknya.
“Baik tuan.”
“Kamu di sini saja ya sayang. Kamu kunci pintu mobil dari dalam sampai Papa dan Venus kembali,” ucap tuan Agung.
“Papa tenang saja,” sahut Aulia memberikan dua jempol untuk tuan Agung.
Tuan Agung menutup pintu mobil. Tuan Agung dan Venus mulai melangkah mendekati kafe kecil berada lima langkah dari mobil mereka parkir.
“Kenapa perasaanku tidak enak,” keluh tuan Agung karena hatinya mendadak gelisah.
Kedua kaki Venus dan tuan Agung berhenti tepat di depan pintu masuk kafe. Karena dinding kafe terbuat dari kaca, tuan Agung dan Venus bisa melihat siapa saja berada di dalam. Mereka tidak melihat ada siapa pun di dalam kecuali, seorang pria paruh baya duduk di meja dekat dinding.
Venus dan tuan Agung saling menatap satu sama lain, “Ternyata hanya pria paruh baya,” ucap mereka serentak.
“Karena tidak berbahaya maka kamu suruh Aulia ke sini, dan aku biar masuk ke dalam untuk menjumpai pria tersebut,” perintah tuan Agung.
“Baik tuan,” sahut Venus patuh.
Venus dan tuan Agung berpisah. Venus menuju mobil, sedangkan tuan Agung masuk ke dalam kafe.
Kling!
Tuan Agung membuka pintu kafe. Kedua kakinya melangkah mendekati pria paruh baya tersebut, “Permisi, apakah saya boleh duduk di sini?” tanya tuan Agung sopan.
“Maaf, saya sudah memesan tempat duduk ini untuk seseorang,” sahut pria tersebut menolak tuan Agung.
“Oh, kalau gitu maafkan saya,” ucap tuan Agung berpindah duduk ke kursi lain.
Kling!
__ADS_1
Aulia dan Venus masuk.
Pria paruh baya tersebut melirik ke pintu, “Apakah Anda nona muda Laksmana Aulia?” tanya pria paruh baya tersebut mendekati Aulia.
“Tentu. Apakah Bapak yang menelpon saya tadi?” tanya Aulia tanpa menyebutkan nama.
“Iya, saya adalah Natan,” tangan kanan mengarah pada meja miliknya, “Silahkan duduk di sana,” sambung Natan mempersilahkan Aulia duduk di mejanya.
Aulia, dan Venus duduk di meja Natan. Sedangkan tuan Agung hanya bisa duduk di meja sebelahnya dan terus melirik dengan lirikan tajam kepada Natan.
“Aku harap Bapak jangan tersinggung. Aku ingin bertanya Bapak ingin membeli cincin dengan uang berjumlah berapa? Karena koleksi barang kami harganya berbeda-beda, mulai dari 💲4,500 dollar ke atas sesuai karat yang ingin Bapak inginkan,” ucap Aulia menjelaskan rincian harga jual berlian dari perusahaan milik Aulia.
Bapak tersebut mengeluarkan semua uang dari dalam saku kemeja miliknya, dan meletakkannya ke atas meja, “Sisa uang saya hanya ini. Lainnya sudah saya pakai untuk membeli tiket pesat untuk pergi ke Jepang,” ucap Natan menunjukkan uang berjumlah 💲1.000 dollar.
Melihat hal itu tuan Agung langsung beranjak mendekati Aulia, dan menggenggam pergelangan tangannya, “Pria ini sepertinya ingin menipu kamu. Jika tidak ada yang buat apa ingin membeli berlian yang sudah tahu harganya cukup mahal. Dan buat apa dia pergi ke Jepang kalau memang tidak memiliki uang. Semua alasannya demi kekasihnya!" tegas tuan Agung.
"Mungkin dia ingin kasih kejutan kali Pa," sahut Aulia berusaha berpikir positif.
"Aulia, Papa minta kita segera pergi!” tegas tuan Agung membawa Aulia beranjak dari bangkunya.
Natan segera menahan tangan Aulia dari belakang, “Saya mohon izinkanlah saya membeli berlian dari perusahaan Anda. Saya sangat mencintai wanita ini, hari ini dia akan ditunangkan oleh pria lain, sekaligus hari ulang tahunnya. Saya sudah berusaha keras untuk mengumpulkan uang selama 5 tahun ini, tapi uang saya hanya terkumpul 1.000 dollar dan hanya bisa membeli dua tiket pesawat pergi dan pulang untuk membawa wanita yang saya cintai hidup bersama saya di sini. Izinkanlah saya nona muda, saya mohon!” pinta Natan berlutut di hadapan tuan Agung dan Aulia.
Aulia melirik ke semua karyawan kafe sedang memperhatikan mereka. Melihat tatapan tidak enak, Aulia menarik lengan jas tuan Agung, “Pa..gimana ini Pa?” tanya Aulia panik.
“Apakah kamu bisa menjamin jika ucapan kamu itu adalah benar?!” tegas tuan Agung.
“Saya bersumpah atas nama Tuhan saya. Jika saya berbohong, maka nyawa saya tidak akan selamat!” ucap Natan memegang kerongkongannya.
Tuan Agun menarik nafas, “Baiklah, saya akan memberikan satu cincin secara gratis buat kamu!”
“Papa serius mau memberikan cincin gratis kepada pria tidak dikenal?” tanya Aulia panik.
“Kamu tenang saja. Cincin dari perusahaan kamu ada sertifikatnya. Jika Papa mengetahui pria ini ada niat jahat untuk membohongi kamu. Maka ada saja nanti orang lain yang akan menghubungi kamu atau Papa untuk memberikan kabar tersebut!” tegas tuan Agung.
Aulia melirik ke Venus, “Venus berikan pria ini cincin bermata biru muda, bersama sertifikatnya,” perintah Aulia.
“Baik,” sahut Venus membuka kotak tas berisi perhiasan dari perushaan milik Aulia. Venus mengambil pena, dan surat perjanjian pembelian, “Tolong tanda tangan di bawah ini,” ucap Venus mengarah ke sudut surat.
Natan segera menandatangani surat tersebut, dan memberikannya ke Venus, "Ini tuan."
Venus mengambil surat tersebut dan menyimpannya ke dalam tas. Venus juga mengambil kamera, "Saya akan memotret kamu," ucap Venus sambil menekan tombol.
Kraakk!
Venus menyimpan kembali kameranya, "Kamu sudah bisa pergi," ucap Venus mengizinkan Natan pergi.
Natan menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih tuan dan nona muda,” ucap Natan semangat.
__ADS_1
"Aulia, mari kita pulang," ajak tuan Agung kembali ke mobil.
...Bersambung ...